Frangipani Flower Lovely Little Garden: Sahabat
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2016

Menyapa Kembali

Bismillahirrahmannirrahiim,

Alhamdulillah, bisa kembali mengisi sudut taman ini setelah sekian lama diabaikan. Mencoba kembali menulis walau masih terasa kelu, kaku dan ragu-ragu. Tapi whatever lah... dicoba aja.

Keinginan menulis lagi muncul karena ingin sekali bermuhasabah diri. Merasa betapa rapuhnya keimanan. Betapa butuhnya akan cubitan-cubitan bagi diri sendiri agar selalu ingat pada kewajiban yang semestinya. Juga karena rasa geram pada situasi dan kondisi yang terjadi pada Islam, pada negri. Setidaknya, aku ingin bersikap dan bersuara sebagaimana yang aku rasakan dan yang aku pahami.

Sekedar menyapa teman-teman blogger semua...
Halooo... Apa kabar? Lambaikan tangan dan salamin satu-satu...
Hai...hai... Kalian hebat-hebat ya sekarang. Takjub juga dengan perkembangan perbloggeran saat ini. Beda jauh sama dulu. People change, you change and I change, too. Sukses deh buat teman-teman semua.

Mohon bimbingan dari teman-teman semua, ya... Maklum newbie... hehehe...






Read more »»  

Sabtu, 16 November 2013

Dua Bujangan

Bismillahirrohmannirrohiim,

Lama-lama nggak tahan juga kalau nggak cerita tentang dua bujangan yang belakangan makin akrab denganku. Tiap hari ada saja kelucuan yang mereka ciptakan melalui obrolan bbm. Gara-gara android sudah bisa merambah bbm, mereka jadi bisa ikut menginstalnya dan bawel banget tiap hari. ^_^

Dua bujangan ini adalah Mohammad Taufiqurrohman pemilik blog Topics dan mas Muhammad Ridwan Purnomo pemilik blog La Ranta. Heeiii.. keduanya memakai nama awal yang sama, hanya beda satu huruf o dan u saja. Nama yang bagus bukan? Sepanjang yang aku kenal, mereka berdua memang selalu sopan dan bersikap baik kepadaku. Kalau dulu aku pernah berkisah tentang Dua Gadisku Yang Lain, maka kali ini aku akan berkisah tentang Dua Bujangan.

Dengan mas Ridwan, aku memang sudah lama dekat, sudah beberapa kali ketemu. Bahkan saat ini sedang ada proyek kerja sama membuat kolaborasi kumpulan cerpen yang sedang kami ajukan ke penerbit mayor. Semoga naskah kami diterima. Aamiin Ya Rabb.

Sedangkan dengan mas Taufik, keakraban baru dalam beberapa bulan ini. Sudah pernah berkunjung ke rumahku dua kali. Berawal dengan bagaimana dia memanggilku dengan sebutan "Mak" di facebook. Eehh.. sekarang malah agak keren dikit, kadang manggil "Mommy". Hadeeuuuuh... Wis biarin aja. Tetap nggak jauh dari kesan emak-emak pokoknya. Aku memanggilnya "Tole". Rasanya jadi sok akrab sok dekat gitu deh dengan panggilan itu ^_^. Mas Ridwan yang semula memanggilku dengan sebutan bunda, jadi ketularan memanggil Mak. Mendadak aku punya dua anak bujangan baru, yang masing-masing punya kegalauan sendiri-sendiri. *Pisss mas-maaas...

Tiap pagi, Tole rajin sekali menyapa salam dan selamat pagi. Sepertinya sehabis sholat subuh yang dia lakukan adalah menyapaku dan mas Ridwan. Maaf ya Le, Mak sering nggak langsung menjawab salammu segera. Kalau pagi suka repot di dapur atau ke pasar. Tapi pasti dijawab kan. Makasih loh dengan sapaan dan salam tiap paginya.

Oleh-oleh dari Tole waktu ada tugas ke Anyer

Usia mereka hanya terpaut setahun, lebih muda Tole. Dan dalam obrolan kami, Tole memanggil mas Ridwan dengan sebutan "Kakak". Bener-bener lucu mereka berdua kalau bersenda gurau seperti kakak adik. Tole pantes banget berperan seperti adik yang kolokan sama kakaknya. Dan kakak sok cool gitu menanggapi gurauan adiknya. Hahahaha... Dua bujangan ini memang seru.


Kopdar 9 November 2013

Untuk mas Ridwan, dalam beberapa hal aku mirip dengan ibundanya, itu sebabnya, aku sering mengingatkan dirinya pada ibunda yang ada di kampung halaman, Situbondo. Secara si kakak ini sudah beberapa bulan di Jakarta dan belum bisa pulang. Kerinduannya pada ibunda bahkan sempat membuatnya menitikkan air mata. Mas Ridwan pernah mengirimi aku beberapa foto keluarganya, termasuk foto ibunya. Rindu masakan ibu, perhatian ibu dan sebagainya. Kalau main ke rumah mungkin mas Ridwan melihat bagaimana interaksiku dengan anak-anak, jadi membuatnya merindukan sang ibu.

"Mak, kalau liat emak, aku ingat ibuku." begitu kata Kakak.

Bagiku, sebuah persahabatan selalu ada nilainya. Ucapan itu membuatku merasa terharu, karena itu bermakna aku mempunyai arti buat sahabatku. Itu berarti si kakak menghormatiku seperti ibunya. Memang kelihatan banget dari beberapa kali pertemuan dengan si kakak, sikap dan candanya selalu sopan. Si Plegmatis Melankoli ini kalau ngobrol memang lebih tertata dan dipikirkan.

Dengan Tole, ada curhatan tersendiri. Tentang apa? Ada deeh... Tole ini sepertinya memang anak yang kolokan kalau sama ibunya. Maka dengan Mak ini juga begitu. Atau lebih tepatnya, kesannya begitu. Lucu, juga bisa bijak, tapi kadang menyebalkan. Entah sudah berapa "panci" yang aku "lempar" ke Tole. Hahaha... Sampai kebal kali saking seringnya adegan "balang panci". Tapi Mak tau kok Le. Asline Tole nggak gitu. Si Sanguin ini memang selalu membuat ramai suasana dan tentunya lebih bawel dari pada Kakak.

"Aku nggak mungkin bersikap seperti ini kalau tidak dengan orang-orang yang aku rasa cocok. Kalau aku bisa seperti ini, itu artinya aku nyaman dan cocok sama Mak dan Kakak." Gitu kan yo Le yang pernah Tole ucapkan.

blog emak juga rame dengan komen mereka

Mereka berdua punya kesukaan makanan yang berbeda. Kakak nggak suka kecap, sukanya oseng-oseng atau balado. Sedangkan Tole yang diributin semur telor terus. Kalau mereka berdua ke rumah, jadi boros bumbu deh. Masak semur telor buat Tole, masak oseng terong atau balado buat Kakak. Tapi biarlah. Mak dengan senang hati memasaknya buat dua bujangan ini. Biar ada kenangannya makan masakan Mak. Enak atau enggak urusan belakangan. Tapi ada perhatian di balik masakan itu. Cieeeee....


Semur telor buat Tole dan balado cumi buat Kakak

Mas Ridwan, Mas Taufik... Makasih buat persahabatannya. Mak amat menghargainya. Semoga kalian berdua segera mencapai segala apa yang kalian harapkan dan cita-citakan. Ada kisah yang ingin dirangkai, ada cita-cita yang ingin diraih, ada kerinduan yang ingin diluapkan. Semoga semua itu mendapat ridho dari Alloh. Maaf ya kalau dalam bersenda gurau ada salah khilaf yang Mak perbuat. Barkalloh, Kakak, Tole.







Read more »»  

Sabtu, 12 Oktober 2013

Menjaga Kehormatan Diri

Bismillahirrahmannirrahiim,

Akhir-akhir ini, banyak sekali kita dengar kasus-kasus pelecehan harga diri, terutama terjadi kepada kaum perempuan. Miris rasanya kalau melihat kenyataan itu. Pelecehan terhadap kaum perempuan bisa terjadi di mana saja. Mulai dari yang sekedar pelecehan melalui kata-kata sampai dengan yang amat menyakitkan dan menimbulkan trauma yang dalam yaitu perkosaan. Banyak kasus terjadi di angkutan umum, di kantor, di sekolah, juga di dunia maya seperti facebook.


Islam sebenarnya sudah amat menjaga kehormatan wanita. Kewajiban mengenakan hijab salah satunya adalah untuk melindungi perempuan dari hal-hal yang bisa mengakibatkan pelecehan terhadapnya. Ketetapan-ketetapan Alloh bagi kaum perempuan, misalnya: Sebaik-baik tempat perempuan adalah di rumah, juga untuk melindungi martabat perempuan, bukan untuk mengekangnya. Islam memang tidak melarang perempuan bekerja, contohnya Khadijah, istri Rasul yang kita ketahui adalah seorang wirausaha yang handal dan mampu menjaga harga dirinya sebagai perempuan yang terhormat.

Jadi meskipun seorang perempuan bekerja di luar rumah, dia tetap harus bisa menjaga diri dan nama baik keluarganya. Bagaimana agar tidak terjadi pelecehan terhadap dirinya, haruslah dimulai dari sikap dan perilaku perempuan itu sendiri, dimulai dari caranya berpakaian.

Lantas bagaimana dengan pelecehan terhadap wanita di dunia maya? 

Banyak sekali kalimat-kalimat tak pantas bertebaran di dunia maya, yang ditujukan untuk merayu, iseng, menggoda, bercanda, dan berbagai dalih lainnya. Intinya sama. Melecehkan. Banyak masalah rumah tangga yang kemudian bermunculan karenanya. Karena kemudian banyak juga terjadi, seperti gayung bersambut. Rayuan yang semula iseng itu ditanggapi oleh si perempuan. Banyak perempuan yang tidak mampu menjaga dirinya dari godaan-godaan seperti itu. Terseret pada sebuah permainan maya yang mengakibatkan kehancuran di kehidupan nyatanya.

Sebagai perempuan, kita memang harus bisa mempunyai batasan dalam bergaul baik di dunia nyata atau dunia maya. Sikap tegas sampai di mana kita mau bersenda gurau dan berhubungan. Kadang memang sering mudah lepas kontrol karena tidak langsung berhadapan dengan orangnya. Mudah sekali sekedar menggerakkan jari menyusunkan kalimat demi kalimat yang bila dicermati ternyata menimbulkan makna yang tak pantas. Jari kita ibarat bibir yang bertutur. Maka hati-hatilah dalam menekan huruf-huruf. Salah-salah bisa fatal akibatnya.

Kepada kaum laki-laki, pun sama. Sudah seharusnya mampu menjaga kehormatan diri dan keluarganya dengan tidak lepas kontrol dalam hubungan pertemanan. Lebih menghormati dan menghargai pertemanan dengan membatasi senda gurau menggunakan kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan kepada seorang perempuan, apalagi bila kedua belah pihak sudah mempunyai pasangan. Bisa menimbulkan sakit hati suami si perempuan karena merasa dirinya diremehkan dengan kalimat-kalimat pelecehan terhadap istrinya.

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian di hari Kiamat dengan ungkapan yang jelas, yang akan membuka semua rahasia kita.
Allah berfirman: “ Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” QS An-Nur ayat 24
Lantas bagaimana sebaiknya sikap kaum perempuan bila menghadapi laki-laki yang bersikap tidak pantas pada dirinya? Sampaikanlah keberatan atas sikapnya itu padamu. Jaga sikapmu agar dia mengerti bahwa dirimu tak ingin diperlakukan demikian. Membatasi sebuah pertemanan antara laki-laki dan perempuan adalah penting agar tidak terjadi salah paham atau bahkan pelecehan. Kita harus bisa menjaga kehormatan diri kita dan keluarga.

Dalam pertemanan di dunia maya, kita harus berhati-hati dalam menuliskan, bahkan sekedar sebuah kalimat. Sebab sebuah kalimat itu bisa menjadi masalah besar manakala menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Atau juga sebuah kalimat itu akan menimbulkan persepsi yang salah kepada diri kita. Karena pada dasarnya orang tak tahu bagaimana keseharian kita. Mereka hanya sekedar membaca apa yang kita tuliskan. Maka mulailah dari diri sendiri untuk menjaga lisan kita sebagaimana hadist berikut.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)




Read more »»  

Jumat, 20 September 2013

Dua Gadisku Yang Lain

Bismillahirrahmannirrahiim,

Aku tengah merasakan luar biasanya Allah mengatur sebuah pertemuan. Sebuah jalinan manis persahabatan bahkan kemudian menjadi terasa seperti sebuah keluarga, mengukir manis hari-hariku kini. Sungguh tak disangka. Dari kejauhan ada dua gadis yang menghormati dan menganggapku sebagai ibu mereka. Terharu, tentu saja. Bahagia, apalagi. Lucu, sudah menjadi hiburanku. Tangis, mewarnai ikatan kami. Nasehat, bagai pelukan yang menenangkan. Kini... sapaan mereka, adalah bagian dari hari-hariku.

Gadis pertama yang aku maksud adalah Harumi Putri Chayani atau nama facebooknya Harumi Si Bungsu. Anak-anak Blog Of Friendship pasti banyak yang mengenalnya. Rumi termasuk sering mengikuti acara kopdar Bloof, bahkan terakhir naik gunung Burangrang juga ikut. Rumi tinggal di Cileduk, Tangerang.

Aku mulai dekat dengannya ketika aku memakai jasa Harumi Tour ketika rekreasi ke Pulau Tidung beberapa waktu lalu. Komunikasi kami kemudian terhubung melalui BB. Dari status-status BB Rumi aku akhirnya mengetahui kalau anak ini begitu ulet dalam berusaha. Sering sekali menawarkan paket-paket wisata, bahkan paket pernikahan, menerima pesanan mug, pin, gantungan kunci, karikatur, spanduk, bahkan jualan tanah juga. "Lu minta gua ada" deh pokoknya.

Rumi juga mensponsori Give Away Menyemai Cinta yang aku selenggarakan sebelum Ramadhan lalu. Kami memang cukup dekat, tapi Rumi belum terbuka dengan kehidupannya. Belakangan aku tahu, kalau Rumi adalah Yatim Piatu. Ibunya meninggal seminggu setelah melahirkan Rumi, dan ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu. Tapi sejak SMK Rumi sudah kost sendiri. Jadi giatnya dia usaha adalah untuk membiayai sendiri kuliah D3nya. Luar biasa semangat dan perjuangan Rumi. Dia kost sendiri di bilangan Cileduk, membiayai hidup dan kuliahnya sendiri.

Gadis kedua adalah Tengku Sazidah Rani. Aku sudah pernah menulis tentang Rani di blog ini. Gadis yang tinggal di Bangka Belitung ini mulai akrab denganku karena dia membeli bukuku Rembulan Cinta Seorang Bunda. Padahal kami belum pernah mengenal sebelumnya. Rani tiba-tiba menghubungi WA ku dan memesan bukuku. Cerita tentang Rani bisa dibaca di tulisanku Antara Jakarta dan Bangka Belitung.

Setelah membaca RSCB, Rani merasa dekat denganku dan merasa cocok dengan tulisan-tulisanku di buku itu. Kami jadi makin sering menyapa dan bercanda. Tiap hari Rani seperti tak tenang bila belum menyapaku. Rani lebih terbuka. Dia begitu percaya menceritakan permasalahan hidupnya, dari yang sedih maupun yang bahagia. Foto-foto tiap hari dia kirim membuatku makin mengenal sosoknya. Seperti yang sudah aku tulis, orang tua Rani tinggal di Medan. Di Bangka Rani kost tapi kemudian sudah seperti anak bagi keluarga yang ditinggalinya.

Kopdar denag Rani di Food Court Tanah Abang Blok A

Tak kusangka, ada benang merah antara Harumi dan Rani. Mereka ternyata sudah bersahabat sejak tahun 2009. Subhanallah. Aku kenal mereka secara terpisah dan ternyata mereka berdua adalah sahabat karib. Amat dekat malah. Rumi sudah menganggap Rani seperti kakaknya. Rumi yang yatim piatu menganggap Rani adalah seorang kakak yang amat memperhatikan dan sayang padanya. Bukankah ini sebuah kebetulan yang indah. Allah Maha Tahu saat yang tepat untuk kami saling berdekatan dari hati ke hati. Keberadaanku diantara mereka memang lebih secara maya, namun hati kami merasakannya sebagai sebuah kenyataan. Aku makin menyayangi mereka berdua dari hari ke hari.


Kedekatan Harumi dan Rani 

Setelah mereka berdua menyadari bahwa masing-masing mereka mengenalku cukup dekat, mulai deh asyik dan serunya hubungan kami. Makin banyak kisah yang kami bertiga bagi. Kami bisa bercanda macam-macam dan mereka berdua makin terbuka akan pribadi mereka padaku. Aku menjadi seperti bunda mereka. Aku juga takjub pada cara Allah menjalinkan hati mereka layaknya saudara saja. Kadang geli juga rasanya, saat kakak 'menyebalkan' adik, adik curhat. Saat adik tak mau mendengarkan kakak, kakak cerita. Ujung-ujungnya mereka akan bilang,

"Bunda, Kak Rani susah dibilangin, tolong nasehatin tuh." Atau

"Bunda, tolong hibur Rumi, dia sedang sedih."

Apalagi sejak Harumi berkunjung ke tempat Rani di Bangka Belitung. Mereka berdua seperti berat berpisah. Di Bangka Rumi seperti menemukan keluarga baru. Dia diterima amat baik oleh Rani dan keluarga angkatnya. Sesuatu yang amat Rumi dambakan dalam hidupnya selama ini. Perhatian dan kasih sayang orang tua dan saudara. Bunda Niken ini jadi sibuk menenangkan kesedihan keduanya. Berada di tengah mereka benar-benar sebuah keindahan. Aku amat merasakan rasa hormat dan sayang mereka padaku.

Kunjungan Harumi ke Bangka Belitung

Lantas, apakah aku tak boleh merasa bangga saat Rumi bbm aku," Nama Bunda ada di Tugas Akhirku. Nama kak Rani juga."

Lebih lanjut Rumi mengatakan,"Bunda datang ya di acara wisudaku bulan Nopember nanti."

Huuaaaaaa..... Leleh sekali hatiku. Dalam hati bertanya-tanya,"Seberapa dalamkah aku bagi mereka, sampai Rumi menuliskan namaku di TAnya dan memintaku untuk hadir di acara wisudanya?" Padahal ketika Rumi mengatakan itu, dia belum pernah bertemu denganku sama sekali.

Aku baru bertemu dengan Rumi hari Kamis lalu (19 September). Kebetulan ada rekan blogger lain asal Cilegon, Mas Topics, yang hendak mampir ke rumah karena sedang dinas di Jakarta. Aku meminta Rumi bergabung supaya lebih ramai. Dari pertemuan itu, aku melihat Rumi lebih pendiam dari pada Rani. Tapi memang kelihatan kalau Rumi gadis yang kuat mentalnya.

Kopdar dengan mas Topics dan Harumi


Pelukan bunda buat Harumi yang membuat Rani mupeng.

Sementara Rani selalu tak henti memintaku untuk main ke Bangka dengan janji dia akan menjamin aku dan keluarga selama ada di Bangka, dan Rani mengatakan hal ini lebih dari sekali. Kesannya malah Rani mau bantu bunda supaya bisa rekreasi ke Bangka. ^_^


Duuuh, anak-anakku... Apalah bunda ini sampai kalian berdua menghargai bunda sedemikian rupa. Rasanya bunda hanya memberikan sedikit saja perhatian bunda pada kalian. Tapi kalian begitu luar biasa meletakkan bunda pada tempat yang kalian hormati. Trima kasih ya, anak-anakku.

Rani 23 tahun, Rumi 20 tahun. Mereka berdua akan menjadi kakak bagi Luthfan, Astri, Hilman, Fanni dan Kayla. Luar biasa bukan jalinan yang diberikan oleh Allah pada kami. Beberapa bulan lalu kami tak saling kenal, tapi sekarang, aku bunda bagi 5 anak kandungku dan bagi Rani juga Rumi.

Alhamdulillahirrabil Alamiin.







Read more »»  

Senin, 16 September 2013

Kopdar, Bisnis dan Saya Orang Kaya

Bismillahirrahmannirrahiim,

Aku mengenal blogger manis ini sebetulnya sudah cukup lama. Tapi awalnya hanya sebatas kenal biasa. Tahu kalau dia punya bisnis Little O Store yang sering menjadi sponsor beberapa Give Away atau kontes. Kami makin intens berhubungan setelah Triana Advertiyha Astary atau yang akrab dipanggil Iyha memintaku membuat endorsment untuk buku perdananya: Saya Orang Kaya. Apalagi kemudian Iyha memesan katering harian kepadaku. Asyik ya... Dari obrolan ringan akhirnya jadi berbisnis. Alhamdulillah.

Katering aku antarkan sendiri sekalian kopdar.  Setelah selesai masak, menikmati me time sambil minum kopi, menjemput Fanni sekolah, barulah aku meluncur ke rumah Iyha. Alamatnya tak sulit dicari sebab aku cukup mengenal daerahnya. Dan seperti layaknya sebuah kopdar, selalu seru dengan kisah-kisah dan sensasi tersendiri. Bisa ketemu dengan Little Osar dan mas Nakho, suami Iyha.

Tambah asyik lagi waktu Iyha memberikan buku perdananya untukku. Sebagai pengisi endors, aku berhak dapat gratisan, katanya. Mumpung ketemu dengan penulisnya, tentu saja sekalian minta tanda tangannya. Inilah buku Saya Orang Kaya karya Triana Advertiyha Astary itu:

Pengarang, buku dan penggemar
Jumpa fans nih Iyha... 


Sedikit goresan buat buku Iyha 


Tanda tangan dari sang penulis 


Dapat 30 Vitamin
bisa sehat dan kuat nih...

Membaca buku ini tak ingin berhenti dari awal hingga akhir. Penasaran dengan vitamin motivasi yang disuguhkan. Iyha begitu jeli mengamati hal-hal di sekitar dan kemudian mengemasnya menjadi sebuah perenungan yang dalam, namun tidak rumit. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Buku Saya Orang Kaya ini, mengajak kita untuk lebih mengamati apa yang ada pada diri sendiri agar lebih mensyukuri sekecil apapun pemberian Allah, hingga kita bisa menjadi merasa begitu kaya. Kaya makna.

Buku ini terdiri dari empat bab: Inspirasi Di Sana-Sini, Bahasa Kaya Makna, Blogivasi (Blogging Melahirkan Motivasi) dan Kompetivasi (Kompetisi Melahirkan Motivasi). Sebagaimana judul bukunya, ada 30 judul tulisan motivasi yang terkelompok dengan apik pada tiap-tiap babnya.

Aku tak menyangka bahkan sekedar letak huruf Y dan U yang bersebelahan di keyboard bisa diamati Iyha dan menemukan sebuah kekurangtelitian yang bisa berakibat fatal (halaman 53). Penasaran dengan judul Mahar Cinta Cukup Satu Juta (halaman 58), dan setelah aku baca ternyata Iyha 'bohong'. Maharnya bernilai lebih dari itu, bahkan bisa menjadi berjuta-juta kebahagiaan. Pada tulisan yang berjudul Pelajaran Hidup Lewat Dangdut (halaman 27), Iyha memotivasi pembaca agar jangan pernah menyerah. Lagi-lagi sebuah kejelian cara berpikir yang bisa selalu mengambil hikmah dari apa yang dilihatnya.

Buat yang sedang merasa butuh penyemangat diri, buku ini sangat cocok dimiliki. Hubungi saja Iyha dengan berkunjung ke blognya Keajaiban Senyuman.

Dari kopdar ini, Iyha tak hanya memberikan bukunya tapi juga sebuah souvenir berupa tempat makan untuk Fanni, anakku. Asyik kan...? Bisnis dapat, buku dapat, masih ditambah dengan oleh-oleh buat anakku. Aiih.. Iyha baik banget deh. Semoga bukunya laris manis, dan Little O Storenya makin sukses.

Kirain cuma 1 tempat makan 


ternyata keluarga berencana ^_^

Pukul 12 aku pamit karena harus menjemput Hilman pulang sekolah. Sepanjang perjalanan aku berdoa agar apa yang kami jalin membawa keberkahan bagi kami berdua dan keluarga. Aamiin Ya Rabb.




Read more »»  

Jumat, 16 Agustus 2013

Antara Jakarta dan Bangka Belitung

Bismillahirrahmannirrahiim,

Membaca tulisan Tengku Sazidah Rani yang berjudul Semua Tentang Bunda...  membuatku ingin menuliskan juga kesanku terhadap gadis manis yang tiap hari menemaniku dengan canda dan cerita-ceritanya. Seperti yang diceritakan Rani dalam tulisan itu, kami akrab dimulai setelah Rani memesan buku Rembulan Cinta Seorang Bunda. Beberapa tulisan di buku itu menyentuh perasaannya. Berlanjut dengan komunikasi melalui Watshap dan telepon.

Kopdar singkat di food court Tanah Abang blok A yang singkat, membuat jalinan persahabatan kami makin erat. Rani makin tidak sungkan curhat padaku. Sedikit demi sedikit dia makin terbuka dengan kesehariannya. Kadang ceritanya sedih sekali, membuatku bingung dan rasanya pengen ada di sampingnya. Yang bisa aku lakukan adalah bersimpati pada kesedihannya. Membesarkan hatinya. Kadang ceritanya meletup-letup bahagia membuatku ikut merasakan keceriaan hatinya. Tentu saja aku ikut tertawa atas kebahagiaan yang dia rasakan.

Dari semua ceritanya, aku menyimpulkan kalau Rani ini anak yang berbakti pada orang tua dan sayang pada saudara-saudaranya. Rani belum menikah, orang tuanya di Medan, dan dia merantau di Bangka Belitung sudah lebih dari 3 tahun. Tanggung jawabnya pada orang tua, adik dan saudara-saudaranya di Medan dia buktikan dengan selalu mengirimkan sebagian penghasilannya. Banyak sekali yang sudah dia ceritakan, seakan-akan aku mengenal dekat dengan keluarganya.

Beberapa kali Rani telepon kalau merasa apa yang dia ingin ceritakan terlalu panjang bila diketik. Jempol bisa keriting, katanya. Awalnya Rani sering bercerita serius bila sedang ada masalah, tapi kini dia bisa lebih ringan dalam bercerita, sekalipun sedih, kalimatnya sudah berbeda. Perempuan mandiri seperti Rani, memang kuat dengan semua keadaan. Hebat. Bunda salut deh.

Rani ini memang mampu membuat hari-hariku jadi lebih berwarna. Disamping keseharian bersama anak-anakku, rasanya makin lengkap deh ditambah candaan dan obrolan jarak jauh dengan Rani. Anak manis ini hobi banget mengirim foto-foto yang apa saja yang sedang dia kerjkan atau sekedar ingin membuatku "panas". Sepertinya berhasil deh. Promosinya tentang pulau Bangka membuatku membicarakan hal ini kepada suamiku. "Nabung dulu deh." begitu kata suami menanggapi ceritaku.





 

Lihat deh tuh lirikan mata Rani yang sengaja dia persembahkan buatku. Menggoda sekali ya. Bisa makan di tepi pantai seperti itu memang betul-betul membuat mupeng deh. Rani suksesssss membuatku menggaruk-garuk tembok. qiqiqi....

Kali lain, Rani cerita kalau di Bangka ada taman namanya Bangka Botanical Garden. Disana kita bisa memetik sayuran, buah Naga, memerah susu sapi, dan lain-lain. Dan Rani bilang, bisa mengusahakan gratis kalau keluargaku berkunjung ke sana. Wuiihhh... modus lain dari Rani supaya kami main ke tempatnya. Tahu aja dia kesukaan bundanya ini. Pantai dan perkebunan memang menyentuh hati sekali. (pasti deh sedang senyum-senyum Rani baca ini).






Sebetulnya banyak sekali foto-foto yang Rani kirimkan. Maaf ya Rani, sebagian bunda hapus dari hape bunda. Memorinya sampai full soalnya. Hadeuuuuhh...! Sebetulnya nyesel juga sih menghapus. Harusnya bunda pindahin aja ke netbook atau komputer ya. Maaf ya say. Lain kali bunda pindahin aja deh dari hape ke tempat yang lebih aman.

Usaha lain dari Rani dalam menggoda bunda adalah dengan mengirimkan foto makanan yang sedang dia nikmati. Rani ini rejekinya mengalir kalau soal makanan. Ada aja yang berbaik hati mengirimkan atau mentraktirnya. Di bawah ini adalah sebagian foto makanan yang dia kirimkan.



Menjelang lebaran kemaren, dengan bangganya Rani menunjukkan pakaian lebarannya. Subhanallah. cantik banget. Ini percakapan dan foto Rani dengan pakaian lebarannya.




Beneran loh Rani, bunda mendoakan supaya Rani terus memakai hijab. Supaya lebih berkah segala ibadah dan kebaikan Rani. Selain itu, Rani memang lebih manis waktu memakai hijab.

Terima kasih ya Rani, buat semua perhatian dan persahabatannya. Bunda amat menghargainya. Semoga Allah meridhoi persahabatan kita, dan mengeratkannya dalam rasa kekeluargaan yang indah. Love you, Rani.





Read more »»  

Selasa, 11 Juni 2013

Kesucian Persahabatan

ambil image dari Media Apresia

Entah apa yang menggerakkanku kemari
Di heningnya ruang tak bersekat dan tak beratap
Hanya dedaunan dan bunga-bunga menari ditaman mungil
Mereka bersenandung menyambutku tanpa curiga

Sapaan lembut menyejukkan hati
Begitu teduh terasa di kalbu
Rangkaian kata untaikan keakraban maya
Namun tertapak kuat pada langkah hari

Aku terpana...!
Ketika guratan pelangi membiaskan cahaya
Berbagai warna terangkum dalam cerita
Ada warna suka dan duka berbalut makna
Aku tahu kau adalah lentera dikala senja

Bagiku, dirimu adalah kepintaran yang aku kenal
Darimu aku belajar akan sebuah penghargaan
Aku simak kesantunan yang kau ciptakan
Kupetik makna dari jalinan benang persahabatan

Tanpa kata kau bercerita
Tanpa suara kau senandungkan nada
Tak tampak mata tapi kau nyata
Karena persahabatan tak dibatasi logika

Satu dua kesalahan adalah pemanis sebuah pertalian
Menyelamkan kita ke dalam sebuah pemahaman
Akan ketulusan yang menari pada indahnya taman
Terjalin kuat mengokohkan perjalanan

Laguku kian merdu mengumandang
Ceritaku makin mengalir selancar jernihnya air
Warna-warni hiasi kisah sepanjang hari
Mengingatkan pada anugrah Illahi

Bagimu dan bagiku persahabatan adalah kesucian 
Yang kian indah bila saling berbenah
Menjadi sehat bila saling bernasehat
Menjadi abadi bila didasari cinta pada Illahi

Read more »»  

Senin, 20 Mei 2013

Kaos Oblong Suamiku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Hari minggu kemaren, suami mengajakku bersilaturahmi ke rumah mantan atasannya. Namanya bapak M. Asep Ramadhan. Beliau keluar dari kantor karena ingin berubah haluan yang dirasanya lebih pas dengan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergabung dengan beberapa teman dalam bendera Learning Resources. Mengadakan pelatihan dan training motivasi untuk pegawai atau umum. Beliau "banting strir" meninggalkan jabatan yang nyaman di kantornya, menjadi seorang motivator.

Gambar dari sini

Sewaktu masih menjadi atasan suamiku, aku beberapa kali ketemu dengannya. Memang beliau begitu berkharisma, simpatik dalam bertutur kata dan bersikap. Pengetahuan agama Islamnya juga bagus. Bahkan waktu hari terakhirnya di kantor aku datang mengikuti acara perpisahan yang diadakan untuk beliau. Sederhana, tapi luar biasa berkesan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Aku yang mengenalnya sekilas saja bisa merasakan kalau kepergian pak Asep dari kantor itu akan membuat suasana kantor menjadi berbeda.

Sesampai di rumah pak Asep, rupanya beliau baru saja pulang dari rumah mertuanya yang sakit. Karena baru sampai jadi beliau perlu membersihkan badan dulu. Kami ditemani oleh anak bungsunya yang kelas 6 SD. Istri beliau masih di rumah orang tuanya. Kesan pertama bertamu adalah, pak Asep bisa mendidik anak kelas 6 SD itu untuk menemani tamu yang sedang menunggu ayahnya bersiap diri. Mengajak kami ngobrol, meski lebih tepat menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Tapi dia terlihat terbiasa melakukannya. Duduk tenang menemani kami. Tidak canggung kepada tamu yang baru pertama kali ditemuinya.

Setelah pak Asep menemui kami, obrolan langsung segar penuh canda. Suamiku terlihat senang sekali bertemu dengan mantan atasannya itu. Kami memberi kenangan buku Rembulan Cinta Seorang Bunda kepada beliau. Sebetulnya malu juga, melihat koleksi bacaan beliau di lemari buku yang ada di ruang tamu. Tapi beliau membuatku menjadi merasa bangga dengan buku itu. Cara beliau mengucapkan terima kasih, langsung membuka dan membaca daftar isi, lalu membalik-balik halaman buku, dan entah tanpa sadar atau disadari berhenti pada sebuah judul di keping keempat yaitu Menyambut Maut Dengan Ikhlas.

Judul itu kemudian menjadi bahan obrolan kami. Dalam hati aku berkata, caranya memberi kesan baik memang cerdas sekali. Beliau meninjau tema itu dari sisi umum dan keagamaan. Kami jadi seperti sedang berada di ruang seminar motivasi, lengkap dengan gaya bicara beliau yang ekspresif dan ceria. Membuat kami tergelak sambil mengambil inti sari yang beliau sampaikan. Bahkan waktu Fanni terlihat bosan dengan obrolan yang tidak dipahaminya, pak Asep bisa menarik perhatian Fanni. Hmmm... emang gitu kali ya pembawaan seorang motivator. Betul nggak sih pak motivator? :D

Berikutnya perbincangan berkembang pada sifat seseorang yang bisa global atau detail. Contoh orang global adalah, misalnya menerima sms dari orang yang mengatakan bahwa akan ada meeting. Orang global akan menerima saja berita itu tanpa ada pertanyaan, karena menganggap pada saatnya nanti dia merasa akan tahu apa yang harus dia lakukan. Namun orang detail, bisa langsung bertanya, siapa saja yang akan hadir, materinya apa, dan lain-lain. Pak Asepmemberi contoh lain tentang orang global, yaitu salah satu rekan kerja suami yang dulu juga bawahan beliau, yaitu ketika dia diminta memesan konsumsi untuk rapat kantor. Rekan kerja itu  hanya menelpon memesan makanan yang disepakati tanpa menanyakan harga sekarang. Dia pikir masih sama. Ternyata harga sudah berubah, sehingga anggaran dana untuk rapat itu menjadi kurang.

Tiba-tiba beliau berkata,"Mas Teguh ini orangnya global."

"Kok tahu pak?"

Pertanyaan tak perlu. Bukankah beliau mantan atasan suamiku. Ya jelas dia tahu cara berpikir suamiku dalam bekerja yang menunjukkan sifat dan karakter suami. Tapi karena beliau mengungkapkan dengan menarik dan penjelasan yang mengesankan, kami jadi merasa menemukan sesuatu yang baru. Siang itu suami memakai T Shirt dan pak Asep memakai kemeja, dan hal itupun menjadi bahan pembicaraan.

Gambar dari sini

"Itu bisa dilihat dari cara berpakaian juga lho. Mas Teguh suka memakai kaos oblong karena praktis, cepat. Biasanya orang yang bersifat global suka dengan hal yang praktis dan simple. Sedangkan orang yang detail biasanya suka memakai kemeja. Memasang kancing satu persatu dengan sabar. Saya orangnya detail, bahkan memakai sepatu saja saya suka yang pakai tali." pak Asep melanjutkan.

Kami tergelak mendengarnya. Pikiranku tertuju pada kebiasaan suami yang memang seperti dikatakan pak Asep. Suami orangnya memang tidak suka memakai kemeja, buatnya kaos oblong/Tshirt adalah pakaian favoritnya. Global? Dalam banyak hal memang iya. Tapi kalau dia sudah berniat untuk detail, dia akan detail sekali.

Tak masalah apa sifat dasarnya, karena sebagai orang global dia harus bisa detail dan sebaliknya sebagai orang detail dia juga perlu bisa global. Pak Asep kemudian menasehati suamiku:
"Kalau kamu mau maju, perdalam detailmu. Orang global sudah banyak. Bekerja hanya mengikuti apa yang sudah ada. Dengan menajamkan detail, akan muncul ide-ide yang membuat diri kita menjadi berbeda. Jadi menjadi detail itu bisa diasah oleh yang biasa global"
Suami hanya senyam senyum sambil angguk-angguk kepala. Entah apa yang ada di dalam hatinya. Entah karena setuju dan bertekad akan melakukannya, atau berpikir untuk menyukai memakai kemeja. Hahaha... Hanya dia yang tahu.

 Obrolan lain yang masih menyinggung bukuku adalah, ketika dia bertanya, tentang apa garis besar buku itu. Aku menjawab, pengalaman keseharian sebagai ibu, istri, anak, menantu. Dari jawabanku, sekali lagi ada nasehat untuk suami. Hihihi... kena terus deh dia. Tapi sesungguhnya bisa juga aku terapkan pada diriku sendiri.

"Nah, memang begitulah kehidupan kita. Peran kita para suami dalam keseharian, kita coba kelompokkan menjadi 5 peran. Sebagai ayah, suami, anak, karyawan/wirausaha/pencari nafkah, dan warga masyarakat. Coba deh masing-masing peran itu diberi skor 1 - 10. Tidak ada yang salah, hanya perlu tahu dimana skor kita dalam tiap peran. Kalau ada peran yang nilainya 9, lalu ada yang 6, maka kalau diibaratkan membuat bulatan, dia tidak akan bulat. Tidak bisa menggelinding sempurna. Seperti ada geronjalan-geronjalan. Kalau ada skor yang timpang, biasanya hidupnya gelisah. Disinilah orang baru menyadari kebutuhannya pada Sang Khalik. Padahal semua peran itu sudah menjadi ketetapanNya. Ikhlas dan sabar adalah kuncinya. Skor yang tidak seimbang tadi tidak akan membawa kegelisahan manakala kita menyadari bahwa kita menjalankan peran yang sudah dibuat oleh Allah," keterangan yang makin membuat aku dan suami manggut-manggut.

Pak Asep memang seorang yang detail. Amat terlihat dari pembawaannya. Saat kami berpamitan, pak Asep mengantar kami sampai ke luar pagar rumah, sambil membawa buku Rembulan Cinta Seorang Bunda (beliau kan bisa saja meninggalkannya di atas meja, lalu keluar mengantar kami). Dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah, buku itu diletakkan di depan dadanya seraya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Aku melihatnya sebagai detail yang ingin diperlihatkannya bahwa dia menghargai kedatangan kami.

Siang itu, dari silaturahmi kami, aku banyak mendapat hal positif. Tidak hanya yang aku ceritakan di atas. Namun masih banyak lagi. Hal-hal sederhana, namun menjadi tidak sederhana. Indahnya silaturahmi. Alhamdulillahirrobbil Alamiin.


Read more »»  

Senin, 13 Mei 2013

Sahabat Yang Allah Ciptakan Untukku

Bismillahirrahmannirrahiim,




Mana bisa aku tak menyebut namamu saat aku ditanya siapa sahabatku? Kita sudah melewati banyak kisah. Kadang kita jatuh bersama, namun tangan kita tetap saling menggenggam, hingga kita bisa saling menguatkan untuk kembali bangkit dari kejatuhan. Kita juga sering tergelak tawa saat merasa berhasil memperjuangkan sebuah jalan baru yang akan membawa kita pada keindahan.

Adalah dirimu, cantikku, yang begitu sabar dan mengerti menghadapi aku. Mungkin aku pernah menyinggung perasaanmu, tapi kau begitu bijaksana tetap menyunggingkan senyumanmu padaku. Membuatku menyudutkan diriku sendiri, malu, begitu ikhlas dirimu menerimaku. Dalam hati aku menguatkan kata, aku akan lebih halus dalam bertutur. Mungkin tak bisa selembut dirimu, namun akan kuperlihatkan dari sikapku.



Duduk melingkar bersamamu dalam beberapa masa ini, menjalinkan sebuah pemahaman baru akan makna kehidupan. Apa yang selama ini tak pernah terbayangkan oleh kita, menjadi sebuah kekuatan yang menakjubkan. Kita belajar. Kita mencerna. Kita memahami. Kita meyakini. Kita mengimani. Kadang dengan air mata berlinang, menyadari kesalahan demi kesalahan yang membuat kita menyia-nyiakan hidup. Kadang kita menertawakan diri kita sendiri atas kebodohan yang ada pada diri kita.

Bersyukur kita masih bisa ditunjukkan akan kedangkalan ilmu kita. Kita dibukakan kesempatan untuk memperbaiki keimanan kita. Entah berapa kali bibir kita berucap syukur yang sama akan jalan yang ditunjukkan Allah pada kita. Meski banyak yang memandang sebelah mata pada langkah kita, kau dan aku tetap bergenggaman tangan saling menguatkan.

Manisku, tetaplah di sampingku menapaki jalan yang Allah bukakan untuk kita. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang begitu tulus membagi ilmunya, mengisi kedangkalan yang ada pada kita. Segalanya mungkin bagi Allah. Hingga kita tak lagi terbata-bata dan meraba-raba. Semua menjadi jelas, kemana arahnya. Bukankah itu indah?

Tak perlu berpanjang-panjang kalimat untuk menyatakan makna persahabatan kita. Semua sudah terangkai dalam perjalanan panjang yang kita lalui bersama. Teruji oleh begitu banyak problema hidup. Kita tahu dimana batas yang harus kita campuri, mana yang tidak. Sepertinya kau yang mengajari aku akan hal ini. Aku begitu percaya bahwa ajakanmu adalah sebuah kebaikan. Berapa kali ya kau membawaku kepada sebuah momentum yang kemudian menjadi sebuah kekuatan. Bagiku, kau adalah sahabat yang Allah ciptakan untukku. Maka apa yang sudah Allah tetapkan, akan aku jaga sepenuh hati.

Ah... Aku menitikkan air mata. Bukan sebuah kesedihan, melainkan rasa syukur aku memilikimu. Aku tak pernah merasakan keindahan dalam bersahabat seperti denganmu. Sungguh Renati Utami, saat Allah kita sertakan dalam sebuah hubungan, ternyata tak ada yang mampu meruntuhkannya. Terima kasih untuk semua kasih sayangmu buatku dan keluargaku. Anna uhibbuki fillah.


“Tulisan ini diikut sertakan dalam GA “Siapa Sahabatmu?” pada blog senyumsyukurbahagia.blogspot.com, hidup bahagia dengan Senyum dan Syukur”




Read more »»  

Senin, 29 April 2013

Cintaku Kian Subur di Pulau Tidung

Bismillahirrahmannirrahiim,

Alhamdulillah, kemudahan diberikan oleh Allah saat aku dan suami berniat ingin mengajak anak-anak rekreasi sambil untuk refreshing Astri setelah selesai UN. Sebuah bbm dari Harumi Si Bungsu yang menawarkan paket wisata ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu menarik perhatianku dan suami. Apalagi setelah aku menawarkan paket wisata itu ke sahabatku, Renati Utami, ternyata Rena dan suaminya juga tertarik. Dengan ke pantai, bisa mengajak anak-anak untuk bertadabur alam juga. Maka setelah berkontak ria dengan Harumi, maka sepakat kami akan mengambil paket wisata itu pada tanggal 27-28 April.

Total rombongan kami ada 15 orang. 7 orang dari keluargaku, 4 orang dari keluarga Rena, dan 4 orang lagi adalah teman-teman SMP Luthfan dan Abiyu (putra pertama Rena). Jam 07.00 WIB kapal berangkat dari Muara Angke. Lama penyebrangan 2,5 jam. Lama juga ya. Alhamdulillah sampai Pulau Tidung jam 9.30 WIB. Langsung menuju home stay.

Di atas kapal antara Muara Angke - Pulau Tidung

Yang tidak aku sangka, ternyata Pulau Tidung cukup besar juga. Mungkin karena pernah kemping di Pulau Kayangan yang kecil, jadi tidak menyangka kalau di Tidung sudah ada sekolah dari tingkat SD, SMP, MTs, dan SMK. Tidak ada mobil di sana. Yang ada sepeda motor, sepeda, dan bentor (becak motor). Penduduk di sana cukup padat dan memanfaatkan pariwisata sebagai mata pencahariannya. Rumah-rumah di sana banyak sekali yang dijadikan home stay.

Setelah beristirahat, sholat dan makan siang, jam 13.00 WIB kami dipandu oleh pemandu wisata untuk snorkling ke arah Pulau Payung. Sepertinya memang ini acara yang paling dinanti oleh kami semua. Sepertinya biarlah foto-foto ini saja yang bicara.

 Bersiap naik ke kapal yang membawa ke Pulau Payung


 Luthfan dan Teman-temannya siap action


Suami tercinta dan Hilman 


 Segaaar...!


 Astri dan Fanni tak sabar sampai tujuan


 Apa yang kau tatap, suamiku? Kebesaran Illahi ada di hadapanmu.


 Aku suka di sampingmu, merasakan ke-Agungan Allah bersamamu.


Ya Rabb, indahnya dasar laut hanya sebagian kecil ciptaan-Mu 
Ibu jariku hanya mewakili ucapan Allahu Akbar dalam hati.



 Luthfan berhasil menyelam ke dasar laut


 Ayah tak mau ketinggalan menyelam


 Keindahan dasar laut membuat diri terasa kecil


 Fanni nggak ada takutnya


 Hilman, Ayah dan Fanni gandengan agak lebih ke tengah


 Genggaman tanganmu begitu erat seolah tak ingin melepaskanku, suamiku.


Luthfan suka sekali flip dari atas kapal

Dari Pulau Payung kami kembali ke Pulau Tidung untuk bermain water sport di Jembatan Cinta. Ada dua pilihan antara Banana Boat dan Sofa Boat/Donut Boat. Karena kami sudah pernah merasakan Banana Boat, jadi pilihan jatuh ke Sofa Boat. Rupanya harus mengantri dulu. Pengunjung cukup padat kalau weekend.

Menunggu antrian sofaboat/donutboat


Akhirnya tiba juga giliran kami


Kembali dengan wajah ceria, bisa berteriak lepas


Fanni lebih memilih main cetakan pasir

Sayangnya kami tak bisa menyaksikan sunset sebab sore itu agak mendung. Matahari tertutup awan. Tapi itu tak mengurangi rasa takjub kami pada pergantian sore kepada malam. Senja memang selalu indah, apalagi berada di lautan lepas. Dari Jembatan Cinta kami kembali ke home stay.

Acara selanjutnya setelah ishoma adalah barbeque. Sudah disiapkan dengan baik oleh pemandu wisatanya. Mulai dari ikan, bumbu, alat bakaran. Lengkap. Kami memilih barbeque di home stay saja. Menghemat tenaga untuk kegiatan esok hari. Letih juga badan seharian dengan aktifitas yang luar biasa itu.

Sayangnya waktu barbeque lupa mengambil foto. Ikan dan cumi bakar yang segar kami nikmati dengan lahap, padahal sudah dapat makan malam. Terutama Luthfan dan teman-temannya, semangat sekali menikmati hasil bakaran itu.

Tidur rasanya nyenyak sekali. Tahu-tahu sudah mendekati waktu subuh. Hujaaaan. Gagal deh hunting sun rise di jembatan cinta. Satu jadwal acara kami lewati. Tak apa. Allah sudah mengatur alam sedemikian rupa, kita tak mengetahui rahasiaNya.

Setelah sarapan, acara selanjutnya adalah menanam Mangrove atau bakau di tepi pantai. Paket wisata ini menyediakan sepeda sejumlah rombongan. Jadi anak-anak dan para suami naik sepeda menuju pantai tempat menanam mangrove. Sedangkan aku, Rena dan Fanni memilih naik bentor (becak montor) saja. Hehehe...

Cerita menanam mangrove akan aku buat terpisah saja. Karena aku merasa ada hal yang bisa kita petik pada kegiatan menanam mangrove ini. Setelah menanam mangrove, kami kembali bermain-main di tepi pantai sambil menikmati kelapa muda.

 Ana uhibbuki fillah, Renati Utami


 Minum kelapa muda di tepi pantai itu memang kenikmatan yang tak bisa kita dustakan.


 Astri terlihat segar setelah melepaskan penat belajar untuk UN.


 Ya Rabb, lindungilah persahabatan kami 
dan jagalah hati kami untuk saling mengingatkan dan menasehati


 Sampai sejauh mana tanganmu sanggup membawa rakit ini ke tengah laut?


 Kami ada di tempat ini atas ijin-Mu ya Rabb


 Istiqomahlah dengan hijab panjangmu, anakku


 Astri, ajak Fanni main yaaa...


 Ayun setinggi-tingginyaaaa...!


 Dorong aku, Ayah. Lempar aku...!


 Naik bentor [becak motor] dari home stay ke pantai

Pukul 10.30 WIB, kami sudah harus siap untuk menuju ke pelabuhan. Rekreasi sambil bertadabur alam selesai sudah. Perjalanan pulang agak kurang nyaman sebab ombak cukup besar mengombang-ambingkan kapal. Perut jadi terasa mual. Namun Alhamdulillah kapal berlabuh di  dermaga Muara Angke dengan selamat.

Tatapanmu nanar memandang pulau demi pulau yang kita lalui.
Kau titipkan keselamatan kami pada Allah sebagai sebaik-baik Penjaga.
Trimakasih sayang, untuk liburan dan tadabur alam yang mengesankan ini.




Read more »»