Frangipani Flower Lovely Little Garden: Menjaga Kehormatan Diri
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Sabtu, 12 Oktober 2013

Menjaga Kehormatan Diri

Bismillahirrahmannirrahiim,

Akhir-akhir ini, banyak sekali kita dengar kasus-kasus pelecehan harga diri, terutama terjadi kepada kaum perempuan. Miris rasanya kalau melihat kenyataan itu. Pelecehan terhadap kaum perempuan bisa terjadi di mana saja. Mulai dari yang sekedar pelecehan melalui kata-kata sampai dengan yang amat menyakitkan dan menimbulkan trauma yang dalam yaitu perkosaan. Banyak kasus terjadi di angkutan umum, di kantor, di sekolah, juga di dunia maya seperti facebook.


Islam sebenarnya sudah amat menjaga kehormatan wanita. Kewajiban mengenakan hijab salah satunya adalah untuk melindungi perempuan dari hal-hal yang bisa mengakibatkan pelecehan terhadapnya. Ketetapan-ketetapan Alloh bagi kaum perempuan, misalnya: Sebaik-baik tempat perempuan adalah di rumah, juga untuk melindungi martabat perempuan, bukan untuk mengekangnya. Islam memang tidak melarang perempuan bekerja, contohnya Khadijah, istri Rasul yang kita ketahui adalah seorang wirausaha yang handal dan mampu menjaga harga dirinya sebagai perempuan yang terhormat.

Jadi meskipun seorang perempuan bekerja di luar rumah, dia tetap harus bisa menjaga diri dan nama baik keluarganya. Bagaimana agar tidak terjadi pelecehan terhadap dirinya, haruslah dimulai dari sikap dan perilaku perempuan itu sendiri, dimulai dari caranya berpakaian.

Lantas bagaimana dengan pelecehan terhadap wanita di dunia maya? 

Banyak sekali kalimat-kalimat tak pantas bertebaran di dunia maya, yang ditujukan untuk merayu, iseng, menggoda, bercanda, dan berbagai dalih lainnya. Intinya sama. Melecehkan. Banyak masalah rumah tangga yang kemudian bermunculan karenanya. Karena kemudian banyak juga terjadi, seperti gayung bersambut. Rayuan yang semula iseng itu ditanggapi oleh si perempuan. Banyak perempuan yang tidak mampu menjaga dirinya dari godaan-godaan seperti itu. Terseret pada sebuah permainan maya yang mengakibatkan kehancuran di kehidupan nyatanya.

Sebagai perempuan, kita memang harus bisa mempunyai batasan dalam bergaul baik di dunia nyata atau dunia maya. Sikap tegas sampai di mana kita mau bersenda gurau dan berhubungan. Kadang memang sering mudah lepas kontrol karena tidak langsung berhadapan dengan orangnya. Mudah sekali sekedar menggerakkan jari menyusunkan kalimat demi kalimat yang bila dicermati ternyata menimbulkan makna yang tak pantas. Jari kita ibarat bibir yang bertutur. Maka hati-hatilah dalam menekan huruf-huruf. Salah-salah bisa fatal akibatnya.

Kepada kaum laki-laki, pun sama. Sudah seharusnya mampu menjaga kehormatan diri dan keluarganya dengan tidak lepas kontrol dalam hubungan pertemanan. Lebih menghormati dan menghargai pertemanan dengan membatasi senda gurau menggunakan kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan kepada seorang perempuan, apalagi bila kedua belah pihak sudah mempunyai pasangan. Bisa menimbulkan sakit hati suami si perempuan karena merasa dirinya diremehkan dengan kalimat-kalimat pelecehan terhadap istrinya.

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian di hari Kiamat dengan ungkapan yang jelas, yang akan membuka semua rahasia kita.
Allah berfirman: “ Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” QS An-Nur ayat 24
Lantas bagaimana sebaiknya sikap kaum perempuan bila menghadapi laki-laki yang bersikap tidak pantas pada dirinya? Sampaikanlah keberatan atas sikapnya itu padamu. Jaga sikapmu agar dia mengerti bahwa dirimu tak ingin diperlakukan demikian. Membatasi sebuah pertemanan antara laki-laki dan perempuan adalah penting agar tidak terjadi salah paham atau bahkan pelecehan. Kita harus bisa menjaga kehormatan diri kita dan keluarga.

Dalam pertemanan di dunia maya, kita harus berhati-hati dalam menuliskan, bahkan sekedar sebuah kalimat. Sebab sebuah kalimat itu bisa menjadi masalah besar manakala menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Atau juga sebuah kalimat itu akan menimbulkan persepsi yang salah kepada diri kita. Karena pada dasarnya orang tak tahu bagaimana keseharian kita. Mereka hanya sekedar membaca apa yang kita tuliskan. Maka mulailah dari diri sendiri untuk menjaga lisan kita sebagaimana hadist berikut.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)




103 komentar:

  1. Hmmm ..Sungguh artikel yang sangatt Bermanfatt makasii Yah Bunda :D

    BalasHapus
  2. Subhanallah,, makasih untuk artikel yang meneduhkan ini bun,, menjaga kehormatan memang tugas utama kita sebagai wanita muslim, dan juga membatasi pergaulan dengan yang bukan muhrim adalah salah satu cara penjagaan yang baik.. :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kembali Iyha...
      Sama-sama saling mengingatkan kalau ada yang kurang pas ya...

      Hapus
  3. Kalau aku boleh komen kagak bunda? soalnya aku bapak-bapak lo....
    Setuju sama artikel bunda, baik di dunia nyata atau maya kita tetap harus menjaga etika dalam berteman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jelas boleh dong... Kan biar saya dapat masukan dari sana sini.
      Makasih ya mas.

      Hapus
  4. Terima kasih bunda, semoga kita termasuk pribadi terhormat yang tak gila hormat tentunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Insya Alloh demikian Kang Haris

      Hapus
  5. orang besar, orang hebat, orang TOP sekalipun, bila tidak menjaga kehormatannya... maka dia sendiri yang akan celaka... semoga orang2 semikian bisa 'lekas sembuh' ya Bund... heheheheehe

    #Khitan kaliiii lekas sembuh :p

    BalasHapus
  6. Saya akan berusaha Nda, untuk bisa lebih menghargai perempuan.

    Hingga suatu saat nanti saya bisa mendapatkan seorang wanita yang benar-benar bisa menjaga kehormatan, seperti layaknya Bunda Niken.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alloh pasti sudah memilihkan yang terbaik buat mas Jaswan. Semoga segera diberikan petunjuk kearahnya.

      Hapus
    2. Senang kalau ada laki2 yang seperti Imam , tapi ada baiknya perempuan memmang haarus menjaga dirinya sendiri ya bund.. sip indah sekali artikelnya

      Hapus
    3. Betul mbak Hanna... Kalau ada rasa saling menghargai kan aman dunia.

      Hapus
  7. itulah salah satu manfaat dan pentingnya berhijab, baik secara fisik maupun nurani. Kalo kita mampu menjaga hati kita dengan baik, maka Insya Alloh ucapan dan tulisan kita akan mengikutinya. Dengan itu, maka perkara-perkara yang mendatangkan fitnah akan terhindarkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Pakies... Saya sendiri juga perlu bermuhasabah untuk bisa menjaga diri.

      Hapus
  8. Mak Nyaak,.. kalo TePe2 ga termasuk kan Mak ? ^_^
    Alloh menurunkan perintah pasti disitu ada kebaikan yg terkandung di dalamnya, termasuk Berjilbab bagi perempuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. TePe2 ojok ngawur yo Le... Tetap harus menjaga yang haruis di jaga.

      Hapus
    2. Tenang Mak.. TePe2 nya tetep terkontrol hihihi...

      Hapus
    3. yo mesti sip to yo.. Topics gitu loh

      Hapus
    4. mas taufik ini pengennya tepe2 terus _ _"

      iya bun, saya akan berusaha menjaga diri, jangan sampai melecehkan wanita.. doakan saya ya bund

      Hapus
    5. Dimaklumi aja mas Awal... Udah ngebet banget soalnya. ^_^

      Insya Alloh bisa, mas...

      Hapus
    6. tepeee tepee...
      semur te(m)peeeeee mas topik :D

      eh eh.. kalau di dunia maya, pelecehan terhadap perempuan biasanya lebih terasa. kekuatan tulisan itu kadang lebih menusuk bundaaa #pengalaman

      Hapus
    7. Pita jualan tape...? Beli doong!

      Wah.. pengalaman? Semoga tidak terjadi lagi ya Pita.

      Hapus
  9. Iya ya Bun.... saya setuju sama artikel Bunda. Perempuan harus pandai menjaga kehormatan dirinya. Enggak ada asap kalau enggak ada api ya Bun...yang sudah menjaga aja kadang masih digoda, apalagi yang enggak menjaga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, mbak Esti... Kalau sudah menjaga diri masih digoda, itu namanya cobaan. Mampukan dia melewati cobaan itu?

      Hapus
  10. seharusnya begitu adanya ya bund. biar gak terjadi lebih banyak kekacauan, setiap orang harus bisa menjaga dirinya masing masin... :)

    BalasHapus
  11. Kalau saya termasuk tipe yang suka merayu enggak Bun? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cihui, suit-suiiit... ada yang hobi merayu Sari :)

      Hapus
  12. Waah ini pertama kali sy k blog sampean.

    Lha mau gimana lg mbak kalo keadaan memaksa atau bhkan mengarahkan manusia utk "meliberalkan" hubungan pria-wanita.
    Dalam hal ini, pemerintah mandul!!

    BalasHapus
  13. Maturnuwun share nya nggih bund...:)
    Dari duluuu sy memang pemalu....Alhamdulillah ternyata Islam pun mengajarkan kita (muslimah) utk menjaga iffah dan izzah terhadap lawan jenis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa malu memang harus kita miliki untuk bisa menjaga diri.

      Hapus
  14. No comment more, u r the best mom! *harubiru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... bunda anggap sebagai doa ya Eksak

      Hapus
  15. Jangan2 saya termasuk jenis orang2 seperti diatas...
    hiiii... takut juga ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama muhasabah ya mas Insan.

      Hapus
    2. untuk menggenapi komen yang ke seratus
      saya katakan Insya Alloh

      Hapus
  16. Banyak hal yang memang tidak kita ketahui, biasanay ketidak tahuan atau hal-hal yang Ibu Niken ceritakan itu terjadi kepada mereka yang tidak faham dengan benar akan tata tertib dalam bersosialisasi di dunia maya.
    Seperti tidak gampang percaya pada mereka yang baru kita kenal, menuliskan sesuatu yang mengundang niat jahat dan sebaginya.

    Hani sendiri, yang biasa menggunakan FB, instagram sebagai alat untuk melakukan bisnis kecil-kecilan ini juga sering melihat hal-hal yang membahayakan ini. Hanya membathin saja. Upload juga foto dengan pose yang menimbulkan orang berpikiran lain.

    Seharusnya memang ada sosialisasi tentang bagaimana bersosialisasi di social media.

    Bu Niken memang luar biasa kok....suatu saat akan ada cerita tentang Bu Niken ni dari adik-adik. he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya membuat tulisan seringnya juga untuk menasehati diri sendiri kok mbak Hani. Sambil buat membentengi diri agar bisa menjaga kehormatan diri dan keluarga.

      Cerita apa nih, mbak Hani? Emak-emak kepo gitu ya ^_^

      Hapus
    2. Ha ha ha
      Tidak demikian Bu Niken....seorang Ibu yang menjadi inspirasi dan memotivasi ananknya itu akan terus menjadi cerita.
      Anak-anak bangga sama Ibu Niken itu maksudnya...

      Hapus
  17. untung saya bukan orang, eh maksudnya, jangan termasuk pelecehnya ya bun ??? #ini nanya lho

    BalasHapus
  18. Aku sangat berhati-hati sekali dalam membuat artikel walau kadang inginnya bebas dan liar terserah apa kata hati dan pikiran. Itu pun masih ada yang keceplosan.
    Untuk membendung polah pikiran memang susah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masd Djangkaru... dalam menulis memang kadang kita bisa tergelincir. Saya juga sering kuatir. Tapi setidaknya ada niat kita untuk berhati-hati.

      Hapus
  19. Di dunia maya, kadang si perempuannya mengumbar aurat, berani membuka raung privasi keluarga atau tubuhnya. tiap harinya berkerudung, tapi di profilnya terbuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini yang sering disayangkan. Sebagai muslimah memang harus lebih mawas diri dalam memakai profil atau mengupload foto.

      Hapus
  20. Rentannya sikap dalam pergauluan di mana saja Mba, bukan hanya di media sosial, bahkan di dunia nyata. Tidak pandang tua mau pun muda, miskin mau pun kaya. Semua bisa terjadi. Karena kuncinya ada pada hati.

    Bila pikiran bisa mempengaruhi hati, namun hati tak mampu mebentingi, maka logika pun tak akan pernah mampu menahan suatu tindakan. Hanya itu yang saya bisa tangkap dari isi artikel yang tersirat di dalamnya, mengandung makna yang sangat luas, siapa pun mampu berargumen untuk mencari alasan, namun yang terpenting adalah satu jawaban dari satu pertanyaan : mampukah kita menjaga kehormatan diri kita ?........ dan satu perintah : buktikan ! (he,,, he,,, he,,,)

    Trims atas sharenya Mba.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang betul, kuncinya adalah hati. Begitu mudahnya hati terbolak balik. Satu pertanyaan itu sebaiknya sering-sering kita tanyakan pada diri sendiri sebagai mawas diri kita, sehingga kita bisa membuktikannya.

      Makasih juga nasehatnya, mas Indra.
      Salam kembali

      Hapus
  21. Assalaamu'alaykum bunda niken
    Kunjungan pertama nih :)
    Mau tanya bun, cara pasang tab view yg disamping itu gimana ya ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam warahmatullah,

      Soal tab view ya mbak Nhinis... Kebetulan itu dibantu teman memasangnya, nanti saya tanyakan dulu ya.

      Makasih kunjungannya.

      Hapus
  22. Terima kasih sharingnya ya Jeng Niken, mutiara dari sesepuh juga senada, ajining diri gumantung ing lathi....sekarang di jemari penyentuh tombol keyboard. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling mengingatkan ya mbak Prih. Salam kembali.

      Hapus
  23. Tulisan yg sederhana namun padat dg makna...
    Di dunia nyata atau kini semakin marak di dunia maya, pelecehan menjadi isue yg serius. Moga masing2 kita bisa saling menjaga diri dan kehormatan.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang harus diupayakan, sama-sama berintrospeksi diri agar sama-sama menjaga.

      Salam kembali Kang Titik

      Hapus
  24. Fenomenal sekali itu, bu...
    Cuma sayangnya, anggapan itu pelecehan lebih banyak di mata orang lain. Sementara yang bersangkutan malah enjoy aja. Makanya sulit untuk dihilangkan. Atau bahkan ini merupakan tanda-tanda sebagaimana diramalkan Jayabhaya sejak beberapa abad lalu dimana wolak waliking jaman sebagai pertanda mangsa kalatida sudah mulai terjadi. Dan itu tak bakalan bisa ditolak. Yang bisa kita lakukan hanya menjaga diri sendiri agar tidak ikutan hanyut saja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Rawin, menjaga diri sendiri agar tidak hanyut. Setuju.

      Hapus
    2. Yang bisa kita lakukan memang cuma itu. Perubahan jaman tak bakalan bisa dilawan karena dunia butuh waktu panjang untuk berputar balik. Memaksakan pendapat kita ke orang yang beda prinsip cuma akan membuat perpecahan. Kembalikan ke diri masing masing saja lah...

      Hapus
    3. Tulisan ini tak ada maksud memaksakan pendapat kpd orang lain. Hanya sebuah keprihatinan dan juga introspeksi diri mengenai hal tersebut.

      Trimakasih mas Rawin, salam buat Ncip, Ncit dan buk'e ^_^

      Hapus
    4. Enggak terkesan maksain kok, bu
      Karena setiap orang bebas berpendapat. Kita pun musti banyak nambah wawasan dari semua pemikiran termasuk yang saling bertolak belakang agar bisa bikin kesimpulan pribadi yang sesuai kebutuhan.

      Aku bilang memaksakan itu sebenarnya sudah lepas dari topik artikel. Aku cuma lihat kebiasaan sebagian saudara kita yang sok merasa bener dan maksa orang lain ikut prinsip dia. Intinya aku prihatin dengan cara mereka. Kenapa tidak bergaya mengajak seperti artikel disini malah lebih suka maksa. Hasilnya aku bukannya jadi mau instropeksi, malah sebel aja bawaannya, hehe

      Maap itu kebiasaan kalo komen sudah masuk kedua atau ketiga biasanya jadi ngobrol sendiri ninggalin permasalahan utama, hehe.

      Hapus
    5. Oh, syukurlah mas Rawins. Saya kuatir tulisan saya berkesan memaksa. Pada dasarnya saya selalu siap menerima kritikan. Karena dengan itu saya belajar.

      Trimakasih sudah mampir lagi ke sini.

      Hapus
  25. Assalammu'alaykum Bunda
    Baru pertama mengunjungi blognya nih
    Tulisan Bunda bagus dan penuh makna
    Moga kita semua bisa menjaga kehormatan dirinya terutama perempuan
    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Insya Alloh demikian Rizka,

      Salam kenal kembali

      Hapus
  26. Tulisan kali ini membuat rani benar2 merenung.. terima kasih Bunda ^_^
    bener2 Pas dihati euy...
    #peluk Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kita renugkan ya Rani. *peluuuk

      Hapus
  27. Kalo baca artikel Mbak Niken, selalu adem di hati... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Habis mandi air dingin ya mbak Lies.

      Alhamdulillah, terima kasih.

      Hapus
  28. selalu masuk ke hati membaca tulisannya mbak Niken. Jadi kita sebagai perempuan harus bisa menjaga dan mebentengi terlebih dahulu supaya tidak ada pelecehan dari orang lain ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh begitu mbak Lidya. Kalaupun godaan itu datang, kita kuatkan dengan mendekat pada Alloh.

      Hapus
  29. If somebody said it was a happy little tale, if somebody told you that you were just average ordinary woman, not a care in the world, somebody lied. -- Aan Sopiyan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah...
      I faltered, Aan ^_^
      Thanks for the awesome compliment. But, I am just an ordinary woman, actually.

      Hapus
  30. Semoga kita semua tidak terlalu obral kata-kata di media sosial ya, Bund. Mengerikan dan memprihatinkan kalau mendengar berita tentang pemerkosaan. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Idah... membatasi diri dan saling mengingatkan satu sama lain ya Idah ^_^

      Hapus
  31. Memang semuanya kembali pada diri sendiri ya mba, orang akan segan pada kita, kalau kitanya bisa menjaga perbuatan dan ucapan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Santi, kalau kita bisa membuat batasan, Insya Alloh orang lain juga akan memnbatasi diri.

      Hapus
  32. kadag pelecehan itu bs terjadi krn ada peluang, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauhkan peluang itu dari diri kita, itu upayanya, mbak Myra

      Hapus
  33. masih ada aja aksi seperti ini .. saya nyubit wanita aja gak tega apa lagi sampai seperti itu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih? Nggak pernah nyubit... Mewakili para wanita.. terima kasih ya... ^_^

      Hapus
  34. Dunia maya, membuat ruang privasi jaraknya smakin tipis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya justru tidak, ya mas Djangkaru

      Hapus
  35. Menjaga lisan, termasuk dalam hal ini menjaga tulisan di media sosial, sungguh penting sekali bagi perempuan. Hakikatnya tentu penting pula bagi laki-laki. Penting agar apa yang terkatakan (tertulis) tidak menyakiti orang lain atau bahkan berakibat buruk bagi kita ya, Bu.

    BalasHapus
  36. Iya nih bun, sekarang sering melihat pelecehan terhadap kaum perempuan di dunia nyata. Kita bisa mencegahnya dengan berpakaian sopan dan sewajarnya. Kalau untuk di dunia maya, melalui kata" seorang bisa sangat "sensitif"kalau komentarnya tidak sesuai ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita bisa menjaga diri dari semua itu ^_^

      Hapus
  37. lelaki atau perempuan sama2 menjaga kehormatannya.. lelaki tunduk setelah pandangan pertama pada perempuan, sedangkan perempuan alangkah baiknya memakai hijab ^^

    BalasHapus
  38. Sayangnya sekarang banyak orang berhijab karena trend mode. Banyak yang kelihatannya berhijab tapi tidak menjaga dirinya ya mbak .. jadi kuncinya ada di perempuan itu sendiri .. harus pandai2 menjaga diri supaya tidak dilecehkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendoakan kebaikan buat kaum perempuan semoga bisa menjaga diri sesuai syariat agama Islam.

      Hapus
  39. Hi Bunda, suka sekali artikelnya. Semoga para perempuan mampu membentengi dirinya dan berpegang teguh menjaga kehormatannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi mbak Astin, trimakasih menyukai tulisan ini. Mari kita sama-sama menjaga diri ya ^_^

      Hapus
  40. direndahkah, dilecehkan, dicaci, dimaki adalah wajar dan biasa juga dialami kaum lelaki. menyoal pelecehan terhadap perempuan, titik perhatian sebaiknya ditujukan kepada perempuan sendiri. bukankah lebih memprihatinkan ketika perempuan merendahkan/melecehkan dirinya sendiri?

    aku suka Khadijah ra menjadi contoh dalam tulisan di atas: relevan.

    salam untuk semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting adalah, baik kaum laki-laki atau perempuan lebih dapat meningkatkan keimanan.

      Salam kembali

      Hapus
  41. wajib bagi siapa saja menjaga kehormatanya, kehormatan keluarganya, dan tetangganya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip.. kalau makin banyak yang menyadari hal ini, keadaan tidak akan spt sekarang.

      Hapus