Frangipani Flower Lovely Little Garden: Kaos Oblong Suamiku
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Senin, 20 Mei 2013

Kaos Oblong Suamiku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Hari minggu kemaren, suami mengajakku bersilaturahmi ke rumah mantan atasannya. Namanya bapak M. Asep Ramadhan. Beliau keluar dari kantor karena ingin berubah haluan yang dirasanya lebih pas dengan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergabung dengan beberapa teman dalam bendera Learning Resources. Mengadakan pelatihan dan training motivasi untuk pegawai atau umum. Beliau "banting strir" meninggalkan jabatan yang nyaman di kantornya, menjadi seorang motivator.

Gambar dari sini

Sewaktu masih menjadi atasan suamiku, aku beberapa kali ketemu dengannya. Memang beliau begitu berkharisma, simpatik dalam bertutur kata dan bersikap. Pengetahuan agama Islamnya juga bagus. Bahkan waktu hari terakhirnya di kantor aku datang mengikuti acara perpisahan yang diadakan untuk beliau. Sederhana, tapi luar biasa berkesan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Aku yang mengenalnya sekilas saja bisa merasakan kalau kepergian pak Asep dari kantor itu akan membuat suasana kantor menjadi berbeda.

Sesampai di rumah pak Asep, rupanya beliau baru saja pulang dari rumah mertuanya yang sakit. Karena baru sampai jadi beliau perlu membersihkan badan dulu. Kami ditemani oleh anak bungsunya yang kelas 6 SD. Istri beliau masih di rumah orang tuanya. Kesan pertama bertamu adalah, pak Asep bisa mendidik anak kelas 6 SD itu untuk menemani tamu yang sedang menunggu ayahnya bersiap diri. Mengajak kami ngobrol, meski lebih tepat menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Tapi dia terlihat terbiasa melakukannya. Duduk tenang menemani kami. Tidak canggung kepada tamu yang baru pertama kali ditemuinya.

Setelah pak Asep menemui kami, obrolan langsung segar penuh canda. Suamiku terlihat senang sekali bertemu dengan mantan atasannya itu. Kami memberi kenangan buku Rembulan Cinta Seorang Bunda kepada beliau. Sebetulnya malu juga, melihat koleksi bacaan beliau di lemari buku yang ada di ruang tamu. Tapi beliau membuatku menjadi merasa bangga dengan buku itu. Cara beliau mengucapkan terima kasih, langsung membuka dan membaca daftar isi, lalu membalik-balik halaman buku, dan entah tanpa sadar atau disadari berhenti pada sebuah judul di keping keempat yaitu Menyambut Maut Dengan Ikhlas.

Judul itu kemudian menjadi bahan obrolan kami. Dalam hati aku berkata, caranya memberi kesan baik memang cerdas sekali. Beliau meninjau tema itu dari sisi umum dan keagamaan. Kami jadi seperti sedang berada di ruang seminar motivasi, lengkap dengan gaya bicara beliau yang ekspresif dan ceria. Membuat kami tergelak sambil mengambil inti sari yang beliau sampaikan. Bahkan waktu Fanni terlihat bosan dengan obrolan yang tidak dipahaminya, pak Asep bisa menarik perhatian Fanni. Hmmm... emang gitu kali ya pembawaan seorang motivator. Betul nggak sih pak motivator? :D

Berikutnya perbincangan berkembang pada sifat seseorang yang bisa global atau detail. Contoh orang global adalah, misalnya menerima sms dari orang yang mengatakan bahwa akan ada meeting. Orang global akan menerima saja berita itu tanpa ada pertanyaan, karena menganggap pada saatnya nanti dia merasa akan tahu apa yang harus dia lakukan. Namun orang detail, bisa langsung bertanya, siapa saja yang akan hadir, materinya apa, dan lain-lain. Pak Asepmemberi contoh lain tentang orang global, yaitu salah satu rekan kerja suami yang dulu juga bawahan beliau, yaitu ketika dia diminta memesan konsumsi untuk rapat kantor. Rekan kerja itu  hanya menelpon memesan makanan yang disepakati tanpa menanyakan harga sekarang. Dia pikir masih sama. Ternyata harga sudah berubah, sehingga anggaran dana untuk rapat itu menjadi kurang.

Tiba-tiba beliau berkata,"Mas Teguh ini orangnya global."

"Kok tahu pak?"

Pertanyaan tak perlu. Bukankah beliau mantan atasan suamiku. Ya jelas dia tahu cara berpikir suamiku dalam bekerja yang menunjukkan sifat dan karakter suami. Tapi karena beliau mengungkapkan dengan menarik dan penjelasan yang mengesankan, kami jadi merasa menemukan sesuatu yang baru. Siang itu suami memakai T Shirt dan pak Asep memakai kemeja, dan hal itupun menjadi bahan pembicaraan.

Gambar dari sini

"Itu bisa dilihat dari cara berpakaian juga lho. Mas Teguh suka memakai kaos oblong karena praktis, cepat. Biasanya orang yang bersifat global suka dengan hal yang praktis dan simple. Sedangkan orang yang detail biasanya suka memakai kemeja. Memasang kancing satu persatu dengan sabar. Saya orangnya detail, bahkan memakai sepatu saja saya suka yang pakai tali." pak Asep melanjutkan.

Kami tergelak mendengarnya. Pikiranku tertuju pada kebiasaan suami yang memang seperti dikatakan pak Asep. Suami orangnya memang tidak suka memakai kemeja, buatnya kaos oblong/Tshirt adalah pakaian favoritnya. Global? Dalam banyak hal memang iya. Tapi kalau dia sudah berniat untuk detail, dia akan detail sekali.

Tak masalah apa sifat dasarnya, karena sebagai orang global dia harus bisa detail dan sebaliknya sebagai orang detail dia juga perlu bisa global. Pak Asep kemudian menasehati suamiku:
"Kalau kamu mau maju, perdalam detailmu. Orang global sudah banyak. Bekerja hanya mengikuti apa yang sudah ada. Dengan menajamkan detail, akan muncul ide-ide yang membuat diri kita menjadi berbeda. Jadi menjadi detail itu bisa diasah oleh yang biasa global"
Suami hanya senyam senyum sambil angguk-angguk kepala. Entah apa yang ada di dalam hatinya. Entah karena setuju dan bertekad akan melakukannya, atau berpikir untuk menyukai memakai kemeja. Hahaha... Hanya dia yang tahu.

 Obrolan lain yang masih menyinggung bukuku adalah, ketika dia bertanya, tentang apa garis besar buku itu. Aku menjawab, pengalaman keseharian sebagai ibu, istri, anak, menantu. Dari jawabanku, sekali lagi ada nasehat untuk suami. Hihihi... kena terus deh dia. Tapi sesungguhnya bisa juga aku terapkan pada diriku sendiri.

"Nah, memang begitulah kehidupan kita. Peran kita para suami dalam keseharian, kita coba kelompokkan menjadi 5 peran. Sebagai ayah, suami, anak, karyawan/wirausaha/pencari nafkah, dan warga masyarakat. Coba deh masing-masing peran itu diberi skor 1 - 10. Tidak ada yang salah, hanya perlu tahu dimana skor kita dalam tiap peran. Kalau ada peran yang nilainya 9, lalu ada yang 6, maka kalau diibaratkan membuat bulatan, dia tidak akan bulat. Tidak bisa menggelinding sempurna. Seperti ada geronjalan-geronjalan. Kalau ada skor yang timpang, biasanya hidupnya gelisah. Disinilah orang baru menyadari kebutuhannya pada Sang Khalik. Padahal semua peran itu sudah menjadi ketetapanNya. Ikhlas dan sabar adalah kuncinya. Skor yang tidak seimbang tadi tidak akan membawa kegelisahan manakala kita menyadari bahwa kita menjalankan peran yang sudah dibuat oleh Allah," keterangan yang makin membuat aku dan suami manggut-manggut.

Pak Asep memang seorang yang detail. Amat terlihat dari pembawaannya. Saat kami berpamitan, pak Asep mengantar kami sampai ke luar pagar rumah, sambil membawa buku Rembulan Cinta Seorang Bunda (beliau kan bisa saja meninggalkannya di atas meja, lalu keluar mengantar kami). Dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah, buku itu diletakkan di depan dadanya seraya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Aku melihatnya sebagai detail yang ingin diperlihatkannya bahwa dia menghargai kedatangan kami.

Siang itu, dari silaturahmi kami, aku banyak mendapat hal positif. Tidak hanya yang aku ceritakan di atas. Namun masih banyak lagi. Hal-hal sederhana, namun menjadi tidak sederhana. Indahnya silaturahmi. Alhamdulillahirrobbil Alamiin.


37 komentar:

  1. Saya suka pakai Kaos Berkerah ...

    JAdi ... saya ini orangnya setengah global ... setengah detail ... hahaha

    Pengen saya suatu saat seperti pak Asep ini

    Salam saya Bu Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, bisa begitu ya om. Kalau yang pakai kemeja tapi kancing atas tdk dikancing, itu org apa ya om? :D

      Rasanya Om Nh sudah seperti pak Asep deh. Cuma pak Asep nggak suka bawa2 handuk.

      Salam kembali.

      Hapus
    2. hahahaha ...

      Handuk itu trademark milik saya ...
      (... dan abang becak tentu ...)

      hahaha

      Hapus
    3. Lanjutkan om.. biar ada ciri khas. Membuat beda dari orang lain.
      Hahaha...

      Hapus
  2. kalo suka pake kaos terus luarnya pake kemeja kotak2 sih???? gmna tuh??? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah komplit ya mas... Itu kayaknya karena kedinginan deh mas :D

      Hapus
  3. wah baik sekali orangnya, melalui tulisan ini saya bisa merasakan secara langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena dia berusaha berpikir dengan cara orang lain berpikir. Tidak ego dengan apa yang disukainya, tapi dia enjoy melakukannya.

      Hapus
  4. Pakai dalamen kaos memang membuat kita nyaman, walau lharus berlapis dengan pakaian kemeja.

    Sukses selalu
    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau anak sulung dan yang nomer 3 memang sukanya mendobel begitu kalau pakai kemeja. Kalau suami tetap saja simple dengan T Shirt-nya.

      Tapi itu semua kan hanya perumpamaan saja. Mungkin spontanitas dari beliau saat ingin memberi contoh.

      Hapus
  5. Kalau saya sih kata temen2 sering disebut orang gombal dan dekil. Saya ga suka pakai kaos apalagi kemeja yang ribet. Saya biasanya pake celana jins batik dan sarung kotak-kotak yang dibikin kaos. Ngomongnya ngaco cenderung nggombal. Ga pernah mandi jadi terlihat dekil. Salam untuk Pak Asep kita! Eh, ini bukan asep calon walikota Bogor kan? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas, kalau habis makan jengkie sikat gigi dulu. Jadi nggak ngeromet gini. Hahahaha...

      Hapus
    2. Sudah bawaannya saya berasosiasi dengan jengkie begitu dekat, begitu istimewa...

      Hapus
    3. Trus hubungannya sama kaos oblong apa?

      Hapus
    4. oh itu yang biasa pakai topi, baju robek berdiri disawah kalau ditarik talinya gerak2 untuk nakut2in burung..?

      baru tau kalau itu tokoh pengacau burung

      Hapus
    5. Mas Insan dan sang pengacau, kalian memang mesra ya :D

      Hapus
  6. Bunda, aku baca dari huruf awal....membelalakan mata seperti hadir ditulisan Bunda, tak berkedip hingga huruf terakhir. Aku kepingin bercerita seperti yang Bunda ceritain, detail banget. Em...orang yang detail vs orang yang global (praktis dan simple) mungkin untuk perpaduannya lebih indah ya Bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, jangan membelalakkan mata, mbak Astin. Ntar kelilipan lho.

      Kalau kita interest pada sesuatu otomatis semuanya akan terekam dan bisa kita tuangkan kembali. Sepertinya begitu lho mbak.

      Hapus
  7. silaturahmi mendapatkan ilmu ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, mbak Lidya. Trimakasih sudah bersilaturahmi kemari :)

      Hapus
  8. Dadang saya pakai kaos oblong, kadang pakai t-shirt kadang juga pakai kemeja..., berarti type gado-gado ya...

    Btw kenapa linknya diarahkan ke MM.??

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulis kadang kenapa jadi dadang... jauh banget...

      Hapus
    2. Untung bukan Padang. . . :P

      Hapus
    3. Komen buat komennya mas pengacau ya mas Insan. hehehe...

      Linknya ke MM kan dirimu motivator :D

      Hapus
  9. OK dimengerti mbak Niken...setelah baca ini. aku pun tambah yakin, utk jadi sesuatu yg tdk biasa memang harus belajar detil...maturnuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mas Anton, detail bisa dipelajari.

      Hapus
  10. Emmm, Berarti Bapak saya orangnya Detail. Karena lebih suka menggunakan Hem. :D Tapi, kalau sepatu gak bertali, model pantopel gitu. . .

    Kalau saya lihat, kebanyakan dari kaum hawa itu globar ya, Bun. Jarang yang Detail. :

    Salam untuk Pak Teguh ya, Bun. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih kaum hawa banyak yang detail? Aku malah ga mengamati.

      Insya Alloh salam disampaikan.

      Hapus
  11. Jadi pengen rajin silahturahim, biar nambah ilmu kayak bunda..

    Seneng banget aku membayangkan begitu bersemangatnya pak Asep..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silaturahmi yang membawa keberkahan adalah yang kita niatkan untuk kebaikan. Semoga kita bisa mendapatkan keberkahan ya Bunda Dzaky :)

      Hapus
  12. Hehehe... Saya punya kaos dirumah mbak 2 pcs tapi pake kancing. Suka banget sama ni baju... trus saya termasuk global apa detail ya...

    Tapi kalo urusan uang dan pekerjaan memang harus detail mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi global yang baik dan detail yang baik aja mas... Ntar biar seimbang :)

      Hapus
  13. Yah semua ada tempatnya, adakalanya lebih baik pake kaos oblong, ada kalanya lebih baik pake kemeja.

    Coba tanyain dong mbak ke Pak Asep, kalo Olahraga pake kemeja ato kaos... hehehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Asep kalau olah raga pakai kaos dong. Bukan karena dia tidak detail, tapi karena menyesuaikan dengan kebutuhan. Yang dimaksudnya cara berpakaian bisa memperlihatkan sifat adalah kebiasaan sehari2nya.

      Hapus
  14. aku sukanya pake kaos, biar terlihat masih belum terllau tua, belum juga stw, wagagagagagaga, keculi kalau ketemu sama orang orang yang dianggap penting, barulah pake kemeja. dateng kopdar pake kemeja juga kadang risih. haih, kok malah pakaiannya yang dibahas yak....

    yang penting dapet ilmu lagi dari bunda... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya niih, malah ngomongin kostum. Kemaren waktu kopdar pakai kaos ada kancing, jadi aku agak penting dong ya... eehh... :p

      Hapus