Frangipani Flower Lovely Little Garden: Keseimbangan Dalam Hidup
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Senin, 26 November 2012

Keseimbangan Dalam Hidup

Bismillahirrahmannirrahiim...

Semangat pagi...! Memulai hari dengan menyapa riang si mbak yang bangun beberapa saat setelah aku bangun. Setelah sholat subuh, aku ke dapur mengkoordinasikan sarapan pagi dan bekal sekolah anak-anak. Baru kemudian meluncur ke pasar tradisional langgananku.

Cuaca cerah. Udara terasa sejuk tapi tidak dingin menusuk. Segar terasa saat angin menerpa wajah. Aku menaikkan kaca helm agar terasa terpaannya. Menyapa ibunya Ajo yang sudah rajin menyapu jalan kompleks rumahku. Dengan riang ibu Ajo membalas sapaanku. Membuat pagiku menjadi semakin semangat melihatnya juga semangat.

Tak jauh setelah keluar kompleks, seorang perempuan tua yang kerap kami panggi si Mbok berdiri di tepi jalan menungguku untuk naik keatas boncengan motorku. Kami biasa ke pasar bersama. Dari pada si Mbok harus naik kendaraan umum, lebih baik aku bonceng saja karena tujuan kami sama.

Usia si Mbok sudah sekitar 75 tahun. Tapi semangatnya jempolan deh. Jalannya terpincang-pincang dan tidak pernah menggunakan alas kaki apapun. Dia berjualan kopi, rokok dan jajanan pasar di sebuah warung kecil di sudut kompleks. Pelanggan utamanya adalah para tukang sapu jalan dan tukang-tukang sampah yang biasa memarkir gerobak sampahnya tak jauh dari warung si Mbok.

Dulu si Mbok biasa ke pasar naik Metro Mini dan pulangnya naik ojek. Keuntungan jualannya yang tidak seberapa harus disisihkan untuk transport sehari-hari, dapat apa si Mbok...? Apalagi kasian juga melihatnya jalan terpincang-pincang turun dari Metro Mini masih harus jalan kaki sekitar 100 meter menuju ke pasar karena Metro Mininya tidak berhenti di depan pasar.

Maka ketika aku tawarkan boncengan motorku, si Mbok menyambut gembira. Jadi tiap pagi aku punya teman ke pasar dan juga pulangnya. Senang tiap pagi bisa berbincang dengannya. Bahasa Jawa logat Tegalnya tak pernah lepas. Si Mbok selalu berbahasa Jawa kalau bicara. Mau ngerti atau tidak lawan bicaranya, dia tetap saja berbahasa Jawa.

Tadi pagi si Mbok terlihat bahagia. Cerita tentang cucunya yang baru saja menikah tak putus sampai tiba di pasar. Di pasar kami berpisah untuk berbelanja sesuai kebutuhan kami masing-masing. Warga pasar sudah  tahu kalau aku dan si Mbok selalu bersama. Jadi kalau aku bertanya untuk mencari tahu apakah si Mbok sudah selesai belanja atau belum, pasti ada saja yang bisa memberitahu keberadaan si Mbok.



Ada kebiasaan si Mbok yang membuat aku terharu. Yaitu memanggil Luthfan anak sulungku dengan panggilan "bujangku". Si Mbok memang suka dengan sosok Luthfan. Karena Luthfan selalu ramah kepadanya. Pulang sekolah kalau lewat warungnya selalu menyapa dan mencium tangan si Mbok. Kalau disuruh mampir ke warung, Luthfan sering menyempatkan duduk sebentar, berbasa-basi sedikit, membeli jajanan di warung si Mbok, barulah pamit pulang. Padahal Luthfan sebetulnya tidak begitu suka dengan jajanan yang dijual si Mbok, tapi dibelinya juga satu atau dua macam.

Kalau lama Luthfan tidak kelihatan, si Mbok akan bertanya-tanya mengkhawatirkan Luthfan.
"Bujangku deneng wis pirang dina ora liwat...? Lara apa kepriwe...?" tanyanya dengan logat Tegalnya.
(Bujangku koksudah beberapa hari ngga lewat...? Sakit atau gimana...?)

Atau kalau habis kedatangan Luthfan, esok paginya antusias cerita,"Bocah ko gagah nemen yak. Wis duwur nemen siki. Wingi tak tawani peyek ora gelem. Malah njimot roti. Kandani kon ora usah mbayar malah bayare diluwihi. Jan bocah ko apikan nemen. Wis kaya putuku dhewek."
(Anak itu kok gagah banget. Udah tinggi sekali. Kemaren aku tawarin peyek ngga mau. Malah ambil roti. Aku bilang ngga usah bayar malah bayarnya dilebihi. Duh, anak itu kok baik banget. Udah kayak cucuku sendiri).

Sekarang Luthfan sudah ke sekolah naik motor. Sudah tidak pernah lagi lewat warung si Mbok. Sudah pasti si Mbok merasa kehilangan Luthfan. Sering sekali bertanya kabar padaku. Dan kini, si Mbok sering menitipkan jajanan pasar untuk Luthfan. "Kanggo Bujangku," begitu katanya. Tak bisa aku tolak. Sebab kalau aku menolak, si Mbok akan meletakkan sendiri diantara belanjaanku atau langsung digantungkan di motorku. Jajanannya pun bervariasi. Sepertinya si Mbok mengingat jajanan apa yang Luthfan suka ambil di warungnya.

Dan Luthfan pun membalas dengan mengumpulkan uang jajannya. Setelah beberapa hari dimasukkan ke amplop lalu diserahkannya sendiri ke si Mbok sambil berangkat sekolah. Atau kalau sedang tidak punya uang, Luthfan minta padaku untuk membawakan masakan kantin untuk si Mbok. Jadi kami berdua sering mengatur hari ini kirim masakan apa? Berikutnya apa?

Pagi tadi, si Mbok juga menggantungkan beberapa buah jajanan pasar di stang motorku.
"Kiye kanggo Bujangku, panganan enak. Biasane bujangku jajan kiye nang warungku." katanya.
(Ini untuk Bujangku, makanan enak. Biasanya bujangku jajan ini di warungku).

Lalu kami pulang bersama. Aku mengantar si Mbok sampai depan warungnya yang berarti aku lewati dulu rumahku baru kemudian memutar kembali. Tak apa... Daripada si Mbok harus jalan terpincang-pincang dari rumahku ke warungnya (sekitar 50 meter), sambil membawa belanjaan.

Begitulah setiap pagi. Aku belajar banyak dari semangat si Mbok yang meskipun usia sudah lanjut, tapi berprinsip tak mau merepotkan anak-anaknya. Selama dia masih bisa bangun, maka akan diseretnya langkah untuk berusaha sendiri tanpa meminta dari anak-anaknya. Mengais keuntungan yang tak seberapa dari para tukang sampah dan penyapu jalan itu. Itupun sering dihutang oleh mereka. Ah... hidup memang sebuah perjuangan.
Hidup ini pada dasarnya adalah keseimbangan. Memberi dan menerima. Bagaimanapun kondisi seseorang, dalam dirinya tetap ada rasa ingin memberi untuk orang lain. Apalagi setelah dia merasa banyak menerima dari orang lain. Kadang kita harus membuka diri untuk menerima pemberian orang lain, sekalipun pemberian itu tak seberapa nilainya. Percayalah... dengan keseimbangan ini, kita merasa hidup kita berguna untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Dan dengan keseimbangan ini kita bisa lebih percaya diri untuk melangkah. 

44 komentar:

  1. iyaa..bang Luthfan ganteng bgd. mauuy bun jd menantu..udh ada yg punya ya ?? hehe

    salam sayang utk simbok jg bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.... sekarang sih udah punya pacar dia Mi... Tapi bisa diatur... qiqiqi....

      Trimakasih ya Mi...

      Hapus
  2. Persahabatan yang menarik, saling bantu agar harmonis dan semuanya berkah.
    Di luar sana banyak orang yang saling menghujat,memaki,pukul-memukul. Maka di sini ditunjukkan hidup dan kehidupa yang selaras, serasi,seimbang.

    Salam untuk si mbok dan bujangku ya jeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pakde... kita tidak perlu memilih2 kepada siapa kita harus berteman. Jadikan pertemanan itu sejalan dengan sunatullah kita.

      Insya Allah salam kembali dari mereka...

      Hapus
  3. suka sekali dengan orang tua yang tidak bergantung pada anaknya, tapi kadang sebagai anak biasanya ingin membahagiakan orangtua dengan melarang ini itu apalagi berjualan. tapi biasanya orang tua punya alasan sendiri..

    jika umur ku panjang aku juga tak mau merepotkan orang tua, ingin punya usaha sendiri sampe nenek-nenek hehe

    cerita hidup yang menginspirasi mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda pandangan ortu dan anak pasti ada. Sebagai anak, dengan mengijinkan mrk tetap berusaha sendiri tak ada maksud untuk tdk berbakti. Tapi orang tua merasa lebih "hidup" dengan kemandiriannya.

      Hapus
  4. maksudnya tak mau merepotkan anak hehe

    BalasHapus
  5. Hmm ada sebutan baru nih buat Luthfan "Bujangku" hehe, boleh juga tuh, truuss si Mbok itu nama aslinya siapa sih Bun ??

    Semangat si Mbok patut untuk ditiru, semangat yang tak pernah lelah untuk trus berusaha, dan prilaku Bunda terhadapa si Mbok patut diacungi jempol,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur saya sampai saat ini tidak tau nama asli si Mbok. Karena di lungkungan kami semua orang memanggilnya dengan sebutan itu dan si Mbok sendiri menyebut dirinya dengan sebutan itu.

      Makasih acungan jempolnya yaa...

      Hapus
  6. ini sebuah bentuk habluminannas yang baik...
    like son like mother and father....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkiu...
      like father in law.... hehehhe...

      Hapus
  7. Si Mbok bangga dan bahagia anaknya sudah menikah
    wah...aku lagi membayangkan ibuku lagi bahagia banget kelak
    Setiaporang tua selalu tidak ingin merepotkan anak2nya
    melihat anaknya bahagia itu juga sudah menjadi kebahagiannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan anaknya mbak... Tapi cucunya.
      Si Mbok bahagia karena masih diberi umur menyaksikan cucunya menikah.

      Hapus
  8. Ibuk di rumah pernah mengutarakan sesuatu disaat kita lagi curhat-curhatan bun, sepertinya semua orang tua sama :') postingan yang menarik untuk kesekian kalinya bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai orang tua, rasa itu memang selalu ada. Hanya kadang tidak semua org tua mampu mengatakannya.
      Bisa curhat2an sama ibuk...alangkah indahnya...

      Makasih Putri...

      Hapus
  9. BUJANG ku, aahh so sweet banget yaa bund lutfhan walaupun gag demen jajan tapi disempetin buat duduk bentar, bunda kasian toh si mbok, ada fotonya gag bund :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya je... Blm pernah ada kesempatan foto si Mbok. Lha ketemunya pagi mruput gitu jeee...

      Hapus
  10. Bagaimanapun kondisi seseorang, dalam dirinya tetap ada rasa ingin memberi untuk orang lain. Apalagi setelah dia merasa banyak menerima dari orang lain. Kadang kita harus membuka diri untuk menerima pemberian orang lain, sekalipun pemberian itu tak seberapa nilainya. <-- bener banget mba.

    Membantu seseorang [apalagi yang lemah] tak selalu harus dengan uang. Ada banyak cara melakukannya ya mba.... Sebuah hubungan yang indah, aku yakin, si mbok sangat bahagia dengan jalinan pertemanan ini, dan doa tulusnya pasti akan terus mengalir untuk kebahagiaanmu sekeluarga... salam untuk si mbok ya mba Nik...

    bener, Lufthan makin ganteng yaaa..... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jajanan pasar itu tdk seberapa rasanya, dan harganya, tapi menerima pemberian dr org membuat org itu mrs melakukan timbal balik kpd kita. Yg seimbang ajaa...

      Makasih pujiannya buat Luthfan. Alhamdulillah Allah memberi kesempurnaan dlm ciptaanNya.

      Hapus
  11. memang ganteng loh mbak luthfan :). memang orang-orang tua itu selalu ingin memberi kepada orang lain mungkin sebagai ucapan terima kasih. Insya alah si mbok ikhlas. tetap semangat ya mbok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.... Pujian lagi buat Luthfan...

      Sepertinya si Mbok tdk mau merasa hutang budi, juga terlanjur sayang sama Luthfan.

      Hapus
  12. gak tau napa yah kok jadi terharu mbaca kisah mbak niken
    salam buat si mbah
    semoga selalu diberi kesehatan yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dicermati, kehidupan si Mbok mmg mengharukan. Dia bisa terancam penggusuran kapan saja. Membayangkannya saja sdh sulit...

      Hapus
  13. suatu harminisasi yang indah.
    hubungan hablum minan nas yang tak bisa lepas dari diri seorang anak manusia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harapannya dr habluminannas ini bisa meningkatkan habluminnallah..

      Hapus
  14. woww.. keren, selain punya temen juga berpahala, insya Allah...
    smoga bisa menjadi anak sholeh, bujangku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Terima kasih doanya utk Luthfan.

      Hapus
  15. Benar mbak. Keseimbangan.
    Kalo dengar ada yang memanggil dengan "Panggilan sayang" seperti "Bujangku" itu rasanya nyess gitu ya mbak, kayak apa ya ... semacam ada tetes air di perasaan kita. Sy saja yang membacanya suka, apalagi yang mendengarnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panggilan bujangku itu memang semakin membuat dekat Luthfan dgn si mbok. Perhatian si Mbok kepada Luthfan dgn memberi jajan pasar itu rasanya indah banget.
      Makasih mbak Niar.

      Hapus
  16. simbok jg ponya panggilan kesayangan yaa bund :)"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panggilan si Mbok itu begitu akrab buat kami. Beliau juga sukanya dipanggil dgn sebutan itu. Lebih dekat rasanya.

      Hapus
  17. Subhanallah...
    Jadi akrab dengan Si Mbok ya. Salut banget dan kadang gak abis pikir pada orang2 yang cenderung kekurangan, tapi tetap mau memberi2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah mbak Kaka... Org butuh keseimbangan itu. Walau dlm kepapaan tetap saja mrk perlu rasa berarti buat org lain. :)

      Hapus
  18. iya betul bgt.. Tiap org membutuhkan keseimbangan. Menjd org yg slalu menerima tanpa ada kesempatan memberi tentu tidak enak rasanya. Begitu jg sebaliknya.. Jd memberilah dgn tulus dan menerima dgn ikhlas pula :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kita merasa kecil hati untuk memberi karena mrs apa yg kita beri "tidak pantas" untuk orang lain. Padahal apapun, perhatian kecilpun bisa menjadi berarti besar lho buat org lain.

      Hapus
  19. Mas Luthfan baik dan ganteng... Bundanya juga baik. besanan po piye ? *modus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeaa... sekarang giliran si sulung yang diajak besanan. Yg no 4 udah punya calon besan mbak Titi... #terpengaruh

      Hapus
  20. Setuju bangeeeet....
    Dengan keseimbangan itu kita lebih mudah merasakan bahagia.
    Hmmm..., saya suka sekali membaca bahasa Tegalnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ga imbang nanti njomplang ya pak Azzet... :D

      Hapus
  21. waaa~
    kayak mbahku....
    eh, Luthfan msh sekolahnya bunda?? hihi daun muda ^^

    BalasHapus
  22. Subhanallah... indah sekali persahabatan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indah memang. Ada rasa saling memberi dan menerima.

      Hapus