Frangipani Flower Lovely Little Garden: Merajut Keping-keping Rindu
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Kamis, 12 Juli 2012

Merajut Keping-keping Rindu


Bismillahirrahmannirrahiim...

Puisi-puisi mbak Ririe Khayan begitu kaya dengan kata-kata yang memainkan beberapa gaya bahasa. Untuk bisa memahami bait demi bait aku harus membacanya beberapa kali dengan cermat.  Maklumlah bersyair ala pujangga rasanya belum sampai ilmunya. Maka dengan mengambil konsentrasi penuh, aku mencoba menanggapi puisi mbak Ririe yang berjudul Merajut Keping-Keping Rindu.

Serenade tasbih semesta mengalun
Berlatar angin malam bersyair syahdu
Meniupkan repetika rindu bergelombang menerpa terpa
Mensyaratkan sebuah esensi perasaan menyeruak
Ketika dinamika kendali hati menjadi tidak statis dalam sintesis temporal

Hening malam membawa hati dan pikirku lekat pada halus tutur kata ibu. Terpaan angin malam mengenangkanku pada hangat dekapan bapak. Berkecamuk rasa di hati ingin mengulang lembaran hidup kala berada dekat dengan mereka. Tak mampu kujaga rasa, hingga makin menyiksaku pada rasa rindu yang dalam. Aku hanya mampu menundukkan kepala pada hening sujud panjangku. Lantunan dzikir kukirimkan sebagai penenang rasa gelisahku.

Gelora rindu yang membawaku pada himne gandrung 
Akan sayap-sayap dekapan abstrak dalam rangkaian kenangan,
Saat udara yang berkelibat ringan mengusap kening ingatanku
Merajut keping-keping rasa yang selalu memberi makna tersendiri
diantara jedanya yang berarus rindu menderu kala mengingatnya kini

Tak bisa tidak... semua ini mengumandangkan dalam ingatan pada lagu kanak-kanakku yang selalu disenandungkan ibu. "Bila kuingat lelah, ayah bunda, bunda piara piara akan daku sehingga aku besarlah...". Dengan mata terpejam aku mampu merasakan pangkuan dan pelukan bapak dan ibu.  Dengan memutar ingatan, aku mampu merasakan ciuman manja ungkapan cinta bapak dan ibu.  Kenangan demi kenangan berputar meneguhkan bahwa akulah kesayangan.

Renyai hujan membasah rerumputan, gemericiknya melahirkan danau-danau kecil 
Dan menyemaikan prasasti lingkaran kasihmu 
Pada hati yang merindu akan hantaran senyum dan peluk
Ini pelipur yang terpisah, terderai dan tersingkapkan 
Bila pengertian cukup untuk bertahan dan mengikhlaskan dalam keberterimaan

Lalu...bagaimana bisa kutahan air mataku. Semua berurai tak terbendung. Membuat dua aliran kecil pada bulat pipiku. Tak mampu kuhitung segala pemberianmu. Tak terhingga kau semaikan benih-benih kasih sayang padaku. Benih-benih yang kemudian tumbuh subur menjadi kebijakan. Dan membuahkan pengetian untuk saling menguatkan. Serta membiakkan keikhlasan pada tiap keadaan. Maka semakin dalamlah rasa rindu mendesakku.

Kusadari sekian waktu berlalu tanpa melihatmu
Pada rotasi bumi yang masih sama dan musim yang berbondong silih berganti
Ketika laju waktu menyilamkan segala yang telah menepi
Ijinkan aku menganyam partikel-partikel doa pada tiap urai nafas
Aku anakmu, manusia berlimpah sinergi cinta Bapak dan Ibu 
Yang TUHAN ciptakan tidak untuk kesia-siaan

Bapak ibu...maafkan anakmu... aku belum bisa memutuskan rentang jarak dan waktu. Kewajiban memaksaku berpijak pada tempatku. Aku bagai berdiri pada dua bagian bumi. Kanan pada bumimu, dan kiri pada bumi suami dan anak-anakku. Namun aku tetap akan datang kepadamu bapak ibu... Dan sebelum tiba waktu itu, aku tumpahkan kasih mesraku pada untaian doaku.Yang selalu mengiringimu pada tiap desahan nafasmu. Sekalipun aku tak meminta hadir ke dunia, tapi Allah memberiku berlimpahan cinta dari bapak dan ibu. Terima kasih Allah... Terima kasih bapak ibu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Giveaway Kidung Kinanthi: Kata dalam Puisi” 

38 komentar:

  1. Pada deru nurani yang menggelora..
    akan kebertemuan
    namun jarank yang belum teringkas..
    Semoga doa kan mengalir tiada jeda..
    Teruntuk ayah bunda selalu dalam naunganNYA:)

    Terima kasih utk untaian indahnya, mengurai dan melengkapi isi tulisan saya...puisi persembahan utk kedua orang tua..

    #TERCATAT SEBAGAI PESERTA#

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada bait ke2 saya bahkan menitikkan air mata lho mbak Rie... Betul-betul teringat ibu waktu menyanyikan lagu2 kanak-kanak. Puisi mbak Rie seolah mewakili perasaan saya.

      Hapus
  2. Akan terasa lebih damai, jika keluarga dengan orang tua jaraknya seimbang supaya tidak ada yang dipinggirkan karena keduaa'a sama berperan penting dalam proses pembentukan kita dahulu & sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Andy... sangat aku rasakan sekali kegalauan berjarak dengan orang tua,pun sebaliknya. Sekarang sedang diupayakan untuk berkumpul.

      Hapus
  3. Puisinya bikin menyentuh ya bun, semoga sukses dgn kontesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lidya... puisi-puisi mbak Ririe memang perlu dihayati untuk menangkap detai maknanya. Supaya bisa membuat hati menjadi tersentuh.

      Hapus
  4. *terharu..*
    Nay sayang ibu dan aba karena ALLAH.. :)

    sukses buat GA-nya bunda.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nayaaaaa....!! Duuhh senengnya bunda dikunjungi Naya... Apa kabar say... Makasih masih mau mampir kemari Nay...
      Iya Nay... bila sayang kita terhadap orang tua dan sesama adalah karena Allah, maka kita akan sampai pada porsi yang seharusnya.... Sukses selalu ya buat Naya...

      Hapus
  5. Terkadang rindu selalu menyiksa walau itu indah ketika bertemu. Menahan dinginnya hati yg tak menentu.
    Rindu inilah yg membuat kita semakin sayang kpd mereka orang tua kita tercinta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inginnya sih selalu ada disamping orang tua. Tapi mereka tidak mau diajak berkumpul, lebih suka mandiri, katanya tidak mau merepotkan anak-anak. Padahal apa salahnya anak-anak direpotkan oleh orang tuanya. Bukankah mereka dulu juga kerepotan merawat kita.
      Lha kok malah jadi curhat... qiqiqi...

      Hapus
  6. nangis nih nangis deh..uhuhuhu
    ga bs apa apa llo dah ingat mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. niiihh iniii ada tisuue...
      Sedih ya Mi kalau ingat mereka. Makanya tak putus deh mendoakan untuk kebaikan mereka.

      Hapus
  7. wah bahasanya teralalu puitis suasah untuk di renungkan mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu baca puisinya mbak Ririe juga saya harus berkali2 membacanya. Tapi karena tertangkap bahwa isinya adalah tentang kerinduan pada bapak ibu, akhirnya ketemu juga kalimat2nya...

      Hapus
  8. puisinya.. sulit untuk ana maknai, tapi terasa maksudnya :)

    semoga menang kontesnya ya bunda.. alhamdulillah, blognya sudah tidak ada gangguan lagi ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Anna... bahasa mbak Rie memang kelas tinggi deh... lumayan berpikir untuk membuat tanggapannya.

      Alhamdulillah sudah bisa masuk ke taman bunda. Trimakasih ya Anna...

      Hapus
    2. Puisi jempolan, sulit cari tandingan.

      Titip sajak kamar sedikit:

      Rendez-vous

      Sebuah rendez vous buat kamu.
      Ketika jarum jam bergerak mundur.
      Kembali kamu memberiku wajah.
      Seutas bayangan mata hati:
      Bayangan cinta.

      Wassalammu'alaikum, taman yang indah di sini.

      Hapus
    3. Yang komen juga jempolan. Hehehe...
      Rendezvous nya kenangan masa lalu ya.. :)

      Semoga suka main-main di taman ini.

      Hapus
    4. whehehehe, tersanjung tingkat dewa neh oleh sanjungan Mbak NIken lho? Lha ini nyatanya saya belum bisa produktif dalam menulis puisi...#maluu

      Hapus
    5. Keren2 kok mbak puisinya. Bahasanya menggabungkan beberapa gaya bahasa. Walau utk memahami isinya scr detail hrs baca bbrp kali. Hehehe... kalau itu sih tergantung kemampuan yaa...

      Hapus
  9. saya jagokan posting ini jadi pemenangnya dah...
    dah saya mau mereferensikan ke Ririe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Trimakasih kalau mas Insan menyukai posting ini.
      Tapi ngga perlu juga kali sampai mereferensikan begitu.
      Biarlah mbak Ririe yang menentukan sendiri.

      Hapus
  10. Seperti sebuah kalimat, spasi/jarak yg tepat akan membuatnya tuk indah dibaca dan dilihat. Mungkin rindu juga seperti itu. Jaraklah yang membuatku untuk terus merindukan mereka seraya melantunkan doa-doaku untuknya. Hingga kami bertemu dan kutumpahkan tiap keping kerinduanku dalam pelukannya. Memberikan rajutan kepingan2 rinduku yang telah tertata rapi dalam hatiku untuknya, agar mereka tahu betapa ku sangat mencintai mereka. #kangen ayah dan bunda ^_=

    Smoga menang kontes bunda.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mas.... bayangkan kalau dalam kalimat tidak ada spasi, tentu kita sulit membacanya. Jadi jarak tak selalu harus diputus ya... Tapi bagaimana kita bisa mengelola hati dan kehadiran untuk membuat luapan rindu kita menjadi indah.

      Trimakasih supportnya Mas Erlangga.

      Hapus
  11. mba itu yang teks biru pusinya dan yang hitam, renungannya mba gitu?
    terasa meenyentuh sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mas Adang. Yang biru itu puisi mbak Ririe dan yang hitan adalah renungan saya. Kebetulan karena sedang merasakan hal yang senada dengan isi puisi itu, jadi seperti mengungkapkan isi hati saja.

      Hapus
  12. ibu, ayah jadi pingin peluk deh, masih bisa merasakan bahagia di samping orang terkasih... #elap air mata,,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini tissue buat seka air matanya mbak Niar...
      Bersyukur mbak Niar ada didekat ayah ibunya. Pokoknya jangan sia-siakan waktu dan kesempatan itu.

      Hapus
  13. wisss kalah akuuuuu
    Artikelnya bagus bangeeeeeet
    Semoga berjaya jeng
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaahhh...jangan gitu thoo pakde...
      Alhamdulillah kalau menurut pakde artikel ini bagus (semoga mbak Rie juga berpendapat sama).
      Makasih ya De...

      Hapus
  14. Dari 'aisyah radhiyallaahu 'anha, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallam b'sabda :
    "Barangsiapa diuji dengan memiliki anak-anak perempuan, lalu dia bisa mengasuh mereka dengan baik, maka anak perempuannya itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka kelak"

    Berbahagialah bunda, bisa jadi bakti bunda kepada suami bisa menghalangi orangtua bunda dari api neraka. Karna tolak ukur wanita shalihah adalah dilihat dari ketaatannya kepada suami, jika dia taat kepada suami maka secara tidak langsung orangtua si istri telah berhasil mengasuhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah... bahagia rasanya diingatkan pada hadist itu.
      Aamiin...semoga kebaikan-kebaikan yang ditanamkan oang tua bisa menjadi penolong buat orang tua memasuki syurganya Allah...

      Hapus
  15. wah sedang berjuang untuk GA.. :)
    semoga sukses bu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mas... makasih kunjungannya...

      Hapus
  16. Bunda Niken emang pinter merangkai kata. Sukses ya Bun. Saya cuma bagian keplok-keplok aja deh sekarang. Hihihi ora iso mencerna dengan baik puisi soale

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin rame dikeploki sama mas Lozz...
      ngga apa-apa ga bisa mencerna puisi... yang penting bakso semangkok habis dicerna.... qiqiqi...
      Tengkiu mas...

      Hapus