Frangipani Flower Lovely Little Garden: Aku Datang Untuk Bertepuk Tangan
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Selasa, 03 September 2013

Aku Datang Untuk Bertepuk Tangan

Bismillahirrahmannirrahiim,

Memuji anak ketika berprestasi, apa susahnya? Banyak sekali kata sanjungan yang bisa kita berikan padanya. Larut dalam kebahagiaan prestasi atau kemenangan yang dia raih, tentu membuat hati bahagia.

Tapi....

Memuji anak ketika dia kalah dalam sebuah persaingan seperti pertandingan, prestasi akademik atau lainnya. Dapatkah semua orang tua melalukannya? Apa reaksi pertama ketika anak kita kalah dalam sebuah pertandingan? Kecewa? Apa reaksi dari kekecewaan kita? Memarahinya? Berkata pada anak kita: harusnya kamu begini, jangan begitu. Coba kalau kamu begini, bukan begitu. Dan kalimat sejenisnya.

Atau...

Kita beri dia two tumbs up. Bertepuk tangan. "Kamu hebat!" Memeluknya sambil berkata,"Ayah/ibu bangga padamu." Memberikan senyuman manis yang tulus dari dalam hati. Memberi kesempatan baginya untuk menarik nafas panjang menata hatinya atas kekalahan yang baru saja dialaminya. Atau atas nilai jelek yang baru dia dapat.

Percayalah...

Dia lebih kecewa dari pada kita. Karena dia sudah berusaha berjuang dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Berharap akan bisa membuat kita bangga dan membuktikan pada dirinya bahwa dia mampu. Dia pun ingin menang lebih dari kita orang tuanya. Dia pun ingin mendapat nilai baik untuk masa depannya.

Anakku, Luthfan Adli Wicaksono... Bunda bangga padamu. Meskipun kau berkata," Aku main payah. Maafkan aku. Bunda. Aku kalah."

Luthfan baru saja mengikuti turnamen badminton, Stupa Cup. Turnamen antar pelajar SMA sejabodetabek yang diselenggarakan oleh SMA 78 di Jakarta Barat. Dia bermain ganda, berpasangan dengan temannya yang bernama Deni. Luthfan cukup besar berharap bisa memenangkan turnamen ini. Latihan demi latihan dia jalani bahkan ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Mereka berdua latihan tanpa pelatih. Deni lah yang banyak memberikan masukan pada Luthfan. Karena kemampuan Deni bermain badminton memang lebih baik dari Luthfan. Mereka semangat sekali berlatih kekompakan. Aku salut dengan semangat mereka berdua.

Jagoan-jagoanku: Luthfan dan Deni

Melihat gejolak itu, maka tadi (3 September 2013) aku menonton turnamen Stupa Cup itu. Ingin memberi semangat pada Luthfan dan Deni. Apapun hasilnya, aku ingin menyaksikan hasil jerih payah latihannya.

"Aku takut mengecewakan bunda." kata Luthfan malam sebelumnya.

"Bunda akan menjadi orang yang pertama memelukmu kalau mas Luthan kecewa, tapi bunda bukan datang untuk kecewa. Bunda datang untuk bertepuk tangan." Jawabku sambil mengusap kepalanya.

Babak pertama dan kedua bisa dilalui Luthfan dan Deni dengan baik. Tapi babak ketiga, mereka harus berhadapan dengan pemain yang sudah bertaraf nasional. Secara hitam di atas putih memang mereka sudah kalah. Salut pada Luthfan dan Deni yang tidak down menghadapi lawannya. Tetap bermain dengan sepenuh hati dan semangat meskipun harus mengakui keunggulan lawannya. Mereka kalah.




Aku akui, jantungku berdegub kencang ketika pertandingan berlangsung. Mengabarkan semua perkembangan di lapangan kepada suamiku. Ayah Luthfan sebenarnya juga ingin menyaksikan, tapi pekerjaan di kantornya tidak memungkinkannya untuk ijin. Kupanjatkan doa, memohonkan yang terbaik untuk anak-anakku. Maka bila hasilnya adalah kemenangan di pihak lawan, aku merasa itulah yang terbaik buat mereka. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Dengan begitu, tenang rasanya hati ketika menyambut Luthfan keluar lapangan menuju tribun tempatku duduk.

Tepuk tanganku menyambut mereka. Senyum tulusku buat mereka. Dua jempolku kuacungkan pada mereka. Kurentangkan tangan untuk memeluk Luthfan dan mencium keningnya yang basah oleh keringat.

"Maafin aku, Bun." katanya perlahan sambil menghambur ke teman-temannya.

Aku memilih pulang terlebih dahulu, memberi kesempatan pada Luthfan untuk bergabung dengan teman-temannya. Lebih baik aku persiapkan sambutan di rumah sambil menata kalimat-kalimat apa yang akan aku sampaikan padanya, untuk membesarkan hati dan tetap mengambil hikmah dari hasil pertandingan tadi.

"Bunda liat permainanku tadi kan? Aku payah kan Bun. Perasaanku campur aduk sekarang ini." ucap Luthfan ketika dia sudah di rumah.

"Ah, enggak begitu kok. Bunda liat permainan kamu maju pesat. Latihan-latihan kamu berhasil. Tehnik permainan kamu makin bagus. Tapi memang, lawanmu punya skil yang lebih baik. Mereka kan sudah jadi tim nasional, wajar kalau lebih bisa membaca permainan kalian. Buat bunda, kamu tadi tidak kalah. Tapi kalau sekarang ini kamu tidak bisa mengelola perasaan kamu dengan baik, tidak bisa menerima kenyataan tadi, maka sekarang ini kamu kalah. Bukan di lapangan tadi."

"Tidak ada yang berhak merasa kecewa sekarang ini, selain kamu dan Deni. Kalian sudah berlatih dengan giat dan lama. Di lapangan tadi kalian tak menyerah meski angka tertinggal jauh. Kalian tetap mengejar hingga angka tak jauh tertinggal. Jadi kalau ada yang merasa kecewa adalah kalian berdua. Jangan minta maaf pada bunda dan ayah. Tapi apakah kecewa itu akan terus kalian simpan? Tidak boleh! Kalian dapat pengalaman berharga tadi. Ambil hikmahnya, nak."

"Makasih Bun. Aku lega sekarang."

"Satu lagi, nak. Bunda juga bangga kamu dan Deni tidak meninggalkan sholat tadi. Sebelum bermain, kalian sempatkan sholat Ashar. Itu adalah kemenangan kalian pada hal yang lain."

Luthfan mengangguk dan bangkit menuju kamarnya. Sedangkan bunda menarik nafas panjang. Menata hati agar bisa menerima semuanya lebih dari Luthfan.




84 komentar:

  1. hanya bisa memaknai tulisan ini dengan satu kalimat "Alhamdulillah"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu kalimat itu, sudah lebih dari cukup. Thanks.

      Hapus
    2. yang penting sudah berjuang dengan semaksimal mungkin.

      Hapus
    3. Betul banget tuh mas Djangkaru. Sudah berusaha, namun apa daya :D

      Hapus
  2. mbak niken aku datang :) mau ikut tepuk tangan boleh ya

    BalasHapus
  3. bunda kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnn

    http://www.noormafitrianamzain.com/2013/09/mitos-bayi-belum-tumbuh-gigi.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eehh... Apanya yang keren? Jantungku deg-degan liat anak-anak sampai terjatuh dan wajah Luthfan kena smesh. Hiks...

      Hapus
  4. Subhanlaah.. Serius bunda aku merinding bacanya...

    Pengalaman n pelajaran yang berharga udah bunda berikan ke aku.. Semoga aku bisa bersikap seperti itu ke anak2ku.. aamiinnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sampai merinding ya? Kedinginan kali mbak? ^_^

      Berbagi pengalaman semoga membawa manfaat ya Bunda Dzaky :)

      Hapus
  5. argghhh bikin terharu bund....

    BalasHapus
  6. Mas Luthfan kereeen... karena punya bunda yang kereen juga

    BalasHapus
  7. Bundaaa... Salut sama Bunda yang bisa bijak seperti ini :)

    Andai semua orang tua atau sanak saudara bisa memandang suatu kekalahan seperti yang Bunda paparkan diatas, sayangnya tidak semua orang bisa sebijak itu melihat kekalahan... dan benar kata Bunda orang yg kalah jauh lebih sedih, jauh lebih menyesal, jauh lebih terluka dari siapapun dan disaat itu dukungan seperti yang Bunda lakukan itulah yang sangat di perlukan...

    Nice Bundaaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya, kita juga ingin diperlakukan demikian bila menghadapi hal demikian.

      Makasih mas Awan. Komennya nice juga :D

      Hapus
  8. Aq terharu bacanya bun..
    Bunda hebaaat..

    Semoga aq pun bisa bersikap seperti itu kepada anak2ku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang hebat Allah. Bunda hanya menunjukkan rasa sayang bunda pada anaknya.

      Hapus
  9. saya nggak pandai memuji, soalnya takut dikira ada maunya.. tapi di sisi lain juga kepengen bisa mengapresiasi kerja keras orang lain dengan pujian yg tulus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menuliskan ini semua bukan berharap pujian. Hanya ingin berbagi sebuah pengalaman yang membuat hati menemukan rasa syukur kpd Allah.

      Hapus
  10. Deg2an, tak bisa diam dan tangannya dingin ya, Bund.
    Peran dan motivasi dari seorang Ibu memberi kekuatan tersendiri untuk anak2nya. ^_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulut ndremimil, sedikit menjerit2 kecil. Hihihihi...

      Bunda akan selalu memotivasi anak2nya.

      Hapus
  11. wah .. jadi terharu membacanya mbak, kebayang andai berada di sana langsung ya Saat pertandingan itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuh... Deg-degannya itu loh... Indah banget. :D

      Hapus
  12. Saya setuju banget mba. kekalahan ataupun kemenangan tetap harus kita apresiasi karena itu adalah hasil jerih payahnya. Tetap semangat Luthfan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam sebuah pertandingan tentunya yang kalah lebih banyak dari pada yang menang, itu sebabnya kita harus bisa mengelola perasaan bagaimana menghadapi kekalahan.

      Hapus
  13. Bunda maaf baru datang berkungjung. Hp baru aku isi paket internet. Maaf gak bisa segera berkunjung sesuai janjiku.

    Sekarang aku lagi duduk di teras rumah makan Bagja, Tegal. Sore yang cerah dengan lalulintas yang lancar memberikan suasana yang pas saat aku baca tulisan ini. Bunda boleh bangga pada luthfan, tapi percayalah kalau luthfan juga bangga punya ibu seperti bunda.

    Salam buat luthfan. Katakan sama dia, kalau dulu tomas alfa edison berhenti pada kegagalan pertama, mungkin sampai sekarang bola lampu tak pernah hadir, atau mungkin nama orang lainlah yang diabadikan sebagai penemu bohlam. Hanya mereka yang tak kenal menyerahlah yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalaah... udah sampai Tegal aja nih mas Ridwan. Pantesan ditunggu-tunggu komennya kok nggak muncul-muncul.
      Hati-hati ya di jalan. Waspada loh jangan sampai kehilangan lagi.

      Salamnya nanti disampaikan. Semoga bisa ketemu sendiri nanti kalau di Jakarta.

      Nasehatnya boleh juga tuh mas. Supaya Luthfan tetap semangat. Makasih brother ^_^

      Hapus
  14. Semoga kekalahan Luthfan saat ini, jadi motivasi kedepannya untuk terus semangat & terus berlatih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga demikian mbak Wina. Terima kasih ya.

      Hapus
  15. Aku ingin bertepuk tangan utk Luthfan... juga buat Mbak Niken.
    Beruntung sekali Luthfan memiliki bunda yang berhati seluas samudra... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk tepuk tangannya. Jadi makin rame deh.

      Hapus
  16. Meskipun kali ini Luthfan kalah... aku yakin suatu saat nanti Luthfan akan berhasil mengukir kemenangan... selama Luthfan tekun berlatih, tak mudah menyerah.
    Semangat Luthfan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. mbak Reni sampai datang 2 kali pakai nama beda. Makasih loh mbak.

      Hapus
  17. semoga kesusan dan prestasi selalu kita peroleh.

    BalasHapus
  18. Saya juga sering mengalamai hal yang sama mba. Saat anak saya yang tertua di TK B Al Azhar kalah dalam sebuah kompetisi melukis. Begitu acara serah terima Piala para pemenangnya, saya ajak anak saya ngacir ke luar. Saya bawa anak saya ke Mall, atau ke tokok mainan. Dia pilih mainan kesukaannya, dan beli makanan kesenangannya. Tak tega rasanya jika harus menyaksikan orang lain yang jadi juara dan anak saya bengong tralala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah, anak TK lbh membutuhkan cara yg pas untuk membesarkan hatinya. Dia msih blm bisa menerjemahkan perasaannya.

      Hapus
  19. mengakui kehebatan dan kesuksesan orang lain termasuk jiwa yang luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di atas langit masih ada langit. Tak ada alasan untuk tidak mengakui kehebatan orang lain.

      Hapus
  20. mantap bu...
    akupun lebih suka melihat upaya ketimbang hasilnya. ga cuma ke anak. ke teman di kerjaan pun gitu. asal keliatan kerja sungguh sungguh ketika ternyata hasilnya kurang bagus, setengah mati aku nutupinnya dari perusahaan. karena menurutku pembelajaran itu poinnya disini. dan aku selalu bilang ke teman-teman. gagal di hasil akhir itu biasa. tapi kalo gagal di proses, itu konyol...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gagal di proses itu musuh utamanya adalah diri sendiri. Tak percaya diri, tak yakin akan mampu. #ngaca diri

      Hapus
  21. Saya merasa beruntung bisa mengenal keluarga Mbak Niken dari blog, banyak makna yg di petik dari sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga beruntung punya teman-teman yang perhatian pada keluarga saya.
      Makasih mbak Lies.

      Hapus
  22. Tidak ada yang berhak merasa kecewa sekarang ini, selain kamu dan Deni. <<== mestinya ini yang dipahami orang tua. Ketika anak gagal, pada dasarnya dialah yang paling kecewa. Itu sudah cukup berat bagi anak. Tidak perlu ditambah "ceramah" dari orang tua. Yang mereka butuhkan justru dukungan moral agar bisa lebih baik lagi. *curhat seorang anak*

    Salut sama Bunda Niken :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena bunda melihat diri sendiri, pastinya berat kalau sebuah kegagalan malah disalah-salahkan. Nasehat memang perlu tapi bukan yang mengecilkan perasaan, justru membangkitkan rasa.

      Hapus
    2. Saya sering mengalami, sudah gagal malah ditambah2in: "kenapa begini?" atau "kenapa tidak begitu" atau, "Harusnya begini" atau "Kamu itu, terlalu begini" padahal pinginnya didiamkan saja, tidak usah dikomentari. SY malah tambah down dan kehilangan kepercayaan diri dan harga diri. Sy berusaha belajar dari semua itu. Mudah2an anak2 saya tidak mengalami seperti yang saya alami...

      Hapus
    3. Sangat tidak nyaman kalau kita merasakannya, ya mbak Niar. Saat kita terpukul karena kegagalan kita, justru kalimat yg makin melemahkan yg kita dapat. Itu yang sering membuat org takut untuk mencoba kembali.
      Kegagalan adalah kesuksesan yg tertunda, sebuah quote yg membutuhkan support, walau sekedar sebuah sikap diam.

      Hapus
  23. "gedekno atine" wong ben ngurangi kecewa ning ati yo bun.. termasuk nang anak
    siip dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho ooohh... Karepku yo ngono iku.

      Kayane kok sibuk nemen yo mas. Nembe tekan kene.

      Hapus
  24. InsyaAllah, jika terus kita berikan support walaupun kekalahan yang diterima,, maka kedepan dia akan lebih baik lagi,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga demikian adanya. Yang penting terus memohon yang terbaik.

      Hapus
  25. Peka sekali Luthfan ya mbak. Mbak Niken, bijak menghadapinya. Memang seharusnya begitulah orangtua. Barakallah mbak, semoga senantiasa jadi ibu yang dirindui anak2 sampai kapan pun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.

      Luthfan sebetulnya cendrung keras, tapi manja kalau sama bundanya. Dia amat melindungi bunda, takut bunda sedih dan kecewa, atau capek. Alhamdulillah, dia anak baik. Jadi bunda dengan senang hati mensupport langkahnya.

      Makasih mbak Niar ^_^

      Hapus
    2. YA SEtuju mab bunda mugni. smoga anaknya bisa jadi anak yang sholeh dan berguna bagi kedua orangtuanya..
      Tetp semangat yah Nak,
      aku yakin mbak bangga memilikinya. :)

      Hapus
    3. Aamiin. Terima kasih untuk doanya.

      Aku bangga dengan semua anak-anak yang Allah titipkan padaku dan ayahnya :)

      Hapus
  26. saya seringnya justru nggak tega menyaksikan langsung apapun perlombaan yang diikuti anak, biasanya saya nganter dan memberikan semangat selanjutnya keluar dari arena dan yang njaga dan mensupport langsung justru emaknya.
    Apapun yang diperleh anak dalam perlombaan, padadasarnya dia sudah menjadi juara, karena dia mampu menunjukkan kemampuan dirinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya malah maunya nonton anak-anak kalau sedang bertanding, tapi mereka yang suka melarang. Terutama Luthfan. Apalagi kalau tandingnya bela diri. Katanya takut bunda nggak ijinin dia bela diri lagi kalau liat. hehehe...

      Hapus
  27. setuju, Mbak. Kalau anak sy ikut lomba juga bukan harus menang yg sy tekankan. Tp berusaha sebaik-baiknya dengan cara yang baik. Apapun hasilnya, akan sy hargai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak semua anak/orang sanggup berkompetisi. Menerima kekalahan adalah sebuah sikap yang bagus sekali. Ada kebesaran hati dan kesabaran di sana.

      Hapus
  28. -yg penting prosesny yah Umi, kalah menangkan udah biasa yah. alhamdulillahnya Ibu aku juga gak pernah gmna2 kalo aku kalah atau gagal dlm satu hal, gak kebayang kalo udh kalah malah di marahin pasti down bnget --"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Ranii mendapat support bijak dari ibu.
      Betul Ranii, kalah menang itu biasa. Tapi yang sering terjadi, org terlalu euforia dgn kemenangan dan menyesali kekalahan.

      Hapus
  29. mb niken selalu bijak menyikapi segala hal..
    tp memang saat orangtua kecewa dengan kegagalan anaknya pastilah anak jauh lebih kecewa menghadapi kegagalannya.. orang tua memang harus bisa bersikap bijak dan tetap memberikan semangat utk buah hatinya.. salut buat mb niken..tetap semangat yaa Luthfan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak selalu, mbak. Tp paling tidak, berusaha memeluk/membelai anak2 setiap hari.

      Hapus
  30. Tiap kali anakku mau berlomba/berkompetisi, perasaan banggaku membuncah, mbak. Mereka sudah menang melawan takut mereka. Dan itu yg selalu kukatakan pada mereka. melihat anak terbata kala ujian lisan saya beri senyum dan jempol agar mereka tak merasa bersalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Susi. Mereka berani maju saja rasanya sudah bangga. Support kita, akan dikenangnya sampai kapanpun, tp lbih dari itu, kita melakukannya karena mencari ridha Allah.

      Hapus
  31. itu yang aku lakukan mba, menang atau kalah buat ku anak-anak harus kita apresiasi dulu dgn pujian atas usahanya. kita suport dan kita hibur jika mereka kalah, dan bilang bahwa meski kalah mereka tetap juara untuk bundanya.

    Jika menang tentu kita berikan selamat dan mengingatkan tentang makna sebuah kemenangan, tdk boleh sombong contohnya.

    Tak apa Luthfan...bagi bunda Niken kamu tetap juara kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih tepat, mereka juara untuk diri mereka sendiri. Karena mereka sudah mampu mengalahkan diri mereka. Bukankah musuh utama kita adalah diri sendiri?

      Makasih Irma..^_^

      Hapus
  32. Sebagian besar orangtua pasti seperti itu ya bun... Sama seperti yg papa sy lakukan kepada sy, apapun hasil yg sy dapatkan, beliau bangga, begitu yg sy lakukan kpd putri sy sekarang..

    Selamat utk Luthfan.. Semoga semakin semangat ya.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal-hal baik yang kita dapat dari orang tua, memang bisa kita jadikan contoh untuk diberikan pada anak-anak. Tentunya bukan sekedar baik, tapi juga benar.

      Terima kasih mbak Lyli... ^_^

      Hapus
  33. Suatu keberanian dalam brtindak mengambil sikap, mungkin hal yang trepenting Mba, karena di situ ananda akan mengalami kedewasaan proses mental untuk menjadi juara sejati, berani menghadapi lawan di arena dan berani menagkui keunggulan.

    Menang atau pun kalah merupakan hal biasa dalam sautu pertandingan, di mana semua itu harus dilalui untuk ananada melangkah jauh kedepan untuk berdiri menjadi pemenang. Dan dibalik seorang pemenang akan ada seseorang yang memiiki jiwa besar untuk dapat menularkan semangat dan sportifitas yang tinggi.

    Dan ini hanya sebuah kemenangan sejati yang tertunda untuk ananda
    Selamat untuk kalian sekeluarga sudah berani melalui proses ini.

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Indra, bagaimana mengelola perasaan pada saat terjadi kekalahan itu adalah yang penting. Sebab itu akan terjadi diberbagai hal di kehidupan kita, tidak hanya dalam sebuah pertandingan.

      Mampu bangkit kembali dari sebuah kegagalan adalah sebuah keberhasilan itu sendiri.

      Salam kembali.

      Hapus
  34. Ternyata berat ya mbak jadi orangtua pendidik? Aku dulu pernah menyesali karena telah membuat juniorku kecil hati saat mau ikutan latihan karate. Dia berbadan mungil, takut tak punya keseimbangan saat berlatih, cuma aku 'ejek' kecil saja, eh motivasinya malah kendur, jadi kecil hati.

    Tatkala ia meminta ijin ikutan latihan senam, inilah waktuku tuk membayar hutang dulu. Thanks, dengan baca artikel ini, hari ini aku dapat pembelajaran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi orang tua itu otomatis kita sandang saat kita mempunyai anak. Tapi mendidik anak membutuhkan keikhlasan dan kesabaran yang mengakar pada kalbu kita.

      Saya juga belajar dari teman-teman semua kok Gus ^_^

      Hapus
  35. Alhamdulillah, tidak ada kata kalah jika kita sudah berlatih, berusaha dan berdoa,. yang ada hanya sebuah pelajaran yang berharga yang pasti lebih banyak manfaatnya untuk kita semua... Amin.. salam buat adik2 bunda,, BTW gimna kabar KiJo dah ketemu ?? he :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiih... Mas Furqon bijaksana seklai.

      Kujo belum ketemu. Nggak tau deh tuh hilang kemana. Kuatirnya udah masuk lubang saluran got. Hiks..

      Hapus
    2. Yaaa... mungkin kalo itu lebih membuat kiJo bahagia d alam sana, tingal diikhlasin aja Bund, semoga hilman gak terlalu sedih... he :D

      Hapus
    3. Iya, Hilman sudah ikhlas sekarang. Sudah asyik dengan hal lainnya.

      Hapus
  36. Dua jempol untuk Bunda Niken. Dengan begitu anak-anak jadi tidak kecil hati ketika gagal. Mereka tetap bersemangat dan berusaha lebih baik di kesempatan yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih jempolnya. Mari kita sama-sama lebih menghargai jerih payah anak-anak.

      Hapus
  37. Ibu yang sangat mengerti apa yang terbaik buat anak, tidak memaksakan kehendak.. semoga kelak bisa seperti Bu Niken.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga mas Wahyu bisa lebih segalanya dalam mendidik anak. Saya masih terlalu banyak kekurangan.

      Hapus
  38. Begitulah seharusnya sikap orang tua. Menjadi orang pertama yang tetap memberi semangat dan pujian bagi anak-anak, justru disaat si anak sedang down karena jerih payahnya belum mencapai kemenangan. Orang tua lah yang harus menjadi penyemangat agar si anak bangkit kembali, setelah sejenak tenggelam dalam kecewa, mengatur strategi untuk meraih kemenangan/kesuksesan yang tertunda.

    Pasti Luthfan bangga punya ibu sebijak Mbak Niken. All d best for you and family ya, Mbak! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang biasa mbak Alaika lakukan kepada Intan. Walau dengan jarak yang jauh, Intan tetap bisa merasakan support dari mbak Alaika.

      All the best for your family too ^_^

      Hapus