Frangipani Flower Lovely Little Garden: Perhiasan dan Cobaan
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Senin, 15 Oktober 2012

Perhiasan dan Cobaan



gambar dari sini

Matanya menatap nanar ke arah jalan. Pandangannya kosong. Sesekali dia menarik nafas. Sesekali lelaki paruh baya itu menyeka air matanya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Atau bahkan dia sudah tidak mampu lagi untuk berfikir. Hanya meluapkan emosinya meski dalam diam. Walau tanpa melakukan apa-apa. Dia merasa tubuhnya bagai lumpuh, tak bertenaga. Bibirnya terkunci rapat, tak berbicara sepatah katapun. Dan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 3 bulan.

Dia hanya menatap sekilas ke arah mobil, saat mobil yang aku kendarai memasuki halaman rumahnya. Kemudian dia acuh, kembali menatap ke jalan. Seakan tak perduli pada yang datang ke rumahnya. Dia sama sekali tak beranjak. Aku bersama dengan suami dan 2 adikku, turun dari mobil langsung menghampiri dan menyalaminya. Tapi dia memandang kami satu persatu dengan pandangan kosong. Laki-laki itu menyalami kami tanpa genggaman, penuh keraguan, kehampaan. Ya Allah... kenapa bisa begini...?


"Assalamu'alaikum...Pak Maman ingat kami...? Saya Niken, ini mas Teguh, dek Andi dan Ita...", demikian aku mulai menyapanya.

Mendengar suaraku, ia seketika berurai air mata. Tanpa suara. Tapi tangisannya dalam sekali. Aku yakin dia mengenali kami. Air matanya seperti berbicara banyak tentang perasaannya. Ditatapnya kami satu persatu. Sekilas aku lihat ada ekspresi senang dengan kedatangan kami. Walau dia masih menangis.

Dari dalam rumah bu Tati, Istrinya tampak terburu-buru menyambut kami. Sang istri menyalami kami dengan wajah gembira. Tampak garis-garis kelelahan di wajahnya. Tapi senyum ramahnya memperlihatkan kecantikan hati yang dimilikinya. Langkahnya menunjukkan kekuatan dan kesabaran yang ditegakkannya. Alhamdulillah... pak Maman mempunyai istri sekuat dia.

Setelah menyuguhi kami dengan teh hangat, bu Tati mulai menceritakan sebab-sebab suaminya menjadi seperti sekarang. Berawal dari sebuah kecelakaan tragis yang dialami anak bungsunya sepulang kerja. Kecelakaan itu merenggut nyawa anak yang amat dicintainya. Sejak kejadian itu, pak Maman mulai sering menangis tiba-tiba. Walau belum menjadi seperti sekarang. Dua orang cucu yang ditinggalkan sang anak seolah tak mampu menghiburnya. Dan keadaan diperparah manakala ayah dari kedua cucunya itu menikah lagi dan pindah keluar kota. Sang ayah sejak menikah tak pernah mengunjungi dan menafkahi kebutuhan anak-anaknya. Rasa sedih dan kecewa pak Maman begitu dalam. Akhirnya dia terserang stroke ringan. Sembuh dari stroke itu, dia bagai tak punya semangat hidup. Tak mau bicara dengan siapapun. Fisiknya sudah sehat, tapi batinnya yang sakit. Jiwanya seperti tak bertenaga. Dan memandang nanar ke arah jalan kemudian menjadi kesehariannya. Biaya hidup keluarga akhirnya terbebankan kepada 2 anaknya yang lain. Bu Tati sudah repot mengurus pekerjaan rumah tangga, 2 orang cucu dan suami yang tak punya gairah hidup.

Innalillahiwainnailaihirojiuun... "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."

Pak Maman adalah sahabat baik ayahku. Dia orangnya baik, easy going, rajin, ulet, pintar dalam bidangnya dan selalu mau belajar. Urusan perbengkelan motor dan mobil... dia jago. Semua urusan elektronik beres kalau dikerjakannya. Orangnya suka bercanda. Tidak mudah tersinggung. Aku mengenalnya sejak aku masih SMA. Bagiku dia sudah seperti pamanku sendiri. Namun sejak aku menikah kami jadi jarang bertemu, karena aku sudah pindah ke kota lain. Jadi kalau aku melihat keadaannya sekarang, jelas aku prihatin. Dia bukan lagi pak Maman yang aku kenal.

Astaghfirullahalaziim... Kelemahan iman dapat membuat orang lupa bahwa segala sesuatu itu adalah milik Allah. Anak adalah titipan dari Allah, karunia dari Allah kepada kita yang nantinya akan kembali kepadaNYa. Anak adalah cobaan.

Tugas orang tua adalah mendidik anak, membahagiakan mereka, dan mengajarkan anak untuk mengenal Allah. Karena Anak adalah ciptaan Allah, dan berarti titipan Allah, maka membahagiakannya berarti kita menghormati pada penciptanya, yaitu Allah. Jadi manakala anak kembali kepada penciptanya, kita harus ikhlas dan berserah diri.

Sebagaimana dalam QS. At-Taghabun ayat 15:
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan(bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar."

Orang tua mencintai anak ada batasnya, begitu juga anak mencintai orang tua ada batasannya. Dengan batasan itulah kita terhindar dari mensyirikkan Allah. Rasa bersyukur atas nikmat dan karunia Allah atas hadirnya anak tak boleh menghanyutkan kita dalam kecintaan yang terlalu dalam. Membuat kita tidak mampu berpikir sehat manakala kehilangan.

QS. Al Munafiqun 9:
“Wahai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Pak Maman... fisiknya sehat. Seharusnya dia justru harus lebih giat dan kuat buat kedua cucunya. Anak bungsunya meninggal, tapi dia mendapat dua cucu laki-laki yang menjadi penerusnya. Mengapa tak dapat dia lihat karunia itu. Dia sekarang justru menjadi beban dari istri dan 2 anaknya yang lain. Lemahnya iman membuatnya merasa terpuruk dalam rasa bersalah.

Aku, suami dan adik-adikku mengajaknya berbicara apa saja. Mengenang masa-masa lalu dimana dia begitu banyak mengajari dan membantuku dan adik-adikku. Walau dia diam saja, tapi kami terus bercanda di depannya. Istrinya ikut dalam obrolan dan candaan kami. Tiba-tiba dengan pelan dia bertanya tentang kabar anak-anakku.

Bu Tati terlonjak senang. "Wah... Bapak mau bicara...!" serunya. Alhamdulillah...

Maka kami makin bersemangat untuk memancingnya berbicara. Pak Maman tak lagi menangis. Walau tidak juga tersungging senyum dibibirnya, tapi ekspresi wajahnya tidak seperti waktu kami datang tadi. Dan pada waktu kami berpamitan pulang, dia menjabat tangan kami dengan genggaman erat. Terucap pelan kata terima kasih.

Bu Tati terus--terus mengucap Alhamdulillah untuk setiap kalimat yang keluar dari bibir pak Maman. Semoga ini awal yang baik. Berarti pak Maman sebetulnya membutuhkan orang-orang yang memberikan perhatian dan menyemangatinya. Dia perlu dibantu untuk bangkit kembali. Dia harus diingatkan untuk menyerahkan semua kepada Allah.

Dalam perjalanan pulang, aku merenungkan semuanya. Bahayanya kelemahan iman mengintai kita kapanpun dan dimanapun. Kita harus yakin bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita. Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung. Hidup, mati adalah kehendaknya. Kita hanya harus bersiap menghadapinya. Dalam diam aku mensyukuri segala nikmat yang aku dapat saat ini dan memanjatkan doa untuk kebaikan keluarga pak Maman. Aamiin Yarabbal Alamiin....




60 komentar:

  1. semoga kita menjadi bagian dari golongan orang2 yang tabah dan tegar saat ditinggalkan oleh orang yg kita sayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin... Insya Allah Kang...

      Hapus
  2. renungan pagi yg hebat...
    tadi subuh juga di masjid pas ada jenazah anggota polisi yg meninggal... :( makin membuat renungan makin dalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu ingat pada kematian membuat kita bisa lebih menebalkan keimanan. Insya Allah.

      Hapus
  3. tabahnya istri pak Maman ya.. Semoga beliau terus di beri kekuatan.. Dan semoga pak Maman kembali seerti sedia kala ya mbak..

    Sy jd ingat sm tante sy.. Dulu tante sy hamil pertama anak kembar. Ketika melahirkan yang satu selamat, yg satu enggak.. Kemudian anak kedua juga meninggal karena leukemia di usia 5 th. Usia anak yg lagi lucu2nya & menggemaskan. Otomatis anaknya tante sy skrg tinggal 1.. Tante sy pernah blg "Kalo gak inget sm Allah, kayaknya bisa gila kehilangan anak sp 2x". Alahmadulillah bun, tante sy kuat sp skrg.. Anak yang tinggal satu2nya skrg juga udah besar, baru lulus kuliah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kita harus selalu ingat Allah dalam susah dan senang.
      Alhamdulillah tante mbak Myra bisa kuat ya... Mengembalikan kesedihan pada pemilikNya

      Hapus
  4. heum..jadi ikut merenung, mbak wardhani. mencerahkan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heum... terima kasih yaa.. sama2 merenung yuk..

      Hapus
  5. Orang seperti Pak Maman memang butuh banyak dukungan dari orang2 terdekat yang mengasihinya ya Bunda...

    Dan Bunda serta keluarga berhasil melakukan itu, semoga Allah memulihkan Pak Maman dan melimpahkan Bunda sekeluarga dengan rizky yang barokah selaku orang yang pandai bersilaturahim :)

    Baru baca kopdar di Kantin Keluarga, itu lokasinya dimana ya Bunda, mana tahu kapan2 bisa mampir :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah dengan silaturahmi kita bisa saling membahagiakan satu sama lain.

      Kantin saya ada di Depan Kampus Universitas Bina Nusantara yg di jln KH. Syahdan Batusari Jakarta Barat. Mampir mbak... silahkan...

      Hapus
  6. Dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali,, andai kita selalu ingat akan hal itu.. semoga kita di golongkan termasuk orang-orang ikhlas dalam menjalani semua kehendak-Nya..

    terimakasih bunda atas pencerahannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin...
      Trimakasih kembali Ummu...

      Hapus
  7. bunda ....menengok pak maman ,aku sedang menghadapi hal ini
    ayah kami tercinta.......hiks hiks
    beliau stroke ,fisik nya sehat tapi memorinya yg menjadi lemah dan sebagian hilang......pernah aku tulis di blog juga
    berharap selalu ada keajaiban ....ya Allah tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Mu .........maaf jd curhat
    makasih bunda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi... syafakallah... semoga ayahanda lekas pulih kembali.

      Aamiin Ya Rabbal Alamiin... untuk do'anya.

      Hapus
  8. setiap cobaan pasti mengandung makna yang spesial

    makna itulah yang harus kita cari dengan keikhlasan dan ketabahan, saya juga memiliki pak dhe yg terkena stroke, kami sekeluarga hanya bisa mensupport doa dan semangat untuk membuatnya selalu ceria menghadapi hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. dukungan moril amat penting buat mereka.
      Sakit mereka boleh jadi merupakan ujian juga untuk kita.

      Hapus
  9. semakin banyak yang peduli rasanya pak maman akan semakin mengerti arti kehidupan. bahwa yang hidup akan mati dan begitu juga pak maman dan seisi dunia. dan kematian membawa pertanggungjawaban pada sang khalik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mbak Hana... bukan hanya pak maman yg harus menguatkan diri, tapi juga org2 disekitarnya atau yg mengenalnya. apakah kita cukup peka dlm bersilaturahmi kpd mrk? sb ternyata perhatian kecil saja bisa berarti besar.

      Hapus
  10. ya Alloh Bun, bergetar saya bacanya,
    awalnya saya kira ini cerpen, tapi kok semakin dalam akhirnya tau kl ini benar adanya. semoga Pak Maman di beri kekuatan Iman ya Bun, dan bisa segera mengikhlaskannya....


    Semoga kita selalu di beri kesabaran dan keikhlasan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerpen masih belum bunda kuasai Ki...
      Masih cerita pengalaman saja.

      Aamiin... Insya Allah Ki..

      Hapus
  11. wow. menarik ceritanya mbak. smoga pak Maman tetap tabah.
    oh ya mbak,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasnya ya.

    thanks
    JUN_P.M
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      ke te ka pe dulu ya...
      makasih undangannya.

      Hapus
  12. memang banyak sekali cobaan, namun di setiap cobaan pasti ada hikmahnya, tabah saja gan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul gan... kita memang harus sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan yg ada.

      Hapus
  13. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk berkata,” kmi beriman.” Sementara mereka tidak diuji. (Qs Al-Ankabut:2).

    Apik kisahnya.terima kasih

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pakde...
      Padahal... dgn ujian kita bisa jadi lbh memaknai apa itu nikmat dan kebahagiaan.

      Salam hangat kembali.

      Hapus
  14. Dalem banget cerpennya, satu tipe cerpen yang aku suka. Bukan hanya sekedar menghibur, tapi juga mengisi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalem ya mas... nggalinya pakai cangkul tadi... hehehe...
      Tapi ini bukan crepen lho... pengalaman pribadi..

      Hapus
  15. Dulu waktu kecil saya merasa aneh mendengar cerita tentang nabi Ibrahim yang meninggalkan Siti Hajar sendirian dipadang tandus tanpa bekal apapun, mungkin akan aneh juga jika nabi Ibrahim akan menyembelih putra yang disayangi Ismail. Ternyata baru saya ketahui bahwa itulah esensi keimanan yang sebenarnya kokoh dan nyata kepada Robbnya, selalu menempatkan Allah diatas segalanya.

    Barangkali tidak ada salahnya kita berpilosofi seperti hanya tukang parkir mobil, tidak merasa senang walau datang mobil yang mewah tapi juga tidak sedih walau semua mobil diparkiran meninggalkannya..

    Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah huwa allahu akbar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mas Insan... saya juga dulu heran ttg kisah Ibrahim - Ismail. Tapi setelah paham bahwa itu adalah bukti keimanan mrk kepada Allah, sekarang bisa menjadi tolok ukur... setinggi apa keimanan kita, kesabaran kita, pengorbanan kita.

      Trims ya mas...

      Hapus
  16. Berkaca pda ujian orla kerap menjadi suntikan iman bagi diri sndri, mnyntuh skali critanya bunda....

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu ada hikmah bagi orang2 yang terbuka pikirannya.

      Hapus
  17. anak bukan saja menjadi perhiasan da cobaan tapi bisa juga menjadi aduwan ( musuh ), bersabar atas musibah yang menimpa akan lebih baik semoga saja keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan dan dikuatkan imannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah makna do'a yg sering kita panjatkan manakala ada yang meninggal. Mendoakan agar keluarga yg di tinggalkan tabah dan dikuatkan iman. sebab lemahnya iman bisa merusak byk hal.

      Hapus
  18. Semoga pak Maman deberikan warna keceriahan kembali dengan segera. salam buat pak Maman ya Bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Beliau ada di luar kota mas...
      Ntar kalo ingat disampaikan deh... hehehhe...

      Hapus
  19. Balasan
    1. pastinya demikian. Tapi diupayakan bahwa kecintaan kita pada anak tidak melebihi kecintaan kita pada Allah.

      Hapus
  20. saya hanya berpikir, seandainya saya yang mengalami kejadian seperti yang dialami Pak Maman, saya belum tahu apakah saya bisa tetap tegar atau menyerah dan menjadi lemah seperti Pak Maman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus kuta mas Aan... harus tegar...
      Masih banyak yg harus lebih diperhatikan, termasuk kehidupan mas Aan pribadi... :)

      Hapus
  21. Sungguh, betapa penting iman itu ya, Bund. Di samping itu, menanggung beban hidup perlu ada tempat untuk berbagi, meski hanya sekadar cerita. Di sinila pentingnya kita juga hendaknya punya perhatian kepada saudara dan sahabat kita, terutama yang sedang dirundung musibah.

    Saya jadi teringat ketika Aziza, putri saya, dipanggil oleh-Nya. Selain iman, dekatnya para sahabat juga sangat menguatkan. Dan, salut saya pada apa yang dilakukan Bu Niken pada Pak Maman....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali pak Azzet....
      Silaturahim harus sering2 kita lakukan terutama kepada kerabat yg sdg kesusahan. Menghibur dan menyemangati mereka.

      Innalillahi wa'innailaihi rojiuun...
      turut berduka cita ya pak Azzet... alhamdulillah pak Azzet begitu tabah dan ikhlas menerimanya.

      Hapus
  22. baru dua minggu yang lalu teman saya kehilangan putri keduanya bu, umur 6 bulan. setiap ketemu selalu menangis. saya lihat memang berat bu, kehilangan anak. ndak maidho, tapi njenengan benar, rasa cinta ada batasnya.
    saya selalu berdoa sama Allah, semoga saya mencintai keluarga saya sewajarnya. jadi inget kisah abu tholhah dan ummu sulaim.MasyaAllah... semoga iman kita tetap kuat.
    sy ijin blogroll ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang ga menyangkal akan adanya kesedihan kalau ditinggal org yg kita sayangi.

      Makanya sejak dini kita harus bisa menanamkan kuatnya iman pada diri sendiri, agar bisa sabar dan ikhlas.

      Silahkan mbak... trims..

      Hapus
  23. Apa yg dialami Pak Maman, merupakan ibrah bagi saya pribadi bhwa diluar sana masih banyak yg diberikan ujian yg sangat hebat. Termasuk apa yg dialami salah satu kakak saya sendiri, saat suaminya 'meninggalkan'nya dan di saat itu pula ujian datang dengan dipanggilnya putri keduanya yg kala itu masih berusia 2-3 tahun.

    Dnegan ingat bahwa hidup sdh ada yg MAha Mengatur denagn Maha bijaksana yg bisa memulihkan semangat hiudp kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kita hanya iri dgn kebahagiaan org lain. Tapi tdk mau belajar bgmn org itu mencapai kebahagiaannya.
      Kita selalu mrs masalah kita lbh sulit dr org lain. Padahal jelas2 dikatakan bahwa اَللّهُ tdk akan menguji diluar kemampuan hambanya.

      Hapus
  24. Dalam kondisi terpuruk seperti Pak Maman, iman bisa dihidupkan lagi dengan sering mengunjungi komunitas pengajian atau penggalangan amal. Selain bertemu banyak orang, gairah hidup akan makin semangat dan memandang hidup lebih optimis.

    Semoga kita diberi kesabaran atas setiap musibah yang kita terima. Semoga ikhlas dan mendapat hidayah selalu.

    Coba kalau Bunda Niken bawa jengkol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi maksodnya menumbuhkan keimanan dgn jengkol. Gituuuuu....

      Hapus
  25. Jadi teringat kisah tetangga. Seorang ibu sahabat ibu saya yang aktif dalam PKK dan Posyandu. Puluhan tahun ga diberi keturunan, mereka berharap. Akhirnya Allag mengabulkan walaupun kehamilannya risiko tinggi karena si ibu lumayan berumur. Anaknya cewek cantik dan pintar. Namun saat SMP Allah memanggil anak itu karena leukimia. Betapa berat oh sungguh tak mudah. Yang dinanti puluhan tahun, akhirnya datang, lalu pergi lagi.

    Semoga kita tidak lupa bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi wa'innailaihi rojiuun.
      Sungguh rahasia اَللّهُ tdk pernah kita tahu. Selalu ada hikmah dibaliknya.

      ​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ
      Insya اَللّهُ

      Hapus
  26. Balasan
    1. Yuukk sama-sama merenung... semoga bisa mengambil hikmah...

      Hapus
  27. Saya sering mengatakan bahwa Kesedihan dan kegembiraan adalah tamu istimewa dalam hidup dan kehidupan kita. Kita harus menghortmati tamu itu dan mendudukkannya pada kursi istimewa pula.

    Jika yang datang tamu VIP bernama kesedihan maka kita sambut dan dudukkan dia pada kursi istimewa merk SABAR.
    Sebaliknya ketika tamu VIP yang datang bernama kegembiraan maka dia kita dudukkan pada kursi bermerk SYUKUR.

    Dengan cara itu maka hidup kita tak akan terombang-ambing.
    Ketika sedih kita tak nyobek2 baju, rok, daster atau menjambak-jambak rambut atau menampar pipi, mencari kambing hitam atau menjadikan Tuhan sebagai tersangka.Ucapkan Istighfar dan ucapan-ucapan yang baik seraya memohon pertolongan Allah Swt

    Sebaliknya ketika kegembiraan datang kita juga tak "forget land"(lupa daratan ha ha ha ha), tak mabuk-mabukan, tak perlu jalan mundur berkilo-kilo meter,tak perlu pawai sepeda motor tanpa helm dan gemagus. Bersyukurlah secara benar, baik dalam hati, dengan lisan dan dengan amalan yang baik.

    Sabar dan syukur adalah sikap orang yang beriman dan itu baik baginya.

    Terima kasih atas artikelnya yang penuh makna.

    Salam sayang selalu dari Surabaya

    BalasHapus
  28. Menjaga hati untuk tidak terlalu bersedih dan tdk eforia dalam kegembiraan adalah hal yang harus kita tanamkan. Dengan meletakkan hati pada kepasrahan Sang Khalik maka kita akan mampu menyeimbangkannya.

    Kursi merk sabar dan merk syukur hanya bisa kita miliki dan duduki bila kita tak lagi berfikir duniawi semata. Kesedihan di dunia bisa jadi kebahagiaan kekal kita di syurga sana.

    Insya اَللّهُ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang ingin saya katakan bersedih dan bergembira boleh dan memang manusiawi tapi jangan berlebihan.

      Ada laki-laki yang isterinya meninggal menangisnya berok2, tapi gak lama menikah lagi...weleh..weleh

      Hapus
    2. Iya tuuhh... Weleh...weleh...tenan...
      Semua kalau sedang-sedang saja, paaass saja, akan lebih menenagkan hati.

      Sudah sunatullahnya manusia itu punya rasa sedih dan gelisah. Tapi اَللّهُ juga sudah memberikan obatnya... Yaitu dengan menegakkan sholat. Sebab sholat itu memang betul2 tiang agama.

      Hapus
  29. Semoga Allah menjauhkan kita dari kelemahan iman dan semoga Pak Maman mendapat kekuatan imannya kembali.. Aamiin...
    Terimakasih sdh berbagai cerita ini, Jeng..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ
      Insya اَللّهُ
      Semoga kita dijauhkan dr kelemahan iman.

      Hapus
  30. Bunda, semoga Allah senantiasa merakhmati kita. Aamiin :)

    BalasHapus