Frangipani Flower Lovely Little Garden: Sudah Pantaskah Cara Bercanda Kita...?
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sudah Pantaskah Cara Bercanda Kita...?



Bismillahirrahmannirrahiim...

Pertama- tama aku ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433H. Semoga Allah menerima qurban kita dan ibadah kita. Aamiin.

Tulisanku kali ini ingin menyoroti tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Hari Raya Idul Adha. Terutama kepada keprihatinanku akan hal-hal yang menurutku berlebihan dan bahkan keterlaluan dalam menyambut hari besar qurban.

Beberapa kali aku menerima bbm baik di grup atau personal message, atau juga di facebook, gambar-gambar yang melecehkan simbol-simbol agama yang berkaitan dengan Hari Raya Qurban. Seperti gambar hewan ternak entah itu kambing atau sapi diplesetkan sebagai bahan lelucon. Belum lagi kisah-kisah yang katanya lucu dari hewan-hewan qurban. Kemudian mengundang komentar yang makin membuatku mengelus dada. Bahkan aku pernah menerima gambar seekor kambing yang kepalanya diganti dengan kepala babi, lalu ditulisi.... DIJUAL MURAH UNTUK QURBAN... SIAPA MAU...? Astagfirullahaladziim...

Mengapa menyambut Hari Raya Qurban harus dengan cara seperti itu? Bukankah lebih baik kalau kita memperdalam keimanan dan pengertian kita tentang hakekat dari berkurban itu sendiri. Sehingga kita bisa lebih memaknai qurban yang kita persembahkan untuk mencari ridha Allah. Bukan sekedar menggugurkan kewajiban/sunah dalam beribadah.

Alqur'an Surat An Nuur 41-42

41. Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

42. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk)


Dari ayat tersebut bisa kita ketahui bahwa apapun yang ada dilangit dan di bumi, termasuk hewan ternak bertasbih kepada Allah. Mereka semua mempunyai bentuk ibadah sebagaimana ditetapkan oleh Allah. Dan salah satu wujud ibadahnya adalah dengan menjadi hewan qurban. Sebagaimana manusia, yang ingin meninggal dengan khusnul khotimah, maka hewan-hewan ternak tersebut apabila mati untuk qurban adalah sebuah hal yang paling baik dari kematiannya. Karena itu berarti mereka mengikuti ketentuan dari Allah sebagai proses bertasbihnya.

Lantas... mengapa kita harus berpikiran bahwa hewan-hewan qurban itu tersiksa, menderita, bahkan kalau bisa mereka tidak laku terjual sebagai hewan qurban..? Kemudian kita jadikan sebagai bahan olok-olok. Padahal begitu mulianya pentasbihan hewan-hewan itu jika mati sebagai hewan qurban. 

Kemudian, mari kita ingat lagi  kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Alqur'an, yaitu Surat Ash-Shaffat 102 - 111:

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

109. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.


Membaca kisah itu... mari kita berpikir.. pantaskah kemudian kita menertawakan, menjadikan senda gurau bahkan mengolok-olok hewan yang menjadi sembelihan? Keikhlasan Nabi Ibrahim merupakan simbol kemenangan dan keimanan seorang manusia melawan hawa nafsu, kepentingan pribadi, rasa egoisme atau juga mengalahkan rasa cinta kepada sesama manusia. Membawa semangat dalam meng-Esakan Allah.

Hakekat qurban adalah merupakan keikhlasan dan ketulusan jiwa dalam menjalankan pengabdian tugas dan kewajiban seorang hamba kepada Allah. Yang kemudian akan muncul menjadi jiwa yang istiqomah dalam kedekatan dengan sang khalik.

Dalam Alqur'an surat Al Hajj ayat 37 disebutkan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Maka dari itu, jangan sampai kita sia-sia melakukan ibadah dengan mengotori sikap dan perilaku kita dengan ikut-ikutan mengolok-olok nilai-nilai dan simbol-simbol agama Allah. Kita harus selalu mengupayakan agar ibadah kita diterima oleh Allah. Bukankah hidup di dunia ini adalah waktunya kita mengumpulkan pahala dari Allah untuk bekal hidup kita di akherat nanti?

Meskipun kita sudah berqurban dengan menyembelih kambing atau sapi, tapi persembahan kita itu belum tentu diterima oleh Allah. Kita bersihakan dulu harta yang kita pakai untuk membeli hewan qurban itu, kita luruskan niat dulu bahwa kita berqurban untuk mencari ridha Allah semata, ikhlas dan tidak riya.

Ketahuilah perilaku mengolok-olok, senda gurau yang sadar atau tidak sadar kita lakukan itu, bisa membawa akibat yang fatal lhoo...  

Coba deh kita lihat Alqur'an Surat Luqman ayat 6:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Lihat juga dalam Surat Al-Kahf 103 - 106:

103. Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok

Mengerikan ya balasan Allah kepada orang-orang yang mengolok-olok agama-Nya. Ada baiknya sekarang kita lebih hati-hati dalam bersenda gurau. Pantaskah cara bercanda kita, lucu-lucuan kita selama ini...? Marilah kita introspeksi diri. Jangan sampai kita terjebak pada hal-hal yang membuat kita hidup sia-sia. Bila kita sampai kepada sebuah lelucon, kisah, berita atau bahkan ilmu sekalipun, sebaiknya kita waspadai dulu. Kita cermati dan pelajari dulu. Jangan langsung percaya, setuju, ikut tertawa atau bahkan meneruskannya kepada teman atau saudara kita yang lain. 


Alqur'an Surat Al-Isra ayat 36:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. 






67 komentar:

  1. nggelar tikar dulu di taman sambil baca2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang yang sangat pandai sekalian tidak berbahaya
      karena dia tahu apa yang harus disampaikan

      Orang yang bodoh sekalian juga tidak terlalu berbahaya
      karena dia tidak akan ada bahan untuk disampaikan

      tapi yang berbahaya adalah orang yang tidak pandai tapi tidak juga bodoh
      biasanya dia susah membedakan bercanda yang diperbolehkan dan mana bercanda yang membahayakan bahkan bisa menyesatkan.

      Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya

      Hapus
    2. Iya... gitu mas...
      Makasih ditambahin. Kritik dan saran tau bagaimana menyampaikannya... hahaha....

      Hapus
  2. mas insan robbani ini emank pantasnya pak ust yang memberikan nasihat utk semua orang

    BalasHapus
  3. Aq malah gak liat yg begituan Bun
    Buka fb cuma liat komunitas2 blogger aja

    Semoga orang2 yang berolok-olok tak pantas itu segera sadar ya Bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Esti...
      Semoga mereka kemudian beristighfar dan tidak mengulanginya lagi.

      Hapus
  4. Saya pada prinsipnya sepakat dengan artikel yang ditulis dengan apik dan elegan oleh Mba Niken. Namun yah itulah persepsi seseorang terhadap hasil karya yang diunggah ke jaring sosial diinterpretasikan berbeda beda karena sudut pandang dan wawasannya berbeda beda. Maksud hati ingin becanda namun malah menjadi bencana. Saya sepakat dengan mba Niken.

    Menurut hemat saya pribadi memang harus berhati hati dalam memposting di jejaring media karena persepsi orang berbeda beda. Hal yang sepele seperti sapaan Tante misalnya. Ini pernah menjadi perang terbuka di blog karena salah paham atau salah persepsi tentang kata "tante". Hal yang remeh buat orang lain, namun tidak buat kita.

    IZin Follow ya mba. Salam dari Pontianak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya ada yang tersinggung dengan tulisan ini, saya minta maaf. Semata hanya ingin ber- watawaa shaubilhaqq...

      Harapan saya kita bisa saling mengingatkan satu sama lain akan kebaikan dan ketaqwaan.

      Trimakasih atas perhatian pak Asep terhadap artikel ini. Juga sdh mem-follow blog saya.

      Salam dari Jakarta.

      Hapus
  5. Iya bunda, belum lagi yang ngetwit, sekarang semua dijadikan bahan lelucon dengan tidak lagi melandaskan etika bercanda :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa menjaga diri utk tidak khilaf ikut2an.

      Hapus
  6. Assalamu'alaikum

    Salam kenal, Bunda Lahfy. Sering melihat di FB, tapi baru kali ini singgah di blognya.

    Bercanda di dunia maya, kadang menjadi terlepas bahkan, mensendakan agama. Tapi kalau saya alihat, baik di twitter maupun FB, hal2 kayak gitu dianggap "biasa" oleh pelakunya, meski terkadang kita risih sendiri.

    Semoga kita selalu dihindarkan dari yang demikian. Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali mbak Anazkia... Sering papasan ya kita... Hehehe...

      Banyak candaan lain yang bisa kita tertawakan selain hal spt itu. Dgn jiwa yang furkonan kita akan dpt membedakan mana yg baik dan buruk.

      Hapus
  7. Setiap orang punya pandangan berbeda tentang semua itu,yang paling penting hargai aja biar tidak jd perdebatan yang mengorbankan darah bercucuran,kan jauh lbih indah dalam arti Bhinneka Tunggal Ika :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat kalau semua org punya persepsi atau pendapat sendiri2 sesuai dgn kadar keimanan masing2. Kepekaan atau sensivitas diri akan hal yg baik dan buruk mmg berbeda2. Apalagi kalau sampai senda gurau bisa mjd pertumpahan darah.

      Saya menghargai pendapat mas Andy :)

      Hapus
  8. tulisan bunda lahfy sangat mengena, bisa menjadi pengingat buat kita2 agar dlm bercanda tidak kebablasan, ijin follow ya bun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      انشـــــاء الله kita saling mengingatkan akan kebaikan ya mbak...
      Trimakasih sudah mem-follow blog ini. :)

      Hapus
  9. sepakat dengan tulisan dan ulasannya mba Niken....
    Yang pasti, sebagian besar dari mereka yang 'becandanya berlebihan' itu, tidak tahu apa yang sedang mereka perbuat, mereka tidak sadar bahwa hal itu telah berlebihan. Yang sebagian kecil, [bisa saja] mungkin melakukannya dengan sengaja. Siapa tau...

    Mudah-mudahan akan mendapat pencerahan dengan adanya tulisanmu ini ya mba....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kehati2an dalam mengikuti apa yang sdg ramai jadi buah bibir amat perlu. Yang lucu, yg candaan, yg gurauan bahkan yang baik...blm tentu benar.
      Semoga ya mbak Al. Karena tulisan ini dibuat bkn karena rasa benci atau tdk suka. Tapi justru krn rasa peduli.

      Hapus
  10. Ini benar sekali Bu Niken ...
    kadang kala kita suka "kebablasen" dalam membuat becandaan ...
    Maksudnya mau ngelucu ...
    malah jadi sama sekali tidak lucu ...
    bahkan sangat melecehkan

    Terima kasih telah mengingatkan kita semua Bu Niken

    salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah om Nh.. kasus ini hanya sebuah contoh saja. Sering seperti ada trend dalam materi/hal yang disenda guraukan. Begitu mudah berkembang dan seakan penuh inovasi, dari hari ke hari makin kelewatan.

      Semoga kita dijauhkan dari sikap demikina ya om...

      Salam kembali

      Hapus
  11. wah becanda kayak gitu parah banget ya bu, kadang saya juga sering lihat bercanda terlalu kelewatan baik berbau agama ataupun umum..niat ingin buat tertawa orang tapi malah kelewatan..yang kecelakaan pesawat shukoi juga waktu itu ada yang canda2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita tidak boleh mengolok-olok suatu kaum.
      Islam bukan agama yang mengijinkan umatnya mengolok-olok suatu kaum atau golongan.

      Hapus
  12. Ya Robb.. jagalah kami dari perbuatan mengolok-ngolok ini..
    Terima kasih bunda, tulisannya sangat2 mengingatkan kita semua berhati2 dalam bercanda..

    Baru berkunjung lagi nih bunda :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin....

      Hai Yudhi... iya nih lama ya ngga main ke taman bunda... Saling mengingatkan ya Yudhi... :)

      Hapus
  13. Alhamdulilah, belum pernah mendapati candaan seperti itu..
    Kmrn dpt shaun the sheep :D

    Ya, tapi memang, beberapa "candaan" berbau sara seringkali muncul. Namun, semoga kita masih bisa menanggapi dg kepala dingin. Terpancingnya emosi itulah yg diinginkan oleh mereka :)

    Keren tulisannya, Bun :)

    Salam kenal ya bun... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali mbak Anita... Allah memberi kita akal utk berpikir apakah sebuah gurauan itu memang gurauan atau olok-olok.
      Kita tdk dilarang bergurau atau bercanda. Tapi kita dilarang mengolok2.

      Hapus
  14. Hewan2 itu fitrah-nya memang seperti itu ya, Mbak... Menjadi hewan kurban :)
    Semoga orang yang bercanda itu mendapatkan hidayah dari Allah ta'ala :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal'alamiin....
      Semoga kita semua mendapat petunjuk dari Allah utk bisa membedakan mana gurauan mana olok2.

      Hapus
  15. Merasa tertampar dengan tulisannya Bunda Lahfi, walau nggak ikutan menyebarkan dan berkomentar tapi saya merasa bersalah karena tertawa-tawa melihat itu.
    Semoga nggak ada lagi hal-hal seperti ini ya, Bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh... Maaf mbak Indah.... Ga nampar kok... *elus-elus pipi mulusnya*.

      Hapus
  16. banyak sms yang suka bercanda kelewatan tentang agama lho. Bahkan hal2 yang sifatnya musyrik juga di smskan misalnya " kirimankan sms ini kepada 10 orang dan engkau akan mendapt rejeki berlimpah, jika tidak maka engkau akan mengalami kesialan "

    Terima kasih pencerahannya jeng

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga harus diwaspadai ya pakde. Bisa menjadi bahasan tersendiri kalau mgn perbuatan syirik.

      Trimakasih kembali..

      Hapus
  17. tulisan yang memberi pencerahan. aku kadang kadang juga gitu bund, sering miris lihat hal hal yang seharusnya gak di jadiin bahan becandaan malah jadi bahan tawa. pernah ada yang bersifat rasis juga yang aku baca, sampe jadi perdebatan panjang yang gak karuan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau bisa mjd pencerahan...

      Saling mencerahkan saja ya mas mridwan...

      Hapus
  18. Tulisannya sangat mencerahkan di pagi yang indah ini bunda :)
    Bila kita sampai kepada sebuah lelucon, kisah, berita atau bahkan ilmu sekalipun, sebaiknya kita waspadai dulu. Kita cermati dan pelajari dulu. Begitu kan bunda?
    Hmm, jadi bahan introspeksi di hari yang penuh berkah ini ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Betul begitu...
      Saya juga menulis ini sbg pengingat utk diri sendiri.

      Hapus
  19. Bundaaa...
    Tolong ingetin aku ya kalo kelewatan bercandanya..
    jewer aja, ato di sentil boleh asal jangan di antemi..

    Makasih Bundaku sudah mengingatkan aku dan kita semua..
    Selamat pagi..
    Happy Monday..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nchieeeeee.... Ingetin bunda juga ya kalau bunda salah2 kata....
      Kita sama2 belajar dan saling mengambil ilmu dr tulisan2 kita ya Nchie...

      Hapus
  20. Saya baru tahu tentang gurauan yang kebangetan itu setelah membaca postingan ini. Sungguh tidak tepat nggih, Bu.

    [ngeblog dengan tangan kanan masih terasa gimana gitu, karena kemarin kebagian nyembelih 20 ekor kambing, hehe... Ohya, semoga apa yang kita lakukan dalam beribadah qurban ini mendapatkan ridha dari Allah Ta'ala nggih Bu. Aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal'alamiin...
      Nyembelih 20 kambing...? Lumayan pegel dong ya.... Apalagi kalau ada yg beerontak segala. Semoga beerkah ya pak Azzet.

      Hapus
  21. kalu kambing berkepala babi idah keterlaluan kayaknya deh Bun...

    Semoga kita bisa dimudahkan untuk selalu berkurban untuk Agama, dan semoga perkataan dan perbuatan kita sesuai dengan aturan agama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin...
      apa kabar Kiki...?

      Hapus
  22. Balasan
    1. Jangan spicles Mimi... Ayo kita ngobrol lagi.

      Hapus
  23. Alhamdulillah.. dapat pencerahan lagi.. :)
    saya terkadang masih terjebak dalam candaan seperti itu mbak, apalagi karena saya berjenggot.. :D
    yah.. Semoga kita semua dimudahkan dalam belajar, mengamalkan dan menyiarkan Agama ini... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      semua tergantung hati kita.. apakah kita terbuka atau kita merasa diri sudah paling baik. Sehingga sulit untuk menerima masukan.

      Hapus
  24. Astagfirulloh. . .
    Lucu tapi akhire wagu. .

    Aku setuju, bund. Ajining diri soko lati. Apapun niat kita, kalau lelucon tidak pada tempatnya malah bisa jadi cilaka.

    Apalagi lelucon itu menyangkut SARA, sangat disayangkan ya, Bund.
    Jika ada salah kata selama kita berbincang ria, idah minta maaf yang sebesar2nya ya, Bund. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santai aja Idah... So far so good kok... Sama aja ya... Kalau bunda ada salah kata, mohon dimaafkan.

      Hapus
  25. naruh comment yg seharusnya disini:
    "pemelesetan' dan becandaan yg kelewat batas seakan sdh menjadi hal lumrah sekarang ini. HIngga moment dan simbol agama pun sekan jamak jika dijadikan bahan lelucon, spt aneka joke ttg qurban. Untngnya saya gak pake BB, belakangan jarang apdet Fb..jd gak baca lelucon2 yg bikin miris tersebut Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Model gurauan spt ini hanya salah satu contoh saja. Sering banget hal2 lain juga dgn mudah tersebar dan liar. Hati2... Itu yg hrs diingat.

      Hapus
  26. Memang itu aga kelewatan. Belum foto2 kurban yg sedang berdarah2 ditambahi text 'aneh2'. T___T
    Paling parah yg aku lihat "Pembantaian sadis setahun sekali. kenapa harus dipertahankan?" Astagfirullah.... ga ngerti makna di balik kurban, berani ngomong gitu. Aku langsung block saja di FB. aku ga tau soal BB, soalnya ga pake.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah kalau orang bicara tak pakai hati dan ilmu. Padahal kita punya akal utk berpikir.

      Hapus
  27. maaf mbak niken aku baru bisa online nih setelah 6 hari. selamat idul adha. aku juga sempat lihat foto itu mbak, tapi gak aku komentari herannay orang2 malah berlomba mempost ulang ya dan disebarkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah.. sibuk ngapain nih mbak 6 hari...?
      Pantes di grup juga sepi aja. :)

      Hapus
  28. sebetulnya saya bingung harus nulis apa, yang jelas saya sependapat atas semua komentar beserta postingannya. :)
    ini jadi bahan renungan diri, masih banyak diantara kita yang terus memperbanyak tertawa dengan celotehan - celotehan yang sama sekali tak ada manfaatnya, tetapi sangat sedikit sekali kita menangis untuk mengingat semua kesalahan kita. astagfirullah :'(

    postingannya bermanfaat bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini juga sebagai pengingat buat sy pribadi agar lebih berhati2 dalam bersenda gurau.

      Hapus
  29. Iya Bun, masih banyak yg tidak bisa becanda pada tempatnya, semoga saja mereka2 ini segera 'sadar' untuk tetap banyak belajar ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga kita terjaga dari hal demikian.

      Hapus
  30. Assalamu'alaikum
    Salam kenal. baru pertama berkunjung kesini.

    Alhamdulillah mendapatkan pencerahan, sangat bermanfaat bagi saya
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam warrahmatullah...
      Salam kenal kembali. Trimakasih untuk kunjungannya.

      Hapus
  31. kalau soal agama, bukan hal yg tepat utk bercanda ya mbak
    menyedihkan deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Kang Haris. Tapi kenyataannya banyak sekali yang melakukannya.

      Hapus
  32. Parah banget ya Buk...
    Trus kalo ada sobat kita yg kaya' gt diapain Buk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang sudah saya lakukan, saya hubungin dia secara pribadi. Coba menyampaikan ayat2 tersebut. Kalau dia tdk terima ya sudah. Yg penting saya sdh menyampaikannya.
      Alhamdulillah pernah ada yang berterima kasih, pernah juga ada yang menertawakan.

      Hapus
  33. wah bener banget itu..bun...
    saya sepakat.
    bercanda berlebihan tu nggak keren sama sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya bukan keren atau tidak. Tapi memang melanggar ayat-ayat Allah.

      Hapus