Frangipani Flower Lovely Little Garden: Bunda Tidak Minta Dihormati
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Jumat, 07 September 2012

Bunda Tidak Minta Dihormati

gambar dari sini


Siang itu suasana kantin sedang ramai. Jam makan siang memang selalu begitu. Aku tentu saja sibuk melayani para pelangganku. Cukup berkeringat sebab kantinku memang tidak memakai AC. Disela mondar mandir mengerjakan pekerjaan, teleponku berbunyi. Terpaksa aku abaikan... tapi terus berbunyi sepertinya yang menelpon penting untuk bicara kepadaku. Akhirnya aku sempatkan mengangkatnya. Nama anak sulungku ada di layar handphone ku. Oh... ada apa gerangan...? Segera aku mengangkatnya. Dan diluar dugaanku, tidak seperti biasanya, dan amat membuatku syok.... Sulungku bicara dengan nada tinggi seakan membentakku.

"Bunda dimana...?!"

"Di kantin nak..."

"Kenapa rumah kosong...? Mbak kemana....?!
"
"Ooo... tadi mbak bilang mau ke Indomart sebentar ngantar adikmu beli keperluan tugas sekolahnya."

"Gimana sih ini...! Aku ada di depan rumah. Ga bisa masuk. Aku sama teman-teman nih...!" gusar sekali sulungku bicara. "Aku mau bikin tugas sama teman-teman bun. Tapi aku sampai rumah kok ga ada orang. Jadi gimana ini...?! Bunda pulang dong, bawa kunci cadangan kan...?! Cepetan bun...!"

"Bunda ngga bisa pulang nak... Kantin sedang ramai," aku menjawab dengan tenang.

"Yeaa... gimana sih...! Capek nih aku...!" makin keras nadanya.

Hatiku bagai disentak-sentak mendengar ucapan demi ucapannya. Keras sekali nadanya. Tapi aku menahan diri untuk tidak ikut berbicara keras. Apalagi di kantin sedang ramai, nanti malah menimbulkan perhatian pelanggan.

"Bunda sedang banyak kerjaan, nak... tunggu aja mbak sebentar lagi juga pulang," tanpa menunggu jawabannya handphone aku matikan dan memasukkannya ke dalam laci.

Melanjutkan pekerjaanku dengan hati yang tak tenang. Sedih rasanya dibentak seperti itu. Dan itu berarti dia bicara keras padaku didepan teman-temannya, sebab dia menelpon didepan teman-temannya. Sulungku yang biasanya hormat padaku, sayang dan perhatian, bisa membentakku hanya karena masalah sepele.

Aku mencoba membayangkan berada diposisinya agar aku tidak terlalu emosi menanggapinya. Mungkin dia capek pulang sekolah masih harus mengejakan tugas yang mendadak dan harus dikumpulkan keesokan harinya. Mungkin dia tidak enak sama teman-temannya harus menunggu dengan tidak nyaman di depan pintu pagar. Tapi entah kenapa, hatiku tetap tak bisa menerima kekasaran nada bicaranya. Tidak seharusnya dia bicara keras begitu padaku. Sedih sekali rasanya.

Ba'dha Ashar aku pulang ke rumah. Rutinitasku memang begitu. Ba'dha Ashar sampai lewat maghrib aku pulang untuk mengecek keadaan rumah dan anak-anak. Kalau-kalau ada tugas atau PR atau membutuhkan sesuatu. Juga untuk keperluan rumah lainnya. Setelah maghrib aku kembali ke kantin karena kantin baru tutup jam 9 malam.

Aku lihat sulungku masih mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temannya. Aku diam malas bicara. Aku kuatir bicara kasar padanya. Jadi aku memilih mendiamkannya. Berharap dia mengerti dengan perubahan sikapku. Dia menyambutku dengan mencium tanganku tapi aku masih dingin. Aku lihat raut wajahnya berubah melihat sikapku, tapi karena masih banyak teman-temannya dia kembali asyik dengan tugasnya.

Rupanya sulungku hafal dengan cara marahku. Kalau bundanya masih bisa marah dengan kalimat keras dan panjang, berarti itu belumlah puncak marahnya. Tapi kalau bunda malah diam seribu bahasa, tak menanggapi kalau diajak bicara, itu tandanya bundanya sudah dalam keadaan marah besar. Dan melihatku mendiamkannya, sulungku menjadi gelisah. Aku tahu dia bingung dan merasa bersalah. Tapi aku masih ingin memberinya pelajaran bahwa yang dilakukannya itu adalah kesalahan dan mengecewakan bundanya.

Sesudah sholat maghrib rupanya dia sudah tidak tahan lagi dengan sikapku. Diapun mendekatiku. Perlahan dia berkata,

"Bunda aku minta maaf. Bunda marah kan sama aku?"

"Kamu minta maaf untuk apa nak? Memangnya kamu merasa bersalah dalam hal apa?" aku mencoba membuatnya menyadari dimana letak kesalahannya.

"Tadi siang aku marah-marah sama bunda di telpon. Padahal bunda sedang repot di kantin. Aku nyesel bun. Maafin aku, bunda jangan diemin aku dong..." sulungku sedikit terisak.

Aku lihat wajahnya sedih dan penuh penyesalan. Akhirnya hatikupun luruh. Aku usap kepala dan wajahnya. Kebiasaan yang paling suka aku lakukan kepada anak-anakku. Cara itu tidak saja membuat anak-anak merasa nyaman, tapi membuat hatiku sendiri juga merasa tentram. Biasanya sambil melakukan usapan itu aku mendoakan mereka atau menasehati mereka.

"Nak.... bunda tidak pernah merasa kamu harus menghormati bunda karena apa-apa yang sudah bunda lakukan buat kamu. Karena semua yang bunda lakukan dan berikan buat kamu dan adik-adik adalah kewajiban bunda. Kewajiban yang Allah berikan kepada bunda untuk anak-anaknya. Semua itu tanggung jawab bunda, merawat dan mendidik kamu dan adik-adikmu. Jadi mamas lakukan kewajiban mamas kepada ayah dan bunda juga karena Allah yang perintahkan. Coba mamas ambil Alqur'an diatas meja itu. Buka Surat Lukman ayat 14. Bacalah nak...

Sulungku bergegas mengambil Alqur'an dan membuka ayat yang aku maksud. Dia pun membacanya.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

"Dari ayat itu kan jelas mas... bahwa bukan bunda yang minta dihormat-hormati atau dibaik-baiki. Tapi Allah yang perintahkan anak-anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Jadi sedihnya bunda tadi adalah.... Bunda takut mamas terkena ayat ini. Sebab mamas sudah baligh. Bunda takut mamas mendapat dosa karenanya. Sayangi ayah dan bunda karena Allah, nak. Bukan karena apa-apa yang sudah ayah bunda berikan buat kamu. Lakukan karena kamu ingin mendapat ridha Allah dengan menghormati dan menyayangi  ayah bunda. Mamas ngerti maksud bunda...?"

"Ngerti bunda... trimakasih ya bun... buat semuanya. Aku akan coba untuk selalu ingat ayat itu. Tolong bunda ingatkan aku kalau aku khilaf."

"Ya nak... Insya Allah kita saling mengingatkan ya... Bunda juga sering salah. Sampaikan saja seandainya itu terjadi," masih sambil mengusap kepalanya. "Sebentar lagi pak ustad datang ya nak. Kamu mau ngaji kan.... Jadilah anak yang sholeh."

"Aamiin..." sulungku sudah bisa tersenyum dan wajahnya sudah berubah ceria.

Selalu ada cara untuk mengungkapkan kemarahan. Tidak dengan emosi tapi dengan diam. Dan ternyata hal itu bisa lebih menenangkan suasana.








58 komentar:

  1. Tak terasa menitikkan air mata...
    jadi ingat masa-masa remaja
    ibu selalu sabar dan tersenyum menghadapi kebandelanku....

    seperti peristiwa kemaren, terpaksa marah dan menegur keras ke Devon karena minta bantuan mamanya tanpa ada kalimat Tolong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaahh... melan-nya keluar deh...
      Jadi mas Insan bandel tho dulu...Alhamdulillah ya punya ibu yg sabar, makanya jadi bener skrg... hehehe....

      Ooo... jadi ini yang Devon bikin...Eaaa... Devon ngga boleh begitu sama mama....

      Hapus
  2. hickz,bunda...terharu saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks... saya juga terharu waktu menasehatinya...

      Hapus
  3. Waktu SMP saya pernah berbicara dg nada cukup tinggi kepada kedua orang tuaku. Jujur saya ngaku :( Waktu itu di rumah sedang sibuk siap2 mau ada acara apa gitu. Mungkin arisan RT. Karena cari kaos kaki atau apa gitu yg ga ketemu, sy jd marah dan membentak! Ayah ibu saya jd sedih. Saya pun bergegas berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan diam-diam hati saya menyesal. Kenapa tadi membentak orang tua ya? Saya kepikiran sampe sepulang sekolah.

    Sesampai di rumah, saya bayangkan ayah dan ibu akan marah besar akibat perilaku saya pada pagi hari itu. Saya udah takut banget. Perut keroncongan. Sesampai di rumah, eh, bukan kemarahan yang saya dapat selain sepiring tahu campur lezat bikinan ibu. sama sekali tak ada kemarahan atau letupan emosi balik kepada saya.

    Kadang saya heran, di manakah sekolah para orang tua itu sehingga bisa bersikap begitu sabar kepada anak-anaknya yang bandel?--lirik Ayah Devon :D Karena saya sendiri pun masih sering terbawa emosi menghadapi anak-anak.

    Sebuah kisah yang menyentuh dan mengharukan. Si Sulung hebat juga langsung berinisiatif ambil Al-Quran. Selamat Bunda, punya anak saleh/salehah seperti itu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang biasa nulis artikel panjang, komennya juga panjang... bisa ngalahin postingan saya niihh... hihihihi...
      Ya ngga ada sekolahnya mas kalau jadi orang tua. Adanya sekolah kehidupan.
      Lirikannya kok mau banget yaaakkk... pas banget gitu...
      makasih ya mas buat komennya...

      Hapus
    2. Kenapa ngliriknya kesaya..?? jangan2 naksir lagi...
      maaf ya bok..., eike lekong tulen... wkwkwkwk

      Hapus
    3. Hahaha... mosok jeruk makan sunkist...??

      Hapus
  4. Terutama Ibu, Bunda. Kata penulis dari Amiriki, Elizabeth sapa gitu, menjadi ibu itu tugas yang sangat berat tapi tidak ada sekolahnya. Ga ada sekolahnya tapi bisa hebat, itu kan luar biasa banget!?

    ==>Ayah Devon: Capcus Cyinnn...Akika belalang barang-barang maharani deh bo! Ihh..lambreta, nanda lapangan bola hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah mas Walank... Kalau cuma pernyataan begitu sih ngga usah baca buku Amrik... Saya juga bisa bilang gitu... Cuma beda nasib aja kalau soal nulis ama mbak Elizabeth itu... ‎​♧♧°˚˚˚°♧...HIHIIHII...♧°˚˚˚°♧♧..
      Makanya mas... Jadi ibu harus punya rasa percaya diri krn yg dididiknya adalah generasi penerus bangsa. Kalau ibu minder, bgmn anak bisa optimis menghadapi hidup...?

      Jiaaaahh... Itu bahasa okemnya keren amat... Pengalaman yaakk... Hahaha..piss...

      Hapus
    2. Setuju!!! Debby Sahertian tuh siapa yang ngajarin bikin kamus gaul? Bukan saya Bunda... :)

      Hapus
    3. hahaha... punya ya kamusnya Debby... pinjem dong.. mau buat Al4y aahh...

      Hapus
  5. setuju mb niken mengungkapkan kemarahan tk hrs dgn emosi..
    sukses ngontesnya ya mb :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi memang butuh pengendalian diri yg tinggi. Kadang kelepasan juga.
      Makasih mbak Enny..

      Hapus
  6. Dapat pelajaran banyak dari tulisan mbak ini. Langsung ngaca diri, baik di posisi anak maupun sbg ibu. Dan sepertinya msh jauh... msh harus banyak berbenah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah manfaat dr BeWe... Kita bisa saling mengisi dan mengambil hikmah dr tulisan2 teman. Saya juga sering tersentuh dgn tulisan teman2.
      Sama2 belajar ya mbak...

      Hapus
  7. Senangnya bila anak hormat pada orang tua...
    Karena miris melihat anak jaman sekarang. Banyak yang semakin tak segan2 membentak ibu mereka. Orang tua juga sering kali gak tegas, banyak mengalah sama anak karena rasa sayang yang besar. Padahal itu sama sekali gak mendidik ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kita harus bisa tarik ulur kalau sama anak2. Ada kalanya hrs mengalah ada kalanya harus tegas.

      Hapus
  8. sebuah hubungan antara anak dan orangtua yang sungguh menyentuh dan berkesan Bund, subhanalaah....

    --semoga sukses ngontesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ‎​الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ... Semoga yg seperti ini bisa makin ditingkatkan. Tapi mmg kadang suka tidak bisa menahan emosi juga pak Azzet.
      Trimakasih ya pak...

      Hapus
  9. Yaah pagi ini ane ketahuan nangis membaca post ini.
    Ane baru ngerasain jadi bapak sekitar 6 bulan terakhir ini,jadi mingkin sudah bisa merasakan jadi orang tua. Tapi ane juga banyak merasa bersalah kepada orang tua yang ada di rumah,kalo mengingat mereka rasanya ingin tidur di pangguan sang bunda. Oh.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. *sodorin tissue dulu...

      Memang nanti setelah menghadapi sendiri lika liku mjd ortu, akan makin kita sadar bahwa apa yg dilakukan org tua kita dulu adalah utk kebaikan kita.

      Hapus
  10. Huwaaaaa... terharu, hiks...

    saya saja rasanya gimana gitu kalo Nai bantah ucapan saya, padahal usianya masih 3 tahun. Saya masih harus belajar banyak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks... Memang mbak, kita suka sedih kalo anak2 membantah. Tapi yg saya coba tanamkan adalah, bagaimana anak akan memahami kita kalau kita tdk memahami anak.
      Makasih mampirnya.

      Hapus
  11. Duh, jadi inget almarhum mama...

    Sekarang udah jadi ibu, baru menyadari gimana beratnya tanggung jawab menjadi seorang ibu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu kita ada diposisi anak2 yang suka membantah, sekarang kita dibantah... hehehe... hukum alam...

      Hapus
    2. ibu saya juga sudah meninggal dunia... bulan nopember 2012.alhamdulillah mbak bibi titi teliti sekarang sudah jadi ibu. saya belum :) mohon doanya ya

      Hapus
    3. Semoga Allah segera memberikan amanahnya kepada mbak Yanti.

      Hapus
  12. Kalau marah dengan diam malah lebih sereeeeem (-_-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem soalnya malah jadi bikin bingung ya...

      Hapus
  13. hikkzzz...utk mslh spt ini udah srg sulungku lakukan, dan crita ini jd contoh mimi jg berlaku yg sama spt bunda, syukur2 anaknya menyadari ya bun heheh makasi sharenya, dan menang deh GA nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. saling intip ilmu ya Mi... Saya juga byk belajar dari Mimi...
      Makasih supportnya

      Hapus
  14. Sediiih banget bunda dibentak2 si sulung :'(
    Bunda bijak banget sih, Nay harus banyak belajar dari bunda nih #senyum..

    Nay kangen bunda ^^
    cuman nyetor muka dimari, moga bunda dan kluarga selalu dalam lindunganNYA *aamiin*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin....
      Makasih ya Nay... masih suka mampir kesini. Bunda seneng deh Nay masih perhatian sama bunda.
      Doa yang sama buat Nay...

      Hapus
  15. mengharukan sekali bun. membuat saya instrospeksisikap saya terhadap orangtua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga suka menyesal kalau ingat dulu suka membuat ayah ibu sedih. Semoga mereka memaafkan...

      Hapus
  16. Baca judulnya koq ingat kata2 mamah ya?
    Aku sering ngambek2 juga sama mamah, Bun.

    jadi mrembes inii. ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooo... mamah Idah juga suka bicara begini yaa...
      Syukurlah Idah...

      Hapus
  17. saya bingung mau komen apa nih bunda, saya dulu juga sering begitu ke ibu saya

    jadi inget masa2 nakal dulu pas masih sma, mungkin emang hati lagi labil bunda

    lain kali diberi kunci sendiri saja ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan bingung mas Imam... bawain bunda klepon aja... hehehehe...
      Sekarang sdh pegang kunci dia.

      Hapus
  18. Jadi mewek bacanya.....#lapTissue.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. *sodorin tissue...
      Aduuhh maaf yaa... jangan sedih dong...

      Hapus
  19. Sangat mengharukan dan mencerahkan, terima kasih atas sharing nya Bun :)

    BalasHapus
  20. mbak, sy juga gitu.. Kl sy masih bisa nomel panjang lebar itu artinya blm seberapa. Tp kl udah diem, artinya sy udah marah bgt.. Anak2 juga udah ngerti kl sy kayak gitu.. Tp emang sedih kl anak2 sp bentak2 y mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena anak2 sudah terbiasa mendengar nada bicara tinggi kita, jadi ngga mrs segan lagi. Kalau kita diam udah saking ga tau mau ngomong apa, malah bikin mrk salting.

      Harusnya kita sadari itu ya spy jgn sering marah2 sama anak... tapi suka keceplosan... qiqiqi...

      Hapus
  21. aaahh
    ibu memang luarbiasa
    jadi teringat ibu...

    catatan yang bagus sekali
    salam cinta ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang luar biasa itu Allah. Saya hanya seorang bunda yang punya keinginan utk terus belajar dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah.

      Salam cinta kembali Reca... trimakasih...

      Hapus
  22. Perlu belajar banyak....3-4 tahun lagi sulung saya akan masuk usia remaja, terimakasih sharing nya Bunda....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita saling bertukar pengalaman dlm mengasuh anak. Pasti akan byk hikmahnya...

      Hapus
  23. aku nyaris nangis
    aku ingat bundaku di kampung
    aku banyak salah padanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru nyaris kan Kang Achoey...?
      hehehe...
      Kita sepertinya memang banyak salah ya sama orang tua... semoga tobat diampuni Allah..

      Hapus
  24. Waaa, ini perspektif ibu. Selama ini, saya baru bisa tau posisi anak seperti apa. Mudah-mudahan selalu bisa memahami hati orangtua, terutama ibu.

    Makasih sudah berbagi, Bunda. Ditunggu yaaa pengumumannya :)

    BalasHapus
  25. Ada award nih sekaligus pengumuman Elfrize. Cek, ya, kawan-kawan :)

    http://elfarizi.wordpress.com/2012/10/30/akhirnya-ini-dia-pemenangnya/

    BalasHapus
  26. Menitikkan air mata, terimakasih bun, di usia kedua anak sy yg masih balita, saya masih membentaknya, bagaimana kelak dewasa nanti? saya belajar banyak dari tulisan bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kadang emosi tak dapat kita kendalikan. Kalau itu sudah terjadi segera rengkuh kembali ananda.

      Hapus