Frangipani Flower Lovely Little Garden: Fiksiku: Geliat Pagi Hari di Metropolitan
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Sabtu, 15 Desember 2012

Fiksiku: Geliat Pagi Hari di Metropolitan

google image


Pukul 04.00 WIB
Pagi yang basah. Hujan sejak malam hari tumpah dengan derasnya. Dan hingga pagi ini masih menyisakan rintiknya. Hawa dingin menelusup melalui celah dinding rumahku. Bukan dinding... melainkan triplek usang yang sudah berlubang di beberapa tempat. Untung asbes atap rumah yang pecah kemaren sudah ditambal. Pak Tarjo, tetanggaku yang berbaik hati membantuku menambal bocornya. Amanlah rumahku dari kebocoran derasnya hujan tadi malam. Membuat lelap tidur Ujang dan Nok anak-anakku.

Walau keletihan belum beranjak dari tubuhku, namun aku tetap bangkit dari kasur kapuk kusamku. Mumpung si Nok masih tidur. Aku bisa mengerjakan beberapa hal lebih dulu sebelum nanti berangkat kerja. Mencuci pakaian, menyiapkan sarapan ala kadarnya juga berbenah rumah yang terasa sumpek ini. Mungkin buat orang lain, yang kutempati ini bukanlah rumah. Tapi buatku, disinilah semua keindahan hidupku berasal.

Desahan resahku tak bisa kutahan manakala kulihat bakul tempat beras hanya tinggal 2 genggaman saja. Namun bila kubuat bubur masih cukup untuk sarapan si Nok, Ujang dan aku. Yang penting anak-anak dulu. Terutama Ujang yang harus berangkat sekolah. Walau keadaanku susah, tapi anak-anakku harus tetap sekolah. Mereka harus bisa membuat keindahan yang lebih dibanding aku.

Tak lama kemudian Ujang bangun dan segera menuju ke kamar mandi umum disamping rumah. Harus bergegas sebelum antrian menjadi panjang. Telat sedikit antri kamar mandi bisa menyebabkannya terlambat sekolah. Kamar mandi umum itu ada 3 pintu. Namun kalau pagi pasti yang antri banyak. Beruntung baru saja pak Tarjo baru saja keluar kamar mandi. Ujang segera masuk dan mengguyurkan air yang pagi itu terasa dingin ditubuh.

"Mak, kancing bajuku lepas satu nih. Nanti tolong dibetulin ya Mak."
"Iya, nanti Mak pinjam jarum dan minta benang sama bu Jum. Sekarang pakai peniti dulu saja ya."
"Iya Mak... nggak apa-apa."

Sebetulnya seragam Ujang bukan cuma bermasalah dikancing baju yang copot saja. Tapi juga warna putihnya yang sudah kusam menjadi warna cream tua. Tapi aku belum bisa membelikannya yang baru. Dan Ujangku tak pernah merengek akan itu. Agaknya dia mengerti akan keadaan Emaknya. Makanya sekarang Ujang rajin menyemir sepatu sepulang dari sekolah. Supaya bisa membeli seragam baru dan keperluan sekolah lainnya.

Pukul 05.30 WIB
Ujang sudah siap berangkat sekolah. Sementara aku masih sibuk memandikan si Nok. Nok selalu ikut kalau aku kerja. Sebab tak ada yang bisa aku titipi untuk menjaga si Nok. Tapi tak apa... malah dengan adanya Nok ikut aku kerja, bisa membuatku mendapat penghasilan lebih banyak.

Nok harus wangi. Kutaburi seluruh badannya dengan bedak bayi. Tercium aroma segar dari tubuhnya. Bayi 7 bulanku itu aku dandani dengan memakaikan baju terbaiknya. Baju pemberian bu Jum waktu membesuk kelahiran Nok dulu. Kupandangi sejenak bayi perempuanku itu. Cantik sekali. Hidungnya mancung mirip dengan almarhum bapaknya. "Semoga kelak hidupmu lebih baik dari sekarang Nok. Mak akan berusaha sekuat tenaga Mak untuk kebaikanmu dan Ujang."

Beruntung aku punya tetangga-tetangga yang baik seperti pak Tarjo dan Bu Sum. Mereka menyayangi Ujang dan Nok yang sudah yatim. Nok kehilangan bapaknya ketika masih dalam kandunganku. Korban tabrak lari ketika sedang pulang dari kerjanya sebagai petugas cleaning service di sebuah mall. Tak meninggalkan apapun untuk kami selain rumah yang buatku adalah keindahan ini.

Setelah mendandani Nok, giliranku merapihkan diriku sendiri. Aku juga memilih pakaian terbagus yang aku punya. Hari ini memang hari istimewa. Aku harus tampil rapih, bersih dan wangi. Pekerjaanku ini memang seperti menjual penampilan. Dengan persaingan yang semakin banyak, aku harus pandai-pandai membawa diri agar tetap bisa mendapat uang. Sebagian memang ada yang tidak suka karena aku selalu menggendong Nok kemanapun aku pergi. Tapi sebagian lagi tidak masalah dengan adanya Nok. Makanya Nok pun harus tampil cantik, bersih dan wangi.

Pukul 06.30 WIB
Aku segera bergegas menuju tempat kerjaku di sekitar jalan Sudirman, tepatnya disamping kampus Atmajaya.  Agar tidak berpeluh keringat aku naik angkutan umum saja. Nanti kalau pulang baru berjalan kaki. Kalau pagi-pagi sudah keringatan bisa percuma dong tadi sudah berdandan.

Teman-temanku sudah banyak yang lebih dulu sampai disana. Biasanya aku ciut kalau melihat mereka. Penampilan mereka lebih baik dari aku. Bahkan ada yang berdandan seperti pegawai kantoran lengkap dengan tentengan tas kerja atau map yang isinya entah apa.

Tapi kali ini aku bisa lebih santai. Seorang langganan sudah menjanjikan akan memakai jasaku lagi. Semoga bisa jadi pelanggan tetap. Om Karta kemaren memintaku untuk lebih memperhatikan penampilanku kalau mau aku jadi langganannya. Itu makanya aku hari ini berdandan secantik dan serapi mungkin. Dan juga mendandani Si Nok. Supaya om Karta terkesan, sehingga besok, besoknya dan seterusnya tidak memilih orang lain lagi.

Kalau om Karta bisa tetap menjadi pelangganku, maka setidaknya setiap hari aku bisa mendapat penghasilan. Walau itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan anak-anak. Tapi kata om Karta, kalau aku selalu berpenampilan rapi, bersih dan wangi, banyak yang akan memanggilku. Dan itu berarti aku bisa lebih banyak mendapat uang. Bisa membelikan kebutuhan anak-anak dengan lebih baik.

Dengan harap-harap cemas, aku menunggu om Karta datang. Berdoa dalam hati semoga hari ini tidak ada petugas Satpol PP yang akan mengejar-ngejar aku dan teman-teman, seperti 2 hari yang lalu. Kami kocar-kacir berlari menghindari kejaran petugas. Beberapa orang temanku berhasil ditangkap oleh mereka. Dan perlu ratusan ribu untuk bisa keluar dari tahanan mereka. Bersyukur aku selalu bisa lolos dari kejaran para petugas Satpol PP itu. Lariku cukup kencang sekalipun sambil menggendong Nok. Aku juga tahu jalan tikus untuk meloloskan diri dari kejaran.

Pukul 07.20 WIB
"Nah... itu Nok... mobil om Karta datang." Tanganku melambai-lambai agar om Karta melihat keberadaanku. Mobil sedannya melaju pelan dan berhenti beberapa meter melewati aku dan Nok. Dengan berlari kecil aku menghampiri dan membuka pintu mobilnya.

"Selamat pagi om Karta...," sapaku seramah mungkin seraya masuk ke dalam mobilnya.
"Eh... Selamat pagi juga bu Tati, ayo masuk! Nah begitu kan lebih enak dilihat bu. Lebih bersih dan rapi," perlahan om Karta mulai melajukan mobilnya memasuki kawasan Three in One.

Sesaat kemudian kunikmati suasana nyaman di dalam mobil mewah itu. Nok begitu anteng diatas pangkuanku. Dinginnya AC mobil dan wanginya pengharum mobil seketika membuatku merasa nyaman. Dan sopir om Karta melajukan mobil kian kencang sebelum kemacetan menghadang.

Tapi rasanya ada yang berbeda pagi itu. Om Karta lebih banyak bicara dari pada biasanya. Lebih sering menoleh kebelakang untuk melihatku. Dan lama kelamaan yang dibicarakan mulai kurang enak di telingaku. Sikapnya membuatku tidak nyaman.

"Saya ini sedang kesepian, bu Tati. Istri saya selalu sibuk jalan-jalan ke luar negeri sama teman-temannya. Pulang sebentar, kemudian pergi lagi ke Bali, ke Bangkok, ke Singapur... Lha saya ini sampai merasa tak dibutuhkannya." om Karta mengatakannya sambil membalikkan badan kebelakang. Menatapku dalam. Membuatku merasa jengah dan gelisah.

Aku diam seribu bahasa. Aku sungguh tak berani menimpali perkataan om Karta. Hatiku tak tenang. Berharap mobil segera sampai ke kantornya om Karta. Dan segera tugasku selesai menjadi Joki 3 in 1 nya. Bayanganku setelah ini aku akan mencari tumpangan lain yang memerlukan jasaku melewati jalur itu.

Namun ternyata dugaanku salah. Sopir om Karta tidak membawa mobil menuju kantor om Karta. Mobil dilajukannya terus melewati kantor dan kemudian memasuki halaman sebuah hotel. Hatiku makin tak menentu, mengisyaratkan tanda bahaya yang akan ada di depan mataku.

"Kok tumben om tidak berhenti di kantor," kuberanikan diri untuk bertanya. Sambil tanganku mulai meraba-raba mencari kunci pintu mobil. Bersiap-siap dengan segala kemungkinan.

"Iya bu Tati, kita mampir sini sebentar. Saya ingin ngobrol-ngobrol dulu dengan bu Tati di dalam. Nanti ibu saya bayar lebih. Jangan kuatir."

Astaghfirullah... sepicik itu pikirannya. Sakit hatiku merasa terhina. Walau hidupku susah begini, namun aku tak sudi melayani laki-laki seperi om Karta ini. Mengapa masih ada saja yang menilai bahwa joki bisa dilecehkan. Tidak...! Aku tidak sudi.

Tanganku sigap menggeser kunci mobil. Aku sudah beberapa kali naik mobil pak Karta, jadi hafal bagaimana membuka kuncinya. Segera setelah kunci pintu berhasil aku geser. Kubuka pintu mobil dengan kasar, bergegas berlari keluar... berlari... berlari sekuat tenagaku. Menggendong Nok yang menangis keras dalam dekapanku.

***




57 komentar:

  1. Balasan
    1. kopinya di meja sebelah sana tuh mas...

      Hapus
    2. Ada pepatah mengatakan ada asap ada apinya
      Kita perhatikan yang ini "Aku harus tampil rapih, bersih dan wangi. Pekerjaanku ini memang seperti menjual penampilan"

      Dengan wewangian dan menjual penampilan jika ada yang niat membelinya gimana dong?

      jadi bukan sepenuhnya salah Om karta ya..

      Hapus
    3. Begini lho mas Insan...
      Pada kenyataannya para pengguna joki itu lebih memilih joki yang berpenampilan rapi dan bersih. Yg tidak menunjukan kalau mrk memakai joki. Sb kadang ada razia joki. Kalau di dalam sebuah mobil bmw, misalnya, didalamnya ada yg berpakaian kumuh melewati jalur 3 in 1 kan sdh bisa diduga kalau itu joki. Tapi kalau dilihat rapi dan bersih, bisa saja diaku teman, saudara, keluarga...

      Pada cerita diatas, adalah keluguan bu Tati yg tdk menyangka niat buruk om karta. Dikira bu Tati, om Karta menasehati caranya spy bu Tati "laku" sebagai joki. Jadi ketika disuruh berpenampilan cantik dan wangi, dia menurut. Karena dia selama ini sering ciut nyali dgn saingan sesama joki yang penampilannya lbh baik.

      Bukan berarti bu Tati atau para joki itu sengaja berniat menggoda.

      Bagaimana dgn penjelasan ini.. apakah masih ada pertanyaan...?

      Hapus
    4. Sependapat sama mba Niken
      seringnya memang orang2 yg berduit mengira bisa membeli orang susah/miskin dengan uang yg mereka punya.

      Hapus
    5. Memang sih... kejadian spt itu hanya sebagian kecil dari keseharian joki. Tapi memang ada terjadi.

      Kalau mau dicari2 siapa yang salah ya ga ada hbsnya. Akan saling menyalahkan.

      Hapus
  2. Pertama aku baca, ku kura pekerjaan bu tati bukan seorang joki lho, Bund. :)

    Bu Tati, siapa tau memang Pak Karta punya maksud baik. Dia lagi kesepian, jadi butuh tman untuk share.

    Di hotel kan ada kafe, jadi bisa duduk2 di kafe.
    #hihihihi, aku membuat berantakan alur.


    Hayh, memang terkadang seperti itu, bund.
    Orang yang niar bekerja dengan hati, malah dipandang sebelah. :)
    Tetap semangat untuk bekerja Bu Tati. :)

    Typo dikit, Bund. Seperi. . . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau ngobrol sama bu Tati, lbh enak di bangku tukang bakso dorongan aja Idah.. hehehe...
      Makasih yaaa

      Hapus
    2. lewih enak duduk di warungmendoan, Bund. :D
      aku diajari gawe cerpen, bund.

      aku blm bisa, nih. Kayak bunda sama om insan.

      Hapus
    3. Sama saja Idah... bunda tadinya juga ngga yakin wktu nyoba buat cerpen. Tapi maksain diri aja.
      Makanya sampai kolaborasi sama mas Insan, bukan mau sok gimana, justru karena mrs kemampuan msh terbatas sekali.

      Yuk kita belajar sama-sama.

      Hapus
  3. Sederhana tapi mengena, masukannya bunda sering baca2 cerpen di sekar atau femina bund, sederhana sedikit sastra. hehe, eman kalau sekedar di share di blog atau cocok di majalah UMMI kayaknya. Selamat berproses bund, dilihat dari muatan cerpennya, bunda bisa menuliskan cerita hidup nyata ke dalam fiksi. oya bund, saya ada kuis yah lebih tepatnya sharing ttg menjaga alam.ikut ya bund,


    besok deadline lho...makasih
    https://www.facebook.com/notes/nurul-habeeba/info-kuis-mini-dari-l2s-blog-lets-learn-and-share/405002949567962

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masukannya bagus banget itu Nurul...
      Bunda jarang beli majalah. Jadi ngga mengikuti cerpen2 di media massa. Tapi sepertinya patut dicoba tuh yaaa.

      Ke tekape niih Nurul...

      Hapus
  4. gak nyangka pekerjaan bu tati joki tebakannya art atau prt

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... sering liat joki di jam2 tertentu itu jadi kepikir buat ceritanya.

      Hapus
  5. silaturhami sob...

    blognya membahas cerita sosial yaa mba....
    nice blog..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih kujungannya...

      Blog saya isinya gado-gado mas....

      Hapus
  6. Bunda, Zahra ngefans banget sama tulisan bunda...
    ^_^
    Alurnya bagus dan tertata rapi bund :)

    Ditunggu tulisan2 menginspirasi lainnya ya bunda...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Makin semangat deh belajar buat cerpennya.

      Makasih ya Zahra...

      Hapus
  7. keren mbak cerpennya. salam kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mbak Rita Dewi.
      Salam kenal kembali.

      Hapus
  8. ceritanya hny sampai Pukul 07.20 WIB.., lanjutannya mana? *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. bu Tati kecapean lari.. ngga bisa ngelanjutin.. hehehe...

      Hapus
  9. udah lama nh mba ga pernah mampir ke sini mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. sering2lah kemari mas Alie... Makasih yaaa... :)

      Hapus
  10. huahh... ceritanya terpotong.. harusnya di lanjutkan lagi.. masa' cuman segitu.. -_- #Penasaran..
    saya tak bisa berkomentar banyak jika menyangkut aturan dan kebutuhan.. namun berharap kelak bisa berbuat sesuatu untuk memerdekakan para budak ekonomi tersebut.. #untuk saat ini hanya bisa berdo'a dan berharap.. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga cerpen mas Andro... ntar kalo kepanjangan disuruh jadi cerbung... hehehe...

      Aamiin... semoga ada solusi untuk mereka.

      Hapus
  11. Idenya oke, hanya harus lebih banyak berlatih bunda. Supaya lebih dapet feelnya, supaya bahasanya lebih punya rasa. Saranku banyak membaca karya cerpenis lain ua. Sekali lagi maaf, ini saran karena keterbatasanku juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. mbak Titie mau mengkritisi cerpen ini...
      Memang ini masih awal sekali. Masih pemula sekali untuk cerpen/fiksi. Harus banyak berlatih... oke mbak Titie...

      Terima kasih yaaa...

      Hapus
  12. subhanallah...........................
    ini udah bagus lhoo.. secara akikaaa ora bisa nulis cerpen..
    ajariiiiiiiiiiiiiiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Noormaaaaaa.... kiye temenan apa gole muni apik..??

      Makasih yaaa... Ayo belajar sama2...

      Hapus
  13. aku nggak paham dengan konsep joki, bunda.. maaf :(
    tapi, selebihnya bagiku cerpennya bagus. hanya saja, *maaf lagi* aku pikir awalnya perkejaan bu Tati itu PSK. apa salah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Joki 3 in 1 itu realitas yang ada di Jakarta. Peraturan 3 in 1 sptnya tidak efisien dan efektif sebab tujuannya tidak tercapai. Kemacetan dan polusi tetap saja tak dapat dibendung. Namun pada akhirnya membuat "lapangan kerja" baru bagi sebagian masyarakat. Yaitu menjadi joki 3 in 1 spt bu Tati.
      Tiap hari di jam2 pemberlakuan aturan 3 in 1, mrk berdiri berjejer di tepi jalan menawarkan jasa untuk menemani mobil2 yg penumpangnya tdk 3 org.

      Kalau pikiran ttg pekerjaan bu Tati itu awalnya spt itu, ya tdk salah. Mmg dibuat spt itu.

      Makasih ya mbak Rochma.. :)

      Hapus
  14. Saya seneng bacanya
    tahu gak mbak, gaya penulisan kita itu mirip
    yakni puitis
    Sip deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.... yg begitu itu puitis tho Kang Haris...
      Alhamdulillah kalau Kang Haris seneng bacanya...
      Apa gara2 saya udah ngicipi mie Janda ya.. jadi gaya penulisan bisa mirip.... wkwkwk..

      Hapus
  15. mba, aku udah kemari dua kali, dan ga bisa ninggalin komen via tab. Ga tau deh kenapa itu...
    Nih aku balik lagi, khusus untuk komen. hihi

    ceritanya bagus banget mba... kisah sederhana yang dikemas menarik dan simple. Ga bosan bacanya.

    keep writing ya mba.... penasaran besok fiksi apa lagi yaaa? :D

    BalasHapus
  16. Waahhh..senangnya mbak Al balik lagi cuma buat komen... hehehe...

    Berikutnya mau kolaborasi lagi mbak Al... tunggu aja yaa...

    BalasHapus
  17. cerpen yang menyentuh bu..
    setelah baca tulisan ini saya jadi kepikiran sama joki-joki wanita, tentu keamanan mereka sangat rawan kalo misalnya ketemu sama laki-laki seperti pa karta ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Hana...
      Joki perempuan memang dekat dengan pelecehan. Sebuah dilema kehidupan yang ada di masyarakat Jakarta.

      Hapus
  18. wah mw di ajak ngobrol, trus..............
    wah gx bener ne sopir na

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yg tidak benernya yaaa.. hehehe...

      Hapus
  19. hahahaha mbak niken top, aku kira awal e curhat dan ternyata dari gaya bahasanya aku curiga dan bener kan, ternyata ini sebuah cerpen , kueren puol

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... ini curhatannya bu Tati kok...
      Makasih ya mas...

      Hapus
  20. Ada kejadin nyata kayak begini mbak?
    *Miris*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mbak Niar... pernah dengar beritanya, makanya terinspirasi jadi cerpen.

      Hapus
  21. Yup...apik ceritanya.
    Kejadian seperti ini juga ada di mana-mana, bukan hanya di jalan tetapi juga di sekolah, rumah, kantor ,dll ya jeng.

    Jika cerpen ini di kirim ke majalah atau koran Insya Allah mendulang crink..crink..

    Ajari muat cerpen donk say...

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pakde... hal seperti ini memang sering ada ditengah-tengah masyarakat. Sering membuat dilema bagi pelakunya.

      Apa iya udah layak dikirim ke media massa De...?

      Kalau disuruh ngajari kok malah bingung mesti ngajari apa...
      Lha saya waton gawe gitu aja jeee....

      Salam kembali...

      Hapus
  22. Tersentu hatiku Mba dengan membaca Cerpen ini. Luar biasa.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mas Indra...
      Salam sukses selalu... mau diajak wisata kemana lagi nih nanti....?

      Hapus
  23. daku bbrp kali ke jkrt dan bbrp kali jg ketemu joki three in one yg tengah menunggu di pinggir jalan..kasian mb..mereka gk tau bakal dpt mobil yg didlmnya orang yg gmn..mksdku iya kl bener2 pas dpt org yg pure bth mereka sbg joki & gk macem2..kl ketemu org yg bermksd jahat gmn.. eh terlalu jauh gk nih ngomongnya ya hehe..

    selalu suka tulisan mb niken *peyuukkk :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Enny.. kejadian seperti itu "hanya" sebagian kecil saja dari kehidupan joki. Kebanyakan ya memang bisa dijadikan mata pencaharian. Karena yg jadi joki banyak juga yang laki-laki.

      makasih mbak Enny... #peluuk kembali...

      Hapus
  24. awalnya gak ngira ini cerpen :D bak kisah nyata saja

    kehidupan para joki 3in1 memang menarik untuk disoroti, sedihnya mereka seringnya ditempatkan di posisi yang salah.

    kotor gak laku,tapi klo rapi dan harum mewangi malah dikira mo macem2 ;(

    aku mandek nih bikin fiksi, hiks ... semangat selalu ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencoba mengangkat hal terjadi di masyarakat mbak.

      Ayo dong mbak Nic... buat lagi... Semangat yuuk..

      Hapus