Frangipani Flower Lovely Little Garden: Cinta Lokasi
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Kamis, 06 Juni 2013

Cinta Lokasi

Bismillahirrahmannirrahiim.


Tulisan ini adalah salah satu dari tulisan yang ada di buku rembulan Cinta Seorang Bunda, pada Keping kelima. 


*****

Ada yang senyum-senyum baca judul tulisan ini? Ada yang pernah mengalaminya? Ehm... Bagaimana nasib cinta lokasimu sekarang? Apakah kandas ataukah berlanjut?

Bukan... Bukan cinta lokasi yang seperti itu yang aku maksud. Ini bukan tentang cinta lokasi antara dua insan yang dimabuk kepayang. Yang dirasakan begitu indah sesaat dengan mengabaikan nasehat yang berbisik di dalam hati mengingatkan untuk tidak mengikuti ajakannya.

Ini tentang cinta lokasi yang lain. Cinta yang tidak kita sadari, padahal kita semua mungkin kita pernah merasakannya. Yang aku maksud adalah cinta lokasi pada Allah. Ah, ada-ada saja! Mana ada cinta lokasi pada Allah!

Mari kita renungkan.

Pada saat kita menghadiri majelis ta'lim atau pengajian, hati kita merasa teduh. Mendengar siraman rohani yang disampaikan, hati kita bisa tersentuh. Kitapun merasa dekat dengan Allah. Merasakan nikmat dan karunia-Nya yang begitu besar dalam hidup kita. Tak jarang kita berikrar tobat saat mendengarkan khutbah yang mampu menguak rasa bersalah kita telah menyia-nyiakan hidup. Lantunan ayat suci Alqur'an dapat membuat kita menitikkan air mata karena kesyahdunya mengusap kalbu kita. Hati kita bergetar dalam suasana haru yang amat sangat. Kemudian, begitu banyak rangkaian niatan kita ucapkan dalam hati. Bahwa kita akan memperbaiki diri, akan lebih mendekat pada Allah, akan lebih banyak beribadah, berinfak dan bersedekah.

Pada saat dihadapan kita adalah ka'bah yang menjadi kiblat sholat kita, betapa air mata bersimbah. Saat kita mampu memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci untuk Umroh atau Haji, tak henti rasa syukur kita ucapkan. Begitu takjub akan kebesaran Allah dalam mencipta. Mengagungkan Allah begitu tinggi sebagaimana seharusnya. Doa panjang dipanjatkan di Masjidil Haram yang begitu dirindukan dan didambakan. Tersungkurlah kita pada kekhidmatan yang begitu dalam. Tak ada kata yang mampu melukiskannya. Begitu yakinnya kita, bahwa doa paling makbul adalah doa yang dipanjatkan di Masjidil Haram, sehingga tak putus doa dan harapan kita sampaikan pada Allah. Bahkan banyak pasangan yang melakukan ijab qabul di depan ka'bah, karena merasa ikatan pernikahan yang dilakukan di Masjidil Haram akan langgeng dan bahagia.

Pada saat bulan Ramadhan tiba,  kita berlomba-lomba meningkatkan amal dan ibadah kita. Kita menunggu datangnya Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat. Kekhusyukan beribadah amat terasa pada saat itu. Semua ingin mendapatkan rahmat dan keberkahan pada malam Lailatul Qadar. Begitu dekat rasanya kita pada Allah pada saat Ramadhan. Tingkat kesabaran dan keikhlasan kita diuji. Sehingga kita bisa kembali menjadi pribadi yang fitri.

Salahkah itu? Tentu saja tidak. Kita memang harus memanfaatkan kesempatan yang datang kepada kita untuk beribadah sebaik mungkin. Maha Suci Allah, Maha Besar Allah. Maha Kuasa Allah. Mintalah sebanyak-banyaknya hanya kepada Allah.

Tapi... Apa yang terjadi setelah kita pulang dari Majelis Ta'lim atau pengajian itu? Kemana semua rangkaian niat baik yang diucapkan dalam hati? Bagaimana dengan kemantapan hati saat mendengarkan ceramah tadi, bahwa akan meningkatkan ibadah, infak dan sedekah? Sudah lupa tuh... Kembali kepada rutinitas, pekerjaan atau kegiatan duniawi yang menyita waktu dan menjauhkan diri dari Allah. Ibarat mandi yang menyiram tubuh kita dengan air, segar hanya sesaat. Begitupun siraman rohani, menyiram sejuk hati kita hanya sesaat. Kita cinta lokasi pada Allah saat berada di Majelis Ta'lim atau pengajian.

Bagaimana perilaku kita setelah kembali ke tanah air dari berumrah atau berhaji? Berapa banyak orang yang telah diberi kesempatan untuk ke tanah suci, pulang dengan jiwa yang benar-benar bersih, mabrur yang betul-betul memang sampai pada qulubnya? Amat disayangkan, bila ibadah yang menjadi sempurnanya rukun Islam itu hanya menyentuh kulit kita, bukan kalbu kita. Sehingga dengan mudahnya kita lupa dengan segala pertobatan, tangisan panjang, rangkaian doa yang kita panjatkan. Segala kemantapan hati menguap entah kemana. Ijab qabul di sana tak dipertahankan dengan cinta kasih dan sayang sebagaimana mestinya. Sikap dan perilaku sama sekali tidak sesuai dengan semangat beribadah di tanah suci. Kita cinta lokasi pada Allah saat berada di Masjidil Haram.

Ketika Ramadhan meninggalkan kita, bagaimana kualitas ibadah kita? Mampukah kita mempertahankan kekhusyukan dan ghirah beribadah? Seharusnya kita kemudian bisa menjadi pribadi yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Seharusnya pada bulan-bulan selanjutnya kita tetap mempertahankan amal ibadah kita atau bahkan lebih baik lagi. Kenyataannya, banyak dari kita yang kehilangan ghirah dan kembali lalai dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah. Kita cinta lokasi pada Allah saat Ramadhan tiba.

Semoga kita dijauhkan dari hal demikian. Semoga kalbu kita selalu terjaga untuk selalu tersambung pada Allah. Jangan cuma sekedar mencari siraman rohani yang hanya menyegarkan jiwa kita saat tersiram. Tapi kita harus sibghah pada Allah. Mencelupkan diri kepada Islam sepenuhnya. Jiwa dan raga adalah untuk ridha Allah/ Mencintai Allah dengan benar-benar cinta.

Allah ada dimana saja kita berada. Tidak hanya ada di mesjid, majelis taklim, Masjidil Haram. Tidak hanya saat bulan Ramadhan saja. Memohon dan berdoa kepada Allah bisa kapan saja dan di mana saja. Yang penting adalah, sambungkan hati kita pada Allah, maka Allah akan selalu hadir pada kehidupan kita. Takkan ada cinta lokasi karena Allah ada pada sanubari kita.

Surah Al Hadid, Ayat 4:
... dan Dia tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada dan Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.



62 komentar:

  1. Kirain cinta lokasi yang seperti itu, hehe..

    Merenung dulu ah, sambil menuntaskan bacaan (saya bacanya belum selesai).

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... ya gitu deeehh. Silahkan mas Hakim. Dibaca2 dulu.

      Hapus
  2. Sudah khatam bacanya mbak...
    malah sdh direview..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih udah di review? Kok saya belum tau? Di mana?

      Hapus
  3. met malam mbak niken...*walah sksd...hehe..mantep tulisannya...jadi rindu ka'bah ingin bermunajat disana...semalaman kayak dulu...semoga kelak ada jodoh kesana lg ngajak keluarga...*amien....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Met malam juga mama Kinan.
      Alhamdulillah sudah diberi kesempatan bermunajat di depan Ka'bah, tentunya amat rindu ya mbak.

      Hapus
  4. menarik sekali mbak. pas baca judulnya yang terpikir cinta lokasi pada makhluk bukan pada sang pemilik cinta dan sang pencipta makhluk. ah, malu sekali ya mbak kalau dipikiran sudah tertanam langsung pikiran seperti itu. padahal cinta sejati dan cinta yang hakiki hanyalah pada ilahi rabbi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak Liza, cinta yang hakiki adalah pada Allah semata. Memang kalau menyebut cinta lokasi, selalu yang terbayang langsung pada cinta pada sesama. Padahal tanpa disadari kita justru sering cinta lokasi pada Allah.

      Hapus
  5. eh jadi pengin bukunya...cara belinya gimana mbak?

    BalasHapus
  6. Cinta lokasi pada Allah di postingan mbak niken yang ini ;), kluar dari sini jadi lupa.. He2 *insyaAllah gak lupa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. eeaaa, jangan dong Nova. Mosok sesingkat itu :D

      Hapus
  7. aku cinta lokasi sama ALLAH dimanapun Mbak

    apalagi ketika sadar bahwa aku masih bernyawa hingga saat ini..

    padahal......................................... *sensor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sensornya bunyi tuuuuuuttt :D
      Semoga bukan cuma sekedar cinta sesaat, tapi tertanam pada kalbu kita.

      Hapus
  8. cinta lokasi yang mengasikkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih mengasyikkan kalau menemukan cinta yang hakiki.

      Hapus
  9. Cinta lokasi bisa dimana saja ya mba....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang betul cinta lokasi bs dimana aja, tapi cinta yg hakiki hanya pada Allah.

      Hapus
  10. Sudah di baca tapi resensinya belum, masih mau belajar buat resensi Bunda,......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau dong dibuatkan resensinya. Sebaiknya disebutkan juga kekurangan bukunya, bang Said :)

      Hapus
  11. Cinta lokasi dan cinta kondisi.
    Seringnya kalau lingkungan dikondisikan islami dengan nasehat2, teman2 atau keluarga yang semangat sama2 beribadah memang cinta itu akan bertahan lama, namun ketika kondisinya penuh ujian jauh dari teman semuslim keluarga bahkan untuk sholatpun susah banget cari mesjid hiks...aku takut mbak cintaku memudar.

    Aku dan suami pernah sholat di bawah tangga sebuah hotel sedang tak jauh dari kami ada bar dan diskotik dengan musik gebyar ketika mengikuti acara kantor di hotel tsb dan tak disediakan tempat untuk sholat sedang mesjid terdekat itu berjarak sekitar 5kilo melalui jalanan yang macet sedang waktu maghrib juga tak lama. Sedih dan rasanya pingin segera kembali ke Indonesia yang begitu nyaman dengan mesjid atau musholla yang ada dimana2.

    Makasih nasehatnya mbak, semoga kita istiqamah ya. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu makanya kita diharapkan selalu berkumpul dengan orang-orang yang dapat meningkatkan keimanan kita. Semoga kita selalu didekatkan dengan mereka yang soleh dan solehah.

      Memang kalau bicara fasilitas ibadah di tempat umum, kita sering miris, tapi justru disitulah cobaannya. Mampukah kita tetap menegakkan sholat dan keimanan kita pada situasi dan kondisi yang sulit?

      Trimakasih kembali mbak Haya, saling megingatkan ya :)

      Hapus
  12. Jadi malu..adakalanya saya-pun demikian..Tp setelah bacanya..jadi termenung sendiri
    inspiratif banget.
    sukses selalu buatmu Bund...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita semua sepertinya pernah merasakan cinta lokasi ini mbak Yuli. Yang penting, selalu ada niat untuk memperbaiki diri.
      Sukses juga buat mbak Yuli.

      Hapus
  13. Kalau begitu, harus sering-sering ke tempat yang membangkitkan "cinlok" ini ya Bun. Maklum namanya juga manusia, grafik keimanan selalu naik-turun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan kemudian menyalahkan situasi kondidi pada saat kita turun, segera naikkan kembali grafiknya lebih tinggi :)

      Hapus
  14. Dimana ada asa sisitu ada rasa, dan dimana ada benih disipula akan ada cinta dan kasih. Itulah yang bisa aku tangkap sepintas dari uraiannya, Semoga kita bisa selalu istiqomah dalam kehidupan ini.

    Sukses selalu
    Salam wisata

    BalasHapus
  15. Innallaha ma'ana
    sesungguhnya Allah itu selalu bersama kita

    kita tahu bahwa Allah itu senantiasa bersama kita, akan tetapi karena kelalaian kita sebagai manusia kita seakan menganggap bahwa Allah itu hanya angin lalu. astagfirullah.

    hmm, kalo banyu belajar banyak bertafakur bunda, sore hari sebelum magrib atau sebelum menjelang tidur selepas witir. subhanallah bunda, banyak manfaat yang banyu rasakan.
    cobain deh ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu karena manusia masih menilai kehadiran Allah dengan hal-hal duniawi.
      Trimakasih nasehatnya Banyu, Insya Alloh bunda laksanakan.

      Hapus
  16. Ah kalau ini sih namanya cinta lokasi beneran Bun, Saya juga bakalan jatuh cinta kalau berada di Masjidil Haram :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. tapi kan sebaiknya cinta lokasinya berlanjut tak lekang oleh waktu dan keadaan.

      Hapus
  17. MakJlebb!! baca blog Mba yang begitu "menyadarkan" ini. Jazakillah khoiron katsira Mba.. Saya pun adalah salah satu yang masih sering alami "cinlok" ini dan jadi malu hati kepada Allah swt..yang begitu luasnya cintanya kepada setiap hamba-Nya..

    Salam kenal ya mba dan mohon ijin share ya blog yang bagus ini..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.
      Salam kenal kembali, silahkan dishare :)

      Hapus
  18. nyimak dulu, hehe
    skalian kunjungan perdana mbak, salam kenal :)
    visit, koment n follow back blogq ya

    BalasHapus
  19. syukron bacaannya,,, sadar ^_^ indahnya cinta lokasi sesungguhnya.

    BalasHapus
  20. Bunda pandai membuat orang penasarang dengan judulnya sudah menimbulkan tanda tanya ada apa di balik cinta lokasi. Namun setelah di baca Subhanallah ternyata cinta lokasi ini lebih mulia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... boleh2 aja khaaan Irfan :)
      Makasih ya.

      Hapus
  21. wah kata2 bunda kembali menyegarkan pikiran saya, maksih bunda semoga banyak yg membaca tulisan bunda yang indah ini, amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini juga sebagai penyegar pikiran saya kok Ea. Semoga bermanfaat ya :)

      Hapus
  22. eh, bund.. ini juga sempat dicurhatkan para sahabat pada Nabi Muhammad.. Kata beliau hal ini wajar ;) maka itu sering2lah ke lokasi2 yg mendekatkan kita pd Allah ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah sering ke tempat2 itu, seharusnya bisa lebih meningkatkan keimanan kita.

      Hapus
  23. Waah.. bener banget nih. Cinta lokasi gak dipungkiri kerap terjadi (pada saya juga). Pas di pengajian, tawadhu banget. Niatnya pengen jadi orang bener. Pas udah bubaran, lupa. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering2 datang ke pengajian dan berkumpul dengan orang2 yang selalu mengingatkan kita pada ibadah bisa mengatasi cinlok ini :)

      Hapus
  24. Masya Allah, Bunda...aku jadi malu semalu-malunya.

    Cinta Lokasi yang indah, heheee....indah jadi aku bisa kesentil dengan tulisan Bunda.

    Salam
    Astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi gimana? Mau dilanjut Cinta Lokasinya?

      salam kembali

      Hapus
  25. suka sekali kalimat ini : "Takkan ada cinta lokasi karena Allah ada pada sanubari kita."
    trimakasih mb niken..bisa jadi bahan pengingat utk selalu dekat dengan Allah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Enny, kalau Allah senantiasa ada dalam sanubari kita, dimanapun kita berada, kita akan menjaga sikap, perilaku dan tutur kita. Trimakasih kembali.

      Hapus
  26. seperti kita akan menemukan cinta lokasi yang terjadi secara massal pada saat Ramadhan tiba, semoga saja cinta lokasi itu mendapat hidayah-NYA dan berubah menjadi cinta sesungguhnya....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Ramadhan bisa menjadi waktunya cinta lokasi, namun bila kemudian kita bisa memaknainya dengan baik, bisa meningkat menjadi cinta yang hakiki.
      Salam kembali.

      Hapus
  27. PRku menyelesaikan membaca buku ini mbak :) kalau buku anak-anaknya malah sudah khatam berulang kali

    BalasHapus
  28. kalau aku pernah cinlok, tp di kantor, dan itu kagak boleh sebenernya, soalnya ntar kerja'a kagak fokus kata si BOS :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, itu cinlok sama rekan kerja ya mas Andy. Hati2 lho ya :)

      Hapus
  29. iya bener mbak, saya pun mengakui saya sering seperti itu. cinta lokasi pada Allah. berharap semoga Ramadhan tahun ini, cinta kita tidak sebatas cinta lokasi kepada Allah.

    hmm, makin penasaran dengan bukunya. bagi satu lah mbak untuk dhe *kedipkedipinmata* ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm, bukunya sedang habis nih Dhe. Baru mau cetak lagi :D

      Hapus
  30. gak enak ama murabbi,s aya udah berenti liqo. cinta lokasi entar pas ramadhan saja.

    BalasHapus
  31. wooow, hiks, jadi malu pd diri sndiri *tersindir*

    lantas bgmna caranya agar bisa terus terpelihara cinta lokasi ini ..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teruslah hadir dan berkumpul dengan orang-orang yang bisa mendekatkan dan mengingatkan kita pada Allah.

      Hapus