Bismillahirrahmannirrahiim,
Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013 lalu, betul-betul luar biasa rasanya. Seperti yang aku ceritakan di blogku Pena Bunda, hari itu diselenggarakan acara Know Your Parent's Profession di Bank Permata Bintaro. Acara yang bertujuan agar anak-anak mengetahui seluk beluk pekerjaan orang tuanya. Bisa dibaca ceritanya pada tulisanku yang berjudul Know Your Parent's Profession ini.
Hari itu, ada cerita menarik lainnya yang rasanya perlu aku ceritakan secara terpisah. Sebab ini adalah sebuah pengalaman pertama yang melelahkan, seru, geli, segaligus menjengkelkan. Loh, kok bisa? Ya bisa dong. Nyatanya itu kok yang aku, Astri dan Fanni rasakan saat itu.
Sore itu, pukul 15.30 WIB, acara KYPP sudah selesai. Peserta sedang mengantri di depan lift. Kegiatan itu diadakan di lantai 18 gedung Bank Permata Bintaro. Letih sudah pasti terasa, walau dari wajah anak-anak yang mengikuti acara itu masih terpancar kebahagiaan, tapi kami para pengantarlah yang merasakan keletihan karena menunggu. Lift sudah mengantar turun sebagian dari kami, hingga beberapa saat ketika hendak sampai giliranku, Astri dan Fanni, tiba-tiba terdengar suara:
Nguiiiing... nguuuiiiiiing... nguuuuuiiiiiing....nguuuiiiing...!
Seorang karyawan berkata kepada kami yang sedang berada di depan pintu lift,"Ada latihan kebakaran, Bu. Silahkan turun melalui tangga, lift segera dimatikan, dan gedung harus segera dikosongkan."
Haaaaahhh!! Turun lewat tangga?! 18 lantai + 1 lantai Ground? Serius nih?
"Anak-anak ini juga harus lewat tangga pak?" tanyaku
"Iya, Bu. Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru, " katanya seraya membukakan pintu tangga.
Dengan lemas aku menggandeng tangan Fanni. Astri dengan sigap meraih tas ransel yang semula aku bawa.
"Bunda gandeng Fanni aja, aku yang bawa tas nya," begitu kata Astri.
Sedihnya adalah, batre handphone Astri hidup segan mati tak mau. Sedangkan punyaku sudah mati sejak 1 jam sebelumnya. Tidak bisa menghubungi suamiku yang ruangan kerjanya ada di lantai 1.
"Nanti saja nyalakan hape Astri kalau kita sudah di bawah, hemat supaya bisa kasih tau ayah di mana kita menunggu."
Anak tangga satu persatu kami lewati, tak urung kami bertiga pun menertawakan nasib kami sore itu. Turun 19 lantai lewat tangga, dengan gagdet yang tak menyala. Otomatis aku tak bisa mengabadikan momen istimewa itu. Sayang sekali ya. Aku hanya kuatir kalau Fanni akan menangis karena capek atau bete. Tapi rupanya dia malah kelihatan paling lincah. Aaah, anak-anak memang tak bisa di duga.
Meskipun di tangga ramai sekali karyawan yang berbarengan dengan kami, tapi tidak ada yang berdesak-desakan. Semua berjalan santai saja. Rupanya latihan sepertiink sudah sering dilakukan, jadi karyawan sudah terbiasa.
Ketika sampai pada lantai 9, kami berpapasan dengan petugas pemadam kebakaran yang naik ke atas. Rupanya dikondisikan kebakaran terjadi di lantai 20. Jadi petugas pemadam kebakaran itu naik sampai lantai 20. Hihihi... lebih capek dong ya.
Sampai di lantai Ground, barulah Astri mengirimkan Watshap kepada ayahnya bahwa kami menunggu di sekitar lift. Tak lama kemudian ayah muncul. Eeh dia malah menertawakan kami.
"Enak khan, turun dari lantai 18? Ya begini ini kalau sedang ada latihan kebakaran. Ayo, kita kumpul di belakang."
Di luar sudah banyak kerumunan karyawan. Buat mereka mungkin lumayan ya, istirahat sebentar dari pekerjaan. Semua terlihat santai. Malah ketika aku mengajak Fanni dan Astri ke kantin untuk membeli minuman, kantin penuuuuuh. Setelah sempat minum, barulah kami memutuskan untuk menunggu di dalam mobil saja.
Read more »»
Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013 lalu, betul-betul luar biasa rasanya. Seperti yang aku ceritakan di blogku Pena Bunda, hari itu diselenggarakan acara Know Your Parent's Profession di Bank Permata Bintaro. Acara yang bertujuan agar anak-anak mengetahui seluk beluk pekerjaan orang tuanya. Bisa dibaca ceritanya pada tulisanku yang berjudul Know Your Parent's Profession ini.
Hari itu, ada cerita menarik lainnya yang rasanya perlu aku ceritakan secara terpisah. Sebab ini adalah sebuah pengalaman pertama yang melelahkan, seru, geli, segaligus menjengkelkan. Loh, kok bisa? Ya bisa dong. Nyatanya itu kok yang aku, Astri dan Fanni rasakan saat itu.
Sore itu, pukul 15.30 WIB, acara KYPP sudah selesai. Peserta sedang mengantri di depan lift. Kegiatan itu diadakan di lantai 18 gedung Bank Permata Bintaro. Letih sudah pasti terasa, walau dari wajah anak-anak yang mengikuti acara itu masih terpancar kebahagiaan, tapi kami para pengantarlah yang merasakan keletihan karena menunggu. Lift sudah mengantar turun sebagian dari kami, hingga beberapa saat ketika hendak sampai giliranku, Astri dan Fanni, tiba-tiba terdengar suara:
Nguiiiing... nguuuiiiiiing... nguuuuuiiiiiing....nguuuiiiing...!
Seorang karyawan berkata kepada kami yang sedang berada di depan pintu lift,"Ada latihan kebakaran, Bu. Silahkan turun melalui tangga, lift segera dimatikan, dan gedung harus segera dikosongkan."
Haaaaahhh!! Turun lewat tangga?! 18 lantai + 1 lantai Ground? Serius nih?
"Anak-anak ini juga harus lewat tangga pak?" tanyaku
"Iya, Bu. Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru, " katanya seraya membukakan pintu tangga.
Dengan lemas aku menggandeng tangan Fanni. Astri dengan sigap meraih tas ransel yang semula aku bawa.
"Bunda gandeng Fanni aja, aku yang bawa tas nya," begitu kata Astri.
Sedihnya adalah, batre handphone Astri hidup segan mati tak mau. Sedangkan punyaku sudah mati sejak 1 jam sebelumnya. Tidak bisa menghubungi suamiku yang ruangan kerjanya ada di lantai 1.
"Nanti saja nyalakan hape Astri kalau kita sudah di bawah, hemat supaya bisa kasih tau ayah di mana kita menunggu."
Anak tangga satu persatu kami lewati, tak urung kami bertiga pun menertawakan nasib kami sore itu. Turun 19 lantai lewat tangga, dengan gagdet yang tak menyala. Otomatis aku tak bisa mengabadikan momen istimewa itu. Sayang sekali ya. Aku hanya kuatir kalau Fanni akan menangis karena capek atau bete. Tapi rupanya dia malah kelihatan paling lincah. Aaah, anak-anak memang tak bisa di duga.
Meskipun di tangga ramai sekali karyawan yang berbarengan dengan kami, tapi tidak ada yang berdesak-desakan. Semua berjalan santai saja. Rupanya latihan sepertiink sudah sering dilakukan, jadi karyawan sudah terbiasa.
Ketika sampai pada lantai 9, kami berpapasan dengan petugas pemadam kebakaran yang naik ke atas. Rupanya dikondisikan kebakaran terjadi di lantai 20. Jadi petugas pemadam kebakaran itu naik sampai lantai 20. Hihihi... lebih capek dong ya.
Sampai di lantai Ground, barulah Astri mengirimkan Watshap kepada ayahnya bahwa kami menunggu di sekitar lift. Tak lama kemudian ayah muncul. Eeh dia malah menertawakan kami.
"Enak khan, turun dari lantai 18? Ya begini ini kalau sedang ada latihan kebakaran. Ayo, kita kumpul di belakang."
Di luar sudah banyak kerumunan karyawan. Buat mereka mungkin lumayan ya, istirahat sebentar dari pekerjaan. Semua terlihat santai. Malah ketika aku mengajak Fanni dan Astri ke kantin untuk membeli minuman, kantin penuuuuuh. Setelah sempat minum, barulah kami memutuskan untuk menunggu di dalam mobil saja.
mendongak liat asap buatan di lantai 20
mobil pemadam kebakaran yang disiagakan
tetep aja pasang gaya walau kaki pegel dan keringat bercucuran
Hanya itu dokumentasi yang diambil pakai BB suamiku, sebelum dia harus kembali berkoordiansi dengan tim lainnya. Hari Rabu kemaren memang hari yang penuh pengalaman, buat aku, Astri dan terutama Fanni. Berkesan, walau capek, tapi jadi tahu bagaimana latihan kebakaran di sebuah gedung perkantoran. Mungkin bisa buat kesiapan mental bila suatu saat benar-benar mengalami. Semoga tidak.
Keesokan harinya, kakiku rasanya panas banget. Maklumlah, nggak pernah olah raga, jadi turun tangga begitu aja pegelnya sampai besoknya. Noraknya lagi, badan sampai meriang. Sementara Fanni dan Astri sehat walafiat tak mengeluh apa-apa.










