Frangipani Flower Lovely Little Garden: Bukber, Kultum dan SOTR
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Senin, 06 Agustus 2012

Bukber, Kultum dan SOTR

Bismillahirrahmannirrahiim....

Bulan Ramadhan tahun lalu kegiatan di luar rumah anak-anakku lebih banyak dari pada kegiatanku dan ayahnya. Terutama Luthfan (SMA) dan Astri (SMP). Buka bersama dengan teman sekelas, dengan teman satu angkatan, dengan satu sekolah, dengan teman SD... Hadeeuuh... Tapi aku selalu bertanya tempat buka puasanya dimana. Kalau di mall tidak pernah aku ijinkan. Sebab akan sulit melaksanakan sholat maghribnya. Kalau di sekolah atau di rumah temannya, masih oke lah... Karena pasti ada orang tua atau guru yang bertanggung jawab. Ramadhan kali ini aku membatasi acara buka bersama anak-anak.

"Pilih-pilih lah nak..., selain malah jadi pemborosan, nanti hilang makna puasanya. Berbuka puasa khan tidak berarti kita terus bebas makan yang kita suka. Bagaimana bisa merasakan kesulitan atau penderitaan orang lain kalau kita berbuka dengan sesuka hati kita. Apalagi kalau sampai tinggal sholat maghribnya... Yang ada puasa kalian cuma sekedar dapat lapar dan haus saja. Percuma lah nak...", aku mencoba memberi alasan.

Alhamdulillah mereka mengerti dan hanya berbuka puasa bersama dengan teman satu kelas dan teman satu angkatan mereka saja. Dan tempatnya juga seperti yang aku ijinkan. Disekolah dan di rumah teman mereka. Malah surprise sekali, Luthfan ditunjuk untuk membawakan KULTUM pada waktu buka puasa di sekolah. Pengalaman pertamanya ini cukup membanggakan aku. Sebab dia menyanggupi membawakan KULTUM walau penunjukannya mendadak. Siang sebelum pulang sekolah ditunjuk, sorenya pelaksanaannya. Pulang sekolah sampai dirumah sudah hampir jam 13.30. Jam 17.00 harus sudah di sekolah lagi. Kapan mempersiapkan KULTUM-nya...? 

Ya sudah pasti bundanya ikut membantu membuatkan naskah KULTUM buat Luthfan. Akhirnya kami berdua sibuk mencorat-coret kertas, mengetik dan di print... Kilat. Padat. Cepat. Lalu Luthfan tidur siang sebentar. Jam 15.30 guru ngaji anak-anak datang. Luthfan dan adik-adiknya mengaji selama 1 jam. Selesai jam 16.30. Luthfan langsung mempelajari naskah KULTUMnya, dan membacakan dengan gaya da'i di depanku. Subhanallah anak itu... cepat sekali menguasai naskahnya. Mungkin ilmu kepepet memang sering menghasilkan yang tidak kita sangka. Jam 16.45 dia berangkat ke sekolah. Mencium tanganku sampai bolak-balik 3 kali. Itu tandanya ada yang dikhawatirkannya. Kebiasaan Luthfan memang begitu. Kalau mau melakukan sesuatu yang mengganggu hatinya, pasti berpamitan dan cium tanganku sampai bolak-balik.

"Insya Allah diberi kemudahan dan kelancaran nak. Jangan lupa baca doa yang tadi. Hafal khan?" aku mencoba menenangkannya.

"Bismillahirrahmannirrahiim... Robbish rohli sodri wayasirli amri wahlul uqdatamilisaani yafqahu qauli", Luthfan melafalkannya. "Do'ain aku ya bun..."

"Ya nak... pasti bunda do'akan. Bunda yakin mas Luthfan bisa mengatasi groginya."

Setelah mencium tanganku yang ke-3 kali. Anakku berangkat dengan menarik nafas panjang. Semoga dalam hati dia mengucap Bismillah. Pergilah nak... langkahkan dulu kaki kananmu.

Sampai rumah lewat dari jam 21.00. Ternyata sholat taraweh dulu di sekolah. Langsung kami berondong dengan pertanyaan tentang pengalaman pertamanya itu.

"Alhamdulillah lancar bun. Untung ada mimbarnya, jadi ngga ketahuan kalau aku gemeteran. Tapi setelah baca pembukaan rasanya lebih tenang. Untungnya teman-temanku ngga ada yang nggodain. Huuft... benar-benar pengalaman pertama yang mendebarkan. Ini namanya uji adrenalin."

Masalah KULTUM selesai. Ternyata remaja ku itu memang seneng sekali dengan kegiatan-kegiatan. Kali ini dia minta ijin untuk ikut acara Sahur On The Road (SOTR). Yaitu membagi-bagikan makanan untuk sahur kepada orang-orang yang ada di lampu merah atau kolong jembatan. Mereka akan berkonvoi dengan sepeda motor mendatangi titik-titik tempat yang sudah ditentukan. Tahun kemaren aku mengijinkannya ikut. Tapi aku menyesal sudah memberi ijin waktu itu. Melepasnya keluar rumah pertama kali di tengah malam, pulang pagi, dengan segala resikonya...membuatku tidak tenang waktu itu. Tak putus doa aku panjatkan untuk keselamatan anakku.


Foto dari dokumen pribadi SOTR tahun lalu

Maka untuk kali ini aku tegas tidak mengijinkan. Menurutku akan banyak mudharatnya dari pada kebaikannya. 
Pertama, mereka berkonvoi dengan sepeda motor dan akan bertemu dengan konvoi rombongan lain. Resiko tawuran akan ada. Sudah banyak terjadi SOTR berujung perkelahian. Padahal seringnya hanya karena masalah sepele. 
Kedua, resiko kebut-kebutan. Ada aja nanti yang memprovokasi untuk adu ketangkasan bersepeda motor. Tahun kemaren ada anak SMA yang kecelakaan karena kebut-kebutan waktu mau pulang dari SOTR. Menabrak separator busway. Fatal sekali karena sampai meninggal. Innalillahi....
Ketiga, makanan yang dibagikan sekarang sudah tidak tepat sasaran. Karena banyak yang melakukan kegiatan SOTR ini, yang ada malah orang-orang daerah sekitar menunggu di tempat-tempat yang biasa dikunjungi. Dan malah jadi mendidik kemalasan dan kebiasaan menunggu pemberian. Rebutan menerimanya. Bahkan ada kabar yang aku dengar ada kejadian, karena ada yang tidak kebagian, mereka menyerang yang membagikan makanan.

Walau sedikit kecewa tapi Luthfan menerima penolakanku. Bicara dengan dia memang harus dengan penjelasan yang terbuka. Jangan cuma bilang tidak tanpa kita kemukakan alasannya. Dengan begitu dia mengerti apa mengapa ada larangan atau penolakan dari ayah bundanya.

Begitulah Ramadhan... saking banyaknya keinginan untuk melipatgandakan pahala, sampai-sampai menganggap semua perbuatan baik itu bisa dan syah saja dikerjakan. Padahal yang baik itu belum tentu benar. Hati-hati memilih kegiatan beribadah. Jangan sampai kita melakukan hal yang sia-sia. Sudah capek-capek, ada resikonya, keluar biaya besar...tapi nggak diterima sama Allah. Kerjakan saja yang sudah dicontohkan Rasul. Sesuatu yang datangnya bukan dari Alqur'an, akan banyak pertentangannya.

Tetap jaga semangat Ramadhan ya... Dan bawa terus walau Ramadhan sudah pergi. Ibadah itu jangan hanya musiman saja. Supaya pahalanya juga terus menerus kita dapatkan.



35 komentar:

  1. Inilah kenapa wanita begitu dimuliakan oleh Allah dan RasulNya, karna dia tidak lain sebagai sekolah bagi anak-anaknya. Jika sekolahnya baik maka akan dihasilkan lulusan yang baik pula dan semoga bunda niken adalah salah satu dari sekolah yang baik tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah... semoga para wanita, para ibu istoqomah dengan sunatullahnya...
      Trimakasih mas Sugiantoro. Insya Allah akan terus belajar karena msh memiliki kedangkalan ilmu.

      Purwokertonya dimana mas...? Saya mau ada reuni disana.

      Hapus
    2. kalo rumah lumayan jauh dari purwokerto mba, kira2 5km tapi kantor di perumahan Griya Satria II sumampir, deket sama Unsoed...Monggo mampir, tapi kabar2 dulu soalnya saya ke kantornya kalo ada perlu saja

      Hapus
    3. Saya reuni di UNSOED mas... Saya tahu tuh sumampir...
      5 km dr pwt memangnya dimana ya...?

      Hapus
  2. pengalaman saya SOTR..

    saya tidak bisa makan banyak.. :D
    ha-ha-ha-.. disamping ujung2nya sya juga kurang minum..

    gak tau kenapa bisa begitu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ingat tahun lalu Luthfan habis ikut SOTR besoknya tidur seharian. Puasanya lemes katanya.

      Kurang minum mungkin karena keasyikan bercanda sama teman-teman. Jadi lupa minum.

      Hapus
  3. masa muda memang masa penuh gejolak, seperti mbak dulu ya ? dan sekarang ketika giliran si junior mulai besar, bisa kita lihat, ternyata mereka memang butuh pengawasan dari orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengawasan orang tua pasti dibutuhkan. Bukan hanya pengawasan, tapi juga perhatian dan belaian... Buat mereka merasa dibutuhkan.

      Hapus
  4. masa remaja mmg masa2 yang menggelora ya bund,jalannya memang bicara dari hati ke hati agar anak tidak miss ke ortunya....ya ya meskipun seru banget kumpul sama teman2 hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Hanna... kalau ngga gitu nanti mereka males ngobrol sama kita dan ngga mau dengerin kita.

      Seru itu pasti. Ada saatnya mereka bisa berkumpul dgn teman2nya... Tapi org tua harus bisa memberi batasan supaya tdk kebablasan.

      Hapus
  5. Menurut saya apa yg udah dilakukan bunda emang udah jadi kewajiban ibu, sebagai seorang ibu, siapa yg mau anaknya terjerumus ke hal hal yg kurang bener, hehe

    Beruntung banget putra ibu, ada yg ngingetin, kalo saya dulu, udah hidup merdeka sejak SMP dan hanya dibekali 1 pesan oleh orang tua saya,"kamu udah mulai gede, udah tahu baik dan bener" :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya ngga bisa hanya sekedar berpesan. Sebab anak-anak tetap harus diberi filter untuk bisa membedakan mana yang baik, benar dan yang buruk. Orang tua saja masih suka salah kok.... apalagi remaja yang masih mencari-cari identitas diri.

      Tarik ulur saja... mencoba berkompromi dengan anak. Kadang kalau mrk mempunya alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, saya juga mengalah. Yang penting komunikasi harus 2 arah.

      Hapus
  6. salam buat luthfan ya bun, ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih Fauziyah... salamnya Insya Allah disampaikan... :)

      Hapus
  7. salut mb..mengarahkan anak utk kebaikan.. pasti Luthfan bangga sekali punya bunda yg bijaksana ya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya belum bisa menjadi bunda yang membanggakan, setidaknya bisa menjadi bunda yang selalu ada dihatinya, dan mampu mendekatkannya kepada Allah...
      Makasih mbak Enny...

      Hapus
  8. Subhanallah, dua jempol untuk ananda tercinta. kemampuan ini harus diasah terus sehingga menjadi nilai tambah jeng.
    Pintar mengaji dan pintar menyebarkan ilmunya tentu bernilai ibadah.
    Itulah yang saya maksud bahwa jadikan anak-anak kita satu klik di atas sahabat2nya.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walau tidak mudah... tapi selama masih ada kemauan, pendekatan... pasti menemukan jalan utk bisa berkomunikasi dengan anak2 ya pakde...

      Trimakasih ya De...

      Hapus
  9. Wah, senang yah Lutfah punya Bunda yang Shalihah dan Cantik seperti Mba :) Salam untuk keluarga ya Mba. Saya Santi/Sofia dari Bandung :)
    Salam kenal, semoga terjalin uhkuwah selalu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh maaf Mba, maksud saya Luthfan -salah ketik- hehe :)

      Hapus
    2. Semoga Luthfan memang senang punya bunda seperti ini...

      Salam kenal kembali...salam ukhuwah...

      Hapus
  10. mbak niken sama kea ibu di rumah :') buat ngelakuin apa2 aku pasti nanya ibu dulu. huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak khan ya kalau dekat sama ibu... Percaya deh... ibu Putri juga senang dekat dengan putri...

      Hapus
  11. betul sebaiknya ibadah setelah ramadhan juga harus tetap baik tidak hanya musiman saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ramadhan adalah saatnya kita belajar dan memantapkan keimanan supaya di 11 bulan lainnya kita melakukan ibadah dengan baik.

      Hapus
  12. subhanallah.. Luthfan emang sholeh bgt deh ah.. Nurut sama orang tuanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kalanya dia nurut ada kalanya tidak. Biasalah anak-anak... :)

      Hapus
  13. salut sama mba Niken, sama anak emang harus tegas tapi tidak bikin takut anak. pastinya tidak mudah, tetapi jika sama2 mau berusaha pasati bisa.

    btw doa itu juga masih saya amalkan sampai sekarang lho mbak, apalagi akan menghadapi orang yang kira2 agak sulit diajak bicara, sudah macam mantra saja jadinya saya buat hehehe

    dan keputusan untuk melarang Luftan untuk ikut SOTR saya kira sudah tepat banget, dan alhamdulillah ya Lutfan bisa menerima. Toh, berbagi dengan saudara2 kita yang lain bisa dilakukan dengan cara yang lain. Jikapun tetap ingin berbagi untuk digunakan pas Sahur, toh bisa diberikan pada saat terang hari, tak harus selalu dalam bentuk makanan siap santap kan :-)

    Semoga dia bisa juga memberi pemahaman yang serupa pada teman2nya di sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak mudah membuat anak2 mau nurut sama kita. Menahan emosi kita supaya tidak meledak betul2 membutuhkan kesabaran. Sedikit demi sedikit bisa diterapkan. Konsisten dgn aturan dan janji.

      Betul memang soal berbagi tdk harus dgn SOTR... Terlalu beresiko. Beresiko kalau itu ada contohnya radi Rasul sih ngga apa2... kalau cuma mengada2 kan percuma.

      Makasih ya mbak...

      Hapus
  14. Subhanallah walhamdulillah...
    dengan pendampingan yang demikian, semoga Luthfan kan menjadi anak yang shalih dan senantiasa bahagia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Insya Allah jadi anak sholeh... itu harapan ayah bundanya...
      Trimakasih ya pak Azzet.

      Hapus
  15. BUnda, saur on the road toh sotr, kirain makan soto gitu, hehehe :D

    Tapi buat anak di kasih tanggung jawab itu bisa menjadikan orang yang lebih mandiri yaa, saur on the road niar belum pernah lho :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan nyoba SOTR deh Niar. Apalagi perempuan. Keluar tengah malam sampai pagi dengan teman laki2 segitu banyak... aahh... resikonya terlalu besar.

      Hapus
  16. wah kalau dekat dengan Luthfan bisa saling berbagi nih, pengalaman Luthfan mengingatkanku ketika masih di Remaja Masjid, dari seorang mu'alaf aktif remas ditunjuk jadi ketua Remas dan memberi sambutan disebuah acara keagamaan, rasa grogi, takut salah dsb membuat resah dan gelisah, tp alhamdulillah semua bisa berjalan baik2, bahkan setelah itu makin diberi peran yg lbh besar hrs berhadapan dgn byk orang di mimbar..., satu kalimat untuk Luthfan jangan membatasi diri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah hidayah Allah sampai kepada mas Insan. Dan menguatkan keimanan keislaman diri mas Insan.

      Oke mas... Nanti disampaikan ke Luthfan 1 kalimat yang memotivasi itu.
      Trims ya...

      Hapus