Frangipani Flower Lovely Little Garden
There is a lovely little garden in a corner of my heart, where happy dreams are gathered to nevermore depart

Jumat, 04 Oktober 2013

Tertera

Coba, uji selalu menghampiri
Bertahta dalam diri
Kadang mendatangkan nyeri
Akankah berdiam dan berpangku tangan?
Menangis sesegukan hingga hilang penalaran?
Bahkan mencaci maki penuh kemarahan?

Duhai diri yang merugi
Semakin celaka dan meranalah dikau
Kau lupa....
Dibalik itu semua
Ada hikmah kebaikan yang tak kau ketahui
Tak terjamah oleh indramu yang lemah....
Padahal Dia memberitahu semua
di dalam Kitab-Nya
LIHAT...!
Tidakkah semua TERTERA....



Read more »»  

Jumat, 27 September 2013

My Favourite Book

Bismillahirrahmannirrahiim,

Makin aku belajar.... rasanya bukan semakin aku merasa pintar. Malah justru makin merasa begitu dangkal. Begitu banyak yang aku belum ketahui. Begitu sedikit ilmu yang aku miliki. Jadi semakin sering beristighfar atas kesombonganku selama ini.

Alqur'an.... dulu entah ada dalam urutan keberapa dalam daftar buku favouriteku. Kalah dengan cerita-cerita fiksi yang berwujud novel, buku-buku motivasi, biografi, majalah, tabloid, dan lain-lain. Kalau sedang galau, aku akan mencari buku-buku yang bisa membangkitkan semangat, tak perduli siapa pengarangnya. Kalau membaca novel, aku sanggup melalap setebal ribuan halaman. Membaca majalah dan tabloid bisa rutin tiap edisi.


Tapi...

Semua itu tak aku imbangi dengan mempelajari kitab yang paling mulia, paling sempurna, paling bermakna, yaitu Alqur'an. Sehingga buku-buku motivasi itu rasanya hanya seperti teori dari para pakarnya, yang kalau aku tak bisa mempraktekkannya dalam kehidupanku, aku malah jadi stress. Misalnya aku membaca buku bagaimana membuat anak jadi mandiri, atau jadi nafsu makan. Banyak cara diungkapkan dalam buku. Tapi pada saat aku coba praktekkan ke anak-anakku, ternyata ngga mempan. Tips-tips yang dituliskan bagai hal yang amat sulit diwujudkan. Aku jadi tambah pusing, merasa jadi ibu yang tidak becus.

Pun dengan beberapa seminar motivasi yang pernah aku ikuti. Selama seminar berlangsung dan beberapa waktu sesudahnya, jiwa ragaku bagai disiram energi yang luar biasa.  Banyak rencana dan impian muluk aku rancang mengikuti sang motivator. Tapi hasilnya....? Semangat itu makin hari makin pudar. Bahkan akhirnya terlupakan.

Aku akui.... semua itu bukan tak ada pengaruhnya pada diriku. Terutama melatih bagaimana aku harus selalu berusaha untuk berfikir positif dan tidak pesimis menjalani kehidupan. Tapi sebelum aku mempelajari kandungan Alqur'an, pikiran positif itu bagai tanpa arah. Mau dibawa kemana....?

Terutama untuk mendidik anak-anakku. Sekuat upayaku menularkan pikiran positif ini ke anak-anakku, aku merasa sikap dan perilaku mereka begitu jauh dari harapan. Aku merasa sudah melakukan kebaikan, tapi kebaikan menurut ukuranku. Belum tentu sama dengan anggapan orang atau bahkan anak-anakku sendiri sepertinya tak yakin untuk mencontohku. Jadi mana bisa aku kecewa pada mereka kalau aku bukanlah contoh yang baik buat mereka. Dan makin hari hal ini makin mengganggu pikiranku, karena aku adalah ibu yang berpikiran bahwa, anak itu harus percaya pada orang tuanya. Kalau anak kita sendiri tak percaya pada kita, bagaimana orang lain bisa...?

Subhanallah.... Pada saat kondisi pikiran dan jiwaku makin membutuhkan pijakan, Allah memberiku jalan. Dalam diriku tumbuh keinginan kuat untuk membuka Alqur'an dengan lebih dalam. Dan kemudahan demi kemudahan yang diberikan Allah dalam prosesnya membuatku tak henti-henti bersyukur. Begitu tepat Allah akan janjinya, seperti dalam sebuah hadist:
... "Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku mendekatinya sedepa.  Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari."
Alhamdulillah... Aku mendapat guru-guru yang sabar dan mengerti isi Alqur'an juga hadist, mempunyai teman yang satu visi dan saling memahami. Sedikit demi sedikit pemahaman tentang Kitab Suci membuat banyak perubahan dalam jiwaku. Halaqah demi halaqah semakin menenangkan hatiku. Membuat pikiran-pikiran positifku menjadi mempunyai arah dan pijakan. Duduk melingkar belajar di rumahku atau rumah temanku lebih luar biasa dari pada seminar-seminar motivasi yang diadakan di tempat-tempat mewah sekalipun. 

Menularkan semua yang aku dapat kepada anak-anakpun menjadi lebih mudah dan terarah. Pijakannya jelas. Tak ada yang diragukan. Mereka juga yakin untuk mengikutinya. Menasehati mereka dengan menyebutkan dasar hukumnya dalam Alqur'an menjadi tak terbantahkan. Sedikit demi sedikit anak-anak mulai memperlihatkan perubahan ke arah kebaikan. Aku akui saat ini masih banyak yang harus dibenahi. Terutama dalam diriku. Amat banyak kesalahan dan kekuranganku. Kedangkalan ilmu bahkan juga keimanan yang masih sering naik turun membuatku ingin terus mempelajari Alqur'an. Dan makin dipelajari, makin dihayati, makin diyakini.... Alqur'an makin membuat takjub jiwa dan raga. Allahu Akbar.

Trimakasih ya Allah... Atas kesempatan yang Kau berikan ini. Jadikanlah ilmu yang hamba pelajari membawa manfaat bagi diri dan keluarga hamba. Berikan hamba umur yang cukup untuk memetik pelajaran dan manfaat dari kitab-Mu. Wahai Pemilik Kekuatan.....berikah hamba kekuatan untuk lebih menghargai sisa kehidupan yang akan hamba jalani, lebih mensyukuri setiap nikmat dariMu, sekecil apapun itu. Aamiin Ya Rabbalalamiin....

Alhamdulillah.... my favourite Book is Alqur'an. 







Read more »»  

Jumat, 20 September 2013

Dua Gadisku Yang Lain

Bismillahirrahmannirrahiim,

Aku tengah merasakan luar biasanya Allah mengatur sebuah pertemuan. Sebuah jalinan manis persahabatan bahkan kemudian menjadi terasa seperti sebuah keluarga, mengukir manis hari-hariku kini. Sungguh tak disangka. Dari kejauhan ada dua gadis yang menghormati dan menganggapku sebagai ibu mereka. Terharu, tentu saja. Bahagia, apalagi. Lucu, sudah menjadi hiburanku. Tangis, mewarnai ikatan kami. Nasehat, bagai pelukan yang menenangkan. Kini... sapaan mereka, adalah bagian dari hari-hariku.

Gadis pertama yang aku maksud adalah Harumi Putri Chayani atau nama facebooknya Harumi Si Bungsu. Anak-anak Blog Of Friendship pasti banyak yang mengenalnya. Rumi termasuk sering mengikuti acara kopdar Bloof, bahkan terakhir naik gunung Burangrang juga ikut. Rumi tinggal di Cileduk, Tangerang.

Aku mulai dekat dengannya ketika aku memakai jasa Harumi Tour ketika rekreasi ke Pulau Tidung beberapa waktu lalu. Komunikasi kami kemudian terhubung melalui BB. Dari status-status BB Rumi aku akhirnya mengetahui kalau anak ini begitu ulet dalam berusaha. Sering sekali menawarkan paket-paket wisata, bahkan paket pernikahan, menerima pesanan mug, pin, gantungan kunci, karikatur, spanduk, bahkan jualan tanah juga. "Lu minta gua ada" deh pokoknya.

Rumi juga mensponsori Give Away Menyemai Cinta yang aku selenggarakan sebelum Ramadhan lalu. Kami memang cukup dekat, tapi Rumi belum terbuka dengan kehidupannya. Belakangan aku tahu, kalau Rumi adalah Yatim Piatu. Ibunya meninggal seminggu setelah melahirkan Rumi, dan ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu. Tapi sejak SMK Rumi sudah kost sendiri. Jadi giatnya dia usaha adalah untuk membiayai sendiri kuliah D3nya. Luar biasa semangat dan perjuangan Rumi. Dia kost sendiri di bilangan Cileduk, membiayai hidup dan kuliahnya sendiri.

Gadis kedua adalah Tengku Sazidah Rani. Aku sudah pernah menulis tentang Rani di blog ini. Gadis yang tinggal di Bangka Belitung ini mulai akrab denganku karena dia membeli bukuku Rembulan Cinta Seorang Bunda. Padahal kami belum pernah mengenal sebelumnya. Rani tiba-tiba menghubungi WA ku dan memesan bukuku. Cerita tentang Rani bisa dibaca di tulisanku Antara Jakarta dan Bangka Belitung.

Setelah membaca RSCB, Rani merasa dekat denganku dan merasa cocok dengan tulisan-tulisanku di buku itu. Kami jadi makin sering menyapa dan bercanda. Tiap hari Rani seperti tak tenang bila belum menyapaku. Rani lebih terbuka. Dia begitu percaya menceritakan permasalahan hidupnya, dari yang sedih maupun yang bahagia. Foto-foto tiap hari dia kirim membuatku makin mengenal sosoknya. Seperti yang sudah aku tulis, orang tua Rani tinggal di Medan. Di Bangka Rani kost tapi kemudian sudah seperti anak bagi keluarga yang ditinggalinya.

Kopdar denag Rani di Food Court Tanah Abang Blok A

Tak kusangka, ada benang merah antara Harumi dan Rani. Mereka ternyata sudah bersahabat sejak tahun 2009. Subhanallah. Aku kenal mereka secara terpisah dan ternyata mereka berdua adalah sahabat karib. Amat dekat malah. Rumi sudah menganggap Rani seperti kakaknya. Rumi yang yatim piatu menganggap Rani adalah seorang kakak yang amat memperhatikan dan sayang padanya. Bukankah ini sebuah kebetulan yang indah. Allah Maha Tahu saat yang tepat untuk kami saling berdekatan dari hati ke hati. Keberadaanku diantara mereka memang lebih secara maya, namun hati kami merasakannya sebagai sebuah kenyataan. Aku makin menyayangi mereka berdua dari hari ke hari.


Kedekatan Harumi dan Rani 

Setelah mereka berdua menyadari bahwa masing-masing mereka mengenalku cukup dekat, mulai deh asyik dan serunya hubungan kami. Makin banyak kisah yang kami bertiga bagi. Kami bisa bercanda macam-macam dan mereka berdua makin terbuka akan pribadi mereka padaku. Aku menjadi seperti bunda mereka. Aku juga takjub pada cara Allah menjalinkan hati mereka layaknya saudara saja. Kadang geli juga rasanya, saat kakak 'menyebalkan' adik, adik curhat. Saat adik tak mau mendengarkan kakak, kakak cerita. Ujung-ujungnya mereka akan bilang,

"Bunda, Kak Rani susah dibilangin, tolong nasehatin tuh." Atau

"Bunda, tolong hibur Rumi, dia sedang sedih."

Apalagi sejak Harumi berkunjung ke tempat Rani di Bangka Belitung. Mereka berdua seperti berat berpisah. Di Bangka Rumi seperti menemukan keluarga baru. Dia diterima amat baik oleh Rani dan keluarga angkatnya. Sesuatu yang amat Rumi dambakan dalam hidupnya selama ini. Perhatian dan kasih sayang orang tua dan saudara. Bunda Niken ini jadi sibuk menenangkan kesedihan keduanya. Berada di tengah mereka benar-benar sebuah keindahan. Aku amat merasakan rasa hormat dan sayang mereka padaku.

Kunjungan Harumi ke Bangka Belitung

Lantas, apakah aku tak boleh merasa bangga saat Rumi bbm aku," Nama Bunda ada di Tugas Akhirku. Nama kak Rani juga."

Lebih lanjut Rumi mengatakan,"Bunda datang ya di acara wisudaku bulan Nopember nanti."

Huuaaaaaa..... Leleh sekali hatiku. Dalam hati bertanya-tanya,"Seberapa dalamkah aku bagi mereka, sampai Rumi menuliskan namaku di TAnya dan memintaku untuk hadir di acara wisudanya?" Padahal ketika Rumi mengatakan itu, dia belum pernah bertemu denganku sama sekali.

Aku baru bertemu dengan Rumi hari Kamis lalu (19 September). Kebetulan ada rekan blogger lain asal Cilegon, Mas Topics, yang hendak mampir ke rumah karena sedang dinas di Jakarta. Aku meminta Rumi bergabung supaya lebih ramai. Dari pertemuan itu, aku melihat Rumi lebih pendiam dari pada Rani. Tapi memang kelihatan kalau Rumi gadis yang kuat mentalnya.

Kopdar dengan mas Topics dan Harumi


Pelukan bunda buat Harumi yang membuat Rani mupeng.

Sementara Rani selalu tak henti memintaku untuk main ke Bangka dengan janji dia akan menjamin aku dan keluarga selama ada di Bangka, dan Rani mengatakan hal ini lebih dari sekali. Kesannya malah Rani mau bantu bunda supaya bisa rekreasi ke Bangka. ^_^


Duuuh, anak-anakku... Apalah bunda ini sampai kalian berdua menghargai bunda sedemikian rupa. Rasanya bunda hanya memberikan sedikit saja perhatian bunda pada kalian. Tapi kalian begitu luar biasa meletakkan bunda pada tempat yang kalian hormati. Trima kasih ya, anak-anakku.

Rani 23 tahun, Rumi 20 tahun. Mereka berdua akan menjadi kakak bagi Luthfan, Astri, Hilman, Fanni dan Kayla. Luar biasa bukan jalinan yang diberikan oleh Allah pada kami. Beberapa bulan lalu kami tak saling kenal, tapi sekarang, aku bunda bagi 5 anak kandungku dan bagi Rani juga Rumi.

Alhamdulillahirrabil Alamiin.







Read more »»  

Rabu, 18 September 2013

Kurang Apa Lagi?

Bismillahirrahmannirrahiim,


Kita mungkin pernah merasakan saat-saat keimanan kita turun. Banyak hal yang bisa mempengaruhinya. Tapi sebenarnya, keimanan itu turun tidak dengan tiba-tiba. Ada sebuah masa stagnan (diam) dalam keimanan kita. Masa itu adalah dimana kita merasa bahwa kita sudah merasa cukup dalam melakukan ibadah. Sudah melakukan sholat, puasa, zakat atau ibadah lainnya, kemudian kita merasa bahwa semua itu sudah cukup. Pada masa itulah kita stagnan dalam beribadah.

Atau ada keadaan lain, bukan karena kita sudah merasa cukup melakukan ibadah, namun justru kita merasa bahwa apa yang terdapat pada Alqur'an tidak mampu kita jalankan. Kita pesimis, merasa Alqur'an begitu tak terjangkau dalam melaksanakannya sebagai pedoman hidup kita. Pada saat itu kita kemudian menjadi stagnan dan keimanan kita menjadi turun.

Tentu saja hal ini tak boleh kita biarkan. Kita mempunyai standar dalam beribadah. Yaitu Rasulullah. Sudahkah kita menjalankan segala petunjuk Allah sebagaimana Rasul menjalankannya? Sudahkah kita menjadikan Rasul sebagai teladan kita? Kalau belum maka itu harus menjadi semangat kita untuk terus beribadah.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Asy Syarh 5-7)
Ayat tersebut melarang kita berada dalam posisi stagnan. Bila kita telah selesai dengan ibadah yang satu, maka tingkatkan dengan ibadah yang lain. Dan Allah sudah menjanjikan bahwa sesudah kesulitan akan datang kemudahan. Kita sering terlalu memperhatikan pola kerja dalam beribadah. Baca Qur'an sebanyak-banyaknya hingga khatam berkali-kali, segala puasa sunah dikerjakan, dzikir ribuan kali, meniru cara berpakaian Rasul, penampilan Rasul, dan sebagainya. Yang demikian bukanlah sebuah kesalahan, tapi manakala hanya melakukan kerja-kerja itu tanpa keimanan dan keyakinan, maka kemudian akan terasa berat dalam melaksanakannya. Sebaiknya kita lebih melihat kepada pola keimanan. Kuatkan terlebih dahulu di dalam kalbu kita keyakinan kita pada Islam, maka pola kerja akan mengikuti dan tidak akan terasa berat. Kita yakin bahwa ibadah-ibadah yang kita kerjakan adalah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat kita.

Alqur'an diturunkan kepada umat manusia bukan untuk mempersulit namun justru sebagai petunjuk kepada kebenaran. Didalamnya sudah begitu terang penjelasan-penjelasan atas segala sesuatu (tibyaanan likulli sya'in) bagaimana menjalankan kehidupan. Segala pokok-pokok kehidupan telah diatur dalam Alqur'an. Kitab Suci ini juga merupakan rahmat dan merupakan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (wabusyra).

Sebagai mana telah disebutkan dalam firman Allah pada surat An Nahl ayat 89:
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Rasa pesimis tidak dapat menjalankan apa yang ada di dalam Alqur'an adalah karena tidak yakin pada Alqur'an itu sendiri. Merasa Alqur'an tidak bisa menjawab persoalan-persoalan hidup mereka, sehingga merasa perlu untuk meyakini apa-apa yang tidak diatur dalam Alqur'an. Padahal, kurang apa lagi Alloh mengatur segala sesuatunya di dalam Alqur'an? Kurang bagaimana lagi? Contohnya adalah mengenai busana muslimah. Kaum wanita masih banyak yang mempermasalahkannya bahkan mengatakan bahwa busana muslimah hanya membatasi ruang gerak wanita. Pada saat terjadi gesekan di masyarakat, orang kemudian ribut membuat undang-undang antipornografi. Padahal Alqur'an secara jelas sudah mengatur mengenai busana untuk muslimah yang tujuannya bukan sebagai pembatas ruang gerak, namun justru untuk lebih menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita sendiri.

Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 51
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Keimanan memang abstrak, tapi pada saat diuji, dia menjadi tampak atau kongkrit. 








Read more »»  

Senin, 16 September 2013

Kopdar, Bisnis dan Saya Orang Kaya

Bismillahirrahmannirrahiim,

Aku mengenal blogger manis ini sebetulnya sudah cukup lama. Tapi awalnya hanya sebatas kenal biasa. Tahu kalau dia punya bisnis Little O Store yang sering menjadi sponsor beberapa Give Away atau kontes. Kami makin intens berhubungan setelah Triana Advertiyha Astary atau yang akrab dipanggil Iyha memintaku membuat endorsment untuk buku perdananya: Saya Orang Kaya. Apalagi kemudian Iyha memesan katering harian kepadaku. Asyik ya... Dari obrolan ringan akhirnya jadi berbisnis. Alhamdulillah.

Katering aku antarkan sendiri sekalian kopdar.  Setelah selesai masak, menikmati me time sambil minum kopi, menjemput Fanni sekolah, barulah aku meluncur ke rumah Iyha. Alamatnya tak sulit dicari sebab aku cukup mengenal daerahnya. Dan seperti layaknya sebuah kopdar, selalu seru dengan kisah-kisah dan sensasi tersendiri. Bisa ketemu dengan Little Osar dan mas Nakho, suami Iyha.

Tambah asyik lagi waktu Iyha memberikan buku perdananya untukku. Sebagai pengisi endors, aku berhak dapat gratisan, katanya. Mumpung ketemu dengan penulisnya, tentu saja sekalian minta tanda tangannya. Inilah buku Saya Orang Kaya karya Triana Advertiyha Astary itu:

Pengarang, buku dan penggemar
Jumpa fans nih Iyha... 


Sedikit goresan buat buku Iyha 


Tanda tangan dari sang penulis 


Dapat 30 Vitamin
bisa sehat dan kuat nih...

Membaca buku ini tak ingin berhenti dari awal hingga akhir. Penasaran dengan vitamin motivasi yang disuguhkan. Iyha begitu jeli mengamati hal-hal di sekitar dan kemudian mengemasnya menjadi sebuah perenungan yang dalam, namun tidak rumit. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Buku Saya Orang Kaya ini, mengajak kita untuk lebih mengamati apa yang ada pada diri sendiri agar lebih mensyukuri sekecil apapun pemberian Allah, hingga kita bisa menjadi merasa begitu kaya. Kaya makna.

Buku ini terdiri dari empat bab: Inspirasi Di Sana-Sini, Bahasa Kaya Makna, Blogivasi (Blogging Melahirkan Motivasi) dan Kompetivasi (Kompetisi Melahirkan Motivasi). Sebagaimana judul bukunya, ada 30 judul tulisan motivasi yang terkelompok dengan apik pada tiap-tiap babnya.

Aku tak menyangka bahkan sekedar letak huruf Y dan U yang bersebelahan di keyboard bisa diamati Iyha dan menemukan sebuah kekurangtelitian yang bisa berakibat fatal (halaman 53). Penasaran dengan judul Mahar Cinta Cukup Satu Juta (halaman 58), dan setelah aku baca ternyata Iyha 'bohong'. Maharnya bernilai lebih dari itu, bahkan bisa menjadi berjuta-juta kebahagiaan. Pada tulisan yang berjudul Pelajaran Hidup Lewat Dangdut (halaman 27), Iyha memotivasi pembaca agar jangan pernah menyerah. Lagi-lagi sebuah kejelian cara berpikir yang bisa selalu mengambil hikmah dari apa yang dilihatnya.

Buat yang sedang merasa butuh penyemangat diri, buku ini sangat cocok dimiliki. Hubungi saja Iyha dengan berkunjung ke blognya Keajaiban Senyuman.

Dari kopdar ini, Iyha tak hanya memberikan bukunya tapi juga sebuah souvenir berupa tempat makan untuk Fanni, anakku. Asyik kan...? Bisnis dapat, buku dapat, masih ditambah dengan oleh-oleh buat anakku. Aiih.. Iyha baik banget deh. Semoga bukunya laris manis, dan Little O Storenya makin sukses.

Kirain cuma 1 tempat makan 


ternyata keluarga berencana ^_^

Pukul 12 aku pamit karena harus menjemput Hilman pulang sekolah. Sepanjang perjalanan aku berdoa agar apa yang kami jalin membawa keberkahan bagi kami berdua dan keluarga. Aamiin Ya Rabb.




Read more »»  

Sabtu, 14 September 2013

Tanggo Berhadiah Avanza

Bismillahirrahmannirrahiim,

Kemaren pagi ketika hendak melepas anak-anak berangkat sekolah, sebuah kupon kecil berbungkus plastik tergeletak di halaman rumah. Sepertinya seseorang dengan sengaja melemparkannya. Dari tulisan yang terdapat di muka kupon itu, aku sudah merasa kalau ini kupon "jadi-jadian".

Beginilah penampakan kupon itu:



Dan setelah dibuka ternyata berisi 3 bagian seperti ini:


Pada kupon itu tertulis Hadiah Langsung dari Tanggo, "Selamat Anda Mendapatkan 1 Unit Avanza". Disitu tertera nomor telepon yang bisa dihubungi pada hari Senin - Sabtu pukul 07.30 sd 15.30 (kecuali hari libur). Hadiah tersebut langsung diantar ke alamat pemenang setelah menyelesaikan Biaya Balik Nama (BBN, STNK, BPKB sejumlah Rp. 3.750.000 dana jaminan sementara dikirim di perbankan setempat). Lengkap dengan tanda tangan pejabat-pejabat yang berwenang beserta foto dirinya.

Pada lembar satu lagi ada contoh STNK sementara dengan Nama Pemilik PT. Ultra Prima Abadi, beserta pernyataan dari pihak Polda Metro Jaya bahwa mereka ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan dan penyelesaian masalah administrasi surat-surat kendaraan hadiah dari promo Hadiah Langsung Bagi Bonus Miliaran dari PT. Ultra Prima Abadi.

Sejak awal melihat kupon berhadiah itu, aku dan anak-anak sudah saling bercanda,"Asyiiik, dapat mobil baru." Lumayan buat rame-rame pagi sambil mereka berpamitan ke sekolah. Lha wong beli Tango aja tidak kok dapat kupon berhadiah. Hihihi... Menggelikan.

Setelah anak-anak berangkat, aku segera membuka mbah Google untuk melihat-lihat apakah ada korban dari kupon itu atau bagaimana sih cara kerja mereka? Ternyata banyak sekali yang sudah menulis mengenainya. Dari penuturan korban, katanya mereka memakai cara hipnotis lewat telepon (memangnya bisa ya?). Yang anehnya, ada yang menceritakan bahwa mereka menemukan kupon itu pada kemasan Tanggo yang mereka beli, itulah yang menyebabkan mereka segera menghubungi nomor telepon yang tertera di kupon tersebut, dan akhirnya tertipu. Kok bisa ya kupon itu ada di dalam kemasan? Sedangkan atas kesaksian beberapa dari mereka yang mencoba mengkonfirmasi kebenaran program tersebut, perusahaan menanyakan tidak sedang menyelenggarakan program seperti itu.

Dari website perusahaan Orang Tua (http://ot.co.id/news_press.aspx?news_id=9), dikatakan bahwa tahun 2009 pelaku penipuan sudah ditangkap dan sudah divonis penjara. Wah... sudah lama ya ternyata modus ini dipakai. Buktinya sampai saat ini masih marak sekali beredar di masyarakat.

Ada 2 modus yang dipakai oleh penipu, yaitu:
1. Para pelaku membeli wafer dalam jumlah tertentu kemudian bungkus wafer Tango di buka dengan menggunakan pisau potong. Kupon di masukkan ke dalam kemasan selanjutnya kemasan di tutup kembali. Wafer Tango yang telah berisi kupon palsu di jual kembali ke toko-toko atau supermarket.
2. Kupon palsu Tango di sebar di jalan-jalan sekitar perumahan dengan harapan ditemukan oleh seseorang di jalan.

Tetap waspada dan saling berbagi informasi agar menjadi kewaspadaan bersama.






Read more »»  

Selasa, 03 September 2013

Aku Datang Untuk Bertepuk Tangan

Bismillahirrahmannirrahiim,

Memuji anak ketika berprestasi, apa susahnya? Banyak sekali kata sanjungan yang bisa kita berikan padanya. Larut dalam kebahagiaan prestasi atau kemenangan yang dia raih, tentu membuat hati bahagia.

Tapi....

Memuji anak ketika dia kalah dalam sebuah persaingan seperti pertandingan, prestasi akademik atau lainnya. Dapatkah semua orang tua melalukannya? Apa reaksi pertama ketika anak kita kalah dalam sebuah pertandingan? Kecewa? Apa reaksi dari kekecewaan kita? Memarahinya? Berkata pada anak kita: harusnya kamu begini, jangan begitu. Coba kalau kamu begini, bukan begitu. Dan kalimat sejenisnya.

Atau...

Kita beri dia two tumbs up. Bertepuk tangan. "Kamu hebat!" Memeluknya sambil berkata,"Ayah/ibu bangga padamu." Memberikan senyuman manis yang tulus dari dalam hati. Memberi kesempatan baginya untuk menarik nafas panjang menata hatinya atas kekalahan yang baru saja dialaminya. Atau atas nilai jelek yang baru dia dapat.

Percayalah...

Dia lebih kecewa dari pada kita. Karena dia sudah berusaha berjuang dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Berharap akan bisa membuat kita bangga dan membuktikan pada dirinya bahwa dia mampu. Dia pun ingin menang lebih dari kita orang tuanya. Dia pun ingin mendapat nilai baik untuk masa depannya.

Anakku, Luthfan Adli Wicaksono... Bunda bangga padamu. Meskipun kau berkata," Aku main payah. Maafkan aku. Bunda. Aku kalah."

Luthfan baru saja mengikuti turnamen badminton, Stupa Cup. Turnamen antar pelajar SMA sejabodetabek yang diselenggarakan oleh SMA 78 di Jakarta Barat. Dia bermain ganda, berpasangan dengan temannya yang bernama Deni. Luthfan cukup besar berharap bisa memenangkan turnamen ini. Latihan demi latihan dia jalani bahkan ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Mereka berdua latihan tanpa pelatih. Deni lah yang banyak memberikan masukan pada Luthfan. Karena kemampuan Deni bermain badminton memang lebih baik dari Luthfan. Mereka semangat sekali berlatih kekompakan. Aku salut dengan semangat mereka berdua.

Jagoan-jagoanku: Luthfan dan Deni

Melihat gejolak itu, maka tadi (3 September 2013) aku menonton turnamen Stupa Cup itu. Ingin memberi semangat pada Luthfan dan Deni. Apapun hasilnya, aku ingin menyaksikan hasil jerih payah latihannya.

"Aku takut mengecewakan bunda." kata Luthfan malam sebelumnya.

"Bunda akan menjadi orang yang pertama memelukmu kalau mas Luthan kecewa, tapi bunda bukan datang untuk kecewa. Bunda datang untuk bertepuk tangan." Jawabku sambil mengusap kepalanya.

Babak pertama dan kedua bisa dilalui Luthfan dan Deni dengan baik. Tapi babak ketiga, mereka harus berhadapan dengan pemain yang sudah bertaraf nasional. Secara hitam di atas putih memang mereka sudah kalah. Salut pada Luthfan dan Deni yang tidak down menghadapi lawannya. Tetap bermain dengan sepenuh hati dan semangat meskipun harus mengakui keunggulan lawannya. Mereka kalah.




Aku akui, jantungku berdegub kencang ketika pertandingan berlangsung. Mengabarkan semua perkembangan di lapangan kepada suamiku. Ayah Luthfan sebenarnya juga ingin menyaksikan, tapi pekerjaan di kantornya tidak memungkinkannya untuk ijin. Kupanjatkan doa, memohonkan yang terbaik untuk anak-anakku. Maka bila hasilnya adalah kemenangan di pihak lawan, aku merasa itulah yang terbaik buat mereka. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Dengan begitu, tenang rasanya hati ketika menyambut Luthfan keluar lapangan menuju tribun tempatku duduk.

Tepuk tanganku menyambut mereka. Senyum tulusku buat mereka. Dua jempolku kuacungkan pada mereka. Kurentangkan tangan untuk memeluk Luthfan dan mencium keningnya yang basah oleh keringat.

"Maafin aku, Bun." katanya perlahan sambil menghambur ke teman-temannya.

Aku memilih pulang terlebih dahulu, memberi kesempatan pada Luthfan untuk bergabung dengan teman-temannya. Lebih baik aku persiapkan sambutan di rumah sambil menata kalimat-kalimat apa yang akan aku sampaikan padanya, untuk membesarkan hati dan tetap mengambil hikmah dari hasil pertandingan tadi.

"Bunda liat permainanku tadi kan? Aku payah kan Bun. Perasaanku campur aduk sekarang ini." ucap Luthfan ketika dia sudah di rumah.

"Ah, enggak begitu kok. Bunda liat permainan kamu maju pesat. Latihan-latihan kamu berhasil. Tehnik permainan kamu makin bagus. Tapi memang, lawanmu punya skil yang lebih baik. Mereka kan sudah jadi tim nasional, wajar kalau lebih bisa membaca permainan kalian. Buat bunda, kamu tadi tidak kalah. Tapi kalau sekarang ini kamu tidak bisa mengelola perasaan kamu dengan baik, tidak bisa menerima kenyataan tadi, maka sekarang ini kamu kalah. Bukan di lapangan tadi."

"Tidak ada yang berhak merasa kecewa sekarang ini, selain kamu dan Deni. Kalian sudah berlatih dengan giat dan lama. Di lapangan tadi kalian tak menyerah meski angka tertinggal jauh. Kalian tetap mengejar hingga angka tak jauh tertinggal. Jadi kalau ada yang merasa kecewa adalah kalian berdua. Jangan minta maaf pada bunda dan ayah. Tapi apakah kecewa itu akan terus kalian simpan? Tidak boleh! Kalian dapat pengalaman berharga tadi. Ambil hikmahnya, nak."

"Makasih Bun. Aku lega sekarang."

"Satu lagi, nak. Bunda juga bangga kamu dan Deni tidak meninggalkan sholat tadi. Sebelum bermain, kalian sempatkan sholat Ashar. Itu adalah kemenangan kalian pada hal yang lain."

Luthfan mengangguk dan bangkit menuju kamarnya. Sedangkan bunda menarik nafas panjang. Menata hati agar bisa menerima semuanya lebih dari Luthfan.




Read more »»  

Senin, 02 September 2013

Lomba Tumpeng

Bismillahirrahmannirrahiim,

Telaga Jambu Sawangan selalu membawa kesan di hati tiap kali pulang ke sana. Makin hari makin cinta saja dengan suasana di rumah itu, dan juga keadaan sekitarnya. Hari Ahad tanggal 1 September 2013 kemaren, adalah sebuah hari dengan  pengalaman yang membuatku makin ingin berlama-lama di sana.

Pagi hari, kumulai dengan menikmati semug kopi. Suasana pagi di Telaga Jambu amat sangat berbeda dengan rumahku di Kemanggisan, Jakarta Barat. Sebetulnya aku tak biasa minum kopi di pagi hari, tapi Telaga Jambu memang beda. Apalagi menikmati kopi dengan mug kesayangan ini. Mungkin lebay ya.. Tapi buatku, mug ini membuat kenikmatan kopiku menjadi bertambah. Hehehehe... Mug bergambar suami tercinta ini memang beda. Tuh kan... aku dibilang lebay. Biarin deh.


Ahad kemaren, di kompleks Telaga Jambu diselenggarakan Halal Bi Halal sekaligus penyerahan hadiah-hadiah lomba Tujuh Belasan lalu. Acara puncaknya adalah lomba membuat tumpeng per blok. Untuk blokku, ada pembagian tugas. Masakan ubo rampe tumpeng dibagi-bagi, dan menghiasnya adalah bagianku.

Lama juga sebetulnya aku tidak membuat tumpeng. Almarhumah ibu, dulu jago sekali membuat tumpeng. Beruntung aku sempat belajar dari ibu. Pernah mempraktekkannya, tapi sudah lama sekali. Maka Ahad kemaren, sambil mengingat apa yang diajarkan ibu dan dibantu tetangga, maka jadilah tumpeng kami seperti ini.

Taraaaaa....!


Seperti biasa... hanya bisa mengambil gambar pakai kamera hape yang ala kadarnya. Lumayanlah dari pada tak ada dokumentasinya. Gimana...? Lumayan ya.

Siang itu langsung dinilai dengan kriteria keindahan, kreatifitas dan rasa. Alhamdulillah tumpeng kami memenangkan juara 2. Cihuuuyyy...! Seneng banget rasanya.


Kegiatan itu membuatku semakin mengenal lingkunganku, tetangga-tetanggaku. Kebanyakan usia mereka lebih muda dari aku, maka tetap saja aku dipanggil dengan sebutan bunda. Tak masalah. Senang-senang saja.

Adakah teman-teman mau pesen tumpeng?




Read more »»  

Senin, 26 Agustus 2013

Firasat

Foto pinjam mas Ridwan Purnomo
yang baru saja ke Kawah Ijen

"Jangan pergi, Ridwan. Kumohon...," aku coba membujuknya untuk terakhir kali.

"Aku harus pergi, Rani. Semua sudah siap. Kamu kayak baru sekali melepas aku pergi naik gunung." Ridwan mengacak-acak rambut di kepalaku sambil tertawa.

"Perasaanku nggak enak kali ini."

"Aahh... Jangan terlalu dilebih-lebihkan, aku kan pergi dengan teman-teman yang udah pengalaman mendaki."

"Iyaaa... Tapi Gunung Slamet aku dengar cukup rawan."

"Sudahlah, sayang... Kamu tenang aja. Beberapa temanku sudah ada yang pernah naik Slamet kok. Mereka sudah tau medannya."

"Tapi...."

"Ssssttt.... Jangan kuatir, nanti aku akan sering-sering kirim gambar, sampai sinyal terakhir yang bisa dicapai oleh hapeku. Dan kamu akan makin terkagum-kagum pada kekasihmu ini." Ridwan terkekeh dan kemudian menyeruput kopinya yang sudah hangat.

Begitu sulit untuk menganggukkan kepalaku. Segala kecemasan yang tengah mengacaukan hati dan pikiranku tak bisa sirna oleh sikap dan penjelasan Ridwan. Entah kenapa, aku merasa kepergiannya kali ini akan membuatku merasa kehilangan. Ah... mana aku sanggup menjalani hari-hariku tanpa dirinya? Tapi... Ridwan bukanlah orang yang mudah dipatahkan kemauannya. Apalagi kalau mengenai pendakian gunung. Begitu cintanya dia pada puncak-puncak ketegaran bumi yang menjulang. Menaklukkannya adalah sebuah harga diri yang tinggi bagi Ridwan. Biasanya, aku melepas kepergiannya dengan membantunya mempersiapkan segala keperluan perbekalannya. Tapi kali ini... aku melakukannya dengan setengah hati.

Pagi itu, mataku menatap mobil yang membawa Ridwan dan teman-temannya menuju Purbalingga. Mereka akan melalui Jalur Bambangan. Dari Purbalingga mereka akan meneruskan dengan bis dengan tujuan Bobot Sari, dan turun di Serayu. Lalu dilanjutkan dengan mobil angkutan pedesaan menuju desa Bambangan. Ridwan menjelaskan semua itu agar aku bisa membayangkan jarak tempuh yang dilaluinya. Agar aku bisa tetap memantaunya. Bagaimanapun dia tetap berharap aku bisa tenang dengan kepergiannya.

Doaku terus terangkai waktu demi waktu. Tak putus guna memohonkan keselamatan untuk Ridwan dan teman-temannya, dan juga untuk menenangkan hatiku sendiri. Beberapa gambar sudah dikirimkan Ridwan sepanjang perjalanan naik turun kendaraan yang dilaluinya. Wajah-wajah ceria dan bahagia ditampakkan Ridwan dan teman-temannya. Cukup menghibur meskipun tak mampu menyirnakan kegalauan yang ada.

"Rani, hape akan aku matikan. Aku akan mulai naik. Doakan aku ya sayang."

Sebuah pesan singkat aku terima. Mendadak nafasku sesak. Kecemasanku kian meninggi. Sejak itu... waktu seakan berhenti berputar. Ingin rasanya memutar sendiri jarum jam agar segera berganti hari. Aku coba menghibur diri dengan menonton DVD dan bercanda ria dengan teman-teman di facebook. Cukup membuatku terlupa dalam menghitung detik demi detik berlalunya sang waktu yang sebetulnya konstan berjalan.

Pagi hari, sebuah kejutan yang amat membuatku melonjak kegirangan. Foto Ridwan di puncak Slamet dengan tangan seakan bebas terlepas, menampakkan kebahagiaan di wajahnya. Alhamdulillah. Foto itu bisa dikirimnya, berarti Ridwan paling tidak sudah sampai di desa Bambangan. Ternyata kekhawatiranku tak beralasan. Ridwan berhasil menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Tiba-tiba, aku begitu bersemangat bangkit dan begitu ringan mengerjakan semua tugasku.

"Hai manis, aku sudah di perjalanan menuju dirimu. Tunggu aku ya." Watshap dari 
Ridwan membuatku tersenyum merekah.

Aku ingin menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Pasti ceritanya akan bertubi-tubi penuh kebanggaan, sekalipun sebetulnya tubuhnya letih setelah pendakian. Segala kelegaan hati yang aku rasakan membuat langkahku begitu riang menuju pasar tradisional untuk berbelanja bahan masakan.

Tiba-tiba aku mendengar sebuah teriakan,"Awas mbak!!! Rem mobil itu blong!!!"

Aku terkejut dan spontan menoleh ke arah yang ditunjukkan. Entah darimana munculnya, sebuah mobil melaju amat kencang ke arahku. Selebihnya.... Gelap...!

*****

Ridwan bersimpuh pada sebuah gundukan tanah basah. Giliran dirinya yang merasakan rasa kehilangan yang teramat menyakitkan, dan ini bukan sekedar firasat, melainkan kenyataan. Raninya yang pergi. Kebanggaannya menaklukkan gunung Slamet hilang entah kemana.


(Nama tokoh sengaja pakai nama Ridwan dan Rani. Sekedar menandakan rasa persahabatanku dengan mereka)





Read more »»  

Rabu, 21 Agustus 2013

Daster dari Anak-anakku

Bismillahirrahmannirrahiim,

Setelah meraih tempat peralatan menjahit, segera aku ke kamar untuk menjahit dasterku yang sedikit robek di bagian sampingnya. Aku rapikan kembali daster itu dengan tanganku agar bisa aku kenakan kembali. Biasalah nasib daster kalau dicuci pakai mesin, jahitannya suka kalah. Daster itu masih layak pakai sebetulnya. Warnanya juga belum lusuh, hanya ada yang robek saja. Sayang kalau disingkirkan. Masih nyaman dipakai. Adem. You know what I mean? Daster kan memang begitu tooh?

Tiba-tiba Astri masuk kamar dan memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. Semula dia diam saja duduk di sampingku. Tapi kemudian dia berkata,

"Daster bunda robek? Kok kasian sih daster robek masih dipakai. Beli aja yang baru, Bun."

"Masih bisa dijahit kok, nak. Sayang ah. Kan masih bagus. Kecuali kalau warnanya sudah lusuh, ya bunda akan singkirkan."

"Aku beliin deh, Bun. Pakai uangku."

"Aiih, baik sekali sih cintaku. Tapi nggak usah say. Makasih ya buat niat baiknya."

Astri hanya diam dan kemudian beranjak keluar kamar.

Sejak hari itu, beberapa kali Astri kembali menyampaikan niatnya untuk membelikan bundanya daster. Tapi dia kuatir aku nggak cocok jadi tidak berani beli sendiri. Maksudnya aku disuruh memilih sendiri dasternya. Sementara aku bertahan tidak mau dibelikan daster memakai uang tabungannya.

Hingga sampailah pada beberapa hari yang lalu. Astri menyerahkan sejumlah uang sambil berkata,

"Bunda, ini aku, mas Luthfan, Hilman dan Fanni patungan pakai uang lebaran kami buat beli daster. Aku nggak bisa pilih sendiri, ntar bunda nggak suka. Bunda beli sendiri aja ya."

Terharu sekali rasanya. Anak-anak mau menyisihkan sebagian uangnya untuk bundanya. Bisa untuk membeli dua potong daster baru. Mereka tahu sekali kalau bundanya suka memakai daster bila di rumah. Sepertinya mereka ingin bundanya tetap terlihat rapi meskipun hanya berpakaian daster. Aah... sebuah perhatian yang manis sekali, anak-anakku. Terima kasih ya.



Jadilah aku punya daster baru pemberian anak-anakku. Rasanya bahagia sekali melihat wajah puas mereka. Aku melihat ada binar-binar bangga pada mata mereka, bahwa mereka bisa memberikan sesuatu untuk sang bunda.
Satu hal yang aku dapat. bahwa sebagai orang tua, kita harus memberikan kesempatan buat anak-anak untuk merasa bangga pada dirinya bahwa mereka bisa membahagiakan orang tuanya.
Memang benar aku suka memakai daster bila di rumah. Udara Jakarta yang panas, rasanya memang nyaman bila melakukan pekerjaan sehari-hari dengan pakaian "kebesaran" itu. Tapi meskipun begitu, aku tak mau memakai daster yang memang sudah pudar/lusuh warnanya, atau banyak robek-robek di sana-sini. Kalau masih bisa dirapihkan, ya bolehlah. Tapi kalau tidak ya sebaiknya disingkirkan saja. Kan sudah selayaknya kita berpakaian rapih di depan suami. Memakai daster bisa kok terlihat rapi. Apalagi didukung dengan sikap manis dan perhatian kita kepada suami. Insya Allah tidak masalah.

Gimana menurut teman-teman?



Read more »»  

Jumat, 16 Agustus 2013

Antara Jakarta dan Bangka Belitung

Bismillahirrahmannirrahiim,

Membaca tulisan Tengku Sazidah Rani yang berjudul Semua Tentang Bunda...  membuatku ingin menuliskan juga kesanku terhadap gadis manis yang tiap hari menemaniku dengan canda dan cerita-ceritanya. Seperti yang diceritakan Rani dalam tulisan itu, kami akrab dimulai setelah Rani memesan buku Rembulan Cinta Seorang Bunda. Beberapa tulisan di buku itu menyentuh perasaannya. Berlanjut dengan komunikasi melalui Watshap dan telepon.

Kopdar singkat di food court Tanah Abang blok A yang singkat, membuat jalinan persahabatan kami makin erat. Rani makin tidak sungkan curhat padaku. Sedikit demi sedikit dia makin terbuka dengan kesehariannya. Kadang ceritanya sedih sekali, membuatku bingung dan rasanya pengen ada di sampingnya. Yang bisa aku lakukan adalah bersimpati pada kesedihannya. Membesarkan hatinya. Kadang ceritanya meletup-letup bahagia membuatku ikut merasakan keceriaan hatinya. Tentu saja aku ikut tertawa atas kebahagiaan yang dia rasakan.

Dari semua ceritanya, aku menyimpulkan kalau Rani ini anak yang berbakti pada orang tua dan sayang pada saudara-saudaranya. Rani belum menikah, orang tuanya di Medan, dan dia merantau di Bangka Belitung sudah lebih dari 3 tahun. Tanggung jawabnya pada orang tua, adik dan saudara-saudaranya di Medan dia buktikan dengan selalu mengirimkan sebagian penghasilannya. Banyak sekali yang sudah dia ceritakan, seakan-akan aku mengenal dekat dengan keluarganya.

Beberapa kali Rani telepon kalau merasa apa yang dia ingin ceritakan terlalu panjang bila diketik. Jempol bisa keriting, katanya. Awalnya Rani sering bercerita serius bila sedang ada masalah, tapi kini dia bisa lebih ringan dalam bercerita, sekalipun sedih, kalimatnya sudah berbeda. Perempuan mandiri seperti Rani, memang kuat dengan semua keadaan. Hebat. Bunda salut deh.

Rani ini memang mampu membuat hari-hariku jadi lebih berwarna. Disamping keseharian bersama anak-anakku, rasanya makin lengkap deh ditambah candaan dan obrolan jarak jauh dengan Rani. Anak manis ini hobi banget mengirim foto-foto yang apa saja yang sedang dia kerjkan atau sekedar ingin membuatku "panas". Sepertinya berhasil deh. Promosinya tentang pulau Bangka membuatku membicarakan hal ini kepada suamiku. "Nabung dulu deh." begitu kata suami menanggapi ceritaku.





 

Lihat deh tuh lirikan mata Rani yang sengaja dia persembahkan buatku. Menggoda sekali ya. Bisa makan di tepi pantai seperti itu memang betul-betul membuat mupeng deh. Rani suksesssss membuatku menggaruk-garuk tembok. qiqiqi....

Kali lain, Rani cerita kalau di Bangka ada taman namanya Bangka Botanical Garden. Disana kita bisa memetik sayuran, buah Naga, memerah susu sapi, dan lain-lain. Dan Rani bilang, bisa mengusahakan gratis kalau keluargaku berkunjung ke sana. Wuiihhh... modus lain dari Rani supaya kami main ke tempatnya. Tahu aja dia kesukaan bundanya ini. Pantai dan perkebunan memang menyentuh hati sekali. (pasti deh sedang senyum-senyum Rani baca ini).






Sebetulnya banyak sekali foto-foto yang Rani kirimkan. Maaf ya Rani, sebagian bunda hapus dari hape bunda. Memorinya sampai full soalnya. Hadeuuuuhh...! Sebetulnya nyesel juga sih menghapus. Harusnya bunda pindahin aja ke netbook atau komputer ya. Maaf ya say. Lain kali bunda pindahin aja deh dari hape ke tempat yang lebih aman.

Usaha lain dari Rani dalam menggoda bunda adalah dengan mengirimkan foto makanan yang sedang dia nikmati. Rani ini rejekinya mengalir kalau soal makanan. Ada aja yang berbaik hati mengirimkan atau mentraktirnya. Di bawah ini adalah sebagian foto makanan yang dia kirimkan.



Menjelang lebaran kemaren, dengan bangganya Rani menunjukkan pakaian lebarannya. Subhanallah. cantik banget. Ini percakapan dan foto Rani dengan pakaian lebarannya.




Beneran loh Rani, bunda mendoakan supaya Rani terus memakai hijab. Supaya lebih berkah segala ibadah dan kebaikan Rani. Selain itu, Rani memang lebih manis waktu memakai hijab.

Terima kasih ya Rani, buat semua perhatian dan persahabatannya. Bunda amat menghargainya. Semoga Allah meridhoi persahabatan kita, dan mengeratkannya dalam rasa kekeluargaan yang indah. Love you, Rani.





Read more »»  

Kamis, 15 Agustus 2013

Indahnya Kebersamaan

Bismillahirrahmannirrahiim,

Akhirnya bisa menyempatkan diri untuk membuka kembali blog tercinta ini. Bersihkan dulu rumput liarnya, siangi dulu daun-daun yang mengering, sapu dulu yang berguguran, sirami dan kembali menaburkan pupuk agar taman ini kembali menjadi indah dan nyaman.

Masih dalam suasana Idul Fitri, semoga tidak terlambat menyampaikan permohonan maaf ini. Atas nama pribadi dan keluarga, aku mengucapkan:


Lebaran kali ini aku tidak mudik. Lumayanlah, tak merasakan kemacetan perjalanan seperti tahun lalu. Sudah kesepakatan kalau dalam merayakan Idul Fitri gantian dengan keluarga suami yang semuanya ada di Jakarta. Kebetulan Agustus ini adikku melahirkan (Element 7). Jadi bapak dan ibuku membesuknya sekalian berlebaran di Jakarta. Asyiklah... Bisa kumpul semua.

Lina (Element 7), suami dan new baby-nya 

Rengganis Aaretha Sanjaya
anggota keluarga baru

Bapak ibuku memilih rumah adikku  sebagai tempat ngumpul lebaran kali ini. Rumah Element 4 yang bersebelahan dengan rumahku di Sawangan Depok. Aku, Element 1, dan Element 3 baru bisa ke sana pada 2 Syawal. Sebab tanggal 1 Syawal kami bersilaturahim dulu ke keluarga mertua kami masing-masing.

Makin cinta deh sama rumah Sawangan. Ternyata memilih rumah di pojok banyak manfaatnya. Karena rumahku bersebelahan dengan rumah adikku jadi rasanya lahan pojok yang ada jadi seperti milik kami. Serasa memiliki halaman yang luas. Enak juga kalau buat kumpul keluarga. Tempat ngumpul bercerita jadi di luar rumah. Teduh karena banyak pepohonan. Anak-anak juga senang karena bisa main sepeda, main ke taman bermain bahkan mancing. Walau fasilitas yang ada hanya sederhana, tapi semua bisa dinikmati.

Serasa punya rumah yang berhalaman luaaaas

Mumpung ngumpul, sudah pasti acara foto-foto jadi agenda penting. Bisa foto lengkap bertujuh rasanya sulit. Walau dengan Kayla sering ketemu, tapi kalau buat foto lengkap seringnya ada aja halangannya. Inilah sebagian dari foto-foto yang diambil.

complete 

Luthfan, Astri, Hilman



Fanni dan Kayla

The Fantastic Five

 Fanni dengan sepupu dan teman bermainnya

 Bapak, ibu, Mas Yoyok, Niken, Didit, Andi dan Nita


1 Syawal
Hanya ada Element 4, 5, 6 dan 7

 2 Syawal
minus element 6 yang mudik ke Pati

 Suami dan saudara-saudara iparku



Read more »»