Frangipani Flower Lovely Little Garden: Masakannya Halal, Bu...?
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Kamis, 18 Oktober 2012

Masakannya Halal, Bu...?



Seorang ibu sudah cukup berumur masuk ke kantin mengajak seorang batita. Ibu itu memakai jilbab sekedarnya, sebab memang belum menutup sempurna rambutnya. Anak-anak rambut masih terlihat jelas.

Bertanya padaku, "Masakannya halal bu...?"

"Insya Allah halal bu...", jawabku.

Sambil tersenyum dia lalu membimbing batita yang digandengnya untuk duduk di meja 1. Tak lama seorang wanita muda menyusul. Rupanya mereka datang bertiga. Wanita yang menyusul itu mama dari sang batita. Aku tahu hal itu karena si batita memanggilnya dengan sebuatn mama. Jadi mereka adalah nenek, anak perempuan dan cucu.

Yang menarik perhatianku adalah begitu kontras pakaian ibu dan anak perempuannya. Walau si ibu belum sempurna dengan jilbabnya, tapi pakaian anak perempuannya membuat ku miris. Kaos T shirt putih tipis menerawag dengan celana yang amat pendeeeeek sekali. Rambutnya diikat acak-acakan. Dan cara bicaranya terkesan angkuh (pendapat pribadi kalau ini sih...).

"Mama udah nanya belum masakannya halal atau tidak?" tanya perempuan muda itu.

"Sudah... Insya Allah halal kata ibu itu," jawab ibunya sambil melirik padaku dan aku balas dengan senyumanku.

Dalam hati aku berkata, "Emangnya paha kemana-mana itu halal phooo? Ngga lihat apa penampilanku gimana. Aku juga ngga mau jualan yang haram." Ups... jadi sewot deh...

Sedikit merasa aneh memang dengan kejadian siang tadi. Mungkin mereka pikir, kalau sudah menjaga tidak makan makanan yang mengandung babi atau minuman keras, berarti sudah taat kepada Islam. Tak perduli dengan perintah-perintah yang lain, seperti menutup aurat yang jelas-jelas diumbarnya.

Setelah memilih beberapa menu, perempuan muda itu kemudian asyik dengan BB nya. Tak perduli dengan anak batitanya yang mengacak-acak kursi kantin. Menjatuh bangunkan dan berkeliling-keliling kantin. Sang nenek mengikuti cucunya dengan sabar sementara ibunya tetap asyik dengan BBnya. Buatku tidak masalah dengan kelakuan anak batitanya.  Namanya anak-anak, biarlah begitu, tak apa-apa. Tapi kelakuan ibunya itu yang membuatku gemas.

Masakan pesanan sudah terhidang semua. Perempuan muda itu tetatp asyik dengan BBnya. Sang nenek menyuapi cucunya dengan sabar. Membujuknya karena ternyata sang cucu susah makan. Dan sang ibu batita menyuap makanan ke mulutnya sendiri sesendok demi sesendok sambil matanya tak lepas dari BBnya.

Hadeuuuh... pengen ngelempar kalkulator yang ada di depanku rasanya. Terlalu sekali sih...! Belum lagi kalau memperhatikan caranya duduk dengan celana yang begitu pendek. Astaghfirullah.... Karyawan kantin ku saja sampai kasak kusuk mentertawakan kelakuannya.

Sampai selesai makan, membayar kemudian keluar kantin, tak sekalipun perempuan itu menyentuh anak batitanya. Padahal si anak beberapa kali memanggil mamanya minta digendong. Protes aku dalam hati... Betul-betul tidak bisa memahami jalan pikir perempuan itu. Kejadian itu hanya sebentar. Tapi rasanya bisa menjadi rangkuman hubungan ibu dan anaknya.

Apa pendapat teman-teman mengenai kejadian diatas...?


67 komentar:

  1. Balasan
    1. hehehee...bisa pertamax ternyata.

      Saya kalau lht pemandagan yg kontras getu juga ikutan gemes dan masgyul Mbak. lha nanyak menu halal, tp penampiland an sikapnya terhadap anaknya gak dibikin 'halal' jugak.

      Lbh ironis lagi, jk lht audisi infotainment yg tampil ibu dan anak, sang Ibu tertutup brukut tp anaknya 'terbuka' banget.

      Hapus
    2. Hehehe... iya mbak Rie... pertamax juga akhirnya disini...

      Iya tuh betul mbak Rie... kontras banget deh sama kepengen ngetop tanpa perduli aurat kemana-mana.

      Thanks yaaa..

      Hapus
  2. nongkrong di tempat pertama sambil liat Fanni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Telaaattt...! Keduluan mbak Ririe... *joged-joged*

      Hapus
    2. ya sudah nongkrong di nomor dua aja
      kenapa mamanya si Batita tadi gak diphoto aja... hehehehehehe...

      Tertipu saya, kirain cerita tentang fanni...coz ada photonya fanni

      Hapus
    3. Hehehe... maaf ya mengecewakan... Wkwkwk...
      Cerita fanni nanti kan ada tempatnya sendiri... Ya nggaaakk...

      Hapus
  3. hahaha... ini curhat ala emak-emak.. hihi..
    iya bunda, yg sabar aja yah... mereka belum mendapat hidayah. tampilkan senyum terbaik kita saja, kalo bisa ya diajak bicara baik-baik, kenapa milih makanan halal tapi msh berpakaian yg tak halal (menebar aurat)
    salam :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Ari... Di depan mereka sih tadi saya kasih senyum gula aren saya... *qiqiqi... Sok manis*...
      Walau dlm hati mbatin kayak gini...
      Semoga segera menemukan hidayahnya...

      Hapus
  4. neneknya kok jadi kyk baby sitter si anak...
    ada juga loh mba ibu2 yang kmn2 kalo ngajak anak mesti bawa baby sitter padahal itu acara liburan, trus anaknya mau apa2 juga sama baby sitternya, ibunya jalan2 sndiri, bgitupun bapaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering liat ya kalau yg seperti itu. Makanya jangan menyalahkan org lain kalau anaknya jadi berulah diluar rumah.

      Hapus
    2. Bawa babysitter sih tidak masalah Mbak Rahmi--itung-itung ngajak mereka liburan juga. Tapi kalau ortunya cuek dan menyerahkan segala sesuatu ttg anaknya saat liburan, nah itu yg ga bener...Harusnya babysitter dikaryakan saat dibutuhkan saja. Jangan dikit2 babysitter...dikit2 babysitter, babysitter kok cuman sedikit? :)

      Emangnya itu anak'e babysitter po?

      Hapus
    3. Baby sitter ada sbg sebuah profesi memang tak salah. Yg salah adalah manakala org tua jadi keblinger dgn memasrahkan semua hal mgn anaknya kpd baby sitter.

      Hapus
  5. memang agak aneh sih ya.. Di tanya halal atau tidak ke sebuah kantin yang jelas2 penjualnya berbusana muslimah.. Tapi yang nanyanya (selain ibunya) juga berpakaian yg serba terbuka.. Entah apa yg ada di pikiran ibu anak itu.. Semoga mereka dpt hidayah aja deh mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ
      Semoga aja ya mbak Myra.
      Buat saya juga sebagai pengingat bahwa saya hrs tetap megupayakan jualan saya dan hasilnya adalah halal.

      Hapus
  6. Semoga itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
    Banyak orang diluar teriak2 menyalahkan ini-itu tetapi begitu masuk di dalamnya eeeeh...ngiler juga lihat uang banyak.

    Mari kita berbenah diri, mulai dari diri sendiri.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astaghfirullah... Semoga dijauhkan dari hal demikian.

      Mari pakde kita benahi diri sendiri...

      Hapus
  7. Balasan
    1. Uuppss... Maaf... Ngga adaaa... Hehehe..

      Hapus
  8. pertama kali yg ada dipikiranku : aku ngga mau jadi ibu seperti itu.. Rugi banget deh, kehilangan kenikmatan punya anak {padahal si aku belum menikah #eh } :)

    Blog Walking bunda u/ kedua kalinya ^,^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Nuraini.... Ini contoh yg tidak baik kok...

      Trims yaaa...

      Hapus
  9. Masyarakat kita kebanyakan kan kini bermazhab infotainment. Semua yang mereka lihat di tipi bakal mereka tiru semampu dan sekuat mereka. Yang dibilang Mbak Ririe di atas adalah bukti yang nyata. Betapa kita sering lihat para artis (atau calon artis) yang berpakaian sangat irit kain sementara ibu yang mendampingi mereka tampil anggun berbusana tertutup nan santun. Saya dan istri juga kerap berseloroh (salah satu bukti kecerewetan saya:), "Apa ibunya ga aneh ya melihat anaknya senjang dengan dirinya?" Lalu kami sepakat bahwa ibu-ibu itu "diam" saja karena mereka takut pada putri mereka yang menjadi penghasil pundi-pundi rupiah....Jadilah sang ibu segan menegur atau menyalahkan tingkah anaknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mas Belalang... Itu juga sbg bukti bahwa jilbab buat sebagian orang adalah mode berpakaian. Jadi kalau anaknya blm menutup aurat, katakan bahwa anaknya blm mengikuti mode jilbab,
      Juga... Menjadi terkenal dgn limpahan materi scr instan sdh mjd hal yg meneggiurkan saat ini.
      Astaghfirullah.... 3x...

      Hapus
  10. Sebenarnya tidak salah ketika mereka bertanya tentang kehalalan makanan yg kita sajikan, itu adalah tindakan yang patut kita acungi jempol sebagai wujud kehati-hatian.

    Cuma ya itu, kenapa tidak kaffah. Halal pada makanan tetapi tidak menutup aurat dengan baik. Moga kelak kala datang lagi dah berubah ya. Untungnya saya bukan karyawan bunda, coba bisa netes air liur saya ke kuah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sebetulnya srg mendapat pertanyaan soal kehalalan masakan kantin. Dan biasanya saya jawab saja dgn riang dan ringan.
      Tapi yang terjadi td siang cuma sedikit menyebalkan saja.

      Di Kedai tentunya juga byk ya mas ulah pelanggan. Hehehehe...

      Hapus
  11. wahhhh,,,
    ini nih yang disebut ibuku babysitterku,
    jahat bener . . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jahat sih mungkin tidak... Cuma raja tega aja.... Wkwkwk...

      Hapus
  12. Positif thinking setidaknya dia menjaga makanannya. Tapi tetep aja gemes yaaaa.... >.<

    Semoga cepat diberikan hidayah, si Ibu itu. Kita cuman bisa ngedoain soalnya. Mau kayak apa kita ngomong, kalau hatinya emang gak diketuk sama Allah, ya gak jadi juga deh hidayahnya.

    Betewe, ini setting ceritanya dimana ya, Mbak? *penasaran*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke...oke... Positif thingking saja. Mendoakan smg dia mendapat hidayah. Tp sepanjang yg saya tau... Hidayah itu tdk datang dgn sendirinya melainkan harus kita kejar.

      Hapus
  13. just wanna say no body perfect...

    ada yang sudah "menyempurnakan" cara berpakaian tapi kelakuannya sama seperti bunda ceritakan di atas...

    Yah.. kalo saya sihh berdoa aja semoga si ibu itu segera mendapatkan hidayahnya...


    oia, bunda salam kenal yaaa.. sering liat di webe tapi baru sempet mampir :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju no body's perfect...
      Semoga segera dibukakan pintu hidayah. اَللّهُ memberi kita akal untuk bisa belajar dari apa2 yg sdh ditetapkannya.

      Salam kenal kembali. Sering papasan kita ya di warung... Hehehe...

      Hapus
  14. satu kata kalau damae di TKP, bunda. "WOW"!

    :)

    http://damai.malhikdua.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Habis WOW terus ngapain tuh mbak Damae... Hehehe....

      Kunjungan balasan segera ya...
      Maaf skrg sedang pakai hape... :)

      Hapus
  15. gemes rasanya saya bun.. pingin remas tu ibu....

    Na'udubillah punya istri kayak gtu......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak terjadi pada kita ya Ki... Cerita ini cm penggambaran bahwa masih byk hal demikian terjadi di sekitar kita. Maka pandai2lah kita bersikap.

      Hapus
    2. Aamiiin...
      Iya sih Bun, bahkan ada yg lebih menyiksa ketika kita melihat....

      Hapus
    3. Begitulah... belajar dari apa yg kita lihat.

      Hapus
  16. kok gak difoto Mama itu Bun.? saya kan penasaran hehe

    BalasHapus
  17. mama macam apa itu???

    ya macam macamlah, itu termasuk tipe mama yang lebih mementingkan gadget ketimbang anaknya, dasar ibu muda yang belum ngerti makna keberadaan seorang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut sewot ya mas Imam... Hehehe....
      Semoga segera sadar bahwa anaknya membutuhkannya.

      Hapus
  18. Biasanya orang kaya (berduit) yang kelakuannya kaya gitu. Soalnya aku pun pernah melihat sepintas sama sikap, kelakuan, dan ketidak tanggung jawabannya yang malahan lebih membandingkan dirinya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berduit atau tidak mungkin bukan ukurannya. Semua itu bs terjadi karena watak dan mentalnya.

      Hapus
  19. yaa ampun gregetan liat ibu2 muda yang bikin uwel2 jaket, kasian anaknya masak yaa ndak di reken gitu, eyangnya yang ngurus cucunya bener2 kok :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ati-ati uwel2 jaketnya Niar... Ntar malah robek lhooo... Wkwkwk...

      Hapus
  20. itu kenyataan ya bunda....
    kayane ga lumrah ya kalo liat model ada ibu kaya gitu..
    mudah2an dapat hidayah ya bund..
    iya kita tetep hrs positif thingking juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenyataan terjadi di kantin saya mbak...selalu aja ada kisah menarik di kantin.
      ​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ

      Hapus
  21. Barangkali si ibu yang berjilbab itu baru mendapatkan nasihat dari ustadz atau siapa gitu agar senantiasa makan yang halal sebagai solusi dari problem kehidupannya. Maka, pelajaran barunya ia terapkan begitu saja tanpa melihat kepada sosok seperti apa penjual yang ia tanyai. Sedangkan anaknya, yang pahanya diumbar ke mana-mana itu, yang tidak punya rasa perhatian kepada anaknya itu, hanya sepintas lalu saja ia mengingatkan ibunya soal jalan hidup yang baru dilalui ibunya ihwal makanan halal itu. Sesungguhnya ia sendiri yang --sekali lagi-- pahanya diumbar ke mana-mana itu, tidak punya kepentingan untuk nanya halal atau tidak. Maka, kita doakan saja semoga ini adalah langkah awal bagi sang ibu untuk mendapatkan hidayah, sehingga dapat berjilbab dengan baik, yang anak rambutnya tidak tampak keluar; dan semoga anaknya dapat berubah, mempunyai perhatian kepada buah hatinya dan menutup auratnya dengan sopan, paling tidak tak mengumbar --maaf sekali lagi-- pahanya ke mana-mana.

    Lho, kok komen saya jadi panjang, Bu, maaf nggih.... Gara-gara "ke mana-mana" di atas, jadinya komennya juga ke mana-mana, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeee... Pak Azzet komennya panjang... Lumayaaan jadi makin lengkap postingan saya....
      Makasih pak...

      Hapus
  22. nyoba komen :)

    terkadang saya sedih lo mbak, melihat pemandangan seperti itu
    mereka yg sudah dikaruniai momongan malah tidak merawatnya dg baik

    sdgkan kami disini masih disuruh menunggu :)
    semoga sj ketika saatnya tiba, kami bs menjaga amanah dg baik. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ
      Insya اَللّهُ mbak Esti... Sabar dan tawakal ya... Smg segera diberi momongan.

      Hapus
  23. mungkin anak angkat atau anak tiri..hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh... Ngga tau deh tuuh...
      Tapi sekalipun begitu... Apakah boleh dia spt itu...?

      Hapus
  24. sering mbak aku mengalami seperti itu oops maksudnya si ibu yang cuek dengan anaknya, sementara aku atau teman2 lain yang sibuk menjaga anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya... Memang mbak Lidya ada di lingkungan apa? Kok menjaga anak orang lain..?

      Hapus
  25. hm...kok ikutan gemesss... yah, semoag mereka segera dapat hidayah ya Jeng.. dan kita juga dapat pelajaran utk selalu menjaga perilaku kita..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Dan semoga kita juga dijauhkan dari kekhilafan dan kesalahan seperti yang demikian.

      Hapus
  26. hehehe saya gimana yaaa ...
    pasti sedih laaah ... gemes juga
    saya pengen punya anak blom dikasih
    eh itu ada perempuan dikasih anak tapi kok dikasih neneknya urusin uhuhuhu ...
    tapi yaaa gitu deh bun, harus ada orang macam itu biar kita bisa belajar dan eling gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih dan miris memang menyaksikannya.
      Menyia2kan waktu sedemikian rupa. Semoga tdk berlama-lama demikian.

      Mbak Ni... sabar ya.. yang tawakal dan ikhlas... Allah pasti memberi yang terbaik...

      Hapus
  27. hayooooo, ghibah yaaaaa :)
    mari kita doakan saja mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. khan ga nyebut nama...
      Yuuk kita do'akan sama-sama...

      Hapus
  28. Semoga perempuan itu cepat diberi hidayah oleh Allah agar segera menutup auratnya dan menghormati orang tuanya..
    Astaghfirullah..

    BalasHapus
  29. Astaghfirullahaladhiim..
    Semoga lekas dibukakan pintu hidayah oleh Allah SWT. Aamiin.. :)

    *psst.. sebenarnya saja pengen nyanyi, Bunda.. geregetan duh aku geregetan.. pengennya ngelempar sandal.. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... lagunya Phie mantaap...
      telat nih dengarnya...

      Hapus