Frangipani Flower Lovely Little Garden: Kisah Si Abang Gado-Gado
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Jumat, 24 Mei 2013

Kisah Si Abang Gado-Gado

Bismillahirrahmannirrahiim,

Sebetulnya kejadian ini sudah lama berlalu. Waktu aku masih mengelola sebuah kantin. Tapi ada hikmah yang bisa aku ambil dari obrolanku dengan seoarang penjual gado-gado siang itu, meskipun obrolan itu terkesan ringan saja. Aku ingin menceritakannya sekarang, semoga bisa bermanfaat buat kita semua.

Abang gado-gado itu biasa mangkal di sekitar kantinku. Gerobaknya bersih dan penataan barang-barangnya pun teratur. Siang itu dari pada iseng karena kantin sedang sepi, aku mengobrol dengannya. Dia pun sedang tak ada pembeli. Aku duduk di bangku milik si abang gado-gado.



Bang Roni namanya. Dia sudah berjualan gado-gado selama 7 tahun. Bermula dari menjualkan gado-gado milik temannya. Mendorong gerobaknya keliling perumahan, sampai kemudian dia bisa membeli gerobak tersebut dan berjualan sendiri. Jatuh bangun dengan usaha dialaminya. Kadang harus membuang sayuran karena tidak laku. Tapi dia tak pernah putus asa.

"Dari gerobak ini saya bisa ngumpulin modal buat buka warteg," katanya.

Dari sinilah aku mulai tertarik melanjutkan obrolan dengannya. Dari jualan keliling bisa buka warteg? Pasti keras sekali usahanya.

"O ya..? Wah hebat dong, bang," sengaja aku buat kesan aku kagum supaya dia mau cerita lebih jauh lagi.

"Alhamdulillah, Bu. Dua tahun jualan gado-gado saya bisa nabung cukup lumayan. Saya ngga pakai uang hasil jualan buat sekedar bersenang-senang. Hidup seadanya saja. Sebab saya sudah bertekad, saya harus bisa buka usaha lain. Allah kemudian membukakan jalan buat saya. Ada teman menawarkan tempat buat berjualan. Sewanya murah. Saya terpikir untuk buka warteg. Sebab disekitarnya baru ada 1 warteg. Saya ajak sepupu buat membantu memasak. Dengan modal nekad saya kuatkan niat itu. Waktu saya sedang fokus di warteg itu, gado-gado dijalanin sama sepupu saya yang lain. Alhamdulillah, Bu, walau harus sabar dan kuat mental, warteg itu sampai sekarang masih lancar. Berarti sudah 4 tahun. Saya juga baru buka warung tenda jualan pecel ayam dan pecel lele di dekat pasar sore itu, Bu...."

Hmmm... Seru juga nih si abang. Nggak nyangka sosok yang tiap hari aku lihat ini ternyata punya beberapa usaha. Aku makin menikmati obrolan itu. Sebab aku tak pernah menyangka, abang gado-gado langgananku itu ternyata kaya pengalaman. Berikutnya aku mulai tertarik untuk bertanya tentang keluarganya.

"Istri dan anak abang tinggal di Jakarta atau di kampung?" tanyaku

"Waahh, Bu! Saya paling semangat kalau cerita tentang istri dan anak saya. Sebab saya selalu merasa dapat anugrah dapat istri cantiiiiikk banget dan super baik juga pengertian. Kok dia mau aja ya sama saya, hahaha...!" bang Roni tergelak sambil mengambil sebuah foto didalam dompetnya. Dia memperlihatkan foto istrinya. Memang cantik sekali.

"Istri saya sarjana ekonomi (abang itu lulusan SMA) dari universitas negeri lho... Dia menyebut sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Bahkan dulu kerja di bank jadi customer service. Tapiiii.... saya berhasil MEMPENSIUNKAN dia".

Si abang membuat penekanan pada kata mempensiunkan itu.

"Saya minta dia membantu usaha saya. Usaha saya lancar atas pertolongan Allah dan dibantu sama  sarjana ekonomi." ada senyum bangga di bibirnya.

"Dulu dia ngga bisa kerjaan rumah bu. Ibaratnya nyapu aja dia ngga bersih. Tapi sejak dia udah ngga kerja, dia mau belajar. Belajar apa saja yang memang menjadi tugas ibu rumah tangga. Dia ngga pernah ngeluh. Masak yang tadinya ngga bisa sama sekali, sekarang malah dia yang masak buat warteg kami." Bang Roni makin antusias bercerita.

"Saya betul-betul bersyukur, Bu. Allah baik banget sama saya. Saya ngga pantas kalau cerita tentang kesulitan saya, sebab Allah sudah memberi banyak keberkahan dalam kehidupan saya. Saya bahagia dengan kehidupan saya. Saya bukannya ngga pernah jatuh bu. Tapi apalah artinya bagian itu kalau sekarang saya bisa seperti sekarang. Saya tetap jualan gado-gado begini sebab saya merasa dari sinilah semua berawal. Saya tetep semangat mendorong gerobak ini." katanya seraya mengusap gerobak kesayangannya itu.

Obrolan kami berakhir ketika ada pembeli gado-gado yang memesan cukup banyak.

Setelah berterima kasih atas obrolan siang itu, aku kembali masuk ke kantinku sambil merenung. Aku coba mengambil hal positif dari apa yang baru saja aku dengar. Mencoba membuat catatan dalam hatiku. Bahwa tak ada yang tak mungkin. Kita mungkin sering bereuforia dengan kata "kalau kita semangat, fokus dan tak putus asa, pasti kita akan mendapat apa yang kita inginkan". Tapi dalam prakteknya kita sering tak punya nyali untuk melakukan sesuatu. Aku sering terhenti pada hal-hal yang sebetulnya terlalu berlebihan melintas dipikiranku. Masih sering mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi. Memperbesar kendala sehingga membuat tujuanku terhalang. Ibarat bola. Kendala sebesar bola sepak sedangkan tujuanku menjadi sekecil bola tennis. Membuatku tak berani melangkah lebih jauh.

Abang gado-gado itu hanya memperbesar bola tujuan sehingga bola kendala menjadi kecil. Dan dia selalu keluar dari zona kenyamanannnya. Setelah nyaman dengan hasil berjualan gado-gado, karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dia mulai lagi dengan merintis warteg, yang tentunya banyak suka dukanya. Setelah nyaman dengan dua usahanya dia keluar lagi dari zona kenyamanannya dengan membuka usaha warung tenda pecel ayam dan pecel lele. Berani mengambil resiko.

Dalam perannya sebagai suami dan kepala rumah tangga. Abang itu tentunya bisa amanah dengan perannya. Terbukti dari pengorbanan yang diberikan istrinya. Rasa ikhlas sang istri menerima dan berbakti kepada suaminya adalah bukti bahwa si abang mampu menjadi pemimpin yang baik. Sebuah kerja sama yang baik antara suami istri membuat sinergi yang positif dalam rumah tangga. Bisa membuat istrinya menjadi ibu rumah tangga yang produktif adalah sebuah tindakan yang luar biasa.

Aku jadi ingat sebuah surat dalam Alqur'an. Yaitu QS. An-nisa' ayat 34, yang mengatakan:
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya..."
Bila mengibaratkan sebuah kehidupan rumah tangga itu seperti mengendarai sebuah mobil yang didalamnya duduk dua orang dengan maksud dan tujuan yang sama. Maka, salah satu dari mereka berdua harus duduk mengendalikan kemudi. Tidak mungkin kemudi itu dipegang oleh keduanya secara bersamaan. Oleh karena itu, laki-lakilah yang memikul tanggung jawab ini. Dan merupakan Sunatullah, bahwa seorang istri ditugaskan untuk berperan sebagai penumbuh rasa percaya diri dan meringankan pekerjaan yang tengah dipikul suaminya.

Aku belajar banyak dari obrolan itu. Masih banyak sekali kekuranganku sebagai istri dan ibu dari anak-anakku. Masih sering mengeluhkan sesuatu. Meski aku tak mengenal istri abang gado-gado itu, tapi rasanya aku bisa membayangkan kepribadian baik yang dimilikinya.




99 komentar:

  1. Subhanallah.. Aku pengen banget seperti istri abang gado2 itu.. Yang selalu dikenang baik oleh suami..

    Semoga kita bisa.. Aamiinn ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kalau kita ikhlas dengan tugas dan kewajiban kita, kita akan dikenang baik oleh suami dan keluarga.

      Aamiin, makasih bunda Dzaky.

      Hapus
    2. Aku juga pengen banget, dikenal baik oleh suami. aamiin

      Hapus
  2. Subhanallah, terharu deh bacanya mba..semoga kt bisa meniru semangat si abang ya...makasih sharingnya yg indah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Trimakasih juga sudah berkunjung :)

      Hapus
  3. membuktikan bahwa siapun hrs bersyukur, ya, Mbak. Jgn kebanyakan ngeluh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Myra. Hidup kalau disyukuri akan berkah, Insya Allah.

      Hapus
  4. Bermanfaat sekali artikel ini Mba. Semoga bisa menjadi contoh dan nasehat kebaikan untuk kita semua.

    Sukses selalu
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, trimakasih mas Indra.

      Sukses juga buat mas Indra.
      Salam dari Jakarta.

      Hapus
  5. mau donk gado2nya hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. noleh, pedes ga? cabe berapa? :D

      Hapus
    2. sekedik mawon bu... kisah yg penuh tantangan, inti cerita aku dapat disini " Kita mungkin sering bereuforia dengan kata "kalau kita semangat, fokus dan tak putus asa, pasti kita akan mendapat apa yang kita inginkan". Tapi dalam prakteknya kita sering tak punya nyali untuk melakukan sesuatu." gimana bund, agar punya nyali...

      Hapus
    3. Lhaah sebenernya itu kan nunjuk diri saya sendiri, mas Topic :D
      Tapi katanya sih kita harus perbesar tujuan dan mengecilkan hambatan.

      Hapus
  6. merinding aku bacanya mba.... semoga suamiku juga mengenangku sebagai istri yg baik.... saluuut, dengan usaha keras dan ga kenal menyerah akhirnya punya bbrp usaha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merinding karena kedinginan kali mbak Rina :D

      Aamiin, semoga kita semua mendapatkan ridhaNya.

      Hapus
  7. Subhanalloh...meng-inspirasi sekali eh bukan tapi menambah semangatku buat segera membuka usaha, InsyaAlloh aku pun pengin pensiun dini, sptnya memang lbh bagus pny usaha sndiri, bisa membuka lapangan kerja buat org lain, InsyaAllah menambah berkah ya mbak Niken...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo semangat mas Anton. Dulu waktu saya buka kantin modal nekad aja. Ga punya pengalaman. Belajar di lapangan.

      Hapus
  8. Ibarat angkot, suami itu sopirnya ya Bun.. dan istri yang jadi keneknya hehehe

    #efek kebanyakan naik angkot kemarin hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trus yang jadi penumpangnya siapa dong mas Lozz? hahaha...

      Hapus
    2. Tumben nih orang gak upadte? masih sibuk buat gado-gado tah?

      Hapus
    3. hehehe... sedang memikirkan sesuatu nih mas #nggayaa

      Hapus
  9. Ternyata sudah menjadi motivator ulung mbak Niken ini.
    kata orang bijak jangan hanya fokus pada prosesnya tapi harus lebih fokus pada hasil akhir. dan masih kata orang bijak, rahasia kesuksesan adalah DUIT = Do'a, Usaha, Impian dan Tawakal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bergaulnya aja sama motivator, ketularan deh tuh. hehehe...
      Tapi kok aku lebih mentingin proses ya mas? salah pooo?
      Rahasia kesuksesannya dicontek aah...

      Hapus
    2. kumpulnya sama tukang minyak wangi, makanya jadi wangi juga....

      Hapus
    3. Mas Ridwan jualan minyak wangi tah?

      Hapus
    4. maksudnya jangan fokus pada prosesnya tapi fokus pada hasil akhir itu maksudnya kurang lebih begini...
      sering orang itu kandas ditengah jalan karena terbentur dengan beratnya proses yg hrs dijalani maka jika kita fokus dengan hasil akhir seberat apapun prosesnya akan dijalani karena yakin manisnya hasil akhir sudah menunggu.

      Contoh gampang seseorang mananam menanam pohon mangga, jika hanya fokus pada prosesnya akan ogah2an tapi bila fokus pada hasil akhirnya bila sudah berbuah bisa berbagi ke orang lain bahkan bisa dinikmati anak cucu, maka semangat juang akan berlipat2..

      hihihihihi... sok tau saya ini, kok ngajarin ikan berenang..

      RD jualan minyak goreng tuh...

      Hapus
    5. Ooohh.. gituuu...
      Bener banget yaaak. Memang bisaan bapak ini. Padahal intinya sama ya sama yang aku tulis. wkwkwk...

      Bagi mangganya dong pak.

      Bapak juga suka mancing ya. Kalau ikan memang pinter berenang pak. Nggak usah diajari. Tapi saya kan bukan ikan paaaakkk... :D

      Mas Ridwan mau jualan minyak goreng di Jakarta tuh mas. Tanya deh sama dia.

      Hapus
  10. subhanallah....terharu baca ini bund :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga ada hikmah yang bisa diambil.

      Hapus
  11. jadi ingat sebelum menikah Mbak, segala ambisi dan gelar dikesampingkan demi mewujudkan biduk pernikahan yang bahagia. Rejeki akan datang darimana saja, bukan karena gelar istri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul itu mbak. Kalau kita ikhtiar sesuai petunjuk Allah, Insya Alah ada keberkahan dalam rejeki.

      Hapus
  12. Si Abang gado-gado pinter dan imam yang JOS. . .
    Saut sama semangatnya.

    BalasHapus
  13. Bundaa bolehkah aku minta kopii sambil duduk2 di taman..
    #sambil menunggu abang gado2 yang lagi di ajak rumpi bunda :D

    hmm harus banyak belajar dari Abang gado2 ya bun, makasih obrolannya, jadi merenung..
    semangaaat !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duduk di rumput sebelah bunga mawar biru itu ya Nchie. Tapi bunganya janagn dipetik lho. :D

      Mari kita merenung bersama :D
      Makasih ya, cantik...

      Hapus
  14. Bunda Niken...selalu saya merasa menjadi kecil...namun bersyukur diketemukan dengan Bunda, aku jadi lebih bersyukur.

    Luar biasa sekali ya Bun, perjuangan si Penjual gado-gado dan istrinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga bersyukur bertemu mbak Astin. Jadi bisa wara wiri BeWe di blog mbak Astin yg banyak itu :D
      Makasih ya.

      Hapus
  15. Obrolan boleh ringan, tapi bobotnya sungguh luar biasa lho, Mbak Nik, dan tak semua org mampu 'melihatnya' dan menjadikannya sbg catatan pembelajaran dlm kehidupan. Salut akan kejelianmu, Mbak. Thx for share. Thx jg utk si absng penjual gado2. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sebetulnya sering kali kita dihadapkan pada banyak peristiwa yang bisa kita jadikan pelajaran, tapi kita luput mengamatinya. Hal2 sederhana lewat begitu saja, padahal kalau kita bisa melihat lebih dalam, ternyata banyak hikmah yg bisa kita petik.

      Makasih kembali mbak Al.

      Hapus
  16. MAN JADA WA JADDA....
    (sengaja pake capslock semua, biar di baca keras-keras.....)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tanda seru 3 buah tuh mas Ridwan :D

      Hapus
  17. Subhanallah .. terharuuuuu mbak Niken. Abang gado2 itu baik sekali sehingga berkahnya melimpah ya. Masya Allah. Semoga rezekinya terus berkah. Juga rezeki mbak Niken yang membagikan cerita ini. Thanks for share, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kita bisa melihat kenikmatan Allah dari kebahagiaan orang kain.

      Trimakasih kembali mbak Niar :)

      Hapus
  18. apalagi yang kerja di Gas atau OIL, di tengah laut ya, kalau mati ya tinggal angin lalu terkena ombak besar, tapi demi anak istri ya semua hal memang harus dilakukan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengorbanan suami menjalankan kewajibannya, ya mas Andy.

      Hapus
  19. Bantuan selalu ada dari Allah ya mbak, dengan keluar dari tempatnya bekerja Insya Allah ada saja rezeki buat mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Betul mbak Lidya. Yakin saja bahwa rejeki sdh diatur oleh Allah.

      Hapus
  20. terkadang kita justru belajar dari orang2 sederhana di sekitar kita...tentang keikhlasan dan rasa bersyukur yang sejatinya..

    Semoga kita selalu dilimpahi rasa nikmat bersyukur dan keberkahan ya Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mbak Lies. Buka mata dan hati kita bila melihat sekitar. Ada banyak nikmat Alah di sana.

      Hapus
  21. Jeng Niken, luar biasa kunci menggulung kesulitan dan memperbesar tujuan. Keluasan hati Jeng Niken yang mampu menangkap mutiara cerita abang inspiratif. Ikut belajar di sini ya Jeng, salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa lagi yang bisa lakukan selain berusaha berpikir positif pada jerih payah orang lain.

      Salam kenal kembali mbak. Trimakasih kunjungannya.

      Hapus
  22. Mbak Niken, aku selalu percaya bahwa Allah selalu menjawab doa umat yang berusaha mewujudkan doanya dengan tenaga dan pikiran. Doa si Bapak untuk memperbaiki taraf ekonomi di jawab dengan memperlihatkan kepadanya peluang-peluang untuk berkembang..
    Salut sama Bapak penjual gado2 ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak Evi. Doa dan usaha yang berjalan sinergi tentunya akan membuahkan hasil yang baik.

      Hapus
  23. ngiler... liat gambar gado-gadonya.. (ha2 gak nyambung )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disambung2in juga bisa kok mbak Nova :)

      Hapus
  24. saya suka banget sama gado2 ^^

    jadi ... kalau udah nikah itu secara otomatis pasti pny kewajiban pd suami ya? dan sedikit demi sedikit kudu belajar biar 'pinter' ^^

    keluar dr zona nyaman memang mendorong seseorang unt lebih sukses lagi. bisa lebih berkembang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama dong, saya juga suka gado2.

      Tentu saja Artha, sunatullah wanita yang sudah menikan adalah mendampingi suami. Tentang bagaimana wujudnya, tentunya berbeda-beda. Tapi tujuannya adalah satu, yaitu keridhaan Allah.

      Hapus
  25. zona kenyamanan, banyak yang terjebak didalamnya sehingga tak mau keluar dari zona tersebut sehingga terlena di dalamnya, padahal bila berhasil keluar dari zona kenyamanan maka jalan kesuksesan kan terbuka lebar di depan mata :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berul mas Hari. Kita harus berani keluar dari zona nyaman itu, kembali merasakan perjuangan dalam hidup.

      Hapus
  26. luar biasa !!! baik suami maupun istrinya...semoga sukses terus utk mereka.
    kisahnya menyentuh dan byk hikmah di dalamnya....mks bunda sayang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Trimakasih ya Mi. Semoga ada hikmahnya. Syafakillah buat Mimi :)

      Hapus
  27. Super Sekali.... Suami yang bertanggung jawab dan Istri yang Setia... like this Bund..

    thank's Inspirasinya...

    BalasHapus
  28. Merinding saya bacanya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih mbak Santi?
      Memang mengharukan ya kisahnya. Saya juga belajar dari kisah ini.

      Hapus
    2. iya mba, sungguh mengharukan. Kita hrs lebih banyak belajar lagi dari pengalaman hidup org lain yg selalu bersyukur atas nikmat yg Allah berikan. Semoga kita termasuk org2 yg selalu bersyukur. Aamin.

      Hapus
    3. Kadang kita luput memperhatikan hal2 disekitar kita. Padahal byk sekali yg bisa kita jadikan pelajaran. :)

      Hapus
  29. Ada dua sisi yang menarik dari kisah ini yakni pengorbanan sang istri dengan rela meninggalkan "zona aman" nya sebagai pegawai sebuah perusahaan swasta terkemuka adalah hal yang luar biasa. Biasanya orang keluar dari zona aman untuk mandiri atau mencari pekerjaan lain yang jauh lebih dari sebelumnya.

    Hal yang kedua adalah pengabdian dan dedikasi istri yang berbakti sepenuhnya mengabdi dan mendampingi suami mencari nafkah. Ada hal yang masih bisa didiskusikan lagi di poin ke dua ini karena jaman yang semakin maju dan berkembang peran ISTRI kini sudah semakin kompleks sesuai dengan resiko yang timbul.

    Bagaimana pengabdian istri kepada suami tetap terlaksana dengan baik TANPA harus mengorbankan kepentingannya. Tidak harus mengorbankan salah satunyanya. Ini memang perlu kerja sama dan kesepakatan suami istri itu sendiri. Kita tentu tidak bisa memaksakan konsep ideal "Istri Mandiri" atau "Istri Setia Suami" kepada setiap orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali pak Asep. Tapi melihat apa yang mereka jalani sampai saat ini, dimana sang istri tidak masalah dengan pilihannya, tentunya hal ini merupakan sebuah pilihan yang sepenuh hati. Dia tidak merasa mengorbankan kepentingannya.

      Betul pak, semua orang bisa menentukan pilihannya sendiri sesuai kesepakatan bersama. Asalkan semua itu bisa dipertanggungjawabkan kepada Allah.

      Hapus
  30. Subnallah..kita emang ga boleh memandang remeh pekerjaan org ya bund..contohnya abang gado2 ini, siapa yg tau klo pengalaman dan begitu kagumnya dia dg sosok istri..
    salam buat abang gado2 ya bun...ibu sy jg dulu jualan gado2 buat nyekolahin saya sampe SMA :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, sebuah tanggung jawab yang amat mulia ya mbak Melly. Semua pekerjaan kalau kita jalani dengan ikhlas bisa membawa keberkahan.

      Hapus
  31. subhanallah..kagum mb aku sm si abang penjual gado2..tekad yang kuat,tekun dan percaya pd Allah memang akan membuahkan hasil..

    kl gado2 pake emping & bawang goreng yg banyak aku jg mau lho mb.. *eh.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ulet. Bekerja dan berdoa. Hasilnya berkah.
      Ntar kalo ke Jakarta kita makan gado2 ya mbak :)

      Hapus
  32. Postingannya bunda memang tiada duanya deh.

    Saya terkesima membacanya.

    bunda saya ngefans banget dengan bunda.

    Namun saya belum tuntas membaca bukunya bunda.

    Pokoknya tidak bisa di ganggu gugat. SAYA NGEFANS DENGAN BUNDA

    Salam manis dari Jember kembali ya bunda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau mas Imam menyukai tulisan ini. Tapi jangan memuji berlebihan, kuatir saya jadi terlena. :)

      Salam kembali.

      Hapus
    2. Tetapi saya diterima kan jadi fans beratnya Bunda.

      Hapus
    3. hihihi, mau tanda tangan nih mas Jaswan?

      Hapus
  33. hebat bgt.. suami istri yg saling mendukung dan ikhlas.. Apapun yg terjadi dijalani bersama.

    BalasHapus
  34. iya mba...semoga saya menjadi istri yang selalu bisa kerjasama dengan suami dan mengerti suami :")
    bismillah

    saling mendoakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga kita semua mampu ya :)

      Hapus
  35. gk cukup sekali bacanya... :)

    BalasHapus
  36. Subhanallah. Ceritanya inspiratif sekali. Tapi saya masih bengong nih, kok mau ya istrinya sama bang Roni wkwkwkkkk... Rejekinya bang ROni, orang paling beruntung didunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah kuasa Allah. Kita tinggal menjalani hidup yang sudah digariskanNya, dengan kesungguhan, tanpa stagnansi, terus berusaha dan berdoa.

      Hapus
    2. Selama 7 tahun abang roni masih berjualan gado gado cukup lumayan lama juga ya Bunda. Sekarang apakah beliau masih berjualan gado - gado juga. Seharusnya selama 7 tahun ini abang roni bisa memiliki sebuah Restoran Gado -Gado nya :)

      Hapus
    3. Selama 7 tahun abang roni masih berjualan gado gado cukup lumayan lama juga ya Bunda. Sekarang apakah beliau masih berjualan gado - gado juga. Seharusnya selama 7 tahun ini abang roni bisa memiliki sebuah Restoran Gado -Gado nya :)

      Hapus
    4. Sekarang masih jualan gado-gado. Untuk punya restoran banyak yang harus dipertimbangkan. Kalau sewa, di Jakarta mahal banget. Kalau beli di dalam kota sepertinya blm bisa. Tapi dia kan punya usaha lain yg dia buka dari hasil jualan gado2.

      Hapus
  37. Inspiratif bngt ceritanya mbak

    BalasHapus
  38. Ini nyata mbak? Bagus banget. Hebat banget si abang, juga hebat istrinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyata mbak Nita. Memang bisa diambil pelajaran dari keduanya.

      Hapus