Frangipani Flower Lovely Little Garden: Kecurangan Dalam Dagangan
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Jumat, 08 November 2013

Kecurangan Dalam Dagangan

Bismillahirrohmannirrohiim,

Beberapa waktu lalu, suamiku ada kegiatan kantor di Suka Bumi, Jawa Barat. Pulangnya, bermaksud membawa oleh-oleh beberapa makanan khas setempat. Salah satunya adalah ikan gurameh baby goreng, semacam ikan wader. Rasanya enak sekali. Gurih, renyah. Pas banget kalau dimakan pakai nasi hangat dan sambal terasi.  Bentuknya seperti yang tampak pada gambar:


Suamiku membeli pada seorang pedagang kaki lima yang berjualan di depan sebuah toko oleh-oleh. Suami sempat melihat di dalam toko juga ada ikan sejenis dengan kemasan yang mirip, harganya Rp.20.000,- Atas dasar ingin bersimpati terhadap pedagang kecil, maka suami lebih memilih membeli kepada si pedagang kaki lima. Si Bapak menawarkan harga ikan itu sama seperti harga di dalam toko oleh-oleh. Oleh suami kemudian ditawar, Rp. 35.000,- untuk dua pack. Sepakat dengan harga, si Bapak menyerahkan dua pack ikan gurameh baby itu.

Sesampai di rumah, aku bermaksud akan memindahkan ikan goreng tersebut ke sebuah toples. Naaahh... sampai di sini, aku kaget dengan apa yang aku lihat. Ternyata di dalam kemasan diganjal tumpukan karton supaya kemasan terkesan penuh.

isinya tampak penuh 

ternyata di dalamnya diganjal karton


ketebalan karton yang hampir sebesar pack-nya

Astaghfirulloh... Sampai sebegitu rupa orang ingin mengambil untung dari dagangannya. Tentu saja mengecewakan. Padahal niat awalnya adalah untuk lebih bersimpati pada pedagang kecil. Mereka seakan tersisih dengan adanya toko-toko penjual oleh-oleh itu. Tapi sayang, mereka justru merusak diri mereka sendiri dengan melakukan kecurangan itu. 

Masalahnya bukan pada ikhlas atau tidak ikhlas kami menerima hal itu. Tapi berbuat kecurangan dalam berdagang dilarang dalam Islam. Mempermainkan timbangan, ukuran atau takaran akan merugikan orang lain, dan bisa membuat celaka bagi yang melakukan. Sebagaimana firman Alloh:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” (Qs. Al Muthaffifin: 1-6)
Celaka besar. Itu ancaman bagi orang yang berbuat curang dalam perdagangan, baik penjual dan pembeli. Orang berdagang tentunya untuk mendapatkan keuntungan. Seharusnya diupayakan untuk memperoleh keuntungan tersebut dengan jalan jujur dan tidak membuat pihak lain merasa dirugikan, agar membawa keberkahan dan bertambah kebaikan bagi diri dan keluarganya.
“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu." (HR. Muslim)
Ulah para pedagang kaki lima tersebut bisa merugikan dirinya sendiri dan teman-temannya yang tidak melakukan hal yang serupa itu. Kekecewaan pembeli bisa membuat kapok untuk berbelanja kepada pedagang kecil, yang akhirnya lebih memilih belanja ke toko-toko besar. Akhirnya mereka akan tergilas sendiri dengan perkembangan toko-toko yang ada di sekitarnya. 

Kejujuran para pelaku dagang amatlah penting untuk membangun kepercayaan pembeli. Selain itu, dalam konteks yang lebih tinggi lagi, kejujuran itu adalah merupakan bentuk ketakwaan kepada Alloh. Kecurangan seperti menyembunyikan cacat dan kekurangan barang tidak mencerminkan keimanannya kepada Alloh. 
“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jika kita menanamkan kebaikan, maka kita akan mendapatkan kebaikan sesudahnya, namun sebaliknya jika kita melakukan keburukan, maka kita akan mendapatkan keburukan sesudahnya.





101 komentar:

  1. wah parah tuh mak.. aseli... parah bangeetss

    “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada” (HR. Tirmidzi) seharusnya ini menjadi motivasi para pedagang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho oooh Le... parah yooo. Wis kene mak ditukokke sing isine full :D

      Hapus
    2. iya.. astagfirulloh.. ngga nyangka kalau ngga lihat sendiri gambarnya.. :(

      Hapus
    3. nanti di ganti sate bandeng aje yee hehe

      Hapus
    4. sate bandeng?
      ah sepertinya memang sudah waktunya untuk melupakan harapan menikmatinya... :(

      Hapus
    5. aaah kakak jangan itu duonk aq kan jadi ga enak....

      Hapus
    6. Cuma gara-gara nggak mau turun bis. Mari kita lupakan sate bandeng.

      Hapus
    7. iyo iyooo... lain kali momyy.....

      Hapus
    8. Gitu juga bisa...
      Kapan kapan..... Kisah bertemu lagi. Gitu kan Mom?

      Hapus
  2. Ketidakjujuran atau kecurangan akan memrugikan mereka sendiri. Sungguh miris. (Jadi terpikir untuk mengganjal wingko dengan wingko lain yg lebih besar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kita beralih belanja ke toko-toko yang ada di sekitar mereka, mereka sendiri yg akan mengeluhkannya

      Diganjal jengkie ya mas Belalang?

      Hapus
  3. Kasihan bapak itu. Ingin mendapatkan kenikmatan dunia sampai menjual ketaqwaannya. Mengurangi timbangan, ukuran,jumlah sering dilakukan oleh pedagang.
    Semoga mereka segera sadar
    Terima kasih artikelnya

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pakde. Hanya ingin mendapat sedikit rejeki tapi mengorbankan kenikmatan besar lainnya dari Alloh.

      Hapus
  4. saya tidak menyangka jadinya seperti ini. Memang miris ya bund.. mereka yang memulai, akhirnya mereka sendiri yang peroleh akibatnya..

    semoga mereka sadar dengan apa yang mereka perbuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu pertama kali melihat isi kemasannya, saya cuma bisa beristighfar saja. Yaaah.. semoga kelebihan sedikit yang dia peroleh itu bermanfaat buat dirinya.

      Hapus
  5. Astagfirullah... Kebangetan banget :(
    Mendingan kemasannya dikecilin aja, daripada PHP gitu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di dalam toko ada yang kemasannya kurang lebih sama. :(

      Hapus
  6. Koq ya niat banget mau ngapusi ya Bund? hmmmm....ni klo ketemu aku bakulnya taksuruh bikin sumpelan yg lebih gede lagi sekalian diinterview kira2 klo dia disuruh maem sumpelannya itu mau apa enggak *malah dadi emosi dewe wkwkwkkkk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiih... sadis nih mbak Uniek... hihihi...

      Hapus
  7. Saya pikir kecurangan yg dilakukan sprti di tv : pake boraks, formalin, atau apa yg merusak kesehatan.

    BalasHapus
  8. aku juga kalo beli stroberi ada lapisan kartonnya..tapi ini mah kartonnya ketebelan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita jadi seperti memaklumi kecurangan2 seperti itu.

      Hapus
  9. Saya termasuk yang kapok belanja di kaki lima Buuuun... apalagi di tempat wisata. Stroberi, kurma, dodol, dsb banyak yang diakalain gitu kemasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keuntungan yang tidak seberapa itu tidak membawa keberkahan. Lebih baik kita menghindari diri dari rasa kecewa itu.

      Hapus
  10. parah banget, mak. hal kayak gini juga sering terjadi di stasiun atau terminal. bahkan tempat2 wisata.
    sayangnya mereka bukan blogger yg bisa baca tulisan ini. #nahloh
    tp setidaknya kita bisa jadi waspada ya, mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa membaca ini, kalau nurani mereka baik, mereka takkan melakukan hal ini mak.

      Hapus
  11. apapun diniati dg kebaikan ya Bunda :D

    BalasHapus
  12. ya ampun, sudah diniatin untuk menipu itu sih.. Penjualnya tahu kalau yg beli untuk oleh2 pasti orang jauh. Jadi ga bisa dateng lagi untuk protes

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah.. itulah dasar pikiran mereka. Pembeli takkan kembali untuk komplain. Tapi kalau yg kecewa makin banyak, akan membuat mereka sendiri yang rugi.

      Hapus
  13. Itu mah parah banget ya Bun, mencari keuntungan dengan cara ilegal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal rasanya enak loh. Gurih, garing, renyah. Andaikan pedagang itu jujur...

      Hapus
  14. Kalau kartonnya dibawah seperti itu sih biasanya supaya minyak meresap ya, Bund. Minyak tidak mbeleber. Tapi kalau tebalnya segitu yaaaaaaa. . . CURANG.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, kadang memang ada yg kasih karton/kertas utk serap minyak. Tapi ini ganjelannya utk serap isinya :)

      Hapus
  15. ishhh... tega banget deh -____- bikin dagangan gak barokah... semoga gak terulang lagi yah bunda.. memang bukan urusannya sama ikhlas bunda, saya yakin bunda sudah ikhlas, mungkin penjualnya juga gak tau isinya ternyata sumpelan dari produsennya,, diniati aja sodaqoh buat keluarganya bunda,, biarin aja orang yang curang dapet balasannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mak Uswah, saya dan suami mendoakan spy pelakunya disadarkan dan smg apa yg dia dpt bermanfaat buat dirinya dan keluarga.

      Hapus
  16. Selamat malam menjelang pagi, mak!
    Tidak menyangka juga kok sampai sebegitunya, di Sukabumi lagi. haih, itu kota kelahiranku. Tapi, penjual seperti itu takkan bertahan lama ya, mak. Nanti yang sudah pernah beli pasti tidak mau membeli di situ lagi, lalu sedikit banyak akan mempengaruhi yang lain juga.

    oia, Pita ikut senang kemarin katanya kumpul-kumpul sambil makan-makan.. aaah, nanti kalau ke Kedoya, mau sekalian mampir ke emak. mau minta makan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan aja belinya di sana, Pita. Tp sebetulnya byk hal sejenis di mana2. Mental pedagang yg lemah dan hanya mengejar keuntungan yg sedikit di dunia.

      Sayang nih Pita gak bisa ikutan gabung. Semur telornya dihabisin tole... Hihihi...

      Bener yaaa... Mampir loh kalau pas ke jkt. Kedoya kan gak jauh dr rmh emak.

      Hapus
    2. aduuh ada yang minta makan tuh,,
      jangan dimasakin semur telor tanpa se-izinku momy..
      kerenan itu kalo tujuannya ke emak baru mampir ke kedoya... (di balik)

      Hapus
    3. Maksudnya, tunggu tole bisa ikutan juga ya.
      Kedoya sama pintu tol kebon jeruk, ga jauh tuh. Hihihi...

      Hapus
    4. iya donk Mak.. mosok melewatkan semur telor begitu ajaaah #ga terima
      oya ya kedoaya sama pintu tol kebun jerukan emang deket.. sama donk turunnya nanti aq minta jemput kakak Rd lagi

      Hapus
    5. modus modus modus....
      ongkos ojek yang kemarin aja belum dibayar, eh sudah pesen ojek lagi. lain kali aku jemput pake towing aja.... XX

      Hapus
    6. wah asik tuh pakai towing.. biar seruuuuu....
      #bukan modus.. cuma strategi ajah kakak...

      Hapus
    7. Loh, bukannya sisa 2000 ya mas Ridwan. ^_^

      Ya nggak pantes kalau boncengan bertiga. Mmg lebih pas kalau dijemput pakai towing. Bisa dadagh sama penggemar sepabjang jalan :p

      Hapus
    8. serasa calonan wali kota ngono Mak wkwkwk

      Hapus
    9. tenang momy... Kak Rd kan selalu ada untuk ku...

      Hapus
    10. Memangnya mas Ridwan sejenis rexona?

      Hapus
    11. Yoi.. Selalu setia setiap saat

      Hapus
    12. enteni nek petuk maneh yo.....

      *** kita bisa makan bersama maksudnya... :D

      Hapus
    13. Ayuuuk kita makan bareng lagi..

      Hapus
    14. Hiiiihhh...! Siap-siap beli bumbu...

      Hapus
    15. Harus itu mak... Jangan lupa telor nya yee

      Hapus
  17. bener mbak.. padahal dengan melakukan itu mereka merugikan dirinya sendiri.. besok-besok kalo ada yang mau kesana kita pasti pesen supaya beli oleh olehnya di toko oleh-oleh saja dan jangan di kaki lima.. termasuk saya yang baca artikel ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang kasihan adalah pedagang kaki lima yang jujur tapi jadi kena imbas dari pedagang nakal seperti ini

      Hapus
    2. Bisa dipahami sekali kalau kemudian org lebih memilih membeli di toko. Mgkn harga lbh mahal sedikit, tp puas dan mrs tdk dibohongi.
      Kecewa kita akan lbh dalam kalau oleh2 itu kita berikan utk orang lain/keluarga. Malu kita.

      Hapus
  18. Kasihan juga ya bapak itu...entah karena kurang ilmu, entah karena rakus dengan dunia...Mudah2an saja bapak itu memperoleh hidayah dan tersadar bahwa perbuatannya merugikan dirinya sendiri orang lain ya mbakyu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Itu harapan kita, ya dik Anton.

      Hapus
  19. makasih sharingnya mbak.... pelajaran untuk lebih teliti bagi kita sbg pembeli.

    BalasHapus
  20. kalau gini simpati jadi batal ya bund. maunya berempati, tapi kok ya begitu...
    semoga suatu saat nanti, saat aku jadi pedangan nasi di sebuah restoran mewah, aku bisa jadi pedagang yang baik. tolong bantu doa ya bund... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga cita2 mu terkabulkan mas...
      Barakallohu fiykum Yassarallohu umurakum

      Hapus
    2. Aamiin... Semoga terwujud dan berkah ya mas Ridwan.

      Terharu dengan do'a tole buat kakaknya... Ooh...

      Hapus
    3. Ooh... senang nya bisa bertemu kalian,....

      *salim*

      Hapus
    4. Akhirnya keluar juga sebuah pengakuan.

      Hapus
    5. ah apa? sebuah pengakuan............. jadi selama ini menunggu pengakuan datang dari diri ku? Sebegitu berartinya kah diri ini hingga ditunggu pengakuannya...

      Hapus
    6. jangan begitu momy sakit loh tepuk2 jidad segala..
      *puk2*

      Hapus
    7. Ini malah udah nelen mouse berapa biji.

      Hapus
    8. nih minum teh botol dulu..
      apapun makanannya minum teh botol sasra

      Hapus
    9. Kenapa mom.. Sereden... ?

      Hapus
    10. ah kalian,
      betapapun uniknya kalian, doa kalian seindah persahabatan kita... :)

      Hapus
    11. Opo to mak.. Pakai tanda seru segala... Santai aja lagi hihi..

      Hapus
    12. Yeess... Berhasil membuat tole merinding :p

      Hapus
    13. Haiis... Maaf pemirsa aq ngambek

      Hapus
    14. Kalau ngambek jadi makin imoet :p

      Hapus
  21. kejujuran ...itu yang sudah mulai perlahan sirna di negri ini..bahkan pedagang kaki lima pun sudah banyak yang ketularan virus ketidak jujuran dalam berdagang..... menyedihkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa tersambung pada Alloh yang kurang. Orientasi duniawi menjadikan mrk lupa diri.

      Hapus
  22. Ckckck, terlalu! Gak bisa disimpati'in mah kayak gitu, Bun! Sikat ajah! Huhuhu

    BalasHapus
  23. Sedih kalau ada pedagang tak jujur seperti ini. Semoga saya tidak termasuk yang suka tdak jujur. Mohon doanya ya bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh Kang Haris tidak demikian. Terbukti Mie Janda makin berkembang pesat.

      Hapus
  24. kebangetennn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  25. gak berkah ya mbak jualannya, membohongi pembeli

    BalasHapus
  26. astaghfirullaah, sudah bener suami mba mau bantu pedagang kecil, eh yg dibantu kok ga sadar diri. Makanya yang giini2 yang suka bikin kesel, kayak beli frambos di puncak yang taunya dalaemnya busuk semua :(. untung ga semua pedagang kecil seperti ini ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menebar kebaikan, akan dapat kebaikan. Menebar keburukan, akan dapat keburukan.

      Hapus
  27. semoga yg jual cepet disadarkan yaa Umi >.<
    termasuk penipuan juga itu yaa, haduuhh..

    BalasHapus
  28. Banyak sekali pedagang2 kecil yg berbuat curang mba, makanya kadang saya berfikir. Pantesan rejeki mereka segitu2 aja, wong banyak curangnya sih...
    Coba bayangkan dengan pedagang yg jujur, mereka bisa meyekolahkan anak2nya sampai kuliah, bisa naik haji. Seandainya para pedagang yg curang bisa melihat itu semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau keberkahan yang dicari, ya akan lebih bermanfaat untuk kehidupan keluarga dan umat

      Hapus