Frangipani Flower Lovely Little Garden: Afirmasi-afirmasi Astri
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Rabu, 13 Juni 2012

Afirmasi-afirmasi Astri

Waktu tadi denger Pakdhe mukul gendang Jambore... Hati jadi meletup pengen ikutan acaranya.  Ini kontes pertamaku... Mengawali dengan Bismillahirrahmannirrahiim... semoga bisa menambah pengalaman.

Tema hari ini tentang Sikap Underestimate, memang sering membuat kita ilfil.  Jangankan diremehkan oleh orang lain, diremehkan oleh diri sendiri saja sudah cukup menyiksa.  Sebagai seorang ibu, aku sering dijadikan tempat mengadu anak-anak manakala mereka sedang merasa galau dengan dirinya dan pergaulannya.  Dan salah bersikap atau salah menasehati bisa-bisa malah membuat anak-anak makin merasa tertekan.  Makin merasa under estimate pada dirinya, sebab orang tua yang diharapkan bisa memahaminya malah tambah menyalahkannya.  "Kamu jangan gitu...", "Salah kamu sendiri kenapa gitu..", "Aaahh...itu sih hal biasa..jangan dibesar-besarkan..",  "Makanya jadi anak yang berani gitu lhooo...jangan lembek gitu...", dan kata-kata meremehkan lainnya.  Sering-sering mengatakan hal-hal seperti itu maka anak-anak akan menjauh dari kita, tak lagi merasa kita adalah tempat mengadu mereka.  Dan buatku... hal ini adalah bencana buat orang tua.


Tema tentang under estimate membuatku teringat saat-saat aku berusaha membantu menumbuhkan rasa percaya diri pada anakku yang no 2, Astri.  Waktu itu Astri sedang bersiap menghadapi ujian akhirnya di Sekolah Dasar.  Astri kelihatan merasa kuatir akan ujiannya. Ujian Nasional seperti momok yang membuatnya merasa dirinya tak mampu akan mendapat nilai yang baik. Sekolah unggulan baginya waktu itu seperti diangan-angan.  Padahal aku tak pernah menuntutnya harus masuk sekolah unggulan.  Buatku yang penting prosesnya. Mengenai hasil yang didapat bila melalui proses yang sudah maksimal akan aku terima apapun hasilnya.  Tapi rupanya Astri memang membutuhkan cara agar dia tidak minder dengan kemampuannya.  Kadang dia pulang sekolah menangis karena tidak bisa mengerjakan soal-soal latihan UAN.  Walau aku berusaha menenangkannya, mengusap-usap kepalanya, tetap saja tidak bisa membuatnya menghilangkan rasa tidak percaya dirinya.  Di rumah aku tak pernah menuntutnya belajar keras. Aku kuatir membuatnya makin tertekan.

Lalu terpikir olehku untuk mengajaknya membuat afirmasi nilai dan sekolah tujuan.  Aku meminta Astri menuliskan target nilai setinggi harapannya dan sekolah yang ingin dia tuju pada sebuah kertas.  Dibuat beberapa rangkap dan ditempel ditempat-tempat yang mudah terlihat oleh Astri.  Seperti di kamar, ruang keluarga, ruang makan, dan di meja belajar.  Sehingga afirmasi-afirmasi itu bisa dilihatnya kapanpun selama dia di rumah. Masuk ke alam bawah sadarnya, membuatnya termotivasi.  Aku membantunya membuat pola pikir positif, bahwa atas ijin Allah segalanya mungkin terjadi.  Yang penting Astri melakukan usaha ke arah sana, berdoa sama Allah.  Aku dan ayahnya sepakat untuk tidak membuatnya merasa dituntut harus mencapai semuanya.  Biarlah Astri melakukan dengan caranya.  Dukungan moril dan menyiapkan segala keperluannya saja yang aku berikan.

Subhanallah... hasilnya amat memuaskan... Nilainya bahkan melewati angka yang dijadikan targetnya dan sekolah unggulan yang ditulisnya bisa dia masuki.  Sejak itu Astri lebih percaya diri.  Lebih bisa melihat kemampuan yang ada pada dirinya.  Di pergaulanpun dia terlihat disukai oleh teman-temannya.  Dan dia masih suka membuat afirmasi-afirmasi sejenis untuk target-target yang ingin dicapainya.  Alhamdulillah... Astri menemukan cara  untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

YOU CAN CHANGE ALL THINGS FOR THE BETTER WHEN YOU CAN CHANGE YOURSELF FOR THE BETTER




Artikel ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul  SIKAP UNDER ESTIMATE YANG MERUGIKAN tanggal 13 Juni 2012.


22 komentar:

  1. Sahabat tercinta,
    Saya telah membaca artikel anda dengan cermat.
    Artikel anda segera didaftar.
    Terima kasih atas partisipasi anda.
    Salam hangat dari Surabaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih pakde
      salam hangat kembali dari Jakarta

      Hapus
  2. Kita suka meng-underestimat diri sendiri karena membandingkan dengan orang lain Bu. Kita pikir orang lain selalu lebih dari kita, padahal kan gak selalu begitu. Mengafirmasi saya kira sangat bagus untuk melatih alam sadar kita bahwa bagaimanapun kalau berusaha kita pasti bisa melakukan sesuatu yg tadinya dianggap tak bisa.

    Sukses dengan kontesnya Bu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara afirmasi ini juga dipraktekkan sama anak sulungku. Mereka lebih disiplin dengan target2 yang mereka buat sendiri, dibandingkan kalau orang tua yang menentukan.

      Makasih ya supportnya...

      Hapus
  3. menjadi ibu (orangtua dari anak-anak) memang berat ya bu....salut untuk semua ibu yang sudah besar pengorbanannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena ga ada sekolahnya jadi orangtua itu mesti bagaimana. Bahkan sering teori yg kita baca dr sebuah buku tdk bisa kita terapkan pada kenyataan. Jadi yg bisa kita lakukan adalah mengikuti proses perkembangan anak dan mencari solusinya.

      Hapus
  4. mbak thanks bgt buat ceritanya ya.. Bisa di jadiin masukan nih kl sewaktu2 percaya diri anak sy lagi ilang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks kembali.... Sama-sama kita saling mengisi...

      Hapus
  5. iya sih Mbak, kadang tanpa sengaja ortu men'dikte'kan caranya yg belum tentu sesuai dengan tipical si anak dalam belajar dan hal lainnya. Dan saya jadi ingat kembali ttg afirmasi saya waktu SMA: BJ Habibie . Nama tersebut saya tulis di dinding kamar saya MBak...

    So, sukses ya Mbak..meski kita saingan tetap no need under estimate...hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agree..! No under estimate. Sukses buat kita semua...

      Hapus
  6. Wau, mantap Artikel nya Mbak, lebih banyak memahami anak mempermudah kita dalam memberikan nya pengertian. Salam Kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Berangkat dari pikiran "Kalau kita ingin dimengerti anak, maka kita harus lebih dulu ngertiin anak". Kalau kita yang dewasa aja ngga bisa menegerti anak, gimana anak2 bisa mengerti kita...?

      Salam kenal kembali.

      Hapus
  7. wow bisa ituh niar buat afirmasi di setiap ruang, biar bisa mencapai tujuan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget Niar... Asal tetap fokus dan tidak lupa berdoa sama Allah... Insya Allah tercapai...

      Hapus
  8. Alhamdulillah jika semua orang tua memiliki pemahaman yang indah untuk mengantarkan anak-anaknya menuju kedewasaan yang berkarakter. Tentu langkah menetapkan tujuan adalah langkah yang sangat luar biasa, karena dengan itu ada semangat yang lebih untuk anak. Dengan banyaknya catatan dan tujuan terencana akan mudah bagi anak menentukan langkah yang mendukung dan hal-hal yang menjadi kendala mencapainya dan dengan usaha maksimal, doa serta tawakkal Insya Alloh tidak ada yang tidak mungkin
    Wallohu'alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berusaha menanamkan pikiran2 positif kepada anak2 sering menemukan kendala, secara kita sendiri sering terkontaminasi dgn hal2 negatif. Sebagai orang tua kita memang harus selalu belajar, bukan hanya anak2 yg hrs belajar. Penanaman nilai2 agama harus selalu beriringan, karena dgn itu rasa percaya diri bisa tumbuh, kekuatan hati bisa menjadi filter pengaruh dari luar.

      Hapus
  9. wah, di pagi hari ini saya mendapatkan satu ilmu. terima kasih buat tulisannya mbak :)
    Saya pun kadang meng-underestimate diri sendiri, dan itu membuat batin tersiksa. Rasa takut dan kelemahan malah semakin merajalela. Seperti apa yang mbak dan Astri lakukan di atas, saya mau mencoba afirmasi positif itu ah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap kita pasti pernah under estimate pada diri sendiri, yang penting jangan larut dgn rasa itu. Bahkan dari sebuah kelemahan disitulah kekuatan kita... :)
      Trimakasih kembali sudah mampir kemari...

      Hapus
  10. Like this :D
    "..bahwa atas ijin Allah segalanya mungkin terjadi. Yang penting Astri melakukan usaha ke arah sana, berdoa sama Allah. Aku dan ayahnya sepakat untuk tidak membuatnya merasa dituntut harus mencapai semuanya. "

    Salah satu ciri pewaris sejati sifat-sifat leluhur utama kita, Nabi Adam a.s. adalah mereka yang membaca karunia potensi diri beserta keterbatasan-keterbatasan yang melekatinya, sambil tetap menggerakkannya dalam nafas pengingatan pada Allah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Kami hanya sebuah keluarga yang sedang punya niat untuk bermuhasabah diri...
      Trimakasih kunjungannya.

      Hapus
  11. thanks mbk untuk cerita nya, sangat menari sekali..^_^
    ijin follow blog nya #30, di tunggu follback nya yah..^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks juga untuk singgahnya.
      Kunjungan balasan segera diluncurkan... :)

      Hapus