Frangipani Flower Lovely Little Garden: Istri Juga Membutuhkan Kepuasan Hubungan Intim
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Kamis, 07 November 2013

Istri Juga Membutuhkan Kepuasan Hubungan Intim

Bismillahirrohmannirrohiim,

Kali ini mau membicarakan yang agak seru aah. Kategori tulisan dewasa. Hehehe... Tulisan ini dibuat setelah beberapa kali berbincang dengan teman yang mengeluhkan masalah yang kurang lebih sama. Aku mencoba menuliskan sebatas yang aku ketahui.

Tentang apa sih?

Ini loh, tentang hubungan intim suami istri dalam rumah tangga. Lebih khusus lagi, adalah apa dan bagaimana hak seorang istri dalam mendapatkan kepuasan dalam berhubungan intim tersebut. Mengapa aku lebih mengkhususkan pada hal itu? Karena selama ini yang banyak ditulis adalah bagaimana kewajiban istri dalam melayani suami, sedangkan sebenarnya banyak para istri yang tidak mengalami kepuasan dalam berjima'.

Kebahagiaan dalam rumah tangga memang tidak ditentukan dengan puas tidaknya dalam berhubungan intim ini. Tapi hal ini juga tak bisa diremehkan atau bahkan diabaikan. Terbukti banyak rumah tangga yang memilih bercerai karena masalah ini.

Kebanyakan istri hanya berdiam diri dan menahan di dalam hati apa yang dia rasakan apabila berhubungan dengan kepuasan batiniah. Bahkan kadang sudah memasrahkan diri bahwa yang penting suami senang dan terpuaskan. Menyadari bahwa sudah menjadi kewajibannya melayani suami, tidak ingin mendapat dosa hanya karena tidak melayani suami, sebagaimana hadist berikut:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke ranjang lalu sang istri enggan memenuhi panggilannya melainkan yang di atas langit (Allah Ta’ala) marah kepadanya sampai suaminya ridha kepadanya,” (HR.Muslim).
Hal ini banyak terjadi pada pasangan muda. Mereka belum menemukan cara berkomunikasi yang pas mengenainya. Istri masih malu-malu mengungkapkan kebutuhannya, sedangkan suami kurang peka terhadap kebutuhan biologis istri. Istri lebih banyak menunggu pengertian suami, sedangkan suami merasa tak ada masalah karena istri diam saja.

Terkadang istri merasa suami mengabaikannya. Hanya berpikir bagaimana mereka mendapatkan kepuasan kemudian selesai. Tak lagi dihiraukan sang istri, hanya selesai kemudian tidur. Jangankan rayuan mesra, sekedar kata penutup atau ucapan terima kasih pun tidak. Pernahkah terpikir oleh suami yang melakukan hal itu, bahwa istri di dalam hatinya memendam kekecewaan? 

Dalam kasus lain, terkadang seorang suami mengalami (maaf) ejakulasi dini, sehingga sulit menemukan titik temu untuk berhubungan intim. Diperlukan kerja sama yang baik antara suami dan istri untuk mengobati hal ini. Namun karena cara berkomunikasi masih belum pas, belum ada penyelesaian yang memuaskan. Istri lagi-lagi memendam kekecewaan, tanpa berani mengungkapkan.
  
Padahal, sebagaimana suami yang ingin terpuaskan dalam berhubungan intim, istripun demikian juga. Hak istri adalah sama dengan hak suami dalam mendapatkan kebahagiaan batiniah ini. Sebagaimana firman Alloh berikut ini:
“.... Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik...”(Q.S. Al-Baqarah: 228)

Ibnu Taymiyyah menyatakan : ”Seorang suami harus memberikan nafkah batin kepada isterinya secara makruf. Sebab, ia termasuk kebutuhannya yang paling utama; melebihi kebutuhannya terhadap makan. Nafkah batin yang wajib dipenuhi oleh suami menurut sebagian ulama paling lama empat bulan sekali. Sementara pandangan lain sesuai dengan kebutuhan isteri dan kemampuan suami untuk memenuhinya.” 


Memenuhi kewajiban akan kebutuhan batin istri adalah termasuk sedekah dan ibadah yang harus dilakukan oleh suami secara baik. Kalau suami menyadari hal ini, maka dia akan menggauli istrinya dengan niat yang lebih besar, yaitu bersedekah dan mendapat pahala,  tidak hanya sekedar memuaskan nafsu saja.

Dari Abi Dzar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Dan di dalam kemaluan salah seorang di antara kalian adalah sedekah.” -Maksudnya dalam jima’nya (hubungan intim) terhadap istrinya- Maka mereka (Sahabat) berkata:”Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang di antara kami mendatangi keluarganya (menunaikan syahwatnya/jima’) dan dia mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Bukankah apabila dia menunaikannya (jima’) di tempat yang haram dia akan mendapatkan dosa?” Maka demikian juga seandainya dia menunaikannya di tempat yang halal (istrinya) maka dia akan mendapatkan pahala." (H.R Muslim)
Seorang istri bisa memusuhi atau membenci suaminya karena merasa hanya sebagai tempat untuk memuaskan syahwatnya saja. Harapan istri akan perhatian dan keseimbangan dalam pemuasan hubungan batin tidak terpenuhi. Hal ini bisa menjadi seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Bahkan bisa merembet ke masalah-masalah yang lain. Masalah kecil bisa menjadi besar, karena perasaan yang terpendam ini.  Oleh karena itu pernikahan harus dibangun untuk menciptakan saling pengertian, kerukunan dan persatuan dua hati.




Mari para istri speak up your mind, tak perlu malu mengajak, meminta atau merayu suami untuk berhubungan intim. Halal kok. Dan bagi para suami agar lebih memperhatikan kebutuhan bilogis istri dengan membangun komunikasi yang baik dan terbuka, agar keharmonisan rumah tangga bisa terbina dengan baik dan seimbang. Lebih peka pada isyarat-isyarat sang istri, karena tidak semua istri bisa mengungkapkan perasaannya akan hal ini.





122 komentar:

  1. Memang demikian seharusnya. Harus ada komunikasi yang baik, langsung atau dengan isyarat.
    Banyak cara untuk menyamakan langkah ha ha ha ha.
    "Mau berapa lagu nich," itu juga sebuah isyarat bersama untuk menentukan jumlah rondenya.
    Jika salah satu pihak sudah sampai di ujung dunia sedangkan yang satu belum maka ada cara lain untuk memuaskannya, sesuai selera.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah speechless saya baca komen pakde. Hehehe...

      Hapus
    2. Iya itu hanya sebagai contoh saja. Tiap pasangan tentu berbeda kan. Ada yang santun, adapula yang dengan canda-canda mesra dan gaul. Intinya berkomunikasilah dengan baik.Nggak perlu saya ajari wong anak saya hanya 2 yang disana lebih.

      Hapus
    3. Hehehe...
      Betul memang. Yang penting berkomunikasi dua arah. Supaya bisa menemukan titik temu.

      Hapus
    4. Memang bikin spechless hahaha

      Hapus
    5. Nah kaaan, bener ya mbak Niar.. ^_^

      Hapus
    6. Sepakat sama Pakde. Sepertinya harus ada komunikasi terlebih dahulu ya. Hehehe. Belum berpengalaman. Hehehehey...

      Hapus
    7. Biasakan komunikasi dua arah sejak awal, mas Qefy. Nanti akan terbangun hubungan yang baik.

      Hapus
    8. cara selanjutnya ini gimana ya ? aku masih belum bisa membayangkan dan mencerna nih ?

      Hapus
    9. hahahaha yang masih SINGLE atau masa Pengenalan pasangan ini bisa menjadi materi pemberdayaan Keluarga yang akan dibangun kelak nanti. Saya suka artikel ini karena ditulis dengan dalil dalil yang jelas dengan penyampaian yang santun. Tidak VUlgar. Lebih kepada pendidikan atau edukasi sex bagi seluruh keluarga. Mencerdaskan. Saya suka sekali

      Hapus
    10. Selanjutnya senyum manis aja mas Djangkaru.

      Hapus
    11. Buat bahan referensi dulu ya pak Asep. Dicatat dan diingat.

      Trimakasih menyukai tulisan ini. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  2. Nyimak aja deh..
    Bekal kedepan ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo cataat Leee buat bekal :)

      Hapus
    2. Tole sih bekalnya udah banyak tuh mbak Niar. Tinggal prakteknya aja yang belum.

      Hapus
    3. Tante mugniar ya jelas di catat to yaa.. Hihi
      Aamiin mak

      Hapus
    4. Mak udah kepengen dapat undangan nih :p

      Hapus
  3. Oppss saya belum ada surat kawin #Kabur ahh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeehh... sendalnya ketinggalan nih mas Jaswan. hahaha

      Hapus
  4. uhuk-uhuk.
    Bagi para istri-istri jangan malu dong. Halal kok hehehe

    masih single bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, malah batuk. *sodorin madu

      Dicatet ya mas Yitno, buat nanri kalau berumah tangga.

      Hapus
  5. Dengan bangga saya mengundang sahabat untuk mengikuti kontes unggulan di BlogCamp. Salah satu hadiahnya adalah voucher menerbitkan buku. Silahkan cek http://abdulcholik.com/2013/11/01/kontes-unggulanproyek-monumental-tahun-2014/

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mikir proyek dulu ya pakde. Merajut impian dulu.

      Hapus
  6. Menyimak..entah kapan bisa praktek...:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santai aja mbak. Nanti juga tiba waktunya ^_^

      Hapus
    2. nggak bisa sembarangan praktek tuh Mbak En

      Hapus
  7. Telp suami ahh...*ehh :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. terus siapa yang mau telphone aku ya ? aduuuuuh......:)

      Hapus
    2. Kang Djangkaru telpon Mang Hadi Cilembu wae

      Hapus
  8. hahahahahaha.. ngakak dulu ah.. #jadi agak sensi.. pengen cepet polanggggg.. jiahhhh. maknyus deh bund tema-nya.. syalala banget..
    *linjeri taruh dimana ya..?* hahahahahahahahahaha.. *lariiiii*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... pas banget ya momentnya... ntar malam Jum'at nih... uhuuuuy

      Hapus
  9. Ayooo para istri, jgn malu2 k suamimu, speak up your mind... Siap2 ntar mlm nunggu dicolek istri...#eh
    Super bgt bun... hihiiiii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.... Istri mas Anton suruh baca ini dulu ya ^_^

      Hapus
  10. Ohhhh
    WOW jadi malu..
    Ha ha ha
    Embuh Bu Niken, gimana ya..so far sih saya berani blg minta gimana2nya dan ditawarin gt ha ha ha

    Wk wk kw


    BalasHapus
  11. Alhamdulillah, kalau finishing always say tkanks and sebelumnya ada intro dari kedua belah pihak. Hihiii kaya lagu saja ada intronya. Dari awal suamiku sudah menjelaskan bahwa kegiatan ranjang bukan dari satu pihak tapi kedua belah pihak.

    Bunda...oooow...so sweaat menuturkannya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaiiihh.. indahnya mbak Astin. Begini nih yang seharusnya yaaa. Jadi sana senang sini senang.

      Hapus
    2. Dari semua komen mungkin ini yg paling menarik menurut saya..
      :P

      Hapus
    3. Menggambarkan sebuah keharmonisan, ya mas Wahyu

      Hapus
  12. hadeeehh maljum maljuuuummm... postingan Bunda Lahfy bikin semangat kerja di kantor ngedrop, pengin buruan pulang wkwkwkkk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pulang kantor mandi yang wangi ya mbak Uniek... Ayoo maljuum

      Hapus
    2. hihihiii... Bunda Lahfy bikin mupeng euuyyy :D

      Hapus
    3. mupeng mau ngapain mbak Uniek.. hihihi

      Hapus
  13. oke bunda menarik banged dehh

    BalasHapus
  14. betul itu mb, setujuh selapan sampe sepuluh dengan tulisannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stop sampai sepuluh aja aah mbak Lita ^_^

      Hapus
  15. Aahhhh... legaaa..... ntar malam lagi ahh...

    wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

    makasih Bund, Nice post, Gan!
    bunda emuach dehhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa nambah dong ntar ya Noorma.
      Mmuaach juga aah buatmu

      Hapus
  16. klo biasa cuma silent reader, kali ini jadi pengen komen hahahaha

    pernah baca humor, sama2 baca pulak, jadi pihak sono noh kadang2 kasih kodenya kayak yg di cerita humor itu wkwkwkwk *buka rahasia*

    *yang, mau isi pulsa dong."

    ada yang pernah baca cerita humornya gak? xixixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.. pakai kode pulsa ya... Lucu juga.
      Ternyata tulisan ini sanggup membuat dirimu keluar dari silent reader. Asyiik

      Hapus
    2. ternyta Mbak Ni juragan pulsa sekarang yak hhh

      Hapus
  17. ikut menyimak bun... :) Alhamdulillah sudah terpenuhi dengan pas, lahir maupun batin... mohon doanya, semoga selalu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. ikut seneng deeh Iyha ^_^

      Hapus
  18. duh, masih single *nutup muka* haha

    BalasHapus
  19. mantaaaaap maaak :D.....intinya adalah ngobrooool :D...ama suami sendiri aja malu, hehehe...mau nambah berapa lagu (pinjem istilah pakdhe cholik :D) kan bisa diatur...kalau sudah begini, merasa beruntung jadi orang super kebo kayak saya yang tau persis apa yang kumau :D...kalau kode kita, "are we, are we?"....'D..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... dapat lagi nih kode baru... Lucu maaak...

      Iya mak.. kalau bisa ngobrol nyambung kan jadi rapi jali gituuu

      Hapus
  20. Setuju banget. Dulu saya punya pendapat, istri berhak menolak kalau tidak ingin/selera. kalau suami yang pengertian, dia harus mampu membangunkan selera si istri. Sebagai ibu bekerja (dulu) sempat berpikiran hubungan pasutri jadi semacam beban karena sudah lelah seharian di kantor. tapi suami saya "lelaki" sejati. Dia bisa merubah rasa ngantuk menjadi rasa yang gimana....gichu..... jadi nggak bisa nolak deh. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lelaki-nya nggak usah pakai tanda petik kali mak Elisa. Hihihi...
      Nggak bisa nolek dan ya ya yaaa.. gitu ya maak ^_^

      Hapus
  21. waah yang rame bapak-bapak euy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang silent reader lebih banyak lagi maak

      Hapus
  22. Balasan
    1. Hihihi... kayak mau masuk sekolah ya...

      Hapus
  23. Tak liat2 kok yang komen banyak kaum hawanya ya, hehehe

    Ada yang mengatakan, kepuasaan suami adalah kepuasan seorang istri dalam melayani seorang suaminya # iki jare Umi loh Bun, hehehe

    Postingan ini pas banget, soale malam Jum'at

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikatakan Umi itu benar, Kang Sofyan. Tapi dgn catatan, istri juga bisa merasakan kepuasan jima' bukan hanya kepuasan suami dalam jima'.

      Hapus
  24. kok banyak yang komen "Malam jumat" ini kenapa sih Bun? *tampang polos*
    suamiiii mana suamikuuuuu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeaaaa... itu loh Sari... Ada perang-perangan ^_^

      Hapus
    2. Loh,... emang mas Djangkaru belum menikah? Malah baru tau saya

      Hapus
  25. Kalau istri berdosa bila mengabaikan kebutuhan suami, negitu pun suami, ia berdosa kalau mengabaikan kebutuhan istrinya. Banyak yang gak sadar itu. BAnyak suami yang merasa berhak dipuaskan sementara istrinya mengira ia hanya bertugas melayani. Saya pernah posting tentang ini mbak:

    6. Tidak memberi kebutuhan seksual istri.
    Dalam suatu hadits disebutkan:
    “Jika seseorang di antara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian kalau ia menyelesaikan kebutuhannya (puas) sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (penisnya) sampai istrinya menemukan kepuasannya.” (HR. Abdur Razaq dan Abu Ya’la, dari Anas)

    Ini ada di link:

    http://mugniarm.blogspot.com/2011/07/10-perilaku-durhaka-suami-terhadap.html

    10 Perilaku Durhaka Suami terhadap Istri. Itu judul buku yang saya kutip waktu itu. Ada istri yang komennya bikin saya terenyuh mbak, dari istri yang diabaikan suaminya di postingan itu. Postingan itu termasuk salah satu postingan saya yang banyak pembacanya via Google.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Niar... Begitulah yang banyak terjadi. Padahal yang namanya hak juga diikuti dengan kewajiban. Suami menuntut hak, berarti dia juga harus menjalankan kewajibannya. Begitupun sebaliknya.

      Islam begitu jelas mengatur hubungan suami istri ini agar kedua belah pihak merasa bahagia.

      Ke TKP deh mbak... Meluncuur ^_^

      Hapus
  26. Waduh! suami mana suami *nyari di kolong ranjang* hahaha..

    Alhamdulillah, selama ini aku to the point aja, Mbak #eh hahaha

    *jadi kangen suamiku* eaaa :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Looh kok suami mak Sari di kolong ranjang...? Hayooo lagi main petak umpet yaaa ^_^

      Kalau bisa to the point berarti udah sip tuh mak

      Hapus
  27. Saya ama suami suka salaman dulu, Mbak. Hahahahaaa.... :D Sebagai simbol kesepakatan kedua belah pihak. :D

    BalasHapus
  28. Kalau Fenny malah lebih sering yang minta, hihii padahal usia terpaut jauh dan sejauh ini jauh dari konsep "melayani" karena Fenny malah merasa yang "dilayani". Kuncinya memang komunikasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah halal, jadi bisa saling seimbang dalam hal yang satu ini. Tak perlu merasa tabu, ya mbak Fenni

      Hapus
  29. *nyiimaak aja*
    Pelajaran nih buat nanti, hehe.. makasih Umii ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh Ranii. Disimak dulu yaaa
      Makasih kembali ^_^

      Hapus
  30. menyimak dengan serius..#ups...

    BalasHapus
  31. bunda....
    ajarkan aku mengerti tentang wanita sekarang, hingga aku bisa mengamalkannya suatu hari kelak, dan semoga menjadi sumber pahala tak terhingga untuk seorang guru yang mengajarkan kebaikan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb...
      Semoga apa yang aku tulis ini bermanfaat buat kita semua. Tak bermaksud menggurui sebab dalam kehidupan ini kita kan memang perlu saling menasehati dan mengingatkan kepada kebaikan.

      Hapus
    2. kadang pengalaman orang lain itu bisa jadi guru yang baik kan bund. terimakasih sudah berbagi.. :)

      Hapus
    3. Betul, mas Ridwan... Tinggal kita bisa mengambil hikmah atau tidak dari pengalaman orang lain itu

      Hapus
  32. Pelajaran penting banget nih. Dicatet baik2 dalam memori :D

    BalasHapus
  33. Bisa menjadi bekal kalau saya menikah nanti nih. Terimakasih atas sharing ilmunya.
    Meminta dan diminta wajib dan halal ya ?

    BalasHapus
  34. Betul Niken, komunikasi itu tidak hanya membicarakan masalah anak atau kebutuhan sehari-hari, tapi juga masalah seks yang seringkali ditabukan oleh banyak orang.
    Cara tiap pasangan mungkin berbeda.
    Tapi yang pasti, seiring berjalannya waktu, suami isteri pasti akan lebih mudah untuk mengkomunikasikan hal-hal yang termasuk kategori sensitif seperti ini. Udah nggak malu-malu lagi soalnya...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mbak. Kita memang harus menemukan titik temu dalam berkomunikasi. Bagaimana supaya bisa diterima satu sama lain.

      Hapus
  35. Saya sudah membaca artikel ini dan ada banyak poin yang masih harus didiskusikan lagi. Namun secara umum saya setuju dan mendukung apa yang seharusnya menjadi HAK seorang istri dalam Hubungan Suami Istri. Sudah Halal bagi pasangan yang sudah resmi menikah.

    Salah satu catatan saya di sini adalah bahwa masa masa awal usia pernikahan memang ada semacam target atau BEBAN untuk memiliki anak. Jadi dalam pandangan dan prespektif saya sih Hubungan Intim pasangan yang baru menikah KONON Fokusnya adalah bagaimana agar segera memiliki "hasil". Bisa jadi mereka kurang menikmati Hubungan Intim Suami Istri karena ada "target" dan itu menjadi beban. Lain halnya yang sudah memiliki ANAK yang cukup. Misalnya sebuah pasangan suami istri sudah merasa cukup dengan Jumlah anak yang dimilikinya, maka Hubungan Suami Istri sudah tidak "wajib" lagi. Pakai tanda kutip ya. Ini artinya Hubungan Intim ibarat rekreasi atau hobi yang menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada masukan, mohon jangan sungkan, pak Asep. Dengan senang hati saya amat terbuka.

      Bisa jadi seperti itu keadaan yang melatarbelakanginya. Tapi mungkin juga tidak. Yang jelas, pada awal pernikahan, begitu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Memang diperlukan rasa saling terbuka untuk memberi dan menerima.

      Terima kasih untuk tambahan yang positif ini.

      Hapus
  36. nah ini nnih baru emansipasi wanita :d

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emansipasi?
      Ini kan cuma bicara hak yg dibenarkan dalam Islam. Bukan ingin kesetaraan.

      Hapus
  37. widih udah kaya baca artikel majalah dewasa.
    kadang bukannya suami yang kurang peka tapi istri yang kurang pandai dan memberikan sinyal jika sedang butuh di service :) intinya kedua belah pihak harus saling menjaga komunikasi agar kedua belah pihak terpuaskan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duduk berdua dan saling terbuka dengan segala unek2, dengan rasa terbuka menerima kritikan dan permintaan pasangan. Kemudian cari jalan tengah. Hihihi... kayak yang jago aja nih saya ^_^

      Hapus
  38. wah bunda.. ini saya baca postingannya belajar banget nih.. #hik lagi mens,libur duyuuu
    eh baca komennya temen2 malih ngikik je..hihihii ^^
    TFS yah bund :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeaaaa... nanti habis mens kan bisa mulai merayu ya... hihihi...

      Komen teman2 memang bikin ngikik yaaa

      Hapus
  39. hihii.........nyengir baca koment2nya...:p

    btw, alhamdulilah sudah gak ada masalah...tau sama tau, dari bahasa tubuh saja ups...

    makasih sharenya bund...nambah semangat...^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiiih... mantap nih mak Nunung. Sudah menemukan kata sepakat ya mak. Lanjuut ^_^

      Hapus
  40. bersyukur bagi istri yang punya suami pengertian, mau diajak berfikir terbuka dan perhatian ke istrinya. apalagi suami yang selalu bertanya setelah berhubungan, menanyakan mana kekukranagnya, mana kelebihannya. sama juga dengan istri, menanyakan mana kekurangannya mana kelebihannya....hal itu perlu dicoba dan dibiasakan...inshaa Alloh, dalam menghadapi urusan rumah tangga yang lainpun juga lancar-lancar saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Khusna... saling menghargai satu sama lain. Apalagi kalau semua itu didasarkan pada menjalankan ibadah. Insya Alloh berkah.

      Hapus
  41. Huaaa..... ketinggalan momen....
    Numpang ngikik aja deh banyak komen komen lucunya.
    Makasih Bun ... dah mewakili suara kaum hawa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum ketinggalan kok mbak Titi... Ini masih rame

      makasih kembali deeh

      Hapus
  42. hehehe baru baca... ikutan ketawaketiwi aja deh. Apalagi baca komen2nya hihihi...
    yang penting ada timbang rasa ya mba.

    BalasHapus
  43. Bila hal ini bisa dimengerti oleh kedua pasangan, dan terjadi komunikasi aktif antar kedun=anya, maka akan terbangun suasan harmonisasi dalam rumah tangga. Dan anak-anak pun akan menjadi bahagia hidup bersama orang tuanya yang mesra. Nice Mba.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh demikian. Memang hal ini hanya salah satu variabel dalam kebahagiaan berumah tangga, tapi tetap bisa berhubungan dengan banyak hal kalau tidak diharminiskan.
      Salam kembali

      Hapus