Frangipani Flower Lovely Little Garden: Pengalaman seru
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman seru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Turun Tangga 19 Lantai

Bismillahirrahmannirrahiim,

Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013 lalu, betul-betul luar biasa rasanya. Seperti yang aku ceritakan di blogku Pena Bunda, hari itu diselenggarakan acara Know Your Parent's Profession di Bank Permata Bintaro. Acara yang bertujuan agar anak-anak mengetahui seluk beluk pekerjaan orang tuanya. Bisa dibaca ceritanya pada tulisanku yang berjudul Know Your Parent's Profession ini.

Hari itu, ada cerita menarik lainnya yang rasanya perlu aku ceritakan secara terpisah. Sebab ini adalah sebuah pengalaman pertama yang melelahkan, seru, geli, segaligus menjengkelkan. Loh, kok bisa? Ya bisa dong. Nyatanya itu kok yang aku, Astri dan Fanni rasakan saat itu.

Sore itu, pukul 15.30 WIB, acara KYPP sudah selesai. Peserta sedang mengantri di depan lift. Kegiatan itu diadakan di lantai 18 gedung Bank Permata Bintaro. Letih sudah pasti terasa, walau dari wajah anak-anak yang mengikuti acara itu masih terpancar kebahagiaan, tapi kami para pengantarlah yang merasakan keletihan karena menunggu. Lift sudah mengantar turun sebagian dari kami, hingga beberapa saat ketika hendak sampai giliranku, Astri dan Fanni, tiba-tiba terdengar suara:

Nguiiiing... nguuuiiiiiing... nguuuuuiiiiiing....nguuuiiiing...!

Seorang karyawan berkata kepada kami yang sedang berada di depan pintu lift,"Ada latihan kebakaran, Bu. Silahkan turun melalui tangga, lift segera dimatikan, dan gedung harus segera dikosongkan."

Haaaaahhh!! Turun lewat tangga?! 18 lantai + 1 lantai Ground? Serius nih?

"Anak-anak ini juga harus lewat tangga pak?" tanyaku

"Iya, Bu. Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru, " katanya seraya membukakan pintu tangga.

Dengan lemas aku menggandeng tangan Fanni. Astri dengan sigap meraih tas ransel yang semula aku bawa.

"Bunda gandeng Fanni aja, aku yang bawa tas nya," begitu kata Astri.

Sedihnya adalah, batre handphone Astri hidup segan mati tak mau. Sedangkan punyaku sudah mati sejak 1 jam sebelumnya. Tidak bisa menghubungi suamiku yang ruangan kerjanya ada di lantai 1.

"Nanti saja nyalakan hape Astri kalau kita sudah di bawah, hemat supaya bisa kasih tau ayah di mana kita menunggu."

Anak tangga satu persatu kami lewati, tak urung kami bertiga pun menertawakan nasib kami sore itu. Turun 19 lantai lewat tangga, dengan gagdet yang tak menyala. Otomatis aku tak bisa mengabadikan momen istimewa itu. Sayang sekali ya. Aku hanya kuatir kalau Fanni akan menangis karena capek atau bete. Tapi rupanya dia malah kelihatan paling lincah. Aaah, anak-anak memang tak bisa di duga.

Meskipun di tangga ramai sekali karyawan yang berbarengan dengan kami, tapi tidak ada yang berdesak-desakan. Semua berjalan santai saja. Rupanya latihan sepertiink sudah sering dilakukan, jadi karyawan sudah terbiasa.

Ketika sampai pada lantai 9, kami berpapasan dengan petugas pemadam kebakaran yang naik ke atas. Rupanya dikondisikan kebakaran terjadi di lantai 20. Jadi petugas pemadam kebakaran itu naik sampai lantai 20. Hihihi... lebih capek dong ya.

Sampai di lantai Ground, barulah Astri mengirimkan Watshap kepada ayahnya bahwa kami menunggu di sekitar lift. Tak lama kemudian ayah muncul. Eeh dia malah menertawakan kami.

"Enak khan, turun dari lantai 18? Ya begini ini kalau sedang ada latihan kebakaran. Ayo, kita kumpul di belakang."

Di luar sudah banyak kerumunan karyawan. Buat mereka mungkin lumayan ya, istirahat sebentar dari pekerjaan. Semua terlihat santai. Malah ketika aku mengajak Fanni dan Astri ke kantin untuk membeli minuman, kantin penuuuuuh. Setelah sempat minum, barulah kami memutuskan untuk menunggu di dalam mobil saja.

mendongak liat asap buatan di lantai 20



mobil pemadam kebakaran yang disiagakan


tetep aja pasang gaya walau kaki pegel dan keringat bercucuran

Hanya itu dokumentasi yang diambil pakai BB suamiku, sebelum dia harus kembali berkoordiansi dengan tim lainnya. Hari Rabu kemaren memang hari yang penuh pengalaman, buat aku, Astri dan terutama Fanni. Berkesan, walau capek, tapi jadi tahu bagaimana latihan kebakaran di sebuah gedung perkantoran. Mungkin bisa buat kesiapan mental bila suatu saat benar-benar mengalami. Semoga tidak.

Keesokan harinya, kakiku rasanya panas banget. Maklumlah, nggak pernah olah raga, jadi turun tangga begitu aja pegelnya sampai besoknya. Noraknya lagi, badan sampai meriang. Sementara Fanni dan Astri sehat walafiat tak mengeluh apa-apa.


Read more »»  

Selasa, 30 April 2013

Menanam Mangrove di Pulau Tidung

Bismillahirrahmannirrahiim,

Masih ada sebuah cerita yang tertinggal waktu ke Pulau Tidung weekend lalu. Sengaja aku buat sebagai cerita terpisah sebab aku amat berkesan dengan kegiatan ini.

Hari kedua pagi, awalnya anak-anak agak kecewa karena tidak bisa hunting Sun Rise di Jembatan Cinta. Luthfan dan teman-temannya sudah berencana ingin lompat dari atas jembatan dengan ketinggian kurang lebih 5 meter itu. Tapi kekecewaan itu terobati setelah kami di bawa ke pantai untuk menanam mangrove.

Awalnya kami memang tak bisa membayangkan seperti apa tanaman mangrove itu, bagaimana menanamnya, lahannya seperti apa, apa saja kegunaannya. Banyak tanya dalam hati kami masing-masing. Semua terjawab dengan uraian singkat yang diberikan sebelum kegiatan tanam menanam di mulai.

Adalah bapak Bahroni, seorang guru matematika di MtsN 26 yang ada di Pulau Tidung lah  yang sekarang mengembangkan pelestarian tumbuhan mangrove ini. Pak Bahroni memulai menanam mangrove pada tahun 2009. Hutan mangrove ada di sebelah barat Pulau Tidung di area tak jauh dari MtsN 26. Semangat Pak Bahroni untuk melestarikan mangrove ini karena keprihatinannya akan pengikisan pesisir pantai oleh air laut. Dan juga berkurangnya habitat ikan-ikan kecil yang membutuhkan tempat untuk berkembang biak.

Banyak kendala yang dirasakan oleh Bahroni. Selain kesulitan dari kondisi alam sendiri, yaitu menanam mangrove di pasir pantai amat berbeda dengan menanamnya di daerah rawa/lumpur. Pulau Tidung menghadap langsung ke laut lepas, sehingga yang sering terjadi tumbuhan mangrove yang sudah ditanam terbawa oleh air laut. Untuk mengatasi masalah ini Bahroni mencoba memakai cara menanam 4-5 batang pohon dalam 1 lubang.

Kendala lain adalah kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat Tidung sendiri. Mungkin karena manfaat menanam mangrove ini baru bisa dirasakan bertahun-tahun ke depan, sehingga penduduk Pulau Tidung kurang memandang penting bahkan banyak yang menganggap hal ini adalah perbuatan sia-sia.

Karena kegigihannya melestarikan tanaman mangrove ini, Pak Bahroni berhasil mendapatkan Juara II Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Kebaharian pada tahun 2011. Barulah setelah itu masyarakat setempat mulai melihat positifnya usahanya. Pembiakan bibit mangrove ini kemudian mendapat perhatian dari SMA LABS SHCOOL yang bekerja sama dengan MtsN 26.

Di depan laboratorium bibit mangrove
masing-masing mengambil bibit mangrove 
untuk dibawa ke lokasi tanam

Kami amat beruntung mengambil jasa wisata melalui Harumi Tour yang menghubungkan kami kepada mas Igoel, yang merupakan satu-satunya pemandu wisata yang bekerja sama dengan Pak Bahroni. Tamu-tamu wisata yang melalui mas Igoel diajak untuk ikut menanam mangrove ini sebagai salah satu jadwal acara dalam kunjungannya di Pulau Tidung.

Mas Igoel yang berambut gondrong itu mengatakan kepada kami," Kita mengambil banyak hal dari Pulau Tidung, masak tidak mau berbuat sesuatu untuk pulau ini."

Sungguh sebuah pernyataan yang membuat kami semua, bahkan anak-anak, menyetujuinya. Kami tak merasa keberatan sama sekali dengan kegiatan ini, bahkan merasa senang bisa ikut berbuat sesuatu bagi alam ini.

Inilah kesibukan kami menanam mangrove.


 Bapak Bahroni sedang memberikan pengarahan singkat tentang mangrove,
juga mengajari cara menanam mangrove pada lahan pasir pantai 
yang berbeda sifatnya dengan lahan lumpur/rawa, 
supaya tanaman kokoh menancap pada pasir dan tidak mudah hanyut


 Mas Teguh dan mas Prie (suami Rena) semangat menanam


Begini caranya, Hilman


 Luthfan dan teman-temannya berlomba menanam


 Lumayan banyak yang kami tanam


 Yeeey, aku bisa juga menanamnya, Bunda


Hilman setelah menanam malah berlagak seperti ikan duyung

Seru bukan liburan kami kemaren. Sungguh sebuah perjalanan yang amat dalam kesannya. Tak hanya membuat segar jasmani kami, namun juga rohani kami. Betapa dekat kami dengan Keagungan, Kebesaran, Kesempurnaan Illahi. Allah selalu mengerti apa yang dibutuhkan oleh hambaNya. Atas ijin Allah kami berada di Pulau Tidung dengan rangkaian acara yang membuat kami semakin dekat pada Allah. Pakailah mata hati untuk melihat, maka akan kita temukan kedamaian itu.


Read more »»